100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (7): Mereka yang Membuat SDHT Luar Biasa
Bila saya diminta mengurutkan kelompok yang paling berjasa terhadap SD Hikmah Teladan, maka yang menempati urutan pertama adalah para guru. Yang kedua adalah mereka yang membuat guru-guru kuat dan selalu menimpali perjuangan berat yang dilalui dengan hadiah kebahagiaan, keceriaan, kejutan dan ketakjuban: anak-anak. Menduduki peringkat ketiga adalah para orangtua yang mampu menempatkan keseimbangan antara kekhawatiran akan eksperimen dan kenakalan yang dilakukan sekolah dengan harapan akan masa depan sebagaimana setidaknya terlirik dalam kecerian anak-anak sepanjang sekolah. Paling boncot adalah manajemen.
Walaupun diwakili satudua orang manajemen memiliki peran sentral, tapi dalam konteks kelompok, manajemen harus diurutan paling akhir. Apalagi kalau Anda tahu keadaan manajemen secara mendalam, maka Anda akan takjub bagaimana pada lingkungan yang kurang kondusif, guru-guru yang luar biasa masih mudah ditemukan. Wakil Ketua Komite Sekolah SDHT menegaskan dengan sangat yakin: Inilah sekolah yang mengusung agenda pembebasan namun dikelola dengan cara feodal. Sekolah pembebasan dengan kehendak kapitalis.
Seratus hal kali ini berkaitan dengan orang-orang yang berperan besar membuat SDHT luar biasa. Sangat subjektif. Betul-betul menurut penilaian pribadi. Karena itu saya tidak memerlukan persetujuan Anda, tapi kalau kritik boleh.
46. Sandi Sahrinurahman
Namanya melekat dengan SD Hikmah Teladan sejak diwacanakan pendiriannya sampai saat ini. Lebih dari hal lain, ia bukan hanya melekat bahkan identik dengan jargon “Berani Gagal Berani Mencoba”. Berbeda dengan sekarang, pada awalnya jargon ini berlaku setara baik untuk guru maupun anak. Pada masa awal SDHT, diberlakukan aturan yang melarang anak-anak menggunakan pensil dan membawa penghapus, juga membawa baju ganti karena bermain kotor itu asyik banget. Kalau ini yang terjadi, jargon yang lebih pas adalah “Coba lagi. Gagal lagi. Gagal lebih baik.” (Samuel Backett)
Saya sendiri menjadi saksi keteguhan keyakinan Sandi Sahrinurahman. Beliau orang yang sederhana, menyukai detail, teliti dan lembut. Saya sebaliknya dikenal provokator, grasak-grusuk. Maka bayangkan apa yang terjadi ketika saya dengan sifat-sifatnya bergabung di tahun kedua, padahal pada saat bersamaan saya juga terpana dengan pandangan-pandangan hebat yang teman-teman kemukakan?
Sekalipun belakangan bagian terbesar yang melekat pada saya kekaguman terhadap visi misi sekolah dan kegiatan unggulannya, tak pelak selama proses itu saya membawa ricuh. Yang menyelamatkan ricuh ini tidak meledak adalah ketabahan beliau. Sandi Sahrinurahman memilih mengalah. Temanku ini mencari alasan untuk menerima sebagian dari yang mungkin jadi kekuatan saya.
Hal lain yang perlu diketahui adalah daya tahannya untuk menjaga keutuhan sistem yang dinamik. Dengan memanfaatkan berbagai celah, ia mempangaruhi banyak orang. Melalui pembicaraan yang alot tentang peraturan ketenagakerjaan, perlahan tapi pasti digiringnnya guru-guru untuk berserikat. Perlahan tapi pasti juga, ia bermain politis untuk menjaga pemenuhan minimal standar kesejahteraan guru.
Yang mengejutkan bagi saya adalah keterpengaruhan guru-guru angkatan pertama oleh beliau. Tak jarang guru angkatan pertama menolak ide-ide yang saya usung dengan penolakan: padahal dulu… . Dulu yang dimaksud adalah masa setahun ketika pak Sandi menjadi kepala sekolah.
Sandi Sahrinurahman memiliki pandangan yang jelas tentang pendidikan ideal. SD Hikmah Teladan hanya salah satu karyanya. Kiprahnya sebagai praktisi bergerak di beberapa tempat. Termasuk di SDN tempat anaknya yang pertama sekolah. Ia begitu menikmati dinamika dan problem yang dihadapinya. Sandi memiliki pandangan tentang pendidikan ideal, tapi sungguh ia mau berangkat dari kondisi bagaimanapun dan dengan penuh ketekunan memulai perjalanan.
47. Lia Nur Amalia
Sebagai sekolah inklusi, SD Hikmah Teladan berbeda dengan sekolah inklusi lainnya. Hal ini karena dihilangkannya semua persyaratan untuk menjadi siswa SD Hikmah Teladan. Mudah lho menemukan landasan filosofis untuk aturan ini. Yang sulit adalah menemukan guru yang mau (tepatnya nekad) untuk menghadapi siswa yang tidak terbayangkan permasalahannya.
Di 4 tahun awal, tidak pernah ada tes apapun. Anak-anak diterima begitu saja. Persis begitu saja. Ada cerita: Mengerti kelaziman, seorang ibu ngotot kalau anaknya autis. Namun kami juga ngotot agar anak itu masuk kelas begitu saja. Tanpa penanda, tanpa pendamping. Sang ibu yang merasa yakin anaknya autis pun memutuskan menjadi pendamping sang anak. Guru yang melarangnya masuk kelas membuat sang ibu hanya bisa menunggu di luar dan setiap hari menghabiskan setidaknya setengah jumlah halaman novel yang dibacanya.
Ada lagi cerita anak yang kini kelas 8. Di kelas 1, berbagai kebiasaannya membuat ia mudah dikenali berperilaku seperti orang gila. Di tengah keheningan belajar, tiba-tiba tertawa. Yang lebih sering spontan menyanyi. Karena alasan lagu-lagu yang dinyanyikan anak itu lagu-lagu baru remaja yang belum dikenal anak lain, bu Lili meyakini cerdasnya murid istimewa ini. Setelah berulang kali menyaksikan kebingungan pada wajah murid sekelas, juga orangtua, apalagi murid kelas lain, kecintaan seorang guru kepada muridnya memberi bu Lili ide: ketika belajar tiba-tiba anak istimewa ini bernyanyi, kegiatan belajar dihentikan berganti memperhatikan si anak istimewa bernyanyi. Bernyanyi selesai, tepuk tangan meriah dihadiahkan.
Ide yang luar biasa membawa pengaruh luar biasa. Si anak yang masih meracau di luar kelas dan menimbulkan reaksi wajah-wajah yang keheranan, dinetralisir oleh anak-anak sekelas. Berlombalah teman si anak istemewa menjelaskan betapa pintarnya ia di kelas. Dijelaskan oleh anak-anak bahwa temannya memiliki kemampuan menghafal lagu paling baik. Luarbiasa. Pengalaman-pengalaman seperti ini yang membuat saya tidak suka dengan segala hal yang ilmiah berupa test psikologi dan mendasarkan perlakuan pada anak berdasarkan tes tersebut. Saya memang fanatik dan berbangga pada guru-guru yang kecintaannya kepada anak didik sedemikian rupa sehingga membuatnya nekad. Saya juga fanatik dengan keluarbiasaan yang bisa dipersembahkan anak-anak sebagai makhluk sosial saat mereka bersama-sama di sebuah ruang yang disebut kelas.
Lili, nama panggilan Lia Nur Amalia, juga perlu dicatat karena menjadi guru yang berdisiplin, tegas dan memiliki kharisma. Di lingkungan yang memuliakan kebebasan, sosoknya menjadi penyeimbang yang sedikit banyak dapat menahan di antara kami yang menikmati kebebasan jadi kebablasan.
48. Dadang Salimin
Selepas acara Family Day, para guru berfoto. Dari sekitar 40 orang yang tertangkap kamera, satu di antaranya bukan guru. Dadang Salimin dengan nama panggilan Dadang atau Imin. Saya sendiri lebih suka dengan nama panggilan yang kedua. Beberapa kesempatan ia terlihat dikejar anak-anak; mondar-mandir di koridor dengan anak-anak digendongannya; duduk santai sambil ngobrol dengan kepala sekolah; diketahui beberapa kali menolak perintah dari direktur perguruan; di sekolah selalu dengan kaos oblong; tidak pernah diketahui memakai sepatu.
Saya pernah menegur pak Imin untuk menurunkan sebelah kakinya dari kursi, “Kamu itu lagi duduk di ruang tamu sekolah dan ngobrol dengan kepala sekolah”. Pak Imin itu salah seorang OB dari empat OB di SDHT. Karena cuma beliau yang begitu, maka saya menggelarinya OB Berkebutuhan Khusus.
Kehadiran pak Imin sangat istimewa. Beliau dengan segala tingkahnya telah membuat kami sungkan untuk menyuruh-suruhnya. Bahkan keanehannya mendorong kreativitas para bapak guru yang suka jail, kerap menggodanya. Apa yang terlihat oleh anak-anak untuk kedua kenyataan tersebut? Sikap kami yang tidak membeda-bedakan orang berdasarkan derajat atau latar belakang atau status sosial. Bukti bahwa hal ini berpengaruh pada anak-anak, ya itu tadi, kalaupun keringatnya bau apek, anak-anak berebut bergelayutan di tangannya yang tak kokoh.
Namun bisa dipastikan pak Imin bukan guru. Belum lama ini ia dipanggil menghadap wakil kepala sekolah terkait pengaduan bahwa ia mencubit beberapa kali anak ABK yang lebih dari beberapa kali mencubitinya. Ia membalas adalah bukti kalau pak Imin bukan guru SDHT. Dalihnya “Saya kan bukan malaikat” memang betul dan juga betul ia bukan guru.
49. Bambang Wisudo
Saat kami masih gamang dengan segala hal yang berbeda dari SDHT, Bambang Wisudo hadir memotret kami secara utuh, benar dan adil, kemudian memunculkan SD Hikmah Teladan di Koran Kompas 3 hari berturut-turut. Teman saya yang wartawan berkomentar: Gila! Sekali lagi saja dimuat, kamu ngalahin pemberitaan Presiden.
Bambang Wisudo mengaku sangat selektif mengangkat berita. Beliau mencari yang istimewa. SD Hikmah Teladan istimewa di mata beliau. Dicintainya hingga saat ini. Hal ini menarik. Bambang Wisudo belakangan fokus perhatiannya pada pedagogi kritis: mendampingi dan membiayai penyelenggaraan pendidikan kritis untuk daerah pelosok; menjadi direktur Sekolah Tanpa Batas; dan, menulis bersama teman-temannya buku Pedagogi Kritis. Yang membanggakan, semoga demikian, kedekatannya sampai saat ini dengan SD Hikmah Teladan menunjukkan penilaiannya bahwa kami menyelenggarakan pedagogi kritis.
Kembali ke pemberitaan kami yang beruturt-turut di Kompas. Inilah yang membuat kami perlahan-lahan dikenal lebih luas. Dari pemberitaan ini, tamu-tamu yang jauh mengunjungi kami. Tentu saja menyenangkan menyakinkan banyak orang bahwa menyelenggarakan sekolah dengan memberikan ruang yang luas bagi ekspresi bebas adalah mungkin.
Saya masih mengingat foto Faika (kini sudah SMA) di jendela perpustakaan dengan keterangan anak yang memilih belajar di perpustakaan daripada di kelas, sempat dikhawatirkan berdampak negatif oleh pihak yayasan. Tanpa disangka, foto bidikan Bambang Wisudo ini memberikan penegasan bahwa hal seperti itu mudah terjadi di SD Hikmah Teladan; di sisi lain, waktu berjalan setelah pemuatan foto itu, ternyata tidak terbukti kok kekhawatiran akan munculnya pandangan tentang anak-anak yang kurang beretika.
50. Ary Nilandari and the Gang
Siapa yang lebih mencintai anak-anak SDHT, guru atau orangtuanya? Siapa yang lebih berkepentingan dengan masa depan anak-anak SDHT, guru atau orangtuanya? Siapa yang lebih mempengaruhi tumbuhkembang anak-anak SDHT, guru atau orangtua? Siapa yang berinvestasi lebih besar untuk kemajuan seorang anak, guru atau sekolah? Jawaban saya pasti orangtua. Ini jawaban yang kukuh sebagai pendirian. Karena itu SDHT memiliki keyakinan, semakin lebar pintu sebuah sekolah terbuka untuk keterlibatan orangtua semakin baiklah sekolah tersebut.
Resikonya besar. Sama persis kok dengan kebebasan yang diberikan kepada anak-anak. Sekali terjadi yang dominan di kelas jagoan bikin onar, peluang kebebasan menjadi kebablasan cukup besar. Begitu juga orangtua. Jika yang dominan itu orangtua yang memiliki pandangan sendiri yang kuat tentang bagaimana penyelenggaraan pendidikan, maka mereka mudah memancing kisruh. Karena itu sekolah harus berpolitik. Sekalipun kebebasan dimiliki mereka, suaranya dibuat bergema saja. ‘Dinding’ yang memantulkan mereka itu adalah orangtua yang kuat berwacana dengan pihak sekolah. Mereka kritis, juga berterimakasih terhadap upaya-upaya yang dilakukan pihak sekolah untuk anak-anak. Mereka mengajarkan kepada kami bagaimana seharusnya anak-anaknya dicintai dengan kehadiran anak-anaknya yang membuat suasana sekolah ceria. Kami berpolitik, karena kami mencari mereka. Bersahabat. Kami membuat mereka memimpin para orangtua yang lain. Dan, mungkin agak curang: kadang pintu yang terbuka untuk orangtua kami biarkan setengah tertutup (: Anda tahu ini bagi orangtua kelompok mana); sebaliknya, untuk Ary Nilandari and the Gang seringkali pintu itu terbuka tanpa penjaga.
Lalu siapakah Ary Nilandari and the Gang sehingga mereka cuma ada di SDHT? Dengan alasan yang sangat kuat, mereka pernah menolak, mungkin tepatnya menunda pendirian SMP Hikmah Teladan yang tawarannya disodorkan pihak perguruan. Mereka pernah ‘mengeluarkan’ guru dengan alasan yang sangat objektif yang tidak dapat ditemukan oleh pihak sekolah. Mereka terlibat dalam seleksi guru baru, mulai dari mikroteaching sampai wawancara untuk mengambil keputusan. Mereka menjadi pembicara inti pada sosialisasi sekolah untuk orangtua calon siswa baru. Dan lain-lain yang menegaskan bahwa mereka sungguh kenal betul dengan sekolah dan menjaganya. Mereka juga yang meyakini bahwa di SDHT, orangtua pun harus belajar. Mereka sangat senang belajar dari pengalaman anak-anaknya bersekolah di SDHT. Karena kami menempatkan anak-anak sebagai sumber belajar terbaik. Mereka bertemu dengan kami di sini.
Kenapa Ary Nilandari cuma ada di SDHT? Beliau pekerja buku. Saat lokakarya di mana guru-guru mendapat buku “Buku Kerja Kecerdasan Majemuk” yang diterjemahkannya, beliau seharian membahasnya. Jauh sebelumnya dalam program Teaching Parent, beliau mengajar di kelas 1-6 tentang bagaimana menulis. Masih banyak tentu saja, tapi 2 hal ini saja sudah cukup menjadi bukti bahwa Ary Nilandari cuma ada di SDHT.
51. Candra, Indri, Dimas dan Imam
Saat ini anak-anak SDHT naik kelas otomatis. Artinya jelas, tidak ada kondisi apapun pada anak-anak yang dapat membuat mereka tinggal kelas. Namun ada 4 anak yang pernah diputuskan tidak naik kelas: Dimas dan Imam, Candra, Indri. Mereka istimewa bagi SDHT karena mereka yang membuka jalan diberlakukannya keputusan lulus otomatis. Mereka sempat menyibak jalan ragu namun juga memaksa kami berwacana.
Dimas dan Imam tidak naik dari kelas 1 dan 2. Gurunya memberikan alasan demikian: Sengaja tidak naik karena metal age masih memungkinkan untuk mengulang. Anaknya pun tidak paham. Jadi aman. Mereka tetap dipegang guru yang sama.
Saya baru tahu alasan itu dan senang mengetahuinya. Yang saya ingat adalah pembicaraan dengan orangtuanya Dimas. Bagi kami naik dan tidak bukan urusan nilai melainkan tetap urusan baik buruk untuk perkembangan anak. Lebih membela keuntungan psikologis anak. Maksudnya, kalau tidak naik membuat orangtua pasrah (alias memaklumkan anaknya bodoh) atau bahkan menjadi senjata yang lebih kuat untuk memojokan anak (mudah terjadi dalam konteks keluarga), kami akan menaikan anak itu. Begitu juga kalau tidak naik membuat anak asing dengan kelas barunya dan terasing dari teman-temannya yang naik kelas, anak itu harus naik kelas. Nah, Dimas dan Imam di kelas satu masih sangat tidak bersosialisasi. Dimas, misalnya, sangat mudah melakukan kekerasan fisik kepada teman dan gurunya. Hal ini sampai sedemikian sehingga selama di kelas 1, Dimas lebih banyak belajar di luar kelas. Ah saya ingat betul kesenangan Dimas bermain air sepanjang selokan yang menghubungkan 2 kolam sekolah.
52. Imam dan Indri
Pengalaman membuat anak tidak naik kelas, pengalaman yang melukai hati. Pernyataannya bukan “anak tidak naik kelas” melainkan “membuat anak tidak naik kelas”. Bila ada 10 alasan anak tidak naik kelas, pasti ada 100 alasan untuk membuat anak naik kelas. Bila ada 100 cara menilai anak dan membuatnya tidak naik kelas, mudah dicari tambahan cara pandang pada 100 alasan untuk membuat anak naik kelas.
Imam dan Indri mengajarkan alasan untuk masa depan seseorang adalah ketidaktahuan. Berbeda dengan sekolah yang berfokus akademis, variabel pembentuk masa depan dapat disederhanakan pikiran (sekalipun salah juga); di sekolah dengan kebebasan berekspresi, jumlah ragam dan kerumitan hubungan variabel pembentuk masa depan sungguh tak terkira. Kata “tak terkira” adalah ketidaktahuan terhadap masa depan namun sikap yang luarbiasa optimis terhadap kemungkinan-kemungkinan masa kini.
Inilah cara kami bertaruh: Seharusnya tidak naik ke kelas 2, kami menaikannya. Di kelas 2 kan gurunya berbeda, semoga ada kecocokan atau setidaknya hal baru ditemukan. Setahun berjalan si anak hanya mempertegas bahwa ia pantas tidak naik kelas. Ia naik kelas karena di kelas 3 anak-anak diubah besar komposisi siswanya. Ayo cari anak-anak yang kemungkinan dapat memberikan “sentuhan malaikat” pada si anak. Di kelas 3 sungguh hebat, si anak itu merubah teman-temannya. Satu anak menjadikan anak sekelas juara empati. Kami begitu saja menaikannya ke kelas 4. Selain guru, kini dia sudah punya teman yang menemaninya belajar membaca dan berhitung. Hai, ia naik kelas 5 karena sudah senang belajar membaca dan berhitung! Kehadirannya di kelas 5, membubuhkan aturan larangan menerima siswa pindahan di kelas 5 dan 6. Lha, ia berhasil melahirkan guru-guru yang perkasa, pantang menyerah. Inilah yang membuatnya naik kelas 6.
53. Haifa
Hal serius paling akhir yang menjadi diskusi saya dengan ibunya Haifa adalah pernikahannya di usia ke 17. Haifa memang menikah muda. Kini dihitungan bulan pernikahannya, ia berencana mengambil kuliah jurusan musik. Haifa menyukai pertemuan terakhir dengan saya karena dipandang mendukung keinginannya untuk berpisah rumah dengan orangtuanya.
Hal serius pertama yang diketahui saya dari gadis cantik ini adalah banyaknya keluar masuk sekolah. Sebelum ke SD Hikmah Teladan, sekolah terakhirnya merupakan sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang dikelola seorang dosen UPI. Ternyata di sekolah tersebut tingkat permasalahan anak-anaknya lebih berat. Haifa jadi terlihat beda sendiri. Juga, kata orangtuanya, lingkungan sekolah tidak memotivasinya untuk berubah. Saya yang waktu itu menerima mereka sekeluarga mepersilahkan Haifa menjadi murid SDHT. Waktu itu memang saat di mana kami seratuspersen tidak mensyaratkan anak untuk menjadi murid SDHT. Kami juga tidak mengenal pendampingan.
Sebetulnya berdasarkan pengalaman, catatan dan rekomendasi psikolog dan pedagog, terkumpul banyak alasan sehingga Haifa disarankan sekolah di tempat anak berkebutuhan khusus, cuma saya tidak mau tahu. Kalau ada yang bertanya tentang apa permasalahan Haifa, saya mengenalkan Haifa sebagai anak yang hipersensitif secara sosial dan kekurangan pengalaman dalam hidup sosial. Inilah anak yang menafsirkan suara dengan intonasi tinggi sebagai kemarahan; menghindar dan kadang takut membuka komunikasi dengan orang yang belum dikenalnya; tidak tahu bagaimana caranya melompati parit; dan lain-lain, dan secara akademis hanya sedikit menonjol pada pelajaran Bahasa Indonesia. Eh, setelah tidak masuk sekolah lagi, beberapa kali ia menemani ibunya ke sekolah. Pada beberapa kali kesempatan tersebut, ia tidak berani ke luar mobil dan di dalam mobilpun seraya nyungsep di sela-sela jok. Nungging.
Apa yang cuma ada di SDHT terkait dengan Haifa? Karena kondisi psikologisnya, sekolah dengan orangtuanya bersepakat bahwa Haifa belajar di rumah. Waktu itu kelas 5 dan Haifa baru satu tahun lebih belajar di SDHT, jadi hampir satu tahun Haifa belajar di rumah. Siapa yang mengajar? Yang mengajar adalah guru-guru SDHT yang punya jam kosong. Maksudnya, kalau di hari Senin jam pertama bu Dwi tidak ada jam mengajar maka ia akan diantar jemput dari sekolah ke rumah Haifa. Berikutnya di jam ketiga bu Dwi ngajar, maka bu Aty yang kosong menggantikannya. Begitu terus kami layani Haifa selama tidak mengambil keputusan keluar dari SDHT. Oh ya setengah perjalanan selanjutnya hanya bu Aty yang mendampingi Haifa. Haifa kembali bergabung dengan teman-temannya pada saat mengikuti EBTANAS.
Lulus dari tingkat dasar, Haifa diterima di Tsyanawiyah Asih Putera. Di sini Haifa hanya bertahan 3 bulan. Eh, kejadian ini membuat saya dan teman-teman kembali mendampingi Haifa. Kali ini dengan konsep Sekolah Rumah. Baru di tahun ketiga perjalanan Sekolah Rumah Kyoku Mama lahir SMP Semesta Hati. Inilah sekolah yang menjadi payung bagi beberapa komunitas homescholler. Di sinilah tempat berkumpul dan nyaman anak-anak seperti Haifa.
100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (6): Cerita Terkait Guru
Apa yang luar biasa dari guru SD Hikmah Teladan? Ketulusannya untuk menghargai keragaman dan menerima anak apa adanya. Ada kasus beberapa anak yang ‘dibuang’ orangtuanya, juga keluarga penggantinya. Suatu kesempatan anak itu membuat masalah besar yang membuat malu keluarga, berupa rangkaian kejadian yang berpuncak pada tagihan ke sekolah hutang pembelian mainan sejumlah lebih dari tujuhratus ribu rupiah. Keluarga berlepas tangan dan mencelanya. Guru (MK) dan kepala sekolah menerimanya begitu saja, kemudian menyelusuri objektif kejadiannya. Seperti biasa anak itu masuk ke lingkungan sekolah dengan melenggang. Dan, anak ini sekarang seringkali terdengar mengisi waktu menjelang salat dzuhur berjamah dengan membaca Al-Quran juz 30 yang telah dihafalnya. Inilah beberapa pengakuan, kenyataan dan cerita guru SD Hikmah Teladan:
27. Tidak Pernah Berseragam Padahal Ada Baju Seragam Guru
Gosipnya sih karena baju seragamnya tidak keren. Saya rasa dampaknya besar. Anda bayangkan saja kalau pada saat upacara bendera pun guru-guru tidak memakai seragam! Saya berharap 2 hal:
1) Perguruan membuatkan seragam yang keren. Seragam yang keren tentu saja artinya bahan yang berkualitas dan motif yang menarik. Model? Silahkan guru menentukan sendiri sesuai seleranya. Setiap guru membawa kain dan uang ongkos jahit. Bila ini terjadi, maka sekolah dapat memberlakukan penggunaan seragam pada hari-hari tertentu (tidak lebih dari 2 hari dalam seminggu) sebagai peraturan sekolah. Berarti kita punya hal yang sangat kuat untuk mengajarkan melalui teladan tentang menghormati peraturan, mekanisme penegakan peraturan, kerelaan mendapatkan sangsi dan lain-lain.
2. Jika yang pertama tidak terjadi, dan nampaknya kemungkinan besar tidak terjadi, guru-guru yang tidak berseragam menjadi teladan bagi anak-anak untuk tidak berseragam. Meneladani gurunya, seharusnya anak-anak berpakaian bebas full selama 5 hari. Mungkin karena alasan ini guru-guru tidak ada yang berani menegur anak-anak yang tidak mengenakan seragam, atau yang juga kerap terjadi, memakai seragam salah hari.
28. Tidak ada Pembatas antara Kepala Sekolah dengan Guru Bahkan OB
Di SD Hikmah Teladan semua lelaki dewasa dipanggil bapak dan perempuan dewasa dipanggil ibu. Entah kenapa absensi OB dilakukan di ruang wakasek (yang merangkap jadi ruang tamu) sehingga pagi hari kerap terlihat mereka mengobrol santai. Secara umum, mudah bagi siapa saja untuk melihat para OB bermain dengan anak-anak.
Selain penggunaan kata “bapak” untuk memanggil mereka, penetapan bahwa keadaan dan urusan sekolah selama proses belajar tanggung jawab guru dan anak-anak telah menghindarkan para OB dari penglihatan (mereka sedang bekerja) sebagai ‘pembantu’ oleh anak-anak. Ini semua mempersempit, betul-betul mempersempit, anak-anak dan guru untuk “menyuruh-suruh” mereka.
29. Tidak Ada Senioritas
Guru baru bisa langsung menjadi manajer kelas, memang selalu terjadi. Guru baru langsung menjadi ketua panitia, pembina upacara, utusan sekolah dalam kegiatan pelatihan atau seminar, atau bagi para bapak guru baru menjadi khatib dan imam salat Jumat, hanya sekadar urusan kebagian giliran saja.
Ada kejadian yang sempat diprotes direktur perguruan, yaitu saat guru baru menjadi MC di acara yang dihadiri pejabat pemerintah setempat dan pengurus yayasan, salah menyebut nama ketua yayasan yang tidak lain ayahanda direktur Perguruan Darul Hikmah. Beruntung, bahkan inilah hebatnya SD Hikmah Teladan, tidak mengubah kebiasaan memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk seperti anak-anak: Berani Gagal Berani Mencoba.
Yang memiliki potensi kuat untuk mendorong senioritas adalah kemampuan spesifik dari guru. Menjadi guru terkuat dalam suatu hal, adanya guru yang disepakati oleh sebagian besar guru untuk diandalkan dalam hal tertentu, menjadi penyebab senioritas terselubung. Tersebutlah adanya guru yang diandalkan untuk menjadi MC, menggaet sponsor; dianggap satu-satunya guru yang menguasai suatu hal (bisa mata pelajaran atau keterampilan), atau guru yang dinilai dan menilai diri sebagai guru yang paling kuat. Pada semua potensi ini, sekolah bisa saja dengan sangat mudah akan menyelenggarakan event yang biasa dipenuhi sponsor menjadi melarang kehadiran sponsor; menerima konsekuensi mutu yang lebih rendah dengan menugaskan guru dengan kemapuan rata-rata untuk memegang mata pelajaran yang dipegang oleh ‘satu-satunya’ guru ahli. Bagaimana ini bisa dilakukan?
Perlu selalu untuk ditegaskan bahwa yang membuat SDHT itu kuat adalah kekuatan kolektif yang menjadikan sekolah ini menjadi tempat terbaik untuk anak merdeka. Bahwa anak-anak masuk tanpa syarat untuk menyeleksinya, kemudian guru-guru melindungi keunikan karakter setiap anak selama sekolah adalah kekuatan yang menentukan keberhasilan SD Hikmah Teladan. Kekurangan, bahkan kehilangan kemampuan spesifik seorang guru seperti disebut di atas, tidak pernah akan berpengaruh signifikan. Jadi, santai sajalah.
30. Pada peringatan Hari Guru, Guru-guru SDHT Ditraktir Nonton dan Makan oleh Pihak Sekolah
Nonton filem apa? Filem apa yang sebaiknya ditonton? Biarlah mereka yang menentukan. Ijinkanlah para guru menonton filem apapun. Bareng-barengnya kok yang penting. Bersenang-senang bersama-sama rekan, ini yang perlu diberikan kesempatan. Bila Anda melihat kegembiraan mereka saat-saat seperti itu, itulah yang setiap hari disaksikan guru-guru, tepatnya dihadiahkan oleh anak-anak kepada mereka, dan menjadikan mereka kuat, bersabar, tulus menghadapi anak-anak.
31. Jadwal Penyambutan Anak oleh Guru di Gerbang Sekolah Dilakukan Bergilir
Setiap hari guru yang menyambut anak bisa lebih dari 7 orang. Di beberapa sekolah lain juga dilakukan. Tapi bila ada jadwal piket penyambutan anak, mungkin cuma ada di SD Hikmah Teladan. Karena dijadwal dan absensinya menjadi salah satu bahan penilaian kinerja, maka ada guru yang sekalipun dari waktu penyambutan sekitar 30 menit hanya bersisa satudua menit, tetap melakukan penyambutan.
Anak-anak SD Hikmah Teladan terhitung sangat banyak yang menetapkan kegiatan ini sebagai hanya ada di SD Hikmah Teladan. Ritual penyambutan adalah salam seraya anak menyium tangan guru-guru. Saya sempat berseloroh dengan hal ini, khususnya untuk anak-anak kelas 5 dan 6 yang pada umumnya sudah masuk usia baligh. Bukankah bagi mereka “haram” bersentuhan dengan bukan muhrimnya? Bagaimana sementara beresentuhan tidak boleh, menyium tangan guru ditradisikan? Cuma seloroh kok.
32. Murid Memanggil Guru dengan Julukan
Saya mengetahui hal ini dengan jelas karena guru yang pertama merelakan dirinya dipanggil dengan nama yang hanya biasa dipergunakan oleh guru-guru lainnya adalah manajer kelas anak saya selama kelas 5 dan 6. Mister Gobin, itu nama panggilan Erik Hilalluddin. Sampai saat ini saya belum tahu bagaimana asalnya muncul panggilan itu dan apa artinya.
Nama yang kini jadi Koordinator Ruhiyah ini, dikenal egaliter. Saya juga mengetahui akan kecenderungannya dekat dengan pemikiran Islam Liberal. Di majalah sekolah pertama pembelaannya terhadap Islam Liberal dimuat. Kini, saat Ahmadiyah menjadi pembicaraan, bahwa pikirannya dekat dengan Islam Liberal cukup kentara. Guru yang juga pengagum Gus Dur merupakan salah satu guru yang sangat kuat kapasitasnya untuk mengajar dengan memberikan kebebasan pada anak-anak. Menurutku, mungkin ia bukan berfaham Islam Liberal, melainkan sangat menghargai kebebasan berpikir.
33. Banyak Guru yang Berjualan di Ruang Guru Sehingga Meja Mereka Bisa Berfungsi sebagai Lapak
Selain cukup banyak yang terlibat, para bapak guru juga terlibat. Jadwal tawar-menawar dan jual beli pagi hari berakhir pukul 08.00. Sampai pukul 07.30 manajer kelas masih terlihat dalam keramaian. Setelah ini biasanya yang tersisa adalah para tutor, guru bidang studi dan teman-teman pengajar Ruhiyah. Yang dijual bisa apa saja, termasuk pakaian dalam ibu-ibu. Sumpah deh suatu kali saya menangkap basah transaksi bra warna hitam.
Kenapa tidak dilarang? Mungkin saya balik bertanya, kenapa dilarang? Kepala sekolah menyampaikan penjelasan yang mengejutkan, katanya, itu adalah mekanisme pertahanan diri teman-teman terkait dengan gaji yang masih jauh dari memadai. Bersyukurlah kami seharusnya karena mereka memutuskan membuka lapak di ruang guru dan bukan pindah mengajar di tempat lain. Atau, ini berbahaya, mengajar asal-asalan sesuai dengan besaran gaji.
Terdapat, akhirnya, kesepakatan terselubung bahwa teman-teman boleh menggunakan aset sekolah selepas kewajiban mengajar dilakukan. Misalnya, sekelompok bapak-bapak yang biasa pulang sekitar magrib untuk menggunakan internet, tidak pernah akan dipermasalahkan. Dalam hal ini saya juga bisa membantu teman-teman dengan cara menghindarkan adanya pekerjaan guru yang harus dikerjakan setelah jam belajar usai, apalagi sampai dibawa ke rumah.
34. Banyak Guru yang Mengisi KBM dengan Menugaskan Siswa Mewawancarai Rekannya
Mungkin Anda menduga ini berkaitan dengan kompetensi melakukan wawancara. Bukan hanya itu. Suatu kali anak-anak bergiliran menanyakan arti sebuah istilah. Lain waktu menanyakan asal daerah terkait dengan pelajaran IPS. Teman-teman di administrasi ditanyai tugas mereka apa saja. Banyak pokoknya.
Saya masih ingat beberapa guru yang sudah terganggu dengan anak yang kerap mengetuk pintu dan minta ijin untuk mengajukan pertanyaan, “Apa contoh perilaku rendah hati?” Setelah mendapat jawaban ia pun permisi. Kan belajar harus dilanjutkan ya?
35. Guru-guru yang Menikmati pada Setiap Pergantian Pelajaran Dijemput Beramai-ramai oleh Siswa
Entah, memang entah punya pikat apa ruang guru itu. Sepertinya kalau sudah duduk berkumpul di ruang guru, jadi malas beranjak. Tentu saja beberapa guru yang disiplin, begitu waktunya mengajar maka ia bersegera ke ruang kelas. Titik.
Mungkin bukan gurunya melainkan anak-anak saja yang kerajinan. Mereka lah yang ingin bermanja-manja dengan gurunya. Saya kira kenyataan tidak adanya ruang yang tidak boleh dimasuki anak-anak dan penggunaannya sebagai tempat mengobrol sesama rekan, bisa jadi mempopulerkan keasyikan ruang guru. Pembicaraan santai yang paling menarik tentu saja menggosipkan anak.
36. Setiap Lokakarya Guru-guru (juga Karyawan) Mendapat Buku Gratis tentang Pendidikan
Pada lokakarya menjelang semester 2 tahun 2010/2011 buku karangan Utomo Danandjaya, “Media Pembelajaran Aktif” terpilih menjadi buku guru. Teman-teman yang kentara responnya terhadap buku ini adalah guru-guru Ruhiyah. Beberapa kali koordinatornya menekankan pentingnya buku ini, termmasuk ketika di Forum Paralel. Beliau kerap mengatakan, “Timur kaya dengan konten, Barat kaya dengan metode”. Pelajaran Agama, juga hulunya Departemen Agama Republik Indonnesia, memang ketinggalan dalam penggunaan dan pemanfaatan berbagai metode pembelajaran.
37. Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah Dipilih dari Guru, Menjadi Guru Kembali Setelah Masa Jabatan Berakhir
Masa jabatan kepala sekolah SD Hikmah Teladan 2 tahun. Maksimal menjabat adalah 2 periode. Kepala sekolah yang menjabat 2 periode berarti mendapat penilaian baik dari manajemen (dan guru-guru). Baik untuk yang menjabat 1 periode atau 2 periode, setelah masa jabatan mereka berakhir, mereka kembali menjadi guru. Pak Zainal, kepala sekolah sebelum pak Rahmat kepala sekolah saat ini, menjadi guru kelas 3. Saya tidak pernah bertanya secara langsung bagaimana perasaannya, tapi kelihatannya enjoy saja sih.
Karena pak Rahmat akan mengakhiri periode keduanya, siapa kepala sekolah berikutnya? Pada umumnya sulit di SD Hikmah Teladan mencari orang yang mau jadi kepala sekolah. Persisnya kenapa tidak tahu. Padahal bagi kami di manajemen juga sulit mencari kandidat. Saat fit and proper test yang paling sulit dihadapi teman-teman adalah keharusan tetap menghargai keragaman guru. Ini berat karena keragaman guru di SD Hikmah Teladan mendapat ruang yang utuh dengan konsep otonomi guru dalam mengelola kelas. Tidak boleh manajemen, guru lain, orangtua, pun kepala sekolah mengintervensi kelas. Dengan demikian secara umum, bagi guru yang memiliki karakter terlalu kuat mengarahkan yang dipimpin pada dirinya dan seperti dirinya, kecil kemungkinan dapat menjadi kepala sekolah SDHT.
38. Daftar Peserta Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil
Guru SDHT yang ikut seleksi pegawai negeri sipil diketahui secara terbuka, dan memang dipersilahkan sebagai hak pribadi. Bagaimana tidak diketahui terbuka kalau kepada mereka diedarkan form:
YTH Bapak/Ibu
Guru SD Hikmah Teladan
Sehubungan dengan sedang diadakannya seleksi PNS tahun 2010, maka diharapkan Bapk/Ibu dapat menuliskan informasinya dengan mengisi form yang sudah disediakan.
Terimakasih
Ada 23 yang menyatakan ikut. Tentu saja masalah kesejahteraan menjadi alasan utamanya.
Sikap manajemen campur aduk. Kadang kita dibuat sebal. Kadang khawatir karena dapat kehilangan guru-guru yang kuat. Kadang berdoa untuk guru yang sangat sulit berubah melalui lingkungan SDHT. Berdoa semoga berubah oleh lingkungan lain yang mencukupi kesejahteraannya.
39. Para Pegawai Negeri Sipil
Ada 3 guru yang sudah menjadi PNS yang masih mengajar di kegiatan pengayaan kelas 6 pada hari Sabtu. Bahkan bu Nia yang menjadi dosen ITB jurusan Matematika, bukan hanya mengajar di hari Sabtu, tapi sampai saat ini masih menjadi tempat curhat mantan anak-anak kelasnya. Bahkan ibu dosen ini masih memberi les ke anak SD Hikmah Teladan yang dekat dengannya. Teman-teman para PNS melakukan semua ini, tentu bukan karena mengejar honor yang memang tidak seberapa, melainkan karena kecintaan pada anak-anak dan keinginan mengambil peran untuk kesuksesan SDHT.
Ternyata kalau para PNS yang bapak-bapak bukan cuma mengajar di hari Sabtu, tapi seminggu sekali mereka footsal. Malah pak Yayan yang biasa dipanggil Yansen termasuk salah satu peserta aktif touring. Lain lagi pak Anwar yang menjadi dosen di UIN Sunan Gunung Djati yang biasa menjadi langganan untuk berceramah mengisi perayaan hari besar Islam.
Siti Nurelah lain lagi. Berselang beberapa bulan dari diterimanya sebagai PNS, beliau menyekolahkan anaknya yang pertama di SDHT. Akibatnya, inilah orangtua yang paling sering nongkrong di ruang guru.
40. Semua Anak Guru dan Yayasan Sekolah di SDHT
Semua guru, administrasi dan keluarga yayasan menyekolahkan anaknya yang sudah masuk usia sekolah di SD Hikmah Teladan, bahkan guru yang sudah diterima sebagai PNS pun. Bagi guru yang masih mengajar selain tidak dikenakan biaya uang pangkal, juga hanya membayar SPP sebesar 60%. Bagi kami ini tentu saja lumayan besar. Untuk tahun ajaran 2011/2012 ada 3 anak, termasuk anak saya yang ketiga, plus 2 anak pengurus yayasan. Ketua komite sekolah juga memasukkan anaknya yang ketiga ke SDHT, berarti sama seperti saya, ketiga anak kami satu almamater. Sementara anak baru yang kakaknya lebih dahulu ada di SD Hikmah Teladan jumlahnya sekitar 30-an siswa.
Ada perbedaan yang sejauh ini masih berlaku dalam hal kemampuan anak untuk membedakan antara rumah dan sekolah, antara kedudukan orangtua dan guru. Anak-anak dari para bapak guru ketika di sekolah dapat sepenuhnya menjadi siswa, menjadi anak gurunya, sedangkan anak para ibu guru tetap saja menempatkan ibunya (termasuk panggilan) untuk berperan sebagai ibu. Bila sakit, ibunya yang dicari bukan rame-rame diantar teman-teman ke UKS. Bila memiliki kebutuhan terkait kegiatan belajar juga kerap yang dicari ibunya.
41. Ada Guru yang Tidak Pernah Ikut Forum Guru pada Setiap Hari Senin dan Rabu
Tidak ada peraturan yang terlalu ketat diberlakukan untuk guru-guru. Peraturan disampaikan bisik-bisik.
Ada peraturan guru dilarang membawa anak ke sekolah, apalagi sambil dibawa mengajar. Tapi seorang guru yang sudah mengusahakan mencari pengasuh dan mencoba anaknya masuk play group pun gagal, selama berbulan-bulan mengajar dengan membawa anaknya. Dalam beberapa kesempatan saya menyaksikan gadis kecil berambut keriting itu malah mendapatkan pengasuh dari murid SDHT yang senang padanya. Namun demikian si Ibu juga harus menerima, karena dibakar api cemburu, anaknya jadi bulan-bulanan kemarahan ABK yang didampinginya.
Namun demikian kalau hampir dalam kurun tujuh tahun seorang guru tidak mengikuti forum yang diwajibkan mengikutinya, apakah sekolah masih tetap ada? Pertama, sepengetahuan saya, guru dimaksud tidak pernah tercatat melanggar visi misi sekolah. Bila misi sekolah berbunyi “Menumbuhkan anak yang penuh percaya diri dan berkembang menjadi dirinya sendiri melalui pemberian rasa aman, penghindaran dari celaan dan cemoohan, serta pemberian keleluasaan untuk berekspresi dan bereksplorasi”, ia tidak pernah diketahui mencela dan mencemooh anak. Pelajarannya juga diikuti dengan baik dan bahkan anak-anak biasa berebut menuju tempat di mana ia menunggu untuk mengajar. Jadi, biarkan saja ia melakukan yang diinginkannya karena sudah dipastikan tidak merugikan anak-anak. Marilah berdoa agar ia sampai pada kehadirannya di forum guru.
42. Guru yang Dipinjamkan sebagai Kepala Sekolah Selama 2 Tahun
SD Hikmah Teladan sudah harus mengambil peran mempengaruhi yang lain, atau setidaknya mendukung sepenuhnya mereka yang berkeinginan memiliki sekolah yang memberikan kebebasan berekspresi kepada anak. Karena menegaskan tidak membuat cabang dan menolak waralaba, maka magang yang mempersilahkan orang membongkar SDHT dan kegiatan pendampingan masyarakat di pelosok Jawa Barat yang dilakukan sekelompok guru yang dipelopori guru-guru SDHT menjadi alternatifnya. Satu lagi yang baru kami ingat adalah mengijinkan (tentu tanpa biaya) guru SDHT yang sudah ‘jadi’ menjadi kepala sekolah di sekolah baru atau sekolah lain yang bersedia menjajaki ‘hutan belantara’ pengelolaan kebebasan ekspresi anak. Perlu diketahui bahwa ketika guru ini kembali ke SD Hikmah Teladan, maka ia kembali seperti biasa menjadi guru tanpa pengurangan masa kerja. Mungkin yang bisa berkurang atau bertambah adalah besaran gaji. Kan biasanya berbeda gaji kepala sekolah dan guru.
43. Para Guru Menjadi Petugas Lengkap Upacara Perdana di Awal Tahun Ajaran Baru
Tiada tara bahagianya saya dengan hal ini. Saya senang membayangkan sebagai siswa: bertepuk tangan, meniru-tiru suara dan gerakan guru, saling berbagi komentar dengan teman-teman, dan bersorak saat guruku beraksi sebagai petugas upacara. Aku juga bisa menertawakan guruku yang melakukan kekeliruan.
Saya mengingat ketika di sebuah kelas diadakan lomba deklamasi, yang menjadi juri bukan guru melainkan anak-anak. Guru juga bukan jadi pengamat. Guru hari itu jadi peserta. Keputusan juri yang tidak bisa diganggu gugat menyatakan bahwa sang guru juara ketiga pun tidak.
44. Menikah di Sekolah
Sudah ada 3 orang guru menikah di sekolah. Yang pertama menikah di depan perpustakaan. Yang ketiga menikah di aula dan akadnya dilangsungkan di masjid SD Hikmah Teladan. Kalau saya belum menikah, sungguh saya akan menikah di SDHT. Bangunan SDHT dan juga belakangan aulanya dibangun dari uang pangkal. Semua guru tentu saja memiliki jasa yang besar terhadap keberadaannya. Gratis? Sudah pastilah.
100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (5)
22. Warna Sampul Buku Tulis
Ada 7 warna untuk sejumlah mata pelajaran. Buku tulis IPA berwarna merah. Putih sesuai dengan kecenderungan keinginan kita untuk mewakilkannya: putih. Bahasa Indonesia entah kenapa sampul buku tulisnya berwarna coklat. Sampul kado untuk mata pelajaran Matematika. Bahasa Sunda dengan sampul kuning. Hijau untuk bahasa Inggris. Ini mungkin, kalau yang lain terjadi di sekolah lain, yang dapat dipastikan hanya terjadi di SD Hikmah Teladan: IPS, PK, PKn semuanya menggunakan sampul koran. Hmm, pas banget ya kalau musik dan KTK memakai sampul kalender.
IPS, PK, PKn disamakan sampulnya kemungkinan idenya dari kelas bawah. Ketiga mata pelajaran ini memang disatukan. SD Hikmah Teladan, ah maksud saya guru kelas 3 mendapat tugas dari saya untuk menyatukan ketiganya. Penyatuan yang tidak jelas karena selain boleh menghilangkan kompetensi dasar yang tidak kuat, boleh menambahkan kompetensi yang dianggap lebih bermanfaat, dan tidak selalu dijadikan rujukan. Seperti anak-anak mempertontonkan kepada kami, berani mencoba itu tidak takut gagal.
23. ‘Buku Paket’ dari 15 Penerbit
Buku paket yang dipakai sebuah sekolah berasal dari 5 penerbit saja, bagi sekolah pada umumnya sudah banyak, apalagi sampai 15. Kanisius, Gramedia, Erlangga, Mizan, Tiga Serangkai, Interaksara, Grasindo, Yudistira, Tinta Mas, BSE, Lafaz Books Indonesia, Fitrah Insani, Intan Pariwara, Love You Before and After saya lupa penerbitnya, dan buku Matematika penerbit dari Singapura adalah 15 penerbit yang bukunya digunakan SD Hikmah Teladan tahun ini. Frase “tahun ini” perlu dinyatakan karena masih ada beberapa penerbit lain yang bukunya pernah kami gunakan pada tahun-tahun sebelumnya.
Setiap tahun buku-buku yang digunakan di SD Hikmah Teladan bisa berubah. Hal ini berkaitan dengan rotasi guru yang relatif luas. Ada rotasi atau pergantian level. Tahun ini pertukaran posisi berlangsung menyeluruh. Misalnya, Ema yang sejak tahun awal mengajar sebagai Guru Ruhiyah sesuai latr belakangnya, tahun ini menjadi manajer kelas; Dwi yang tak pernah berubah status sebagai tutor (biasa juga disebut helper, pendamping ABK) tahun ini menjadi manajer kelas; Zazuli yang seumur-umur jadi guru Musik mmenjajgi sebagai mmanajer kelas 5; Erik Hilalludin dari manajer kelas menjadi koordinator Ruhiyah, dan lainnya. Nah, guru yang berbeda memiliki keinginan dan pilihan yang berbeda. Jadi wajar saja kalau terjadi perubahan buku yang digunakan setiap tahunnya.
24. Setiap Guru Menentukan Sendiri Buku ‘Paket’ yang Digunakannya
Sejak dari awal pembelian buku paket dilakukan oleh koperasi sekolah. Keuntungan dari pembelian juga diterima koperasi, bukan langsung pada guru-guru. Berkaitan dengan buku rujukan masih ada keterlibatan Litbang SD Hikmah Teladan. Mekanisme ini membuat pengambilan keputusan yang dilakukan guru cenderung objektif.
Apa yang Anda pikir kalau pelajaran Matematika kelas 1 memakai buku dari Singapura, kelas 2 menggunakan buku terbitan Tiga Serangkai, Kelas 3 tahun ini memakai buku dari penerbit Erlangga, kelas 4 dan 5 dengan penerbit Yudhistira, kemudian kelas 6 memakai buku dari Grasindo? Kalau sudah berkaitan dengan KBM guru-guru menikmati jadi tuan. Masalahnya penentuan siapa menjadi guru apa atau mengajar di kelas berapa baru ditentukan saat lokakarya yang berlangsung di waktu libur panjang selepas pembagian raport, artinya, kebanyakan buku pegangan anak ditentukan saat kegiatan belajar sudah berlangsung. Saya pernah mengantisipasi hal ini dengan cara menentukan buku yang akan dipakai tahun ajaran baru dengan meminta pertimbangan atau mendiskusikan dengan guru yang masih mengajar mata pelajaran terkait. Apa yang terjadi? Saya diprotes. Saya kemukakan alasannya. Tersebutlah betapa keutuhan sebagai orang yang diberikan amanah itu sangat menyenangkan.
25. Saung Lisung
Ada 3 buah berderet. Berupa panggung tanpa dinding. Tanpa dinding menjadi pembeda utama dengan bangunan permanen yang disebut kelas. Posisinya di pusat SD Hikmah Teladan. Sebelah timurnya ruang kepala sekolah dan kantor. Sebelah utara kelas yang berjajar. Kalau saya menghadap ke utara atau tepat menghadap ke perpustakaan, maka sebelah kiri ada kantin dan lapang bola, sebelah kanan ada lapang kecil dan kebun pemilik sekolah.
Kini Saung Lisung menjadi tempat umum yang bisa dipakai oleh siapa saja dan untuk kegiatan apa saja yang memungkinkan. Sekitar 4 tahun awal dari keberadaannya, Saung Lisung menjadi tempat favorit belajar mengaji. Karena mengaji berlangsung setiap hari, maka saung digunakan sebagai aktivitas dan suasana ‘jeda’. Anak-anak belajar dengan keluar dari kelas, juga berganti guru. Di Saung Lisung anak-anak menikmati tempat terbuka dan asupan oksigen yang lebih segar. Memang banyak alasan yang membuat anak-anak menjadikannya tempat alternatif favorit untuk belajar. Ini masih dugaan, keberadaan Saung Lisung membuat anak-anak SD Hikmah Teladan mudah keluar masuk kelas.
Sejak kantin dipindahkan bersebelahan dengan Saung Lisung, fungsinya berubah 180 derajat. Saung Lisung menjadi tempat ibu-ibu yang menunggui anak, anak-anak menikmati jajanannya, ibu-ibu arisan, suatu kali dapat menjadi lapak. Masih sih Saung Lisung digunakan untuk kepentingan anak-anak, yaitu saat orangtua menggunakannya sebagai tempat untuk pertemuan POM (persatuan orangtua murid) atau komite sekolah. Namun demikian sudah teramat jarang ada guru yang mau menggunakannya sebagai tempat belajar mengajar.
26. Ruang Komputer di Jam Istirahat
Sudah lumrah saat ini sekolah dasar dengan kelengkapan komputer, ruang komputer atau laboratorium komputer. Begitu juga SD Hikmah Teladan. Yang berbeda adalah pemakaiannya. Anak-anak SD Hikmah Teladan memakai sudah masuk ke ruang komputer sejak kelas 1. SD lain juga ada yang begitu! Lalu apa ya yang hanya terjadi di ruang komputer SDHT?
Ruang komputer yang pertama menempati ruang kelas 1 Badar saat ini. Rasanya kecuali server, semuanya komputer bekas. Kepada komputer bekas kekhawatiran kami terhadap keamanannya lebih rendah. Bila tergores oleh pensil anak tidak terlihat karena kotor sebelumnya lebih dari goresan. Bila monitor menjadi buram atau mati segera dimaklumi karena keujurannya, bukan kemungkinan oleh tingkah anak yang overacting. Jadi, berbeda dengan penggunaan Lab. Bahasa yang baru boleh setelah anak kelas 3, Lab. Komputer sejak awal sudah dapat digunakan kelas 1. Begitu juga dengan anak-anak berkebutuhan khusus dipersilahkan tanpa diskriminasi apapun. Bahkan karena di antara mereka ada yang lebih banyak di luar kelas, mereka kerap mencuri-curi kesempatan masuk ke ruang komputer.
Yang mencuri-curi kesempatan tidak hanya ABK dengan waktu luangnya, melainkan juga anak-anak dengan minat khusus pada komputer yang kerap menggunakan waktu istirahatnya untuk menggauli komputer. Tingkah anak dengan minat khusus ini beragam, salah satunya adalah anak yang kerap membongkar password komputer server lalu menginstall program-program yang dia inginkan di server. Selain jam istirahat, ruang komputer mmenjadi tempat umum pada jam pulang sekolah. Malah kali ini guru-guru dan anak-anak berbaur.
Sekarang komputer kami sudah keren. Tapi kenyataan bahwa ‘budaya’ kami dengan komputer bekas masih berlaku sampai saat ini, inilah yang keren habis. Inilah yang cuma ada di SD Hikmah Teladan. Saya sungguh mensyukurinya. Tentang Lab. Bahasa sendiri karena dibuat sebagai tempat yang menyeramkan, propertinya cepat rusak dan pemakaiannya jarang. Sikap demikian di SD Hikmah Teladan bisa berdampak, seperti peribahasa mengatakan, sudah jatuh tertimpa tangga.
100 Hal yang Hanya Ada di (Kelas 1) SD Hikmah Teladan (4)
16. Menjadikan Kelas sebagai Tempat Paling Nyaman untuk Berekspresi Bebas
Target nomor 1 alias target utama yang harus dicapai guru kelas 1 adalah menjadikan kelas sebagai tempat paling nyaman untuk berekspresi bebas. Sebagian besar pendidikan anak sekarang dipenuhi target. Selanjutnya stigma berkaitan dengan target-target tersebut. Sebagai sekolah (dengan visi) “Menjadi sekolah terdepan dalam menerapkan konsep pendidikan anak merdeka” maka yang utama bagi kami bagaimana anak-anak menikmati dirinya apa adanya. Tidak boleh ada halangan apapun untuk berekspresi, termasuk target-target, terutama stigma.
Apakah anak yang diterima di sini harus sudah bisa membaca? Ditanya seperti ini saya kerap menjawab, kalaupun memang dibikinkan syarat untuk masuk SD Hikmah Teladan, syarat itu adalah anak belum bisa membaca, belum bisa menulis, pendiam, superaktif, pembuat onar, atau yang lainnya yang tidak termasuk perilaku atau kemampuan normal. Yang normal, yang penurut, sudah pintar, sangat baik, biarlah di sekolah Islam Terpadu atau di sekolah negeri.
Target ini harus dicapai karena di kelas 2 sampai 6 anak-anak SD Hikmah Teladan harus mengevolusi diri menjadi anak yang menikmati kebebasan (kemerdekaan) berekspresi dan memperluas jangkauan ekspresi kebebasannya. Perhatikan amanah dari Misi SD Hikmah Teladan yang ke-2: Memelihara kemerdekaan anak dan memperluas jangkauan kemerdekaanya seiring tumbuh kembang yang dilalui anak. Jelas kan kenapa target utama di kelas 1 demikian?
SD Hikmah Teladan memastikan setiap anak naik kelas, jadi tidak dimasalahkan kalau ada guru yang menyisakan beberapa anak yang naik kelas 2 belum bisa baca, tulis, berhitung. Lah anak di kelas 5 saja ada yang belum lancer membaca tidak dimasalahkan, kenapa di kelas 1 dimasalahkan? Tapi sungguh dipermasalahkan kalau ada anak yang pemalu, pendiam, murung, atau selama di kelas 1 seratuspersen baik. Beda sekali anak yang pemalu dan anak yang malu-maluin. Yang berekspresi bebas itu anak yang malu-maluin, dan yang pemalu lah yang terkekang ekspresinya. Jadi, bila ada guru yang menyisakan anak pemalu, penakut, selalu mengalah, tahun ajaran berikutnya tidak akan direkomendasikan kembali menjadi guru kelas 1.
17. Belajar Membaca dengan Membaca Nyaring Bersama-Sama
Namanya juga sekolah alternatif dengan pembiayaan yang sesuai untuk kelas ekonomi menegah, hampir 100% murid SD Hikmah Teladan terlebih dahulu masuk Taman Kanak-kanak, dan dengan demikian hampir 90% sudah bisa membaca sebelum menjadi murid kami. Namun karena di sini semua anak harus eksis, maka kami menjalankan metode membaca yang tidak memilah anak menjadi yang sudah bisa membaca dengan yang belum. Menjadi minoritas dengan pencitraan negatif pula (belum bisa membaca), sungguh keterlaluan kalau harus ditanggung anak seusia itu. Metode itu adalah membaca nyaring bersama-sama.
Bagaimana dengan anak-anak yang sudah bisa membaca? Tidak ada masalah apapun. Ambil kata-kata atau kalimat yang akan dibaca dari buku-buku yang menarik, kutipan dari buku-buku milik anak, dari buku koleksi perpustakaan kelas, akan menafikan kejenuhan. Apalagi membaca bersama-sama dengan menirukan atau menggunakan intonasi dan logat yang beragam. Wow, luarbiasa menyenangkan!
Menjadi alasan kuat untuk memustahilkan kejenuhan adalah juga program Wisata Buku. Program belanja buku bersama-sama semua teman kelas satu ini menjadi hal yang mengukuhkan alasan kita bisa membaca: mencintai buku! Semua mafhum betapa alasan ini tidak digubris. Artinya, anak-anak itu sungguh haus (atau kalau tidak, mereka perlu dibuat haus) untuk memiliki, bercengkrama, dan entah kapan akhirnya menjadi pembaca buku yang tekun.
Sampai kapan belajar membaca menggunakan metode membaca nyaring bersama-sama ini berlangsung? Jawabannya sampai semua anak bisa membaca. Mungkin selama di kelas satu, mungkin hanya beberapa bulan, mungkin dilanjutkan dilanjutkan di kelas 2.
18. Isi Tas Tanpa Buku
Hal yang belakangan saya ketahui tentang SD Hikmah Teladan adalah berbagai keseharian yang menjadi bukti keberadaan prinsip-prinsipnya. Salah satu di antaranya tentang isi tas anak-anak kelas 1: tempat minum/makan, tempat pensil dan/atau pensil (kadang ditinggal di sekolah), buku ABaTsa, mainan, buku tabungan. Isi tas yang aneh bukan? Tak diragukan ini cuma bisa terjadi di SD Hikmah Teladan.
Prinsip yang melatari isi tas demikian adalah keyakinan kami bahwa orangtualah yang membentuk karakter anak. Sekolah menjadi ruang demokratis bagi pertemuan keragaman karakter. Tugas kedua sekolah adalah menguatkan kemampuan berpikir. Memajukan dan membela rasionalitas. Tidak ada yang bisa menjembatani perbedaan karakter dalam rentang waktu yang panjang dan dengan intensitas pertemuan seperti anak-anak di sekolah kecuali kemampuan berpikir. Di sekolah, pikiran yang terbuka lahir dari berpikir anilitik dan kritis. Kok jadi ngawur. Begini maksud saya, sudahlah jangan mengintervensi hal yang sudah jelas merupakan kewenangan orangtua. Begitu juga karena sukses itu lebih ditentukan karakter daripada pengetahuan akademik (IQ), marilah jadi sekolah yang tidak arogan dan kemaruk. Arogan karena kita mengatakan IQ lebih penting dari karakter sehingga masih membebankan urusan akademik ke rumah (orangtua). Arogan karena ketika agama, psikologi, budaya mengatakan yang membentuk karakter itu orangtua, sekolah masih berkepentingan melakukan peran yang sama. Berikutnya, kemaruk karena sudah semakin hari semakin banyak sekolah menggunakan waktu anak, kita masih mencuri waktu anak di rumah, waktu untuk bercengkrama, kesempatan orangtua membacakan buku untuk anaknya, menemani anak menonton televisi, mengaji di ‘surau’, diskusi keluarga.
SD Hikmah Teladan menegaskan pembeda urusan di rumah dan di sekolah. Kami berusaha terus belajar dan memperbaiki kualitas agar orangtua mempercayai kami untuk mengurus segala hal akademis dan cukup diurus di sekolah saja. Kami pun sangat mendorong komunikasi ‘bermakna’ terjadi antara anak dan orangtua (saat di rumah), dan anak juga memiliki kesempatan bergaul dengan lingkungan sosialnya. Pembeda kedua urusan ini sangat jelas bagi kami sedemikian sehingga segala atribut terkait sekolah dilarang dibawa ke rumah: buku pelajaran, buku catatan, bahkan banyak anak menyimpan alas tulis di sekolah.
19. Naik Kelas dengan Membawa Buku Cerita Karya Sendiri
Pelajaran Bahasa Indonesia (atau entah pelajaran Karakter, IPS atau PKn) kelas 1 memakai buku “Why I Love My Mummy”, ilustrasi oleh Daniel Howarth, penerbit Gramedia. Buku ini diberikan kepada anak-anak sekitar beberapa bulan akhir tahun ajaran. Namun sejak awal anak-anak melakukan banyak kegiatan yang berkaitan dengan hubungan mereka dengan orangtuanya, mengerjakanworksheet sehubungan tema, dan berkegiatan yang membuat anak senang dan bisa membuat buku: menulis bebas, mengomentari gambar, menggambar, menghias buku.
Di bulan-bulan terakhir buku “Why I Love My Mummy” sudah diberikan kepada anak-anak. Selama sebulanan buku ini dibaca, dibicarakan dan menjadi ‘isu’ kelas. Baru sebulan terkahir, biasanya, anak-anak mengerjakan proyek bukunya. Disebut bukunya karena “I” di sana berubah menjadi aku setiap anak dan “My Mummy” menjadi ibu masing-masing. Hai, mereka bikin buku dan itu autentik sungguhlah luar biasa.
Beberapa tahun sebelumnya hal yang sama pernah kami coba namun anak-anak hanya mengomentari gambar-gambar lengkap sebuah buku (yang dicopy setelah dihapus teksnya) dan mewarnainya. Cara ini masih memungkinkan ada anak yang meniru temannya. Sekalipun demikian, kami melalui ini dengan penuh kebanggaan karena kami punya tanggung jawab sejarah untuk mmembuktikan bahwa melepas diri dari kurikulum (standar isi) dan buku paket itu telah membuat kami lebih keren.
20. Salat Dzuhur Sebelum Adzan Dzuhur Berkumandang
Saya juga terkejut pertama mendengarnya. Belum lho belum seminggu lalu. Saya juga heran karena 6 orang MK (manajer kelas) kelas 1 dapat bersepakat melakukannya. Alasannya (hanya) kalau mereka salat sesudah adzan terdengar apalagi menunggu adzan sampai selesai, mereka tidak sempat makan siang. Hmm…
Alasan teman-teman sangat logis. Anak-anak yang masih belajar, sedang sulit-sulitnya diatur memang dapat menyebabkkan waktu molor. Bila mereka memaksakan diri (dan ini kemungkinan hanya karena menghindar dipermasalahkan orangtua), mereka dapat betul-betul terlambat makan. Terus, habis istirahat harus mengajar lagi. Repot. Itulah sebabnya, mumpung salat bagi anak kelas 1 jela-jelas belum wajib, bagiamanapun juga tetap jauh lebih baik salat (sebelum adzan) daripada terlewat jam makan siang. Cuma ya itu kok enteng banget mereka mengambil keputusan.
21. Menjadi Petugas (Lengkap) Upacara Bendera
Motto “Berani Gagal Berani Mencoba” mendapat tempat peragaan mulai dari di kelas dengan Panggung Balok, antar kelas atau paralel kelas di Panggung Berani Mencoba di depan perpustakaan, kemudian anak-anak ditantang nyalinya untuk tampil di depan warga sekolah pada sewaktu upacara. Masih ada satu lagi, menjadi utusan sekolah dalam lomba-lomba yang diadakan di luar. Setiap anak selama di SD Hikmah Teladan harus, paling sedikit 1 kali, mengalami mewakili sekolah. Sebab itu, utusan lomba di SD Hikmah Teladan tidak boleh dengan maksud untuk kepentingan mendapat juara, melainkan pemberian kesempatan.
Pemberian kesempatan pada setiap anak untuk tampil di semua level panggung menyebabkan pergerakan evolutif yang lembut dari nyali anak-anak untuk tampil di depan umum. Terutama, penilaian umum bahwa banyak hal diberlakukan umum di SD Hikmah Teladan, membuat anak-anak kecil itu (anak-anak kelas 1) enteng saja mengambil peran seperti kakak-kakaknya. Berikutnya, satu hal lagi, sekolah ini bukan sekolah ‘prestasi’ melainkan sekolah kebebasan berekspresi.
Pokoknya berani dulu tampil. Berani saja dulu, ini yang pokok.
Kenapa takut, tidak dinilai kok. Ayo berani, semua keberanian akan dirayakan.
Kenapa takut, semua teman menikmati penampilanmu. Ayo mencoba, biar kamu segera mengalami semua teman yang bangga padamu.
Kenapa takut dengan kegagalan saat itu disambut dengan senyum manis dan bukan tawa mengejek dan mempermalukan. Ayo tanpa persiapan baik pun maju saja, dan Kau segera “mengukir di batu” yang kelak diingat dalam perannya membuatmu kokoh.
100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (3): Yang Sudah Lalu
Seperti halnya saya sudah merasa tua pada saat memasuki usia 40, saya merasa SD Hikmah Teladan juga tua ketika memasuki usianya yang ke 10. Salah satu alasannya adalah guru-guru yang awet bertahan. Bayangkan saja teman-teman angkatan pertama hanya satu yang meninggalkan SD Hikmah Teladan ketika beliau menikah lagi dengan lelaki dari Bekasi. Sepertinya pengenalan yang sudah mendalam dapat menghambat kreativitas. Prasangka (karena merasa sudah tahu seseorang luar-dalam) kerap menjadi dasar komunikasi. Sejauh ini cara yang dapat dipandang efektif menghindarinya adalah menghalau stabilitas, lebih menghargai kegelisahan dibanding kepastian dan merelakan prestasi yang dapat diulang digantikan tantangan ketidakpastian. Dalam perjalanannya, SDHT memiliki pencapaian yang kuat tapi harus direlakan terbenam menjadi yang lampau.
12. Magang
Perpaduan semangat berbagi dan kepercayaan diri membuat kami menjadi sekolah yang terbuka. Kami dapat berbagi kepada siapa saja dengan enteng. Tanpa biaya pula. Ada kunjungan sehari, paling lama sampai 3 minggu. Yang 3 minggu inilah yang disebut magang.
Seperti biasa kalau cuma disebut istilahnya tanpa penjelasan, banyak sekolah menyebut melakukannya juga. Mari kita mulai menunjukkan “Magang di SDHT” yang memang cuma pernah dilakukan di SDHT:
1. Saya menjadikan guru kelas 5 SDHT, waktu itu, dan teman-teman dari Bali menjadi 2 kelompok. Kelompok Bali dan kelompok SDHT. Saya memberikan bahan materi (dengan uraian singkat) yang belum pernah dikelola kedua kelompok. Mereka mendapat tugas membuat lesson plan, worksheet, dan menentukan siapa yang akan mengajar di kelas apa. Dari 3 kelas paralel, yang mengajar pertama adalah guru SDHT dan guru-guru yang magang menjadi observer. 2 kelas lainnya baru kemudian guru-guru magang yang mengajar dan guru SDHT menjadi observer.
Masih saya ingat betul, teman-teman dari Bali (ditambah beberapa teman dari UPI) sampai lembur. Dikerjain itu namanya. Padahal mereka sudah mendengar presentasi guru-guru SDHT tentang lesson plan yang sudah mereka buat dan diberikan worksheet terkait. Mungkin perlakuan demikian malah menantang mereka. Malu juga kali kalau cuma ngikutin saja. Kemudian setiap selepas mengajar ada diskusi. Boleh juga disebut disidang. Seperti pada umumnya SDHT yang mudah dikritik (: anak-anak yang kesiangan, tidak berseragam, ke sekolah pakai sandal, berkata-kata kasar, pada saat jam belajar berkeliaran di sekolah dan lain-lain), begitu juga KBM yang berlangsung: Kok anak-anak begini dan begitu dibiarkan? Kenapa rencana begini-begitu tidak dijalankan dan malah yang lain dimunculkan? Bagi saya, melebihi jawaban yang diberikan teman-teman, kebanggaan kepada guru-guru SDHT muncul saat mereka mempersilahkan begitu saja untuk diobservasi dan kemudian disidang. Ini keren lho. Berikutnya, teman-teman dari Bali yang mengajar di 2 kelas yang lain.
2. Magang yang dilakukan teman-teman dari Krueng Raya, Aceh menjadi magang ideal. Peserta magang adalah kepala sekolah, guru dan anak-anak. Guru-guru melakukan seperti apa yang dilakukan teman-teman dari Bali. Kepala sekolah menempel kepala sekolah. Anak-anak belajar di kelas. Sepulang sekolah mereka tinggal di beberapa rumah orangtua murid SDHT.
Bagi kami, semakin orang dapat mempelajari dan memanfaatkkan apa yang kami miliki semakin baik. Tidak ada yang tidak boleh diketahui. Berbagai worksheet dapat digandakan, program-program dicopy, berbagai pertanyaan detail mendapat jawaban. Seloroh kami, yang enggak boleh itu dipindahkan sekolahnya.
13. Panggung Balok
Pelaksanaan terbaik dari motto “Berani gagal berani mencoba” adalah panggung balok. Sepertinya ukuran balok ini sisi-sisinya tidak lebih dari 1 meter. Semua kelas punya satu. Di panggung ini anak-anak membaca nyaring, deklamasi, bergaya suka-suka. Di panggung ini mereka sudah seperti berdiri di lantai saja padahal itu tempat yang lebih tinggi dari yang lain, tempat yang membuat yang berdiri di atasnya menyolok.
Untuk kepentingan acara antar kelas, penggabungan Panggung Balok menjadi Panggung Berani Gagal. Di sinilah lomba-lomba peringatan hari besar diadakan. Panggung Berani Gagal juga yang mendorong gagasan ulangan semester dalam bentuk lomba. Misalnya anak kelas 1 pernah ulangan berhitung dengan bergilir menjawab penjumlahan dalam waktu sekian menit. Jumlah pertanyaan yang dijawab menjadi dasar pemenangnya. Tentu saja, seperti biasa, kategori pemenang lain akan dikeluarkan sebanyak-banyaknya sebagai kejutan di penguman akhir: Kami panggil fulan sebagai juara dengan kategori anak yang paling banyak mengulang sebagai peserta. Karena lomba memang diadakan dalam beberapa hari dan anak yang belum puas dengan penampilan pertamanya dapat mendaftar lagi.
Sekarang Panggung Berani Gagal berubah menjadi Panggung Berani Mencoba dan sudah permanen. Ada yang hilang. Banyak yang tak bisa dilakukan lagi.
14. Jatah Lomba Spontanitas
Pada satu periode ada saat kami memiliki stock hadiah. Kami persilahkan guru-guru untuk mengadakan lomba, permainan, pertanyaan teka-teki dengan spontan di waktu istirahat untuk menghabiskan stock hadiah. Lomba dilakukan di tempat strategis. Dengan menggunakan megaphone guru-guru akan teriak-teriak mengumumkan lomba. Selalu ramai. Luarbiasa menyenangkan. Heboh. Ketika guru-guru baru melihat tayangan filem lama tentang itu, sungguh mereka amat terkesan.
Saya terkesan dengan lomba ini karena perannya untuk membentuk trend. Sempat guru-guru kekurangan ide sehingga lomba paling banyak teka-teki yang lucu-lucu. Dan inilah yang terjadi di kelas-kelas dalam waktu beberapa lama setelah lomba dilakukan.
15. Panggung Penampilan Spontan
Seingat saya spontanitas yang ini tidak ada namanya. Pokoknya di area dekat kantin tempat lalu-lalang anak-anak dalam setiap harinya ada saja kelas yang menampilkan anak-anak. Mereka bisa apa saja. Tidak ada ketentuan, juga tidak ada permintaan untuk menonton. Namun setidaknya kalau yang melirik atau menengok sih ada. Tujuan utamanya memang uji nyali, menantang keberanian. Sejak awal SDHT memang bernafsu membuat anak-anaknya berani.
100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (2)
Bahwa di sebuah sekolah ada anak berkebutuhan khusus jelas bukan cuma ada di SD Hikmah Teladan. Tapi cerita anak kelas dalam TAP yang dibuatnya tentang (6.) Anak Berkebutuhan Khusus Menjadi Imam, dapat dipastikan cuma ada di SD Hikmah Teladan: Aku ada cerita mengenai anak ABK. Inilah uniknya SDHT yang tidak membeda-bedakan dengan anak normal. Suatu hari salah seorang ABK diminta untuk menjadi imam. Saat imam mengucapkan “waladolin” dan makmum menjawab “amin”. Pada saat itu pula sang imam kabur karena kaget mendengar teriakan dari jamaah.
7. Sekolah Umum dengan Seragam Murid Perempuan Berkerudung.
SD Hikmah Teladan sekolah umum. Bukan Sekolah Islam atau Sekolah Islam Terpadu (yang jumlahnya sudah lebih dari seribu) sebagaimana kerap dinyatakan oleh berbagai penerbit buku, undangan-undangan yang masuk dan para calon orangtua murid baru. Kita sebut beberapa perbedaannya: 1) SD Hikmah Teladan masuk pukul 07.30 – 14.00 berbeda dengan SDIT yang fullday di mana anak-anak baru pulang sekolah pukul 16.00. 2) SD Hikmah Teladan berbeda dengan SDI dan SDIT terkait dengan jumlah mata pelajaran agama. Kita hanya punya 2 mata pelajaran agama: Pendidikan Agama Islam dan Baca Tulis Al Quran. Namun kenapa ‘orang luar’ mengenali SD Hikmah Teladan sebagai SDI atau SDIT? Karena semua anak perempuannya memakai kerudung.
Menjadi sekolah umum adalah keputusan sadar. Para pendiri SD Hikmah Teladan sejak dari awal meniatkan bereksperimen menemukan model pendidikan ‘baru’ yang sepenuhnya dapat menfasilitasi tumbuh kembang potensi anak. Ini pekerjaan berat. Maka kami hindarkan untuk sama dengan sekolah lain yang sudah memiliki citra yang jelas di masyarakat. Bila kami menjadi SDIT, misalnya, maka sudah jelas dan lengkap gambaran (:baca tuntutan) masyarakat akan kami: harus seperti apa kami dan harus bagaimana kami bergerak ke depan. Jika tidak, kami dipertanyakan, dikritik, digugat. Tentu ini hal yang sungguh merepotkan dan membuat kami tidak memiliki peluang bereksperimen. Malah SD Hikmah Teladan sepertinya berkembang dengan menjadi antitesis atau pembeda SDIT.
Lalu kenapa sebagai SD umum murid perempuannya berseragam disertai kerudung? Saya tidak tahu pasti. Bukankah tidak ada yang salah dengan hal tersebut? Memang sepertinya ada dorongan cukup kuat agar SD Hikmah Teladan menjadi sekolah islami. Dan, semoga ‘islami’ yang dimaksud adalah Islam yang sangat diwarnai keragaman, termasuk keragaman fiqih. Bukankah di SDHT keragaman bukan hanya fakta, melainkan SDHT sudah menjadi rumah bagi keragaman.
8. Seleksi Calon Orangtua Murid
Untuk tahun ajaran baru Juli nanti, sejak awal Pebruari, calon murid sudah melebihi jumlah 96. Karena selain ketentuan usia 6 tahun saat bulan Juli, tidak ada persyaratan atau seleksi untuk menjadi murid SDHT. Murid diterima hanya berdasarkan urutan pendaftaran. Namun karena pendaftaran juga tanpa melibatkan penarikan biaya apapun, artinya orang dapat mendaftar begitu saja. Lalu siapa yang sungguh-sungguh? Di sinilah Program Sosialisasi mengambil peran.
Program Sosialisasi yang berlangsung dari pukul 09.00-12.00 mengungkap lebih dan kurang dari SDHT, juga terutama mengenai hal-hal apa saja yang menjadi perbedaan SDHT dari sekolah lain. Semakin jelas pengungkapan akan memperkuat rujukan bagi calon orangtua dalam mengambil keputusan. Isi Program Sosialisasi dengan maksud demikian, mengakibatkan minimnya pembicaraan tentang hal-hal ideal, cita-cita atau segala hal normatif lainnya. Yang ada adalah ruang dan waktu yang leluasa bagi Ketua dan Wakil Ketua Komite Sekolah beraksi. Saya yang mewakili sekolah hanya menyampaikan garis besar perjalanan murid SDHT dari awal masuk sampai akhir. Sekali lagi, semakin jelas dan objektif penjelasan akan semakin mudah bagi orangtua calon murid mengambil keputusan.
Sebetulnya seleksi orangtua sudah dimulai lebih awal dengan kebiasaan mengajak orangtua dan anak yang mendaftar tour di SDHT, termasuk menyatroni kelas 1 yang sedang belajar. Bukankah bila orangtua melihat guru yang enjoy dengan anak yang memilih belajar dengan duduk di kursi ibu guru, beberapa anak belajar sambil tiduran di karpet, sebagian besar di bangku masing-masing, dan ada juga anak yang tidak mau belajar; orangtua yang konservatif tentu saja buru-buru mencari sekolah lain. Menurut saya Tour SDHT pun dapat memainkan peran menyeleksi orangtua.
9. Daftar Surat yang Dibaca pada Saat Salat Berjamaah Dhuha dan Dzuhur
Apa surat yang dibaca pada salat berjamaah pekan ini? Guru SD Hikmah Teladan akan menyebutkan sebuah surat, dan sebuah surat lain akan disebutkan kalau anda bertanya sekitar beberapa minggu kemudian. Setelah ada perjalanan panjang untuk menegaskan bahwa salat bagi anak-anak memang belum wajib sehingga anak-anak bisa salat dengan santai, tanpa beban, dan menjadi kesempatan ‘bersenang-senang’; kami memutuskan salat sebagai media di mana anak-anak melakukan pengulangan hafalan surat-surat pendek.
Setelah menegaskan bahwa bagi anak-anak salat belum wajib, sehingga tidak apa kalau mereka tidak salat, salat dzuhur 2 rakaat, menggoda teman, mengingatkan teman yang tidak mau diam dan lain-lain, maka salat menjadi kondisi yang menyenangkan, rileks, dan secara fisik anak bergerak aktif. Nah, bukankah itu semua kondisi belajar terbaik? Pada kondisi inilah materi hafalan menumpang dan pengelolaan yang teratur. Seorang anak yang menyebutkan salah satu hal yang cuma ada di SDHT adalah membaca surat pendek dengan berteriak-teriak sewaktu salat, membuktikan efektivitasnya. Itu sebabnya, sekalipun tidak ada pelajaran khusus hafalan al-Quran, kami tetap dapat mencapai target anak-anak SDHT lulus sekolah dengan catatan telah menghafal surat-surat al-Quran Juz 30.
10. Humaniora sebagai Nama Ekstrakulikuler
Memberi nama kegiatan ekstrakulikuler dengan Humaniora tentu tidak sembarangan. Di Negeri ini biasanya setiap hal yang berkaitan dengan sekolah itu serius. Coba saja Anda ingat bagaimana dulu kita berekstrakulikuler? Bukankah sekadar “ekstra’ pun tetap saja serius? Padahal yang manusiawi untuk anak adalah (juga) bermain, bergembira, bersenang-senang.
Di SD Hikmah Teladan jam Humaniora adalah jam bersenang-senang mencoba apa yang saat melakukan pilihan kita minati. Bila diperuntukkan untuk bersenang-senang, maka pilihan kegiatan harus banyak. Semester 2 tahun ajaran 2011 ada 24 pilihan kegiatan Humaniora. Jumlah ini setelah dikurang beberapa kegiatan (termasuk Club Sains) yang tidak ada peminat. 24 kegiatan yang dapat dipilih anak-anak tersebut adalah: 1) bola basket 2) catur 3) bulutangkis 4) doktercilik 4)komputer 5) english club 6) elektonik 7) fotografer 8) gambar kreatif 9) karate 10) karya kreatif 11) memasak 12) membatik 13) menyulam 14) origami 15) tenis meja 16) teater 17) sulap 18) seni tari 19) teater 20) penulis cilik 21) pencinta alam 22) musik 23) seni keramik 24) sepakbola.
Kami masih menganggap sebagai pilihan jumlah 24 masih kurang. Sebab itu, dalam 3 pekan (3 kali pertemuan) digunakan anak untuk penjajagan dan guru pembimbing untuk promosi. Dalam 3 kali pertemuan anak-anak dapat keluar-masuk. Absensi satu semester dimulai di minggu ke-4. Oh ya bisa saja pada minggu ke-4 itu ada kegiatan Humaniora yang tidak laku dan dihapus dari daftar.
11. Pada Hari Kamis Kelas 3 Berpakaian Bebas
Dijamin ini 100% cuma ada di SD Hikmah Teladan. Kejadiannya demikian: Secara umum hari Rabu anak-anak SDHT berpakaian bebas. Karena setiap hari Rabu kelas 3 ada pelajaran Olahraga yang menyebabkan mereka berpakaian Olahraga, maka mereka tidak menikmati berpakaian bebas. Guru kelas 3 diprotes anak-anak. Jawaban spontan “kalian berpakaian bebas saja di hari Kamis” berlaku sampai sekarang. Saya mengingat betul mekanisme ini tidak melalui rapat, juga persetujuan dari kepala sekolah.
Flash Card UASBN: Bahasa Indonesia (1)
Beberapa bulan menjelang hari “H” UASBN sangat tepat untuk memperbanyak pengulangan. Sebagaimana dikatakan Eric Jensen, “Pengulangan memberitahu bahwa sebuah informasi lebih penting,” maka inilah yang sebaiknya dilakukan. Namun karena kondisi rileks yang merupakan saat terbaik bagi otak dalam menyerap informasi, maka kita perlu menemukan metode atau alat yang tepat. Tulisan ini akan menjajaki penggunaan Mind Maps dan flash card. Yang kedua digunakan karena ukurannya yang dapat dimasukkan ke saku, misalnya, memudahkan untuk diakses. Kemudian, flash card juga memuat informasi yang sudah sederhana.
Bila flash card sudah tersedia tentu Anda sebagai guru perlu memastikan pengulangannya. Mengutip Tony Buzan dan Eric Jensen pengulangan yang minimal adalah 2 atau 3 kali mengulang sebelum 1 jam dari saat informasi diterima, pengulangan kedua sehari kemudian, pengulangan ketiga seminggu kemudian, pengulangan keempat sebulan kemudian. Kalau Anda bekerja sama dengan anak dan orangtua,, kemungkinan pengulangan lebih banyak dapat dilakukan. Lebih banyak pengulangan, sekali lagi, itu lebih baik. Anda perlu hati-hati dengan 2 pengulangan di awal: 2 atau 3 kali pengulangan sebelum 1 jam dari sejak informasi diterima dan pengulangan hari berikutnya. Bila anak punya kebiasaan belajar atau Anda bias bekerjasama dengan orangtua, pengulangan kedua dapat dilakukan di rumah sepulang sekolah sebelum anak tidur.
(Saya mohon maaf tidak dapat menata dengan baik flash card-nya. Anda dapat membuatnya bersama anak-anak. Pokoknya kotak pertama bagian depan dan kotak kedua bagian belakang dari sebuah flash card). Kita akan mulai dengan pelajaran Bahasa Indonesia untuk bagian kemampuan yang diukur “menentukan isi bacaan”.
Flash Card 1
| 8 kata tanya | Siapa
Apa Kapan Bagaimana Mengapa Dari mana Ke mana Di mana |
Catatan: Kata tanya yang bold adalah kata tanya yang menurut kisi-kisi UASBN 2010/2011 akan muncul sebagai soal.
Flash Card 2
| Apa digunakan untuk menanyakan? |
|
Catatan: Jawaban adalah yang sesuai pertanyaan. Penggunaan kata tanya lainnya ditulis dengan maksud untuk mengingat sekilas. Catatan ini berlaku sampai flash card 5.
Flash Card 3
| Bagaimana digunakan untuk menanyakan? |
|
Flash Card 4
| Di mana digunakan untuk menanyakan? |
|
Flash Card 5
| Mengapa digunakan untuk menanyakan? |
|
Flash Card 6
| Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya apa! |
|
Catatan nonor 6-9: Jawaban nomor 1 dan 2 diisi dengan pensil. Keduanya diambil dalam proses belajar. Jawaban nomor 4-7 diambil dari soal UASBN tahun sebelumnya (bahan dari “Seri Pendalaman Materi Plus Sukses Menghadapi UN SD, Essis-Erlangga)
Flash Card 7
| Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya bagaimana! |
|
Flash Card 8
| Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya di mana! |
|
Flash Card 9
| Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya mengapa! |
|
Flash Card 10
| Buat contoh jawaban dari pertanyaan yang menggunakan kata tanya apa! |
|
Catatan: Flash card 10-13 sebaiknya digunakan bersamaan dengan flash card 6-9.
Flash Card 11
| Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya bagaimana! |
|
Flash Card 12
| Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya di mana! |
|
Flash Card 13
| Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya mengapa! |
|
Bagi anak pada umumnya bagian kemampuan yang diukur “menentukan isi bacaan” tidak memerlukan flash card, termasuk soal nomor 5 yang menanyakan kesimpulan teks. Namun tidak demikian dengan anak-anak yang kemampuannya kurang. Flash card di atas dapat sangat membantu. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membiasakan anak-anak untuk membaca wacana/teks dengan nyaring dan intonasi yang sesuai makna bacaan. Kemudian, bagi anak yang masih kesulitan memahami bacaan (walaupun hanya sebuah paragraf), anak bisa mengerjakan soal dengan mulai dari membaca soal ke bacaan.
Perlu diketahui, berbeda dengan teks sastra, teks non sastra hanya mempunyai jawaban benar pada teks. Bila ada pernyataan atau maksud di luar teks, maka jawaban salah.