Home > Tugas Akhir Pekan > Tugas Akhir Pekan, Oktober 2008, Kelas 3 dan 4

Tugas Akhir Pekan, Oktober 2008, Kelas 3 dan 4

TAP, Oktober 2008, Kelas 3 dan 4

 

Nonton Bareng

 

 

Sejak filem “Ayat-ayat Cinta” , nonton bareng jadi kegiatan yang menyenangkan. Banyak orang melakukannya. Lebih lagi ketika filem “Laskar Pelangi”, guru-guru SDHT pun ikut meramaikan bioskop.

 

Seperti sepakbola, kita juga bisa nonton bareng acara televisi. Biasanya gratis. Nah  ini yang ingin dilakukan di SDHT. Salah satu acara yang akan kita tonton adalah “Jika Aku Menjadi…”.

 

Karena acaranya pukul 18.00, berarti kita semua sudah tidak sekolah. Ini jadi masalah. Salah satu penyelesaiannya, kita mendapatkan rekaman acara ini. Bagaimana caranya? Seperti saat kami senang dengan acara mengenai tokoh-tokoh Indonesia “Maestro” di MetroTV, ya kami surati redaksinya. Sekitar sebulan kemudian kami dapat bukunya. Jadi, ayo kamu coba buat surat untuk mendapatkan copy filem “Jika Aku Menjadi…” dan suratnya ditujukan ke redaksi Trans TV.

 

Kegiatan kedua untuk akhir pekan ini adalah menulis kembali acara “Jika Aku Menjadi…” yang tayang Sabtu ini dalam bentuk cerita. Salah satu tulisan akan dimuat di majalah sekolah. Sedangkan orangtuamu bertugas membuat komentar seperti ditulis salah seorang ibu di blognya. Sama dong, salah satunya akan dimuat di majalah sekolah.

 

Untuk membuat surat, kerjakan dengan orangtuamu ya. Beritahukan juga orangtuamu untuk mendiskusikan acara “Jika Aku Menjadi…” denganmu. Aih, ini kan namanya diskusi keluarga. Biar seru, ada 2 tulisan tentang acara ini yang keluargamu baca. Selamat berakhir pekan. Selamat berdiskusi dengan keluargamu.

 

 

31 Oktober 2008

Litbang SDHT


JIKA AKU MENJADI (JAM) – MENUMBUHKAN SOLIDARITAS SOSIAL PADA RAKYAT MISKIN

 

Oleh Satrio Arismunandar


“Pak, boleh tahu alamat Bapak tua, yang kakinya cacat, di tayangan Jika Aku Menjadi (JAM) hari Minggu lalu? Sampai hari ini, saya masih terbayang-bayang tentang nasib Bapak tua itu. Saya ingin memberi sumbangan buat dia.”
Satrio Arismunandar, News Producer, konseptor awal program Jika Aku Menjadi (JAM).

Itu diucapkan salah satu pemirsa JAM, Ibu Ana, lewat telepon hari Rabu (6 Februari 2007). Ia mengaku, jarang menonton program televisi lokal, dan terbiasa menonton siaran dari luar negeri. Tetapi, suatu ketika ia kebetulan menonton tayangan JAM. Ia langsung merasa tersentuh, sampai menangis.

Ibu Ana hanya salah satu dari sekian banyak penonton, yang mulai menikmati dan mengapresiasi JAM. Kekhasan tayangan ini bahkan membuat JAM diprofilkan di media nasional, seperti Tabloid Nyata, Tabloid Nova, dan Harian Republika.

Sejak penayangan perdana pada 25 November 2007, JAM selalu setia hadir di layar Trans TV setiap hari Minggu, pukul 18.00-18.30 WIB. JAM saat ini adalah satu-satunya karya Divisi News yang ditayangkan di prime time. Meski perolehan rating dan share-nya belum menembus angka bonus, JAM di slot itu hanya kalah oleh sinetron di stasiun-stasiun TV kompetitor.

Secara tak langsung, JAM adalah jawaban Trans TV terhadap tudingan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yang selalu mengritik tayangan yang dianggap tidak mendidik, mengajarkan takhyul, mengumbar aurat, dan mengeksploitasi kekerasan. JAM tidak memberikan mimpi, tetapi justru memperkenalkan penonton pada kehidupan orang kecil seperti apa adanya, serta mempromosikan solidaritas dan kepekaan sosial.

Program JAM menggambarkan kehidupan orang kecil dengan profesi atau pekerjaan tertentu, yang biasanya dianggap “gurem” oleh masyarakat. Seperti: petani, nelayan, pemulung, seniman kecil, tukang pijat, penjual air, penjual rujak, dan sebagainya. Yang dipilih jadi narasumber adalah orang yang tetap jujur, sabar, tekun, gigih berjuang, meski hidupnya miskin dan penuh kesusahan.

Harus memberi inspirasi

Untuk memperoleh narasumber seperti ini, tak cukup dengan riset internet atau membaca koran. Crew JAM, sebelum taping, harus mensurvey sendiri ke lokasi, seberapa miskin dan susahkah narasumber itu. Lalu, aspek-aspek apa dari kehidupannya, yang layak untuk ditayangkan.

Sebagai contoh, ketika membuat pilot project JAM tahun 2007, crew JAM butuh waktu tiga hari di lapangan, untuk menemukan seorang nelayan yang paling miskin di Indramayu. Ia beserta istri dan dua anaknya tinggal di gubuk, yang sebenarnya lebih tepat disebut kandang kambing! Karena miskinnya, mereka biasa makan nasi aking, yaitu nasi basi yang dikeringkan, dan lalu direbus lagi untuk dimakan.

Dalam memilih nara sumber, JAM tak akan pernah memprofilkan pengemis, karena –menurut Pak Chairul Tanjung—Trans TV harus menampilkan tokoh yang memberi inspirasi pada penonton (inspiring people). Sedangkan pengemis, yang tak mau bekerja dan hanya suka meminta-minta, bukanlah profil yang layak ditampilkan.

Yang menjadi talent di dalam JAM biasanya seorang gadis dari kota, usia 23-28 tahun, yang cukup good looking, gaul, dan relatif “tidak pernah mengalami hidup susah.” Talent inilah yang berinteraksi dengan narasumber dan keluarganya, dan melalui talent inilah penonton diperkenalkan pada kehidupan narasumber. Mulai dari aspek yang lucu, unik, mengharukan, sampai yang memberi pelajaran tentang kehidupan.

Karena harus berinteraksi dengan orang miskin dan susah, tidak sembarang orang layak jadi talent. Biar gadis itu cantik, tetapi kalau jutek dan tak punya rasa empati pada orang kecil, ia tidak akan dipakai di JAM. Faktor krusial inilah yang membuat crew JAM sering repot dalam memilih talent. Dari sekian banyak yang melamar, hanya sedikit yang memenuhi kriteria.

JAM juga sengaja tidak menggunakan artis atau bintang sinetron sebagai talent, karena khawatir tayangan di JAM oleh penonton dianggap hanya sebagai acting. Padahal JAM adalah tayangan yang semi reality. Jika si talent atau narasumber terlihat terharu atau menangis di layar, itu betul-betul ekspresi murni mereka, bukan direkayasa oleh crew JAM. JAM juga tidak menyediakan skrip untuk talent dan narasumber, agar dialognya sealami mungkin.

Dengan segala pengakuan dan pujian dari berbagai pihak saat ini, bagaimanapun JAM masih harus berjuang, untuk betul-betul mendapat tempat utama di prime time. InsyaAllah, asalkan terus konsisten menjaga kualitas tayangan, JAM akan berjaya! ***

Jakarta, Maret 2008

 


Jika Aku Menjadi….

Pernah mendengar kisah Umar bin Khattab mengangkut sekarung gandum untuk seorang rakyat miskin? Hal itu disebabkan setelah sang khalifah mau bersusah payah mengunjungi keadaan rakyatnya, dan beliau terkesiap menyaksikan bagaimana rakyatnya harus kesulitan untuk menanggung beratnya beban hidup.

Mungkin sulit membayangkan, pemimpin kita mau mengunjungi rakyat kecilnya secara diam-diam, tanpa diketahui oleh pengawalnya, untuk memperhatikan bagaimana keadaan rakyatnya yang terbelenggu akan kemiskinan.

Tapi bagiku, ada yang menyejukkan, justru dalam salah satu acara reality show di sebuah stasiun televisi swasta. Judulnya Jika Aku Menjadi…

Acara ini mengisahkan seorang wanita karir, mengunjungi sebuah keluarga yang minim penghasilannya, dan hidup bersama, merasakan bagaimana perjuangan keluarga miskin tersebut, ikut merasakan penderitaannya, juga membagi pengalamannya ke pemirsa acara tersebut di seluruh Indonesia.

Memang, bukan sosok pemimpin rakyat kita yang terjun ke kehidupan si keluarga miskin tersebut, tetapi dengan ditayangkannya acara tersebut, bisa membuka mata bagi banyak orang, khususnya orang kaya di negara kita.

Banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari kisah hidup keluarga miskin tersebut. Meskipun mereka miskin, mereka tak pantang menyerah. Mereka bukan miskin karena mereka malas, bahkan justru banyak dari mereka yang kerjanya lebih keras dibandingkan orang-orang yang lebih beruntung daripada mereka. Mereka tidak berminat merendahkan harga diri untuk menjadi pengemis, bahkan di kala penghasilan sebagai seorang pengemis justru lebih tinggi dibandingkan mereka. Malahan, kita bisa banyak mendapatkan pelajaran dari mereka. Kerendahatian, jujur, bersih hati, semangat, etos, nilai positif, dan masih banyak lagi.

Yang menarik, adalah hari tayang acara ini, yaitu pada hari ahad sore. Di saat besok pagi banyak karyawan yang enggan-engganan kala masuk ke kantor karena sebelumnya hari libur, dengan menyaksikan acara ini, rasa itu seharusnya bisa hilang, kalau tak ingin puna semangat kalah dari orang-orang miskin tersebut.

Terima kasih, Trans TV. Semoga acara ini bisa langgeng dan terus membawa manfaat

 

Categories: Tugas Akhir Pekan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: