Ivan Gunawan! Kemiripan wajah, postur, dan itu lho feminimnya, memang ada siswa SD Hikmah Teladan yang layak disebut Ivan Gunawan Jr. Teman-temannya juga banyak yang menyebut begitu. Sejauh ini tak masalah karena yang bersangkutan membanggakan diri dengannya. Ah, saya malah yang mempermasalahkan. Pada saat melihat ia memamerkan tas “Barby” barunya saya berprasangka adanya dukungan dan pengarahan dari orangtua. Sewaktu duduk disampingku yang sedang membaca koran teramati kaos kaki yang dikenakannya berwarna ungu bermotif bunga, saya menduga mungkinkah orangtuanya menghendaki kesuksesan dengan jalan ini? Tapi ketika siang itu ia salat dzuhur 2 rakaat dengan hanya membaca bacaan perubahan antar gerakan (jadi salat dengan kecepatan maksimal), saya hanya mengingatkan kalau salat dzuhur itu 4 rakaat. Ia menolak seraya bergegas kembali ke kelas.
Read more…
Namanya Diki. Kurus, pendek, berkulit sawo matang. Nyali dan kenakalannya berlawanan dengan keadaan tubuhnya, karena alasan inilah saya diminta hadir dalam pertemuan persatuan orangtua murid (POM) kelas 2, 2 tahun yang lalu. Tentu saja saya sudah tahu cukup banyak informasi tentang Diki, sebab setiap pertemuan kelas yang mengundang saya berarti orangtua menilai guru tidak dapat menyelesaikannya, jadi guru-guru pun sudah menyampaikan permasalahannya atau dapat dipastikan sudah kami diskusikan di Forum Paralel.
Berkaitan dengan guru, saya biasanya mendalam mengelola informasi pendahuluan karena guru harus dibela, tetap dapat diterima kehadirannya, dan wajib bagi saya untuk memberikan alasan bagi respek orangtua pada mereka. Dan ini waktu itu berhasil. Cuma sebaliknya dengan Diki, kenggenan orangtua (saat kami mendiskusikan anaknya sang ibu sempat menerima telepon dengan leluasa) membuat saya mewajarkan Diki sebagai biang masalah. Memang gitu lho kenyataannya.
Read more…
Sekolah adalah tempat keramaian berpikir dalam keragaman modelnya berlangsung. Semua komponen sekolah harus memiliki wakil yang secara serius terlibat keramaian berpikir ini. Wakil di sini adalah mereka yang dalam posisinya tersebut dapat menjadi individu yang dinilai lebih baik dari yang lain yang diwakilinya.
Read more…
Saya baru saja mendiskusikan 4 metode mengajarkan akhlak dengan guru-guru SD Hikmaah Teladan di Forum Paralel:
1. Membahas materi akhlak per defenisi, penjelasan dan contoh-contohnya. Misalnya setelah menjelaskan apa itu empati, kenapa ada orang yang mudah berempati, sementara yang lainnya sangat sulit berempati. Kemudian, memberikan contoh yang banyak tentang tindakan empatik.
Read more…
Saya terjebak prase “Materi Akhlak”. Prase ini membuat saya berkutat tentang akhlak sebagai nilai atau doktrin moral, bukan bagaimana berakhlak yang menegaskan rasinalitas dan mendekatkan pada etika. Bahkan saya melupakan keutamaan ‘demonstratif’ dari teladan yang sesungguhnya merupakan inti dari pengajaran akhlak.
Boneka Diri Read more…
Saya agak intensif mencari bahan materi akhlak. Juga mengajukan permintaan kepada teman yang bekerja dengan beberapa ulama untuk menjelaskan beberapa problem filsafat akhlak yang tak saya pahami. Memang sedikit lebih serius, sebab itu akan berpengaruh besar bila teman-teman mengkritisinya.
Berbagi itu Sulit, tetapi Menyenangkan
“Berbagi itu Sulit, tetapi Menyenangkan” merupakan judul artikel Claudia Shantika Primaswari, kelas V SD Santa Maria II Sidoarjo, yang menjadi juara III Tingkat SD lomba “Karya Tulis Tupperware Children Helping Children 2008″. Read more…
Pengantar
Setelah lama menghilang, sampai-sampai sempat lupa password, saya mencoba menulis pengelolaan materi akhlak.
Secara pribadi saya menantang diri sendiri untuk menulis materi akhlak dengan tidak dogmatis, maka kajian mendorong norma akhlak masuk ranah rasional dan subjektif. Sebab itu norma akan sarang relativitas dan ruang temporer. Dicoba saja yuk! Read more…
Pukul 06.43.49 WIB, 02-11-2008, saya menerima SMS berisi pertanyaan tentang arti disiplin dan apakah disiplin bisa digabungkan dengan kasih sayang. Ditemani secangkir kopi Aroma, kopinya urang Bandung, saya menikmati pagi dengan mengungkapkan kritik yang sudah lama terpendam tentang disiplin.
Read more…
Ditanyakan padaku melalui SMS: Saya ingin menerapkan kebebasan belajar pada anak-anak. Maksudnya, kalau anak-anak itu sama sekali gak suka pelajaran tertentu, ya gak usah dipaksa. Bagaimana menurut Bapak?
Entah kenapa aku seperti terganggu untuk menjawabnya. SMS yang dikirim tanggal 30 Oktober 2008, baru kubalas tanggal 12 Nopember 2008, dan ini pun dengan pertanyaan, “Apakah kebebasan itu mencakup pelajaran agama?” Pertanyaan dengan jawaban yang sudah kuduga, tapi tetap kuajukan sekadar berharap mendapat kejutan. Jawabannya, “Atuh eta mah fardu aen, maksud saya ilmu yang lain, karena ada anak yang sukanya hands on aja, gak mau nulis kecuali diary super singkatnya, terutama bahasa.” Read more…