Home > MuridKusekolah > Sebuah Masjid (2): Bermainlah di Masjid

Sebuah Masjid (2): Bermainlah di Masjid

Aku jenuh. Sepekan akhir belajar ini, aku tidak ada kegiatan. Tidak ada Forum Paralel.

Sesampainya di sekolah, dan itu juga kesiangan, aku langsung ke perpustakaan membaca koran. Kalaupun tidak ada berita menarik, aku tertahan agak lama di tempat yang tidak pernah sepi oleh anak-anak ini. Rata-rata perhari 100-an lho pengunjungnya. Sebabnya karena ada anak berprilaku aneh yang untuk kesekian kali kuamati. Dia, lelaki kelas 6, punya kesenangan bersentuhan dengan lelaki anak kelas 3 dalam berbagai kategori: mendudukkan si kelas 3 dipangkuan, mencuri kesempatan mencium, mencari masalah agar tangannya dicakar, dan mengumbar rayuan.

Pikiranku sekonyong-konyong ingat Prof. Dr. Musdah Mulia. Ah, tidak mungkin, waktu di kelas 3, 4, sampai 5, dia juga begitu ke anak perempuan teman sekelasnya, sekalipun sebatas kata-kata yang memposisikan dirinya sebagai suami. Setelah berhasil memisahkan keduanya, aku mulai berkeliling ke kelas-kelas. Mulai dari kelas 4, berbalik ke kelas 1 kemudian kelas 2 dan berakhir di masjid. Waktu 6 ruang kelas 1 dan 2 kusatroni semuanya sepi. Semuanya ke masjid. Aku juga bergabung mengamati. Ah senang kok, jadi sebetulnya aku bergabung menikmati.

Lihat gadis berpakaian biru-biru itu. Di tengah keramaian, hiruk-pikuk anak-anak kelas 1 dan 2 yang siap nonton, asyik-masyuk membaca novel. Tak terganggu tuh si biru-biru dengan lalu lalang, bahkan saat seorang anak yang sempat meloncat dari pembatas masjid setinggi 1 meter melewati kepalanya, ia bergeming. Tahu tidak, ia berpindah tempat setelah tangannya menepis udara secara acak. Seekor nyamuk lah yang berhasil membuatnya beranjak.

Di pojok sebelah tempat si biru-biru, (kelompok) 10 anak kelas 5 dan 6 didampingi seorang guru sedang khusuk membuat kartu lebaran. Ketika di rumah, anakku yang salah satu dari kelas 6 itu menyerahkan kartu lebaran karyanya. Sebelum menyampaikan permohonan maaf ia menuliskan terlebih dahulu “Segala kesalahan ayah sudah Azmi maafkan.” Ups! Terhalang pembatas masjid, 4 putri kelas 6 bermain kartu dengan gambar Barbie di koridor masjid. Namanya juga koridor, yang lalu lalang tidak hanya siswa, tapi juga guru dan orangtua.

Lain lagi dengan kelas 3 yang paling dekat masjid, di mana kutemui sepuluh anak laki perempuan sedang asyik ngobrol dalam lingkaran kecil. Di bagian belakang kelas yang sama, dalam jumlah yang lebih kecil dan lelaki saja sedang asyik bergaya anak band. Anak yang memegang sapu gitar wajahnya mirip Dewa Bujana. Mirip juga ya suksesnya.

Kembali ke masjid, anak-anak kelas 1 dan 2 sudah mulai nonton filem kartun budi pekerti yang isinya ‘ceramah’ dan nyanyi (lagu dakwah tentu saja) melulu. Hi, hi, gak ada alur cerita, tanpa konflik dan semua perempuan dalam filem itu berkerudung. Beruntung yang berjanggut bukan semua lelaki, melainkan cuman pak guru. Pas bagian filem “Rajin Baca Quran”, kira-kira seperempat bagian belakang masjid sudah jadi arena bermain dengan bentangan kain hitam untuk menghalangi cahaya masuk sebagai wahananya. Yang tigaperempat sih asyik nonton.

Categories: MuridKusekolah
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: