Home > Forum Paralel, MuridKusekolah > KBM yang Egaliter

KBM yang Egaliter

Mungkin melebihi kebebasan yang lain (orang lain), yang cukup berpengaruh membatasi dan menjadi kebebasan seseorang adalah berpikir kritis. Berpikir kritis, inilah yang kurasa masih kurang pada kami di SD Hikmah Teladan.

Seorang ibu guru menceritakan tentang kesulitan mengajarkan anak perempuannya yang kelas 2 untuk melaksanakan salat fardhu yang 5 waktu. Ini berbeda dengan kakaknya yang di kelas 5, sejak kecil sudah terbiasa ke masjid bersama ayahnya atau kakeknya. 

“Bersama ayahnya atau kakeknya” ternyata menjadi permasalahannya karena ia kerap hanya meminta anaknya untuk salat, bukan menemaninya. bukan salat bersama-sama. Ia memang terkejut ketika suatu kali anaknya mengeluh, “Mamah bisanya cuma nyuruh.” Teringatlah keseharian yang banyak di mana aku juga biasa melakukannya: menyuruh anak-anak makan sementara kita sibuk dengan yang lain dan bukannya makan bersama; tidak senang dengan kata-kata kasar, tak bermutu dari anak-anak, tapi kita jarang membuka ruang dialog atau leluasa memberikan hak anak untuk berpendapat dan dihargai pendapatnya. Kita pada umumnya terbiasa untuk menentukan apa yang baik dan buruk untuk anak-anak, juga apa boleh dan tidak boleh dilakukannya. Tanpa kuduga, saat pikiranku melayap mengintropeksi diri, sang ibu guru mengatakan, “Saya yakin hal yang sama terjadi di sekolah pada waktu salat dhuha. Rasanya tidak ada satu pun guru yang salat dhuha.”

Dua hari ini aku datang lebih pagi sebelum kegiatan belajar dimulai. Jalan-jalan lah aku dari satu kelas ke kelas lain untuk mengintip pelaksanaan salat dhuha. Benar lho tidak ada satu pun guru yang salat dhuha, setidaknya ini bisa dipastikan, tidak ada satu pun guru yang salat dhuha bersama anak-anak. Guru hanya ngomong, hanya pemberi instruksi. Aneh juga pemandangan selanjutnya, yaitu saat guru sibuk membenarkan bacaan atau gerakan salat dan menertibkan beberapa keributan kecil karena ada anak yang masih iseng atau yang terlambat atau bacaan yang dikeraskan tidak terucap bersama-sama. Kan ini bukan cuma instruksi, melainkan juga melakukan penilaian terhadap apa yang tidak kita lakukan. Kayaknya ada yang serius ya?

Kalau di pelajaran olahraga rasanya kita juga mengalaminya waktu sekolah. Mungkin karena sudah berulang-ulang sejak kelas 1, anak-anak kelas 4 sudah hafal gerakan pemanasan. Diminta lah seorang siswa untuk memimpinnya. Selama pemanasan semua guru menonton atau mengingatkan, kadang memarahi anak yang tidak ikut pemanasan. Semoga kau percaya, tak ada satu pun gerakan pemanasan yang dicontohkan si anak dan diikuti ramai-ramai oleh temannya, diikuti oleh guru.

Ah, begitu juga di pelajaran lain. “Sekarang giliran Ibu!” teriak guru bahasa Indonesia persis setelah gemuruh tepuk tangan untuk anak yang tadi duduk di sampingnya selesai membaca puisi, mereda. Ia pun berdeklamasi dengan riang. Suasana kelas dan model keterlibatan guru seperti ini yang kuimpikan, dan itu tadi khayalku saja. Aku suka kalau tanpa peduli dengan keinginan untuk mencegah anak-anak yang akan ribut, nakal, tak benar gerakan salatnya, tak pas bacaannya, seorang guru memutuskan salat dhuha dengan kadang menjadi imam, kadang menjadi makmum sesuai giliran. Indah kan kalau dalam jadwal piket, nama guru juga tercantum. Kalau pagi sebelum masuk kelas, seorang anak memimpin temannya berdoa dalam barisan, pada barisan itu di antara anak-anak terselip gurunya. Dan, ia pun menunggu giliran diperiksa kukunya, kerapian pakaian, dan ditilik kebersihan giginya.

Aku masih merindukan sekolah yang egaliter. Aku teramat merindukan sekolah, tempat yang mengajarkan dan memuliakan berpikir, yang memberikan keleluasaan bagi anak-anak untuk berpendapat dan mendapat penjelasan tentang segala yang menjadi bagian dirinya. Aku sungguh khawatir kalau di rumah anak hanya semata sebagai anak, di sekolah anak hanya semata sebagai murid, di masyarakat anak tidak disatukan dengan kita dalam kata warganegara, kita tidak sedang menantikan generasi kelak yang kan revolusioner, melaikan generasi yang memberontak atau cuma bisa manut.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: