Archive

Archive for the ‘Walagri Aksara’ Category

Terimakasih 6: Masakin 10 Orang Misalnya

August 15, 2010 Leave a comment

Siti dan Ibah di rumah kami 2 hari semalam. Mereka datang dengan rencana tidak bermalam. Tentu saja saya dan istri tidak mengijinkan. Kami ingin menjamunya berbuka dan sekali sahur. Menjelang magrib kali ini, istri saya bisa bermalas-malasan di tempat tidur karena 2 gadis yang membantunya dapat mempercepat kegiatannya di dapur. Saat inilah saya mendengar istri menyampaikan keinginannya masakin Ibah dan Siti makanan yang awet. Wah.

Seingat saya baru saum kali ini, istri masak full. Saya jelas senang karena sungguh mengenal lezat masakannya. Juga, ia yang masih amatir dalam hal memasak menjadikan memasak pekerjaan yang melelahkan dan memakan banyak waktu. Saya tidak bercanda kalau hari Sabtu istri saya masak, maka kami memastikan sarapan bubur yang lewat depan rumah dulu atau sekerat roti biar bertahan sampai waktu istri menghidangkan makan pagi yang bisa saja itu sekita pukul 1o.oo-11.00. Berkait dengan Ibah-Siti, cerita saat makan, mengomentari kami yang lahap, bahwa ini, itu yang dimakan cuma dibeli sebesar harga yang jauh lebih murah dibandingkan kalau makan di luar, selalu menjadi kebanggaan istriku. Yah, inilah yang diceritakannya pada Ibah-Siti saat mendengar mereka membeli beberapa sendok sop seharga lima ribu. Besok kita masak ya, ajak istri saya pada mereka. Seulas senyum yang kuingat saat memacarinya menghibur hatiku.

Tentu saja dengan maksud mendapat penggantian, istri saya melaporkan belanja kali ini sampai 60 ribu lebih. Bersama-sama mereka mulailah masak. Oh ya yang dimaksud mereka kali ini adalah Ibah, Siti dan istriku. Mereka bergantian: siapa membaca resep, siapa meracik bumbu, siapa mempersiapkan bahan, siapa mengolahnya. Senang lho menyaksikan keramaian dan keriangan di dapur kali ini. Sudah selesai. Menurut perhitungan istri saya, Ibah dan Siti sudah punya bekal untuk setidaknya 5 hari.

Untuk 5 hari? Ibah dan siti sudah siap pulang. Selimut, sepatu untuk Siti, obat nyamuk elektrik, dibawa dengan makanan yang dimasak tadi dan kue kaleng dibawa serta. Saya menanyakan keadaan keuangan meraka. Siti ternyata hanya pegang 50 ribu yang didapat dari Eva (anggota Walagri Aksara) sehari sebelumnya. Ini berarti Siti tidak membawa uang sejak datang ke Bandung. Waduh. Keadaan inilah yang saya bicarakan setelah mereka pulang dengan tambahan uang dan bekal.

Apakah Ibah dan Siti bisa masak? Bagaimana kalau kita latih dan modali mereka untuk memasak buat teman-temannya dengan sedikit mengambil keuntungan? Berapa tambahan orang yang dimasakin yang tidak terlalu membebani mereka? Saya berpikir jumlah yang masih membuat mereka mengerjakan itu dengan menyenangkan dan bukan sesuatu yang disebut pekerjaan. Maksud hati sih ingin mereka tetap belajar dengan maksimal. Saya sudah sampaikan kepada mereka kalau mereka harus belajar mencari nafkah untuk keperluan sehari-hari, tapi tidak akan mereka mendapat beban keuangan untuk hal-hal terkait belajar. Mungkin saja mereka suatu hari tidak makan atau hanya makan satu kali, tapi dalam keadaan seperti itu mereka akan tetap menjadi mahasiswi dengan koleksi buku yang lebih banyak, atau seperti yang direncanakan untuk Ibah, kursus bahasa Inggri dan bahasa Arab di tempat yang terkenal dengan lulusannya yang baik.

Terimakasih 5: Mengemis

August 15, 2010 Leave a comment

Dari mana uangnya? Mengemis lagi ya? Kata “mengemis” digunakan berulang oleh bendahara Walagri Aksara setiap saya menyebutkan rencana kegiatan. Kami memang benar-benar kere. Sejak berdiri tidak punya sumber dana, sementara berbagai upaya kreatif untuk menghasilkan keungan mandiri mentok. Lalu kenapa Walagri Aksara masih ada?

Kami bernasib baik. Bergulat di dunia ilmu, dengan anak-anak yang belajar, beserta guru-guru yang mengajar, pasti diliputi berkah yang membuka celah-celah rejeki. Jangan khawatir ya sebenarnya. Saya sendiri tidak khawatir kecuali dengan diri sendiri. Biasa lah saya masih rentan dengan ketulusan, menyukai pamrih, sedikit-sedikit senang dengan popularitas.

Betulkah saya mengemis? Jadi penasaran nih. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “mengemis” dapat berarti minta sedekah, minta-minta. Saya pikir, siapa yang meminta dan siapa yang memberi menentukkan apakah mengemis berarti minta sedekah atau minta-minta. Namun teman-teman dekatku rasanya akan menolak kedua pengertian tersebut. Seorang sahabat mengatakan, “Anak-anak pak Aripin (yang dimaksud adalah Siti-Ibah), anak-anak saya juga.”

Kebiasaan saya menuliskan SMS untuk hal-hal seperti di atas juga menggunakan kalimat berita. Misalnya saya sampaikan siapa Siti dan Ibah, kemudian informasi bahwa mereka akan registrasi dengan tanggal, bulan, tahun dan besaran uang yang dibutuhkan. Sepertinya tidak ada kata-kata bermakna minta bantuan, pertolongan, sumbangan, sedekah, infak, beasiswa, juga zakat. Ha, ha, memang tidak perlulah ya kata-kata itu kalau saya yang mengirimnya. Teman-teman sudah mengerti. Eh, betul lho teman-teman saya cepat mengerti sekaligus pengertian. Terimakasih sebanyak-banyaknya ya.

Tata, Rommy, Dewi Susanti adalah yang dimaksud teman-teman oleh saya dan mereka berbeda agama dengan saya. Ali Abdullah, Ida Sitompul (yang menghubungkan saya dengan teman-temannya), Slamet Tarmaidi, adalah teman-teman Muslim yang bisa mengaburkan kata “mengemis” dari segala kebutuhan yang sudah saya sampaikan pada mereka.

Hai semua, apakabar?

Terimakasih 4: Yoyoh Seorang

August 15, 2010 Leave a comment

SMP Darul Hikmah angkatan I, yaitu anak-anak saat sekolah ini pertama kali kami dan masyarakat dirikan, berjumlah 21 anak (7 perempuan, 14 lelaki). 3 perempuan menikah selepas SMP. Dari yang melanjutkan ke tingkat SMA, 3 yang terus melanjutkan ke perguruan tinggi negeri dalam hal ini UIN Sunan Gunung Djati: Ibah Muhibah (4 Juni 1991), Siti Mardotilah (15 Juli 1991), Asep Supriatna. Ibah-Siti yang mendapat pendampingan sepenuhnya Walagri Aksara.

Angkatan II, mereka yang kini kelas 3 SMA, hanya bersisa 4 orang yang satu di antaranya adalah Yoyoh beridentitas  perempuan. Kok malah semakin sedikit saja ya yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Lebih tepat sebetulnya melanjutkan ke perguruan tinggi negeri. Hal ini terkait dengan keharusan kualitas dan kemungkinan memperoleh pembiayaan lebih ringan, khususnya kemudahan memperoleh beasiswa.

Saya agak kecewa hanya menemukan Yoyoh. Sekolah-sekolah dampingan Walagri Aksara dimiliki masyarakat yang terlibat konflik pertanahan. Mereka di pelosok dan berkonflik. Para lelakinya hampir dipastikan bertani dan aktif di pergerakan, dengan demikian selayaknya dibebankan pada perempuan lah masa depan pendidikan, terutama tanggung jawab pengelolaan, para guru, juga para perempuan yang lebih diharapkan merambah berbagai perguruan tinggi negeri. Kegembiraan saya setahun yang lalu ketika para ibu meminta didampingi mendirikan PAUD (pendidikan anak usia dini) berlawanan dengan apa yang akan di peroleh tahun depan dengan hanya Yoyoh.

Program Walagri Aksara ke depan, selain memfasilitasi pengembangan pertanian organik dan peternakan bagi masyarakat, adalah penjaminan mutu kelulusan bagi sekolah-sekolah pelosok yang didampingi: SMP, SMK Pertanian Pasawahan, Banjarsari, Ciamis; SD, SMP, SMK Pertanian Darul Hikmah, Cieceng, desa Sindang Asih, kecamatan Cikatomas, kabupaten Tasikmalaya; SMP, SMK Pertanian Sari Mukti, Garut. Kan semua anggota Walagri Aksara itu guru, jadi inilah hal tradisional yang kompeten dilakukan kami.

Kembali ke Yoyoh, yuk. Gembira saya kalau ada yang menyelamatkannya. Apa yang dimaksud “menyelamatkan” di sini silahkan teman-teman interpretasikan sendiri-sendiri. Pertengahan Ramadhan ini Walagri Aksara akan tour lagi, termasuk menemui Yoyoh dan 3 siswa SMA Darul Hikmah kelas 3 yang menjadi kelas jauh MAN Talegong, Cikatomas.

Terimakasih 3

August 13, 2010 Leave a comment

Besok Siti dan Ibah ke rumah. Mereka sekarang sudah kost. Suhu di sana lebih dingin. Di sini saja Siti kediginan terus, maka kami meminta mereka balik untuk membawa selimut.

Akan ada rutin, Siti dan Ibah untuk balik ke rumahku atau ketemu dengan teman-teman Walagri. Saat ini saya memiliki agenda diskusi dengan mereka. Kami akan mendiskusikan buku “Islam dan Sekularisme”, Naquib Al-Attas. Buku ini direkomendasikan oleh temanku saat kutanyakan buku apa yang perlu kuperkuat untuk mereka supaya hilang beban kekhawatiran jika mereka tandang ke medan perang dengan bekal minimal. Aku juga membaca kembali buku itu, juga buku baru Budy Munawar Rachman yang berbeda dengan Naquib al Attas yang mengatakan sekularisme sebagai hal asing dan berbahaya bagi Islam, menegaskan bahwa sekularisme adalah secara asali penting untuk ummat Islam.

Mereka juga balik untuk belajar dengan teman-teman di Walagri Aksara. Siti yang dipersiapkan untuk menguasai pelajaran matematika, IPA akan bertemu rutin dengan bu Nia (S1 dan S2-nya dari Matematika ITB), mungkin kimia dengan istri saya ikut jadwal Adry dan Azizah anak tetangga. Ibah dikuatkan di sosial sains. Ibu Lili sangat diharapkan mendampinginya. Target menguasai bahasa Inggris dann bahasa Arab dibebankan pada Ibah.

Senangnya kalau rencana itu berjalan. Semoga ya. Impian saya, Ibah dan Siti balik ke kampungnya sebagai guru yang kuat dengan setumpuk idealisme. Terimakasih banyak teman yang hadir di sekitarku kerap menghadirkan dengan terang harapan itu.

terimakasih 2

August 4, 2010 Leave a comment

Anak sulung saya, anak kamar. Membaca, belajar, mendengar musik, santai, semuanya di kamar. Begitu juga ketika ia bangun tengah malam, ia akan membaca dengan membuka sedikit gorden dengan makasud mengambil penerangan dari lampu belakang. Kini, sudah hampir sebulan, semua kebiasaan itu jeda dulu. Pasalnya, rumah kami kan terdiri dari 2 kamar. Jadi selama Siti dan Ibah di rumah, Adry dan Azmi tidur menggelar karpet di ruang tamu.

Mungkin memang cukup lama 1 bulan itu, sehingga Adry mulai merasa asing dengan pola barunya. Ini ia ungkapkan dengan keinginannya numpang tidur di kamar ibunya dan kemarin muncul wacana kost. Tadi malam saya mendiskusikannya dengan istri.

Saya senang anak-anak menjadi bagian dari aktivitas sosial saya. Beberapa kali kunjungan ke pelosok, saya menyertakan keduanya. Teman-teman saya di sana kenal betul dengan kedua anakku. Saya menganggap semuanya sudah oke. Jadi, ketika ada Ibah dan Siti, tanpa ijin apalagi diskusi, menempatkan mereka di kamar anak-anak. Saya benar-benar lupa kalau sampai cukup lama akan ada yang sangat terganggu dari kebiasaan anak-anak. Padahal, sebentar pun sudah seharusnya meminta ijin.

Yang hilang dari tidak meminta ijin itu adalah, memberikan informasi dan pengetahuan yang lengkap (sebagaimana hal ini terjadi kepada istri) tentang kenapa saya harus mengurusi Siti dan Ibah. Sungguh ini kehilangan besar. Kedua, sifat buruk saya untuk otoriter, sok dengan hal yang dinilainya benar melenggang muncul dengan leluasa. Kan Kebenaran itu berkah, juga jariah. Seharusnya saya meminta ijin, mendorong diskusi, berbagi peran, dan banyak lagi efek positif berantai lainnya termasuk mencegah berbagai efek buruk muncul. Menulis ini saya tersenyum membayangkan indahnya jadi seorang ayah yang demokratis dan santun.

Terimakasih

August 3, 2010 Leave a comment

I

Mungkin dasarnya adalah keterikatan yang secara alamiah terbentuk. Begitu saja, ketika saya mampir di rumah Ibah, muncul permintaan saya agar Ibah meneruskan sekolah ke perguruan tinggi. Jelas ini permintaan tanpa perhitungan.  Kunjungan ke desa Mekar Haruman saja hanya bisa 2 kali dalam setahun, bagaimana kami bisa memberikan beasiswa?

Perhitungan saya sesungguhnya mendalam: ada tim kuat di Bandung yang dapat membantu anak-anak desa Mekar Haruman (termasuk Ibah dan Siti) bersiap menghadapi SNMPTN. Ada Nia yang S1 dan S2 diselesaikan di Matematika ITB. Ada, banyak lho, setidaknya saya leluasa meminta bantuan teman-teman di 4 sampai 5 sekolah; Ada sekolah Semesta Hati yang saya dampingi yang membuka kesempatan untuk anak-anak kami di pelosok dapat magang atau menjadi tenaga honorer sehingga keguruan mereka terasah dan mereka punya penghasilan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari; Saya sudah mulai punya beberapa sahabat yang semangatnya memberikan keyakinan bahwa saya harus melakukan segala kebaikan. Bagaimana nanti, ya sahabat-sahabat saya itu yang berjanji untuk menemani saya dengan setia; Terakhir, saya tidak bisa menyia–siakan semangat warga yang saya dampingi untuk mulai mempertaruhkan masa depan melalui keberhasilan pendidikan.

Saya pikir, Anda juga akan dengan senang hati bekerja kalau mempunyai motivasi sekuat itu. Jadi sekalipun tidak punya uang tapi berani menjanjikan beasiswa, saya bukanlah orang nekad. Yang sebenarnya adalah, jika program ini mandeg, saya tak lebih dari seorang pemalas, bahkan pengecut.

II

Selepas UN saya ditanya beberapa kali tentang jumlah anak yang dapat kami, Walagri Aksara, tanggung pembiayaan kuliahnya. Saya mempersilahkan berapa saja. Mereka juga bisa sangsi dengan kapasitas saya. Saya sih tidak peduli, pokoknya siapa saja dan berapa saja anak yang lulus SNMPTN akan saya urus semuanya. Tentu saja Tuhan tahu kapasitas saya. Maka konon hanya 2 anak yang mau. Keduanya lulus di UIN Sunan Gunung Djati. Keduanya menjadi tanggungan beberapa sahabat saya. Terimakasih.

Hanya 2 anak? Ibah-Siti adalah 2 anak pertama di desa Mekar Haruman yang masuk universitas negeri. Masyarakat tentu saja bangga. Adik-adik Ibah-Siti sudah mengetahui bahwa berkuliah di universitas negeri di kota Bandung itu bukan perkara sulit. Yang sulit adalah mampu menembus SNMPTN-nya. Ibah-Siti akan cerita bagaimana guru-guru SDHT mengajar mereka sehabis tugas mengajarnya. Ibah-Siti akan cerita bagaimana mereka diperlakukan di rumah kami. Ada cerita yang banyak untuk adik-adik Ibah-Siti di desa Mekar Haruman. Sungguh jumlah tak berarti, yang menggebrak perubahan adalah dinding yang menutupi luasnya kesempatan yang telah dirubuhkan.

Wajah-wajah dalam Ingatan (5): Kali ini tentang Diri Sendiri

January 17, 2010 Leave a comment

Karena kegiatan Walagri Aksara saya jadi banyak di foto. Hasil jepretan, sebagian besar, membuat saya terbiasa melihat wajah sendiri yang tidak menarik, kurang menyenangkan, tak mengekspresikan keramahan. Kenapa demikian, saya belum terlalu berani mencari jawaban. Read more…

Categories: Walagri Aksara

Wajah-wajah dalam Ingatan (4)

January 10, 2010 Leave a comment

Di Cieceng tokoh agama masih memiliki peran sentral. Selain rutinitas mengisi pengajian dari masjid, madrasah atu mushala di tingkat kepunduhan, beberapa di antara mereka juga mengelola madrasah dan pesantren (sebetulnya berupa tempat pemondokan yang disediakan bagi siswa yang jauh dengan disertai program pembinaan keagamaan). Bila ditambah berprofesi sebagai guru, beberapa di antara mereka tidak memiliki waktu lagi untuk bertani. Inilah yang dialami ajengan Parman. Read more…

Categories: Walagri Aksara

Wajah-wajah dalam Ingatan (3)

January 9, 2010 1 comment

Pada urang Sunda nama-nama ini masih mudah ditemukan: Eden, Udin, Adin, Adan, Odin. Jangan senyum-senyum begitu dong. Sebelum era nama ke-baratbarat-an dan ke-arabarab-an, nama-nama urang Sunda enteng dan sederhana. Sekalipun berperawakan kekar cenderung gemuk, nama temanku yang aktif di percetakan ini, Eden. Udin yang sebagai nama lengkap maupun nama panggilan lumrah adanya. Sepupuku ada yang bernama Adin. Bukan Adin Suradin, tapi cuma segitu. Eden juga nama lengkapnya bukan Eden Suraden. Jadi nama-nama itu fakta. Memang iya sih Anda tidak akan menemukan nama edun dan edan. Read more…

Categories: Walagri Aksara

Wajah-wajah dalam Ingatan (2)

January 8, 2010 1 comment

Lili dan Rian. Lili yang perempuan Rian yang laki-laki. Sudah jelas ya dari namanya juga. Baiklah saya tambahkan informasi yang lain. Setelah saya, Lili lah yang paling banyak melakukan kunjungan ke pelosok yang menjadi dampingan Walagri Aksara; sementara Rian angkatan paling boncot sekaligus anggota Walagri Aksara paling muda.

Lili dan, terutama, Rian paling nyunda. Rian sangat dekat dan memang menghidupi kultur Sunda. Sesuai latar belakang pendidikannya di antropologi, Lili mencintai Sunda dengan pengetahuan dan martabat. Kepada keduanya saya menyerahkan urusan cas-cis-cus dalam bahasa sunda, juga urusan membangun hubungan dan pendekatan dengan masyarakat. Read more…

Categories: Walagri Aksara
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.