Home > Forum Paralel, MH. Aripin Ali > Aku Tersinggung sebagai Orangtua, Aku Tersungging sebagai Litbang

Aku Tersinggung sebagai Orangtua, Aku Tersungging sebagai Litbang

Masalah Penting Kemudian Sangat Penting

Kamis, 6 Nopember 2008, ada Lesson Study untuk guru mata pelajaran bahasa Arab dengan observer guru kelas 6. Siang selesai refleksi, 3 guru kelas 6 minta waktu khusus untuk membicarakan masalah sangat penting. Dua pekan sebelumnya juga ada masalah penting yang kami bicarakan. Ada pengaduan dari ibu kantin tentang beberapa anak yang jajan tanpa bayar. Satu anak yang dimasalahkan punya cara cerdas untuk menghindar dari tuduhan, dengan tangan tergenggam ia acak-acak uang di kotak sambil berucap, “Nih uangnya. Nih. Nih!” Ke luar pula dari mulutnya kata-kata balik menuduh dan sedikit merendahkan derajat ibu kantin. Ibu kantin pun menghadap guru kelas 6 dengan membawa segala dukanya.

Di depan gurunya, si anak mengakui perbuatannya dan dengan sukarela meminta maaf pada ibu kantin. Katanya, ibu kantin terharu.

Ibu guru yang menangani si anak bertanya padaku, apa yang harus dilakukannya, tepatnya, anak itu harus dibagaimanakan. Aku menghargai apa yang sudah dilakukannya. Aku hanya meminta untuk menunda menggunakan bahasa-bahasa moral atau menegaskan status hukum (agama) dalam menilai perbuatan itu sebelum diketahui dengan benar alasan perbuatan anak itu. Misalnya, kalau anak itu jajan tanpa membayar karena ‘lapar’, penilaian dengan hukum agama, sementara kondisi ‘lapar’ tidak dihilangkan, akan menempatkan anak pada pengalaman jajan tanpa membayar (lagi) sekaligus pengalaman meremehkan otoritas. Aku meminta ibu guru mengajak si anak bertualang dari satu fakta ke fakta lain tentang ibu kantin, khususnya, ibu kantin yang harus mempertanggungjawabkan keuangan kantinnya. Apa yang terjadi pada ibu kantin yang hidup lebih sederhana dari keluargamu, sementara keuntungan yang sedikit tidak jadi diperolehnya, ia pun harus mengganti uang yang hilang? Bila petualangan akal-objektif ini mempengaruhi empati anak, mulailah kita dengan mendiskusikan ‘lapar’ si anak.

Dalam pengalaman kami, ‘lapar’ itu bisa terjadi karena banyak hal bahkan karena suatu yang sangat positif. Seorang siswa, boleh dikata, paling pandai di kelasnya, dari keluarga berkecukupan, ayahnya dosen di perguruan paling terpandang di Bandung dan lulusan luar negeri, ibunya ibu rumah tangga. Sejak dari kelas 2 sampai kelas 6 punya catatan terkait dengan kehilangan uang di kelas, baik di kelasnya, pernah juga di kelas lain. Kok bisa? Anak yang kini di SMP favorit ini ternyata tidak pernah mendapat uang jajan dan makan siang selalu bawa dari rumah. “Tidak pernah membawa uang jajan” berhadap-hadapan dengan kenyataan bahwa, kecuali dia, yang lain membawa uang jajan, menikmati keriangan mendengar bel istirahat, dan tumpleknya ‘dunia santai’ pada kegiatan jajan, menjadikannya sebagai ‘lapar’. Lalu kenapa orangtuanya mengambil pilihan itu? Sang ayah dari keluarga yang kaya raya. Entah bagaimana, aku memang tidak tahu, sejak dari masa sekolah ia tidak pernah menggunakan dan memanfaatkan kekayaan orangtuanya. Mandiri dan hidup apa adanya jadi prinsip. Ia berhasil dan ia ingin anaknya begitu.

Bahwa suatu ‘lapar’ berada di level orang ‘harus mencuri’ mungkin memang ada. Aku, entah kenapa, karena alasan tidak mungkin mengusik prinsip-prinsip hidup berkeluarga yang lain, menganggap wajar kejadian itu. Aku hanya mewajibkan teman-teman untuk menjadi guru yang terampil membongkar kasus kehilangan uang, dan meminta anakku, saat kelas 5, berbagi uang jajan dengannya. Kejadian si anak terkait kehilangan uang, setidaknya sesemester sekali, boleh saja terjadi, tapi tidak boleh kami tidak bisa mengusutnya. Sebuah harapan, saat ‘lapar’ tidak menjadi bagian dirinya, ia sudah mendapat banyak pelajaran, banyak alasan, banyak jalan untuk menghilangkan perbuatan itu. Keharusan bagi kami untuk membongkar kasusnya terkait dengan terlarangnya pengulangan tindakan disertai perasaan nyaman.

Kepribadian Anak itu Urusan Orangtua 

Ternyata masalah kali ini juga sama, tapi kenapa berubah derajat dari “masalah penting” menjadi “sangat penting”? Seorang guru menyampaikan, katanya, ketika anak yang bermasalah 2 pekan lalu ditanya lagi, ia menjawab tak sendiri. Disebutkan lah beberapa temannya, salah satu dari sekitar 4 orang nama yang disebut, tersebut nama anakku yang kedua. Namanya Azmi Kautsar Alim yang berarti orang yang diberi keutamaan harta dan ilmu. Anak-anak lain adalah teman dekat Azmi. Hebohnya, para teman dekat ini juga bercerita, suatu kali Azmi yang bareng-bareng belanja makanan kecil dengan mereka di Alfamart, sementara yang lain bayar, Azmi tidak. “Saya khawatir, karena Azmi sering Bapak suruh-suruh membeli sesuatu, itu sering dilakukan Azmi.” Selanjutnya, aku lupa bagaimana itu diucapkannya, keluar kekhawatiran Azmi jadi pengutil. “Bagaimana menurut Bapak, sebagai orangtua juga sebagai litbang?” Belum juga menjawab, guru yang menjadi wali kelas anakku minta bicara. Beruntung euy! Karena bersamaan dengan terucapnya kata penguti, sang ayah dalam diriku mengambil ancang-ancang buat meradang. Puih!

Aku tunda dulu ya obrolannya. Aku teringat kejadian serupa dengan anakku yang pertama. Suatu Jumat, saat anakku kelas 6 dan kami masih salat jumat menumpang, digegerkan dengan kejadian sekolompok anak yang menggantikan salat jumat dengan bermain Play Station. Di sekolah umum yang sudah diislamisasi ini, ini adalah peristiwa besar. Dan pada sekelompok anak itu terselip nama Adry Fahmi Arifin. Sebuah nama yang menggambarkan perjalanan akal sampai kepada Tuhan. Kalau terlalu wah, ditulisnya Arifin bukan Aripin seperti bapaknya, menunjukkan harapan untuk anak yang lebih menasionalime daripada ayahnya. Jadi, teman-teman, Adry itu anak litbang. Kau tahu apa yang terjadi dalam diskusi yang membahas hal ini? Dengan wajah penuh keheranan dan seperti memandang naif kejadian itu, seorang penting di antara kami berkata, “Kok bisa anak pak Aripin begitu?” Sungguh hatiku dilukai. Terkejut mengetahui bagaimana sebuah kejadian dapat membuat seseorang menilai si anu ‘begitu’ dengan kecenderungan, namanya penilaian, menunjuk moralitas seseorang. Padahal hai ummat manusia, dia anakku. Aku diberkahi sejarah dengan alasan yang tak terbatas untuk menerima anakku apapun adanya.

Aku masih dalam rangka menunda obrolan. Dua peristiwa serupa yang dialami anakku, mengajarkan bahwa pembentukan kepribadian seorang anak itu terikat lekat pada orangtuanya. Aku sangat tahu, yang disebut pribadi anak, tidak pernah terkait dengan sekolah. Hanya sedikit yang dapat dilakukan, dan akibatnya yang dapat dipahami, pihak sekolah terkait kepribadian anak. Sumpah kalau aku tanya kenapa Azmi memiliki kecerdasan bahasa yang sangat menonjol, mudah bergaul tanpa batasan level usia, menjadi kenangan manis bagi saudara-saudaraku setelah berkunjung ke rumah, sementara Adry sebaliknya; tidak akan bisa satu guru pun menjawabnya. Bahwa sekolah memperkuat atau memperlemah, memperlambat atau mempercepat pembentukan kepribadian anak, aku setuju. Tapi hanya sampai disitu. Maka kuumumkan, jangan sok tahu tentang seorang anak yang bukan anak kita. Maka kuumumkan juga, belagu bila untuk ratusan anak bahkan ribuan murid, kau bilang sekolahmu berbasis karakter, berupaya mengutak-utik kepribadian anak. Tahu diri lah.

Contoh saja tentang Penghargaanku pada Otonomi Guru   

Eh, ada 3 guru dihadapanku, 2 sudah dapat diketahui keberadaannya, yang satu belum karena memang kali ini membisu.

Sang wali kelas bercerita, kalau tadi ada kejadian penting 2 pekan sebelumnya, kali ini juga ia mengingatkan dengan cerita kejadian sekitar 1 bulan sebelumnya, yaitu kasus HP yang hilang. Karena razia tidak menemukan apa-apa, karena permintaan baik-baik tidak ditanggapi, karena nasihat tidak diperhatikan, akhirnya ancaman dikeluarkan. Pada intinya ancaman itu menegaskan kalau hal yang sama (‘pencurian’) terjadi si pelaku dikeluarkan. Ha! Padahal ini hal yang tidak mungkin dilakukan di SD Hikmah Teladan yang tidak akan mengeluarkan anak karena alasan apapun. Di SD Hikmah Teladan ada lho anak yang tidak bayar iuran siswa sampai 5 tahun, dari kelas 2 sampai ia dapat ijazah. Lalu? Wali kelas anakku khawatir kalau ada kejadian ‘pencurian’ lagi dan kebuka ia cuma gertak doang. “Saya senang ketika anak-anak ditanya, kejadiannya terjadi sebelum ancaman itu,” kata wali kelas anakku dengan lega. Disampaikan pula janjinya pada anak-anak, tidak ada orang lain yang akan tahu apa yang mereka akui dengan jujur. Entah kenapa lalu ia meminta kejadian Azmi hanya dikomentari dalam posisiku sebagai litbang.

Aku mengomentari, “Tidak apa-apa,” kataku, sebagai orangtua dan sebagai litbang. Sebagai orangtua: kalau misalnya, di meja dapur tergeletak uang seribu perak dan tidak ada yang merasa sebagai pemiliknya, uang itu bisa berminggu-minggu ada di situ, atau lebih sebentar karena diputuskan untuk diberikan pengamen. Bisa seperti itu karena aku sebagai bapak teramat galak kalau anak-anak tidak jujur, apalagi mencuri. (Wah, tetap yakin ya, kalau sesuatu yang spesifik dijadikan prinsip dan dinyatakan dalam proses ‘mendidik’ , ada masalah tuh di yang menyatakannya. Bagiku masalah itu, aku kecil suka mencuri dan akal pencuri sudah kukenali dikit-dikit. So, aku jadi bernafsu banget agar tak terulang pada anak-anak). Kedua, Alfamart bukan mini market yang ada di komplek perumahanku. Jadi kalaupun iya aku biasa menyuruh Azmi untuk membeli ini itu, kalu enggak ke warung ya ke Indomart. Ketiga, aku juga tidak akan mengusutnya dengan alasan janji wali kelas untuk menutup rapat peristiwa itu dari yang lain harus dipegang erat.

Sebagai litbang: Semua kejadian terkait dengan sekolah. Mencuri di kantin, kan kantin sekolah. Mencuri di Alfamart dengan teman-temannya terjadi hari Sabtu saat anakku yang kelas 6 ikut pemantapan, bisa dikait-kaitkan dengan sekolah. Aku juga tidak lupa mengingatkan teman-teman untuk menggunakan momen ini, di mana anak-anak menjungjung kejujuran, untuk mengukuhkan nilai-nilai agama pada mereka. Kuberitahukan bahwa Azmi lagi punya uang lebih dari ongkos bulanannya. Kalau sampai ia mengingat betul apa yang tak dibayarnya di Alfamart, dan memotivasinya untuk berani menyampaikan pengakuan sekaligus membayarnya, maka itu akan berpengaruh ‘abadi’ kepada hidupnya. Ya sudah, aku serahkan saja sepenuhnya kepada sekolah, dalam hal ini 3 wali kelas paralel kelas 6 yang belum kuketahui perasaannya, juga penilaiannya padaku kini. Aku sih lega dan tak tersinggung. Aku sih tetap ayahnya si Azmi dan menutup pertemuan seraya tersungging.

  1. November 16, 2008 at 6:59 pm

    Yang saya alami, ketika kita meyekolahkan anak di SDHT, saat itu juga kita harus ikut “sekolah”. Membongkar kembali paradigma dan cara pikir kita tentang sekolah dan menyekolahkan anak. Melakukan berbagai penyesuaian agar dapat memahami apa yang dilakukan anak-anak kita.

    Anak-anak di SDHT mendapat ruang yang cukup untuk berekspresi dan bereksperimen. Bebas mencoba apa saja, bahkan sampai pada hal yang sangat ekstrim. Saya sebagai orang tua kerap tergagap, terkejut, dan takjub dengan semua yang terjadi. Betapa kita sebagai busur sebenarnya tidak pernah siap melepaskan anak-anak kita sebagai panah yang tenagh menyongsong waktu dan masanya sendiri.

  2. November 17, 2008 at 7:03 am

    Heheh…. menggelikan. Kalau candanya, memang dunia anak-anak memang begitu. Kadang ada keinginan-keinginan nakal yang saling berkompetisi pada diri si anak.
    Kalau seriusnya, mungkin kita pernah mendengar kisah Allamah Majlisi selagi masa kanak-kanaknya yang nakal (aku lupa persisnya). Sampai2, ayahnya Allamah harus melakukan sesuatu untuk menebus kesalahan anaknya.
    Mendidik anak memang membutuhkan keteladanan. Dan, aku selalu merasa gak punya hal itu bagi anak-anakku.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: