Home > Uncategorized > Sekolahku Inklusi (1): Seperti Wacana Keadilan Tuhan

Sekolahku Inklusi (1): Seperti Wacana Keadilan Tuhan

SDHT merupakan sekolah inklusi. Masyarakat yang menentukan siapa siswa kami. Siapa kami, kemampuan, harapan-harapan, dan permasalahannya tak bisa dimunculkan untuk mempengaruhi keputusan orangtua memilih atau menolak SDHT sebagai sekolah bagi anaknya. Tidak bisa karena si fulan sebagai siswa SDHT telah membuat kami kewalahan, dipersalahkan, dianggap tak becus mendidik, citra negatif SDHT bertambah; membuat kami memetakan si fulan dalam kriteria akademis, sosial dan psikologis, kemudian kriteria ini menjadi syarat pembatal untuk jadi siswa SDHT. Hal yang sama juga tidak bisa dilakukan berkaitan dengan siswa yang membanggakan, berprestasi, menjadi teladan untuk didefinisikan ciri-ciri karakternya dan menjadi syarat penerimaan siswa SDHT.

Paragraf pertama itu menyebalkan! Harusnya tidak boleh kami berpikir bakal siswa kami. Merem saja. Buka mata lebar-lebar saat mereka dipastikan jadi siswa. Seribusatu keragaman sosial, ekonomi, psikologis, keyakinan, peduli amat. Memang bisa? Bisa. Sudah ini jawaban yang tidak perlu diberikan keterangan.

Sungguh membuatku berkesan bahwa perkembangan kompetensi, profesionalisme dan kecintaan pada profesi sebagai guru dari guru-guru SDHT terkait hubungan khusus mereka dengan anak-anak yang kadang membuat kami bertanya pada Tuhan tentang keadilan-Nya, membuat kami dibatas keyakinan antara belum berhasil dengan putus harapan. Gak kebayang! Inilah komentar terhadap catatan-catatan kecil yang dapat dihitung dengan jari pada garis waktu anak-anak ini. Gak kebayang pun menjadi ungkapan yang menjadi milik kami, menjadi harga diri dan kehormatan dari autobiografi yang warna-warni.

Mengelola sekolah inklusi itu memang kerap membenturkan kita pada wacana teologis. Setiap anak apa adanya itu sepenuhnya bukan atas kehendaknya sendiri. Ketika limpahan kasih sayang, lingkungan yang sehat menjadi perjalanan tumbuh mereka, kita mengatakan ketakberdayaan anak-anak diperuntukkan fitrah pengasih dari seorang ibu. Tapi bagaimana kalau sebaliknya? Seorang siswi SDHT lahir tidak diinginkan, memikul citra yang membuat orang memandang sebelah mata kalau tidak etis mengatakan memandang jijik. Hukum alam mengatakan ia anak, ia tidak berdaya. Lalu kenapa Tuhan menggariskan jalan kehinaan pada ketidakberdayaan itu? Kenapa “dia” orangtuanya bukan beliau? Kenapa dilahirkan di sana bukan di sini? Aku tidak suka dengan pertanyaan-pertanyaan ini. Namun bila ia menjadi siswamu, beritahu aku bagaimana menerimanya dengan tetap menyelipkan sepatah kata harapan? Bila ia satu-satunya siswamu di antara yang lain yang berkelimpahan kasih sayang, bagaimanakah menegakkan asas keadilan kalau kenyataan adalah ketidakadilan? Aku harus memihak. Tahu tidak? Aku membela keyakinanku akan Keadilan Tuhan, dan fondasi keyakinan ini adalah seluruh pertanyaan, kesangsian, dan keraguan akan Keadilan Tuhan.

Aku tidak yakin dengan apa yang ditulis kali ini. Mungkin keamanan psikologis, semacam pandangan humanistik tentang pendidikan, yang membuatku mau saja masuk wacana tersebut. Seterbuka bagaimanapun kesempatan untuk mempertanyakan, semudah apapun pertanyaan-pertanyaan teologis terdorong, ada saja bukti-bukti sepele, sederhana bahwa keadilan itu universal sehingga tak bisa sudut pandang siapapun menjadi penilainya. Bila aku bisa benar menempatkan diri sebagai pribadi anak, sehingga sudut pandangku adalah dirinya, aku bisa membuka pintu-pintu rahasia: bukan sekadar jalan harapan, tapi terutama jalan kesempatan. Ada perasaan nyaman. Semacam pertemanan yang bersemi: kamu memang harus ada di sini untuk aku yang sudah ada di sini. Belum jalan beriring berganteng tangan sih, tapi kami tahu kami berdekatan.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: