Home > MH. Aripin Ali > M.H. Aripin Ali: Persahabatan Tak Kenal Lelah

M.H. Aripin Ali: Persahabatan Tak Kenal Lelah

Februari 26, 2008 at 3:08 am, Arif Mulyadi berkomentar di weblognya http://www.amuli.wordpress.com ;

Dini hari tadi, sewaktu aku merenungi atas setiap kejadian yang telah dan yang mungkin akan kulewati (ceritanya: aku muhasabah!), aku dikejutkan oleh pesan pendek yang datang dari kakak, teman, saudara, sekaligus “guru pertama” filsafatku, yakni Muhammad Hasan Aripin Ali, yang sering dipanggil oleh kami dengan “A Ipin”. Pesan pendek itu berbunyi: “Besok! Sudah kusiapkan ucapan selamat. Ah, jauh-jauh hari kau sudah sampai kok. Hanya perlu catatan kecil: setelah Selasa ada Rabu.” Pesan pendek ini terkait dengan sedikit keteganganku atas sidang proposal tesis yang akan kujalani besok, Rabu, 27 Februari 2008 dan ketegangan itu kubagi-bagikan kepada saudara-saudaraku yang secara emosional dekat denganku meski secara fisik kami berjauhan.

Pesan pendek atau sms ini membuatku terharu. Di antara kami ini memang sudah terjalin persahabatan yang cukup lama dari mulai 1988 (saat aku masuk SMA) hingga saat ini. (Ajib, hampir 20 sudah tahun kami berteman, bersaudara, dan semuanya kami lewati dengan kasih sayang. Memang sih ada kejadian-kejadian kecil dan perang dingin di antara kami selama rentang waktu tersebut, tapi puji Tuhan, semuanya bisa diatasi).

Saya sebut kakak (Aa) karena memang dari sisi usia ia lebih tua tiga tahun dariku. Disebut teman juga pantas karena ia bisa akomodatif terhadap persoalan-persoalan adik kelasnya (karena kami memang satu almamater di kota T). Disebut saudara juga memang layak karena kami tak ubahnya seperti saudara kandung (menurutku lho). Orangnya enak untuk diadu keluh kesah. Sebagai “guru pertama” filsafatku, kukira tak berlebihan. Pasalnya sewaktu kami masih bergiat di suatu komunitas antar pelajar di kota asal kami, dialah yang mengenalkan kepada kami (saya dan teman-teman satu Rohis) wacana-wacana pemikiran rasional-filosofis. Buku-buku karya Muhammad Iqbal, Seyyed Hossein Nasr, Murtadha Muthahhari, Ali Syariati hingga Imam Khomeini adalah buku-buku panduan ketika kami akan melakukan pesantren kilat yang merupakan kegiatan tahunan kami. Meskipun, terus terang, intensitasku dalam menggeluti pemikiran tokoh-tokoh tersebut relatif lambat, namun bagaimanapun itu menjadi investasiku yang berharga di kemudian hari.

Pada rentang pertengahan persahabatan kami, kami sempat “perang dingin” karena berbeda prinsip dalam hal-hal yang sifatnya “ideologis”. Sehingga, karena itu, aku juga sempat disidang oleh teman-teman. Jika kupikir sekarang, rasanya yang terjadi pada tahun-tahun tersebut gara-gara ketidakluwesanku dalam memandang persoalan. Mungkin Anda sendiri pernah mengalaminya bagaimana soal yang bersifat “ideologis” dikembangkan hingga ke tingkat persoalan pribadi seperti masalah utang-piutang, buku-buku yang hilang, dan seterusnya.

Usia, bagaimanapun, pada akhirnya membuat kami dewasa secara pelan-pelan. Barangkali yang menjadikanku sekarang ini “lebih cair” adalah ketika aku sampai pada pembahasan isti’dad dan entitas permanen yang menjadi kata-kata kunci dalam metafisika Ibn ‘Arabi. Dalam pembahasan yang panjang lebar tentang dua hal tadi, aku menyimpulkan bahwa setiap orang itu pada dasarnya tengah mencari alamatnya masing-masing (entitas permanen dia). Artinya, apabila isti’dad (kesiapan) seseorang sudah di X, maka tak perlu kita untuk mengubahnya menjadi Y. Malah dalam suatu pasase di Fushush al-Hikam, Ibn ‘Arabi menyatakan, bahwa setiap entitas mempunyai hubungan khusus dengan Rabb-nya sendiri (Hati-hati ya, “Rabb” di sini bukan berarti Tuhan dalam anggapan kita. Lebih jauh, kalau ada kesempatan akan saya tulis tentang masalah ini). Yang sampai pada Rabb al-Arbab (Allah) hanyalah insan kamil. Di samping mereka punya hubungan dengan Rabb khusus mereka, mereka juga telah kontak dengan Rabb al-Arbab.

So, karena itulah, dengan apa yang aku pelajari saat ini, perbedaan dalam persahabatan–dan dalam hal lainnya–menjadi sesuatu yang indah. Lagi pula, kalau kupikir lagi, apakah “pemahaman” dan kesadaran kita tentang Tuhan dengan si Zaid, Ali, dan lainnya betul-betul sama? Kupikir tidak. Meski yang dipelajari adalah sama seperti tauhid, kenabian, ma’ad, dan seterusnya.

Thanks for our friendship, O God!

Categories: MH. Aripin Ali
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: