Home > MuridKusekolah > Sebuah Masjid: Ketika Jalan Pahala Tak Lagi Utama

Sebuah Masjid: Ketika Jalan Pahala Tak Lagi Utama

Suara adzan terdengar di ruanganku, namun kini aku tak bergegas ke masjid. Aku sepertinya akan kembali ke kebiasaan semula, salat tak perlu susah-susah tepat waktu, tak perlu jauh-jauh ke masjid, juga tak perlu mengerjakan pahala yang banyak dengan berjamaah. Salat ya sesantainya saja. Kalau lagi tanggung mengetik ya mengetik saja dulu, kalau harus menerima tamu ya ngobrol seleluasa mungkin, atau kalau lagi diskusi teruskan saja kan menuntut ilmu sama dengan ribuan kali ibadah. Dua hari lalu pihak sekolah (guru-guru dan kepala sekolah) memang memutuskan memberhentikan salat berjamaah di masjid. Salat berjamaah dilakukan lagi seperti kita belum punya masjid, berjamaah di masing-masing kelas dengan manajer kelas masing-masing.

Alasan teman-teman menurutku wajar walau tak dapat kubenarkan. Salah satu target kelulusan SD Hikmah Teladan adalah hafal surat-surat pendek (Juz ‘Amma) tapi dalam kurikulum kami tidak ada mata pelajaran Tahfidz (hafalan). Yang kami lakukan adalah mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk mengajarkannya. Ada 3 kesempatan, pertama, sekitar 10 menit sebelum pelajaran Mengaji al- Quran, anak-anak diberikan hafalan, kedua, saat salat dhuha, surat pendek yang dibaca dengan keras bersama-sama adalah surat-surat yang sedang dihafal, ketiga, surat-surat pendek yang dibaca saat salat dzuhur ditujukan untuk menguatkan hafalan. Semakin naik tingkat kelasnya, penguatan hafalan akan semakin banyak. Jadi bukan cuma ada perbedaan surat yang dibaca, berkaitan dengan penguatan hafalan ada juga perbedaan beban. Ironisnya beban penguatan hafalan yang terberat itu menimpa anak-anak yang bebannya sudah menumpuk, kelas 6! Sementara dengan alasan bahwa yang berjamaah di masjid itu anak kelas 3, 4, 5, 6, juga guru-guru, maka tak bisa kita menentukan penyesuaian surat yang dibaca dengan tingkat tertentu dan dengan ‘dikeraskan’. Satu kesempatan untuk menghafal hilang. Yang dimaksud dengan dikeraskan itu bisa guru (tanpa ikut salat) membacakan surat yang sudah ditentukan dan anak-anak yang berjamaah mengikutinya dalam hati.

Alasan teman-teman, terutama bagi guru-guru kelas 6, kan logis ya. Cuma sekolah bukan sekadar milik guru-guru. Aku sebagai bagian manajemen dan orangtua murid juga punya kepentingan, punya sudut pandang berbeda. Terutama, ini kekuatan yang menghimpun semua tujuan pendidikan, menjadikan pandangan untuk memberikan hak anak mendapatkan yang terbaik harus selalu menjadi penentu sebuah keputusan, pilihan, sebuah kebijakan.

Rabu, 5 November, karena belum tahu keputusan ini, saat adzan dzuhur aku bergegas ke masjid. Sebelum sampai aku diberitahu keputusan itu, walau sangat kesal, aku tetap melangkah ke masjid. Tidak ada yang adzan, tidak ada yang bersiap salat. Dengan haru dan marah aku salat sendirian. Baru di rakaat terakhir ada dua orang yang ikut berjamaah. Selesai salat aku penasaran dengan apa yang terjadi di kelas-kelas. Duh, guru yang ‘begitu’ anak-anaknya terlambat salat, guru yang ‘itu’ memang gak bisa ngomelin anak-anak yang terus bikin keributan, anak-anak kelas itu yang gurunya ‘memang begitu’ salat dengan tertib. Namun lorong kelas tetap dapat dikatakan ramai oleh anak-anak dan aku diikuti salah satu dari mereka. Anak dengan cambang yang dipanjangkan, dikenal luas dengan pengetahuan yang mendetail tentang dunia dinosaurus dan kukenal sebagai anak sulit sekali tertib ketika salat, mengikutiku dengan pertanyaan yang diulang-ulang dan tak bisa kujawab, “Kenapa tidak salat berjamaah lagi?”. Sayangnya suara anak-anak tidak pernah hendak didengar. Di sini kuasa itu sebagai kekuatan bukan kebenaran.

Salat berjamaah di masjid dalam banyak hal istimewa. Adanya masjid itu saja harus diucapkan dalam kalimat: akhirnya punya masjid. Sungguh berbeda salat di kelas dalam kepungan bangku dan kursi dengan salat dalam kelapangan masjid yang luas. Juga sebuah prestasi bila kesulitan mengatur anak-anak di kelas tidak jauh berbeda dengan mengatur kumpulan anak-anak 12 kelas. Bahkan untuk kebanyakan kelas, di masjid dapat dikatakan lebih tertib. Juga adalah sebuah sajian peristiwa istimewa jika di masjid kami salat dengan beberapa anak berkebutuhan khusus yang berulah sendiri dan menetapkan aturan sendiri, sementara anak-anak yang lain dihadapkan pada pengalaman nyata mengembangkan sikap toleran. Ini juga yang ingin kutegaskan, ada pergaulan yang begitu terbuka dan cair antara anak-anak yang setingkat dan berbeda tingkat kelas. Pergaulan seperti ini rumit dan kerumitan inilah yang menjebak guru-guru pada situasi di mana karakternya akan muncul. Begitu juga aku yang sering dipermalukan di masjid, dan ini sejak masuk masjid, yaitu dengan mudahnya aku menandai anak-anak yang biasa bermasalah dan bersiap-siap dengan berbagai jurus untuk mendiamkan mereka. Cukup lama bagiku menerima dengan santai ada keributan saat salat. Ini aneh bila mengingat aku berkeyakinan bahwa hanya sebagian kecil anak-anak tingkat SD yang sudah dikenai kewajiban salat (belum wajib salat), yang berarti, kebanyakan di antara mereka tidak apa-apa tidak salat, yang berarti, apalagi kalau cuma sekedar buat keributan saat salat. Di sinilah ketahuan, kalau aku terganggu dengan anak-anak yang bikin ribut, benar-benar menjadi kenyataan yang menjelaskan ada masalah dengan kepribadianku. Aku beritahukan, ketika keputusan salat berjamaah di masjid dihilangkan, aku sudah mulai santai menghadapi anak-anak biang ribut. Hanya ada kebanggaan dan cerita gembira yang terekam selepas salat. Wajar kan aku kecewa!

Bayangkan satu orang Aripin begitu kehilangan dengan salat berjamaah di masjid, lalu bagaimana dengan sekitar 300-an anak yang suaranya tak hendak didengar?

Categories: MuridKusekolah
  1. quarkie
    November 15, 2008 at 4:58 am

    Saya gak akan komen mengenai shalat berjamaah dengan ratusan anak2, karena saya gak berpengalaman dengan itu. Cuma penggalan ‘murid-murid yang tak akan didengarkan suaranya’ itu yang gak asing saya dengar.
    Dalam dunia kerja, saya sering lihat, kantor-kantor, profesi sampai perorangan sibuk dengan program sejenis public speaking atau teknik presentasi yang efektif. Saya belum pernah dengar ada program yang tersedia untuk meningkatkan kemampuan kita untuk ‘menyimak’ lebih dari sekadar mendengar.
    Percaya atau tidak, konon profesi dengan kemampuan mendengar yang termasuk paling rendah adalah: dosen dan guru. Sehingga, mungkin sekali-kali perlu juga guru-guru SDHT di-refresh lagi kemampuan mendengarnya dengan pelatihan komunikasi.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: