Home > BukuKusekolah, MuridKusekolah > Alumni SDHT (1): Sejarah Delapan Tahun

Alumni SDHT (1): Sejarah Delapan Tahun

Duh hatiku berbunga-bunga. Bahagianya sangat bahagia. Sebabnya di sini, di SDHT-ku ada alumni yang lengkap: angkatan ke-1 yang kini kelas 3 SMA sampai angkatan yang baru ke luar kemarin. Ketika ngobrol dengan angkatan ke-1, adanya cerita menggembirakan diikuti cerita menyedihkan.

Aku bergabung dengan SDHT di tahun kedua. SDHT sendiri di tahun pertama membuka kelas 1 dan 4. Ya, ketika angkatan pertama kelas 5 aku bertemu mereka. Ini strategi agar kami punya lulusan lebih cepat. Katanya keberadaan lulusan membuat beberapa hak untuk mandiri diberikan, termasuk salah satunya bisa mendaftarkan siswa ujian akhir atas nama sekolah.

Siapa pada mulanya angkatan-1? Satu anak, anak dari pendiri. Temanku ini bertaruh. Pada awalnya dalam penilaianku sekolah ini punya prinsip-prinsip yang jelas namun belum sampai menjadi konsep. Bila sebuah prinsip berbunyi “mendidik anak agar berani gagal berani mencoba”, filosofi pendidikan yang menjadikan prinsip ini memiliki wilayah jelajah yang terpetakan belum ditemukan. Demikian juga, metode pendidikan yang memberikan track bagaimana prinsip itu mungkin dicapai masih sangat kabur. Kalau pada tataran konsep diberlakukan trial and error, ya mau dibilang apalagi kalau bukan nekad.

Anak ini keluar-masuk beberapa sekolah. Seperti ketika kelas 4 pindah ke SDHT, ia dipindahkan, si anak memang sempat merasakan betapa mudahnya temanku memasukan atau mengeluarkan anaknya dari atau ke sebuah sekolah. Namun suatu kali ketika adiknya aku ajak untuk mengalami pengalaman kakaknya, temanku menolaknya. Bukan idealismeku yang tidak disepakatinya, melainkan akibat yang kini ditanggung si kakak jangan dialami si adik. Padahal, si adik kalau jadi pindah akan sekelas dengan anakku yang sebelumnya sudah kupindahkan.

Anak kedua namanya Gilman. Dalam rapat luar biasa SDHT, beberapa hari sebelum pertemuan alumni, nama anak ini disebut seorang guru sebagai salah satu anak yang kerap ditindas, anak objek bullying. Bagiku, anak ini jenis anak yang aku bingung kelaknya akan jadi apa. Bisa ini tidak, bisa itu tidak. Menarik ininya tidak, menarik itunya tidak. Kadang ada anak yang dapat membuat kita mudah terjebak mengajar asal melaksanakan kewajiban, sedangkan pada dampaknya setengah berputus asa; itulah Gilman. Maka aku girang menemuinya dengan seragam putih-abu.

“Di SMKN, Pak!” N kan berarti negeri. Jawaban Gilman terhadap pertanyaanku di mana sekolahmu sungguh mendiamkanku. Jasadku yang diam. Jasad yang diam memudahkan pikiranku berkelana ke mana dapat kuingat saat ia kelas 5, dan 6. Ketika kubalik lagi dari berkelana, kuyakini huruf N bukan bagian dari sumbangsihku. Aku sampai minta kepada egoku untuk tidak mempercayai Gilman ketika dengan disertai senyuman manis memuji SDHT sebagai sekolah yang paling menyenangkan. Ah, basa-basi. Kan sudah sepantasnya untuk murid yang sudah bertahun-tahun tidak ketemu gurunya memuji-puji sekolah.

“Pak, doakan saya mau ke POLBAN.” Lah. POLBAN itu tempat orang selagi sekolah sudah dilamar kerja. Apa hubungan kemungkinan antara POLBAN dan Gilman? Sementara pikiranku belum menemukan jawaban, hatiku mengambil keputusan. Hai, Ramadhan ini aku tumben mengejar Lailatul Qadar karena ingin menambahkan jumlahku mendoakan Gilman di selama Ramadhan.

Dari 8 anak angkatan-1, 4 anak pindahan dari Madrasah Ibtidaiyah, sekolah yang sudah cukup lama dikelola pemilik SDHT. Biar tidak cuma 2 murid. 2 anak lain kan pindah setelah SDHT ada 6 murid. 3 di antara 4 anak dari MI ini dari keluarga yang mengelola pesantren. Setelah lulus dari SDHT mereka ke pesantren itu. Namun, oh rahasia hidup, ketiganya tidak melanjutkan ke tingkat menengah atas. Yang perempuan sudah bekerja, yang dua laki belum bekerja dengan badan yang berotot sehingga aku sampaikan pikiranku bahwa ia kerjanya cuma fitnes doang. Ia sih nyengir. Sudah bekerja belum ya keduanya?

Sejarah delapan tahun itu kami kebagian 3 tahun. Satu anak malah 2 tahun dan ini yang sekarang kuceritakan. Ibunya kepala sekolah dan ayahnya pegawai yang kepala rumah tangga membuat anak ini agak beda. Agak susah bagiku mengingat apa bedanya itu. Mungkin karena harapan agar ibunya yang sepantasnya banyak memberikan masukan pada kami tidak pernah terjadi sehingga aku jadi teringat bahwa beliau kepala dari sekolah yang kurang bermutu ya? Aku juga mengingat kemanjaan dan rasanya anak ini membawa penilaian yang berbeda terhadap kami. Daripada ngomong tidak keruan aku persingkat saja segera pada kabar terakhirnya: anak ini tidak tahu di mana. Disembunyikan orangtuanya karena terlibat geng motor.

Sambil terus memperjelas hitung-hitungan sejarah delapan tahun, aku terus bertanya pada siapa telah memberi pengaruh? Pada Gilman yang aku ragukan atau pada anak yang terlibat geng motor yang kuhindarkan? Bahkan aku juga bertanya kenapa tidak menjadi penting bagiku mengetahui kelanjutan atau memantau alumninya? Kenapa pada ingatanku meluluskan itu seperti melepas beban, mengakhiri tanggung jawab? Kenapa bukan aku kalau ada guru yang mengikatkan diri dengan anak seumur hidup?

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: