Home > Tugas Akhir Pekan > Hasil TAP 31 Oktober 2008

Hasil TAP 31 Oktober 2008

1. Surat Anak

Kepada Yth,

Redaksi Trans TV

di Jakarta

 

Assalammua’laikum Wr.wb

Dengan Hormat,

Perkenalkan, nama saya Kintania Andini kelas 3 Shofa dari SD Hikmah Teladan Cimindi – Cimahi. Saya tertarik dengan acara , “Jika Aku Menjadi” di Trans TV. Acara Itu merupakan acara favorit kami sekeluarga di rumah karena bukan sinetron remaja dan tayangan ngeri, yang selama ini mamaku larang  untuk menontonnya.  Acara “jika aku menjadi” bercerita kenyataan orang-orang yang berjuang keras dan mengajarkan kepada tokoh cerita mahasiswa atau pelajar tapi tidak membosankan, malah seru dan mengharukan.

Saya ingin teman-teman semua di sekolah saya melihat acara ini. Mudah – mudahan Trans TV bisa berbaik hati mengirimkan copy salah satu episode “Jika Aku Menjadi” terutama episode tanggal 1 November 2008, karena di sekolahku sering mengadakan nonton bersama. Mudah-mudahan guru di sekolahku mau memutarkannya.  terimakasih sebelumnya ya trans tv.

Wassalam

Kintania Andini

2. JAM dalam Karangan Anak

Jika Aku Menjadi (JAM)  Pengembala Domba

Bapak adalah seorang pekerja keras yang umurnya mungkin sudah cukup tua. Meski begitu bapak adalah orang yang tegar dan hebat (menurut film itu dan aku ). Bapak tinggal di sebuah rumah kecil bersama istrinya yang juga sudah berumur tua.  Emak ( istrinya bapak ) sangat bahagia meski hidupnya tidak terlalu kaya.  Meski penghasilannya tidak terlalu besar, emak tetap sabar dan tabah menghadapi dunia.  Bapak dan emak selalu ceria, meski kehidupannya susah.  Kata-kata menyerah tidak pernah keluar dari mulut bapak dan emak.  Senyuman selalu terlihat di wajah emak dan bapak yang jarang sekali menangis. 

Hari pertama, bapak akan kerja di tempat batu kapur.  Ya, bapak akan menambang batu kapur yang keras-keras. Iiih ….. kebayangkan harus mukulin batu yang gede-gede dan sangat keras!!!!!  terus kalo misalnya kaki kita kena martilnya (betul gak pake martil?) atau kena batunya atau mungkin sandal kita kan lagi kotor, jadi gak enak dipake terus sandalnya dilepas.  Nah tiba-tiba pas lagi jalan keinjak batunya, iiiih ………serem banget ya?

Beruntung kita masih anak-anak jadi gak perlu kerja tapi sekolah. Enak kan? Tapi jangan karena kita masih kecil, kita jadi gak mau ngebantuin pekerjaan rumah seperti ngepel, nyapu, dan lain-lain. Lantas apakah bapak mengeluh kecapean atau alasan lain?  Tentu tidak. Bapak menerima pekerjaan itu apa adanya. Mau lecet kek, mau luka kek, pokoknya diterima, deh!

Hari kedua, bapak dan emak akan mengembala domba yang suka marah-marah dan sangat ganas. Tapi, kayaknya itu bukan domba, deh? Ah, pokoknya binatangnya kayak gitu!  Domba ini beda dari yang lain, sering nyeruduk-nyeruduk! Tapi, kalo bapak diseruduk gimana ya? Tubuh bapak yang sudah rapuh ternyata masih bisa bekerja yang berat-berat. 

Bapak biasa makan bersama nasi, ini, itu dan lain-lain. Tidak seperti kita yang bisa makan enak di restoran enak dan mahal-mahal.  Bapak sudah bersyukur karena sampai sekarng masih bisa makan meski makanan itu sangat sederhana, bapak tetap senang masih bisa bersama emak yang selalu bersama bapak sudah 50 tahun lamanya. 

Sekarang emak akan mengunjungi cucunya yang sudah 1 tahun tidak bertemu.  Saat sampai emak disambut oleh keluarga tercintanya.  Emak bertremu banyak keluarganya emak tersenyum pada setiap orang yang ada di sana tanpa rasa yang ragu lalu keluarlah anak yang kira – kira 3 tahun memakai baju pink (perempuan) yang berambut pendek. 

Ternyata ia adalah cucu nenek yang tidak bertemu kira – kira 1 tahun lamanya.  Emak yang melihat cucunya langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang sambil menangis kangen.  Emak sangat senang bisa bertemu cucunya itu di rumah, emak dan bapak diberi beberapa barang yang mungkin bisa berguna untuk mereka berdua.  Hanya 1 pesan untukmu “Semoga Bahagia dan Bersyukurlah pada Alloh SWT”. Tamat.

Medina R, 3 Shofa

 

3. Komentar Orangtua

A. JIKA AKU MENJADI… :  SEBUAH KERINDUAN UNTUK MEMENUHI TUNTUTAN FITRAH

Betapapun juga, manusia punya kecenderungan untuk dapat berbuat baik.  ESQ menyebutnya God Spot, sementara psikologi modern mengenalinya sebagai kemampuan sistem otak berfikir spiritual, para filsuf menyebutnya sebagai kesadaran akan makna dan orang kebanyakan seperti kita sering menyebutnya sebagai nurani. Apapun namanya, sebenarnya tidak ada yang aneh dengan hal ini, karena Sang Pencipta memang telah menyatakan bahwa manusia diberi ilham akan kecenderungan ini, bersamaan dengan kecenderungan untuk berbuat kejahatan.  Kedua kecenderungan ini merupakan sifat fitrah manusia.

Di tengah berbagai perubahan cepat dalam aspek kultural, sosial dan teknologi dengan disertai berbagai dampaknya pada banyak sektor kehidupan kita dewasa ini, seringkali kita tergagap-gagap melihat betapa tidak kuasanya kita memahami apalagi menerima berbagai perubahan ini.  Dampak ketidaksiapan ini terlihat dengan tingginya tingkat penderita skizoprenia dan tekanan jiwa, tingginya tingkat stress masyarakat, tingginya kuantitas dan kualitas kejahatan, tingginya sikap individualistik dan rendahnya kepedulian sosial dan berbagai fakta yang terus terang sangat tidak mengenakkan untuk kita ketahui.  Kita menjadi cenderung tidak peduli dengan orang lain, betapapun pahamnya kita mengenai perintah Tuhan untuk mengasihi sesama. Kita cenderung mencari jalan pintas, betapapun sadarnya kita akan buruknya dampak yang ditimbulkan dari segala yang serba instan tersebut. Kita tidak lagi bisa menghargai betapa panjang proses yang dilalui sebutir nasi sebelum terhidang di hadapan kita.  Bahkan kita mungkin tidak peduli siapa saja yang sudah bermandi keringat sepanjang rantai distribusi sang nasi tersebut.  Kita sudah lupa lagi betapa indahnya berbagi.  Menurut YB Mangunwijaya “manusia modern” acapkali merasakan hilangnya makna dalam hidup.

Tapi ilham itu tidak pernah hilang. Ia hanya terkubur oleh debu dan rongsokan pergaulan sosial peradaban yang serba instan dan individualistik ini.  Sebuah peristiwa atau sebuah ingatan dapat saja membangkitkan ilham untuk berbuat baik ini ke permukaan.  Sebagai sebuah fitrah, tentunya hal ini membawa kenikmatan sendiri bagi kita untuk sekedar melihatnya.  Ada kenikmatan ketika melihat seorang anak tengah berdoa, ada simpati tatkala kita melihat seseorang menyeberangkan seorang tuna netra, ada keharuan tersendiri melihat seorang bapak yang masih berpeluh memberikan nafkah hari itu bagai keluarganya, ada kebahagiaan tersendiri melihat seorang ibu sedang menghibur anaknya yang sedang sakit, kita bisa turut merasa lega ketika melihat seseorang meraih keberhasilan yang telah lama ia perjuangkan.

Tayangan Jika Aku Menjadi (JAM) di Trans TV merupakan salah satu media yang bisa menyalurkan fitrah berbuat baik ini. Tayangan ini menjadi begitu lain di tengah berbagai tayangan yang mengumbar kejahatan, ketidakpedulian, sikap konsumtif dan hedonistik yang membanjiri hampir selururh media informasi kita. Mungkin saja dalam hidup kita sehari-hari kita begitu terhanyut daengan kondisi sehingga sulit beroleh kesempatan menyalurkan ‘sifat baik’ kita. Dan tatkala kita sering merasa tumpul utuk menyalurkan fitrah untuk berbuat baik ini, paling tidak tayangan ini bisa menjadi semacam pelarian kita dari ketidakmampuan dan kelengahan kita. Sukur-sukur dapat menggerakkan kita untuk mengambil langkah lanjutan untuk menuruti nafsu kita untuk berbuat baik ini.  Ataupun jika tidak sampai demikian, tatkala kita masih bisa terhanyut dengan tayangan ini mungkin itu menunjukkan bahwa debu dan rongsokan peradaban yang menutupi fitrah kita untuk berbuat baik ini masih relatif sedikit.  Dan hati kita masih belum kehilangan kemampuannya untuk merasakan.

Wallahu a’lam

Hasnil Djamin

Orang Tua Medina Ramadhany ( III shofa )

 

B. KOMENTAR ORANG TUA

Sebagai orang tua, saya sangat senang dengan acara “Jika Aku Menjadi…” ( JAM ),  karena JAM adalah salah satu acara televisi yang mendidik, tidak hanya untuk para anak tapi juga untuk para orang tua.  Terus terang, sebelum anak saya mendapat TAP untuk nonton bareng acara JAM, televisi di rumah saya dicabut antenanya, sehingga mereka tidak bisa menonton televisi.  Hal ini kami lakukan karena kami ingin melindungi anak-anak kami dari sekian banyaknya acara-acara televisi yang sangat tidak mendidik, yang dapat merusak moral maupun pikiran anak-anak kami.

Dengan adanya acara JAM, paling tidak kami dapat pelajaran berharga yang dapat kami petik untuk kami dan anak-anak kami dan juga untuk seluruh keluarga Indonesia. Banyak sekali hal-hal positif yang bisa kita ambil dari acara JAM.  Selain menumbuhkan rasa empati terhadap mereka yang kurang mampu, JAM JUGA MENGAJARKAN KEPADA KITA UNTUK TIDAK BERMALAS-MALASAN dalam mencari rezeki, tetap optimis dalam menatap masa depan, dan ada satu pesan yang cukup menarik menurut saya pada tayangan JAM  ( 1 Nov ’08 ) untuk pasangan suami istri agar tetap setia satu sama lain.  Karena banyak sekali kita dengar atau kita baca, retaknya hubungan suami istri karena faktor ekonomi.  Dan yang lebih penting lagi dengan adanya acara JAM, rasanya malu sekali kalau kita tetap tidak mau bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita.  

Mudah-mudahan dengan  setelah melihat acara JAM, menjadikan kita semua manusia-manusia baru yang berpikiran positif, berempati terhadap sesama kita yang kurang beruntung, mempunyai semangat kerja dan motiasi yang kuat dan tentunya menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yang pandai bersyukur, amien.

(Ibu Renny Farida)

orang tua dari:                                                                                                                                         

Rizky Fauzie   kelas 3 Shofa

Categories: Tugas Akhir Pekan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: