Archive

Archive for the ‘Kurikulum Esdehate’ Category

Kurikulum 2013 di SD Hikmah Teladan (1): Menolak Jadi Buku Suci

October 10, 2013 Leave a comment

SD Hikmah Teladan ditunjuk menjadi salah satu sekolah (keseluruhannya 10 sekolah) yang mengimplementasikan Kurikulum 2013 dari 123 sekolah tingkat dasar yang ada di Cimahi. Maka 8 guru dan kepala sekolah diundang mengikuti Diklat Kurikulum 2013 selama 5 hari untuk guru dan 7 hari untuk kepala sekolah.

Karena Kurikulum 2013 dikelola sentralistik, kami sangat tidak menginginkan mengimplementasikannya. SD Hikmah Teladan kan memberlakukan desentralisasi dan ini sampai ke level kelas. Bahwa wali kelas di kami disebut manajer kelas, sebab mereka memiliki wewenang penuh untuk mengelola kelasnya. Jadi jangan heran, di antara 3 kelas paralel saja (misalnya sama-sama kelas 4), keadaan kelas dan kulturnya bisa berbeda.

Penunjukan SD Hikmah Teladan untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013, dengan demikian, membuat kami diserbu lawan yang terlalu kuat. Terlalu besar pasukannya. Bayangkan saja, Pemerintah sampai membuat buku siswa padahal prinsipnya pengelolaannya tematik-integratif. Artinya semakin kurikulum maksimal dituangkan dalam buku, semakin sulit menyimpang darinya. Semakin tema dapat mewadahi mata pelajaran yang terintegrasi semakin nyaman buku digunakan, yang sayangnya bagi kami berarti semakin nyaman membebek. Pemberlakukan Krikulum 2013 yang sentralistik menjadi hegemonik karena buku siswa dikunci oleh buku guru. Sekarang kenyamanan menjadi keseragaman mutlak. Buku guru membuat guru sangat jelas untuk berpikir apa, berperilaku mengajar bagaimana, dan bersikap seperti apa terhadap anak. Dan, keduanya serba gratis. Dengan alasan ini dan pola maupun kualitas diklat yang dilakukan, saya sangat khawatir dengan keberhasilan Pemerintah meyakinkan guru-guru.

Ketika di tengah diklat berjalan saya menghubungi teman-teman, kekhawatiran saya terbukti. Teman-teman mendapat argumen yang kuat untuk meyakini bahwa penggunaan buku siswa dan buku guru adalah keharusan. Kepala sekolah, di lokasi berbeda, disiapkan untuk mampu mengontol pelaksanaannya. Saya limbung!

Saya meyakini akan mudah bagi guru-guru SD Hikmah Teladan mengimplementasikan Kurikulum 2013, khususnya pembelajarannya (: buku siswa dan buku guru). Namun, sekali lagi, inilah sesungguhnya permasalahan terbesarnya. Bagi prinsip yang bertolak belakang, maka keberhasilan mengimplementasikan Kurikulum 2013 akan melemahkan prinsip kami sendiri. Bersama waktu kami dapat kehilangan jati diri. Jatuhlah hukum wajib dan genting bagi setiap upaya untuk menemukan kelemahan buku siswa dan buku guru Kurikulum 2013. Ayolah mumpung teman-teman masih beberapa hari lagi diklatnya!

Categories: Kurikulum Esdehate

100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (5)

March 7, 2011 2 comments

22. Warna Sampul Buku Tulis

Ada 7 warna untuk sejumlah mata pelajaran. Buku tulis IPA berwarna merah. Putih sesuai dengan kecenderungan keinginan kita untuk mewakilkannya: putih. Bahasa Indonesia entah kenapa sampul buku tulisnya berwarna coklat. Sampul kado untuk mata pelajaran Matematika. Bahasa Sunda dengan sampul kuning. Hijau untuk bahasa Inggris. Ini mungkin, kalau yang lain terjadi di sekolah lain, yang dapat dipastikan hanya terjadi di SD Hikmah Teladan: IPS, PK, PKn semuanya menggunakan sampul koran. Hmm, pas banget ya kalau musik dan KTK memakai sampul kalender.

IPS, PK, PKn disamakan sampulnya kemungkinan idenya dari kelas bawah. Ketiga mata pelajaran ini memang disatukan. SD Hikmah Teladan, ah maksud saya guru kelas 3 mendapat tugas dari saya untuk menyatukan ketiganya. Penyatuan yang tidak jelas karena selain boleh menghilangkan kompetensi dasar yang tidak kuat, boleh menambahkan kompetensi yang dianggap lebih bermanfaat, dan tidak selalu dijadikan rujukan. Seperti anak-anak mempertontonkan kepada kami, berani mencoba itu tidak takut gagal.

23. ‘Buku Paket’ dari 15 Penerbit

Buku paket yang dipakai sebuah sekolah berasal dari 5 penerbit saja, bagi sekolah pada umumnya sudah banyak, apalagi sampai 15. Kanisius, Gramedia, Erlangga, Mizan, Tiga Serangkai, Interaksara, Grasindo, Yudistira, Tinta Mas, BSE, Lafaz Books Indonesia, Fitrah Insani, Intan Pariwara, Love You Before and After saya lupa penerbitnya, dan buku Matematika penerbit dari Singapura adalah 15 penerbit yang bukunya digunakan SD Hikmah Teladan tahun ini. Frase “tahun ini” perlu dinyatakan karena masih ada beberapa penerbit lain yang bukunya pernah kami gunakan pada tahun-tahun sebelumnya.

Setiap tahun buku-buku yang digunakan di SD Hikmah Teladan bisa berubah. Hal ini berkaitan dengan rotasi guru yang relatif luas. Ada rotasi atau pergantian level. Tahun ini pertukaran posisi berlangsung menyeluruh. Misalnya, Ema yang sejak tahun awal mengajar sebagai Guru Ruhiyah sesuai latr belakangnya, tahun ini menjadi manajer kelas; Dwi yang tak pernah berubah status sebagai tutor (biasa juga disebut helper, pendamping ABK) tahun ini menjadi manajer kelas; Zazuli yang seumur-umur jadi guru Musik mmenjajgi sebagai mmanajer kelas 5; Erik Hilalludin dari manajer kelas menjadi koordinator Ruhiyah, dan lainnya. Nah, guru yang berbeda memiliki keinginan dan pilihan yang berbeda. Jadi wajar saja kalau terjadi perubahan buku yang digunakan setiap tahunnya.

24. Setiap Guru Menentukan Sendiri Buku ‘Paket’ yang Digunakannya

Sejak dari awal pembelian buku paket dilakukan oleh koperasi sekolah. Keuntungan dari pembelian juga diterima koperasi, bukan langsung pada guru-guru. Berkaitan dengan buku rujukan masih ada keterlibatan Litbang SD Hikmah Teladan. Mekanisme ini membuat pengambilan keputusan yang dilakukan guru cenderung objektif.

Apa yang Anda pikir kalau pelajaran Matematika kelas 1 memakai buku dari Singapura, kelas 2 menggunakan buku terbitan Tiga Serangkai, Kelas 3 tahun ini memakai buku dari penerbit Erlangga, kelas 4 dan 5 dengan penerbit Yudhistira, kemudian kelas 6 memakai buku dari Grasindo? Kalau sudah berkaitan dengan KBM guru-guru menikmati jadi tuan. Masalahnya penentuan siapa menjadi guru apa atau mengajar di kelas berapa baru ditentukan saat lokakarya yang berlangsung di waktu libur panjang selepas pembagian raport, artinya, kebanyakan buku pegangan anak ditentukan saat kegiatan belajar sudah berlangsung. Saya pernah mengantisipasi hal ini dengan cara menentukan buku yang akan dipakai tahun ajaran baru dengan meminta pertimbangan atau mendiskusikan dengan guru yang masih mengajar mata pelajaran terkait. Apa yang terjadi? Saya diprotes. Saya kemukakan alasannya. Tersebutlah betapa keutuhan sebagai orang yang diberikan amanah itu sangat menyenangkan.

25. Saung Lisung

Ada 3 buah berderet. Berupa panggung tanpa dinding. Tanpa dinding menjadi pembeda utama dengan bangunan permanen yang disebut kelas. Posisinya di pusat SD Hikmah Teladan. Sebelah timurnya ruang kepala sekolah dan kantor. Sebelah utara kelas yang berjajar. Kalau saya menghadap ke utara atau tepat menghadap ke perpustakaan, maka sebelah kiri ada kantin dan lapang bola, sebelah kanan ada lapang kecil dan kebun pemilik sekolah.

Kini Saung Lisung menjadi tempat umum yang bisa dipakai oleh siapa saja dan untuk kegiatan apa saja yang memungkinkan. Sekitar 4 tahun awal dari keberadaannya, Saung Lisung menjadi tempat favorit belajar mengaji. Karena mengaji berlangsung setiap hari, maka saung digunakan sebagai aktivitas dan suasana ‘jeda’. Anak-anak belajar dengan keluar dari kelas, juga berganti guru. Di Saung Lisung anak-anak menikmati tempat terbuka dan asupan oksigen yang lebih segar. Memang banyak alasan yang membuat anak-anak menjadikannya tempat alternatif favorit untuk belajar. Ini masih dugaan, keberadaan Saung Lisung membuat anak-anak SD Hikmah Teladan mudah keluar masuk kelas.

Sejak kantin dipindahkan bersebelahan dengan Saung Lisung, fungsinya berubah 180 derajat. Saung Lisung menjadi tempat ibu-ibu yang menunggui anak, anak-anak menikmati jajanannya, ibu-ibu arisan, suatu kali dapat menjadi lapak. Masih sih Saung Lisung digunakan untuk kepentingan anak-anak, yaitu saat orangtua menggunakannya sebagai tempat untuk pertemuan POM (persatuan orangtua murid) atau komite sekolah. Namun demikian sudah teramat jarang ada guru yang mau menggunakannya sebagai tempat belajar mengajar.

26. Ruang Komputer di Jam Istirahat

Sudah lumrah saat ini sekolah dasar dengan kelengkapan komputer, ruang komputer atau laboratorium komputer. Begitu juga SD Hikmah Teladan. Yang berbeda adalah pemakaiannya. Anak-anak SD Hikmah Teladan memakai sudah masuk ke ruang komputer sejak kelas 1. SD lain juga ada yang begitu! Lalu apa ya yang hanya terjadi di ruang komputer SDHT?

Ruang komputer yang pertama menempati ruang kelas 1 Badar saat ini. Rasanya kecuali server, semuanya komputer bekas. Kepada komputer bekas kekhawatiran kami terhadap keamanannya lebih rendah. Bila tergores oleh pensil anak tidak terlihat karena kotor sebelumnya lebih dari goresan. Bila monitor menjadi buram atau mati segera dimaklumi karena keujurannya, bukan kemungkinan oleh tingkah anak yang overacting. Jadi, berbeda dengan penggunaan Lab. Bahasa yang baru boleh setelah anak kelas 3, Lab. Komputer sejak awal sudah dapat digunakan kelas 1. Begitu juga dengan anak-anak berkebutuhan khusus dipersilahkan tanpa diskriminasi apapun. Bahkan karena di antara mereka ada yang lebih banyak di luar kelas, mereka kerap mencuri-curi kesempatan masuk ke ruang komputer.

Yang mencuri-curi kesempatan tidak hanya ABK dengan waktu luangnya, melainkan juga anak-anak dengan minat khusus pada komputer yang kerap menggunakan waktu istirahatnya untuk menggauli komputer. Tingkah anak dengan minat khusus ini beragam, salah satunya adalah anak yang kerap membongkar password komputer server lalu menginstall program-program yang dia inginkan di server. Selain jam istirahat, ruang komputer mmenjadi tempat umum pada jam pulang sekolah. Malah kali ini guru-guru dan anak-anak berbaur.

Sekarang komputer kami sudah keren. Tapi kenyataan bahwa ‘budaya’ kami dengan komputer bekas masih berlaku sampai saat ini, inilah yang keren habis. Inilah yang cuma ada di SD Hikmah Teladan. Saya sungguh mensyukurinya. Tentang Lab. Bahasa sendiri karena dibuat sebagai tempat yang menyeramkan, propertinya cepat rusak dan pemakaiannya jarang. Sikap demikian di SD Hikmah Teladan bisa berdampak, seperti peribahasa mengatakan, sudah jatuh tertimpa tangga.

100 Hal yang Hanya Ada di (Kelas 1) SD Hikmah Teladan (4)

February 28, 2011 7 comments

16. Menjadikan Kelas sebagai Tempat Paling Nyaman untuk Berekspresi Bebas

Target nomor 1 alias target utama yang harus dicapai guru kelas 1 adalah menjadikan kelas sebagai tempat paling nyaman untuk berekspresi bebas. Sebagian besar pendidikan anak sekarang dipenuhi target. Selanjutnya stigma berkaitan dengan target-target tersebut. Sebagai sekolah (dengan visi) “Menjadi sekolah terdepan dalam menerapkan konsep pendidikan anak merdeka” maka yang utama bagi kami bagaimana anak-anak menikmati dirinya apa adanya. Tidak boleh ada halangan apapun untuk berekspresi, termasuk target-target, terutama stigma.

Apakah anak yang diterima di sini harus sudah bisa membaca? Ditanya seperti ini saya kerap menjawab, kalaupun memang dibikinkan syarat untuk masuk SD Hikmah Teladan, syarat itu adalah anak belum bisa membaca, belum bisa menulis, pendiam, superaktif, pembuat onar, atau yang lainnya yang tidak termasuk perilaku atau kemampuan normal. Yang normal, yang penurut, sudah pintar, sangat baik, biarlah di sekolah Islam Terpadu atau di sekolah negeri.

Target ini harus dicapai karena di kelas 2 sampai 6 anak-anak SD Hikmah Teladan harus mengevolusi diri menjadi anak yang menikmati kebebasan (kemerdekaan) berekspresi dan memperluas jangkauan ekspresi kebebasannya. Perhatikan amanah dari Misi SD Hikmah Teladan yang ke-2: Memelihara kemerdekaan anak dan memperluas jangkauan kemerdekaanya seiring tumbuh kembang yang dilalui anak. Jelas kan kenapa target utama di kelas 1 demikian?

SD Hikmah Teladan memastikan setiap anak naik kelas, jadi tidak dimasalahkan kalau ada guru yang menyisakan beberapa anak yang naik kelas 2 belum bisa baca, tulis, berhitung. Lah anak di kelas 5 saja ada yang belum lancer membaca tidak dimasalahkan, kenapa di kelas 1 dimasalahkan? Tapi sungguh dipermasalahkan kalau ada anak yang pemalu, pendiam, murung, atau selama di kelas 1 seratuspersen baik. Beda sekali anak yang pemalu dan anak yang malu-maluin. Yang berekspresi bebas itu anak yang malu-maluin, dan yang pemalu lah yang terkekang ekspresinya. Jadi, bila ada guru yang menyisakan anak pemalu, penakut, selalu mengalah, tahun ajaran berikutnya tidak akan direkomendasikan kembali menjadi guru kelas 1.

17. Belajar Membaca dengan Membaca Nyaring Bersama-Sama

Namanya juga sekolah alternatif dengan pembiayaan yang sesuai untuk kelas ekonomi menegah, hampir 100% murid SD Hikmah Teladan terlebih dahulu masuk Taman Kanak-kanak, dan dengan demikian hampir 90% sudah bisa membaca sebelum menjadi murid kami. Namun karena di sini semua anak harus eksis, maka kami menjalankan metode membaca yang tidak memilah anak menjadi yang sudah bisa membaca dengan yang belum. Menjadi minoritas dengan pencitraan negatif pula (belum bisa membaca), sungguh keterlaluan kalau harus ditanggung anak seusia itu. Metode itu adalah membaca nyaring bersama-sama.

Bagaimana dengan anak-anak yang sudah bisa membaca? Tidak ada masalah apapun. Ambil kata-kata atau kalimat yang akan dibaca dari buku-buku yang menarik, kutipan dari buku-buku milik anak, dari buku koleksi perpustakaan kelas, akan menafikan kejenuhan. Apalagi membaca bersama-sama dengan menirukan atau menggunakan intonasi dan logat yang beragam. Wow, luarbiasa menyenangkan!

Menjadi alasan kuat untuk memustahilkan kejenuhan adalah juga program Wisata Buku. Program belanja buku bersama-sama semua teman kelas satu ini menjadi hal yang mengukuhkan alasan kita bisa membaca: mencintai buku! Semua mafhum betapa alasan ini tidak digubris. Artinya, anak-anak itu sungguh haus (atau kalau tidak, mereka perlu dibuat haus) untuk memiliki, bercengkrama, dan entah kapan akhirnya menjadi pembaca buku yang tekun.

Sampai kapan belajar membaca menggunakan metode membaca nyaring bersama-sama ini berlangsung? Jawabannya sampai semua anak bisa membaca. Mungkin selama di kelas satu, mungkin hanya beberapa bulan, mungkin dilanjutkan dilanjutkan di kelas 2.

18. Isi Tas Tanpa Buku

Hal yang belakangan saya ketahui tentang SD Hikmah Teladan adalah berbagai keseharian yang menjadi bukti keberadaan prinsip-prinsipnya. Salah satu di antaranya tentang isi tas anak-anak kelas 1: tempat minum/makan, tempat pensil dan/atau pensil (kadang ditinggal di sekolah), buku ABaTsa, mainan, buku tabungan. Isi tas yang aneh bukan? Tak diragukan ini cuma bisa terjadi di SD Hikmah Teladan.

Prinsip yang melatari isi tas demikian adalah keyakinan kami bahwa orangtualah yang membentuk karakter anak. Sekolah menjadi ruang demokratis bagi pertemuan keragaman karakter.  Tugas kedua sekolah adalah menguatkan kemampuan berpikir. Memajukan dan membela rasionalitas. Tidak ada yang bisa menjembatani perbedaan karakter dalam rentang waktu yang panjang dan dengan intensitas pertemuan seperti anak-anak di sekolah kecuali kemampuan berpikir. Di sekolah, pikiran yang terbuka lahir dari berpikir anilitik dan kritis. Kok jadi ngawur. Begini maksud saya, sudahlah jangan mengintervensi hal yang sudah jelas merupakan kewenangan orangtua. Begitu juga karena sukses itu lebih ditentukan karakter daripada pengetahuan akademik (IQ), marilah jadi sekolah yang tidak arogan dan kemaruk. Arogan karena kita mengatakan IQ lebih penting dari karakter sehingga masih membebankan urusan akademik ke rumah (orangtua). Arogan karena ketika agama, psikologi, budaya mengatakan yang membentuk karakter itu orangtua, sekolah masih berkepentingan melakukan peran yang sama. Berikutnya, kemaruk karena sudah semakin hari semakin banyak sekolah menggunakan waktu anak, kita masih mencuri waktu anak di rumah, waktu untuk bercengkrama, kesempatan orangtua membacakan buku untuk anaknya, menemani anak menonton televisi, mengaji di ‘surau’, diskusi keluarga.

SD Hikmah Teladan menegaskan pembeda urusan di rumah dan di sekolah. Kami berusaha terus belajar dan memperbaiki kualitas agar orangtua mempercayai kami untuk mengurus segala hal akademis dan cukup diurus di sekolah saja. Kami pun sangat mendorong komunikasi ‘bermakna’ terjadi antara anak dan orangtua (saat di rumah), dan anak juga memiliki kesempatan bergaul dengan lingkungan sosialnya. Pembeda kedua urusan ini sangat jelas bagi kami sedemikian sehingga segala atribut terkait sekolah dilarang dibawa ke rumah: buku pelajaran, buku catatan, bahkan banyak anak menyimpan alas tulis di sekolah.

19. Naik Kelas dengan Membawa Buku Cerita Karya Sendiri

Pelajaran Bahasa Indonesia (atau entah pelajaran Karakter, IPS atau PKn) kelas 1 memakai buku “Why I Love My Mummy”, ilustrasi oleh Daniel Howarth, penerbit Gramedia. Buku ini diberikan kepada anak-anak sekitar beberapa bulan akhir tahun ajaran. Namun sejak awal anak-anak melakukan banyak kegiatan yang berkaitan dengan hubungan mereka dengan orangtuanya, mengerjakanworksheet sehubungan tema, dan berkegiatan yang membuat anak senang dan bisa membuat buku: menulis bebas, mengomentari gambar, menggambar, menghias buku.

Di bulan-bulan terakhir buku “Why I Love My Mummy” sudah diberikan kepada anak-anak. Selama sebulanan buku ini dibaca, dibicarakan dan menjadi ‘isu’ kelas. Baru sebulan terkahir, biasanya, anak-anak mengerjakan proyek bukunya. Disebut bukunya karena “I” di sana berubah menjadi aku setiap anak dan “My Mummy” menjadi ibu masing-masing. Hai, mereka bikin buku dan itu autentik sungguhlah luar biasa.

Beberapa tahun sebelumnya hal yang sama pernah kami coba namun anak-anak hanya mengomentari gambar-gambar lengkap sebuah buku (yang dicopy setelah dihapus teksnya) dan mewarnainya. Cara ini masih memungkinkan ada anak yang meniru temannya. Sekalipun demikian, kami melalui ini dengan penuh kebanggaan karena kami punya tanggung jawab sejarah untuk mmembuktikan bahwa melepas diri dari kurikulum (standar isi) dan buku paket itu telah membuat kami lebih keren.

20. Salat Dzuhur Sebelum Adzan Dzuhur Berkumandang

Saya juga terkejut pertama mendengarnya. Belum lho belum seminggu lalu. Saya juga heran karena 6 orang MK (manajer kelas) kelas 1 dapat bersepakat melakukannya. Alasannya (hanya) kalau mereka salat sesudah adzan terdengar apalagi menunggu adzan sampai selesai, mereka tidak sempat makan siang. Hmm…

Alasan teman-teman sangat logis. Anak-anak yang masih belajar, sedang sulit-sulitnya diatur memang dapat menyebabkkan waktu molor. Bila mereka memaksakan diri (dan ini kemungkinan hanya karena menghindar dipermasalahkan orangtua), mereka dapat betul-betul terlambat makan. Terus, habis istirahat harus mengajar lagi. Repot. Itulah sebabnya, mumpung salat bagi anak kelas 1 jela-jelas belum wajib, bagiamanapun juga tetap jauh lebih baik salat (sebelum adzan) daripada terlewat jam makan siang. Cuma ya itu kok enteng banget mereka mengambil keputusan.

21. Menjadi Petugas (Lengkap) Upacara Bendera

Motto “Berani Gagal Berani Mencoba” mendapat tempat peragaan mulai dari di kelas dengan Panggung Balok, antar kelas atau paralel kelas di Panggung Berani Mencoba di depan perpustakaan, kemudian anak-anak ditantang nyalinya untuk tampil di depan warga sekolah pada sewaktu upacara. Masih ada satu lagi, menjadi utusan sekolah dalam lomba-lomba yang diadakan di luar. Setiap anak selama di SD Hikmah Teladan harus, paling sedikit 1 kali, mengalami mewakili sekolah. Sebab itu, utusan lomba di SD Hikmah Teladan tidak boleh dengan maksud untuk kepentingan mendapat juara, melainkan pemberian kesempatan.

Pemberian kesempatan pada setiap anak untuk tampil di semua level panggung menyebabkan pergerakan evolutif yang lembut dari nyali anak-anak untuk tampil di depan umum. Terutama, penilaian umum bahwa banyak hal diberlakukan umum di SD Hikmah Teladan, membuat anak-anak kecil itu (anak-anak kelas 1) enteng saja mengambil peran seperti kakak-kakaknya. Berikutnya, satu hal lagi, sekolah ini bukan sekolah ‘prestasi’ melainkan sekolah kebebasan berekspresi.

Pokoknya berani dulu tampil.  Berani saja dulu, ini yang pokok.

Kenapa takut, tidak dinilai kok. Ayo berani, semua keberanian akan dirayakan.

Kenapa takut, semua teman menikmati penampilanmu. Ayo mencoba, biar kamu segera mengalami semua teman yang bangga padamu.

Kenapa takut dengan kegagalan saat itu disambut dengan senyum manis dan bukan tawa mengejek dan mempermalukan. Ayo tanpa persiapan baik pun maju saja, dan Kau segera “mengukir di batu” yang kelak diingat dalam perannya membuatmu kokoh.

100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (3): Yang Sudah Lalu

February 27, 2011 Leave a comment

Seperti halnya saya sudah merasa tua pada saat memasuki usia 40, saya merasa SD Hikmah Teladan juga tua ketika memasuki usianya yang ke 10. Salah satu alasannya adalah guru-guru yang awet bertahan. Bayangkan saja teman-teman angkatan pertama hanya satu yang meninggalkan SD Hikmah Teladan ketika beliau menikah lagi dengan lelaki dari Bekasi. Sepertinya pengenalan yang sudah mendalam dapat menghambat kreativitas. Prasangka (karena merasa sudah tahu seseorang luar-dalam) kerap menjadi dasar komunikasi. Sejauh ini cara yang dapat dipandang efektif menghindarinya adalah menghalau stabilitas, lebih menghargai kegelisahan dibanding kepastian dan merelakan prestasi yang dapat diulang digantikan tantangan ketidakpastian. Dalam perjalanannya, SDHT memiliki pencapaian yang kuat tapi harus direlakan terbenam menjadi yang lampau.

12. Magang

Perpaduan semangat berbagi dan kepercayaan diri membuat kami menjadi sekolah yang terbuka. Kami dapat berbagi kepada siapa saja dengan enteng. Tanpa biaya pula. Ada kunjungan sehari, paling lama sampai 3 minggu. Yang 3 minggu inilah yang disebut magang.

Seperti biasa kalau cuma disebut istilahnya tanpa penjelasan, banyak sekolah menyebut melakukannya juga. Mari kita mulai menunjukkan “Magang di SDHT” yang memang cuma pernah dilakukan di SDHT:

1. Saya menjadikan guru kelas 5 SDHT, waktu itu, dan teman-teman dari Bali menjadi 2 kelompok. Kelompok Bali dan kelompok SDHT. Saya memberikan bahan materi (dengan uraian singkat) yang belum pernah dikelola kedua kelompok. Mereka mendapat tugas membuat lesson plan, worksheet, dan menentukan siapa yang akan mengajar di kelas apa. Dari 3 kelas paralel, yang mengajar pertama adalah guru SDHT dan guru-guru yang magang menjadi observer. 2 kelas lainnya baru kemudian guru-guru magang yang mengajar dan guru SDHT menjadi observer.

Masih saya ingat betul, teman-teman dari Bali (ditambah beberapa teman dari UPI) sampai lembur. Dikerjain itu namanya. Padahal mereka sudah mendengar presentasi guru-guru SDHT tentang lesson plan yang sudah mereka buat dan diberikan worksheet terkait. Mungkin perlakuan demikian malah menantang mereka. Malu juga kali kalau cuma ngikutin saja. Kemudian setiap selepas mengajar ada diskusi. Boleh juga disebut disidang. Seperti pada umumnya SDHT yang mudah dikritik (: anak-anak yang kesiangan, tidak berseragam, ke sekolah pakai sandal, berkata-kata kasar, pada saat jam belajar berkeliaran di sekolah dan lain-lain), begitu juga KBM yang berlangsung: Kok anak-anak begini dan begitu dibiarkan? Kenapa rencana begini-begitu tidak dijalankan dan malah yang lain dimunculkan? Bagi saya, melebihi jawaban yang diberikan teman-teman, kebanggaan kepada guru-guru SDHT muncul saat mereka mempersilahkan begitu saja untuk diobservasi dan kemudian disidang. Ini keren lho. Berikutnya, teman-teman dari Bali yang mengajar di 2 kelas yang lain.

2. Magang yang dilakukan teman-teman dari Krueng Raya, Aceh menjadi magang ideal. Peserta magang adalah kepala sekolah, guru dan anak-anak. Guru-guru melakukan seperti apa yang dilakukan teman-teman dari Bali. Kepala sekolah menempel kepala sekolah. Anak-anak belajar di kelas. Sepulang sekolah mereka tinggal di beberapa rumah orangtua murid SDHT.

Bagi kami,  semakin orang dapat mempelajari dan memanfaatkkan apa yang kami miliki semakin baik. Tidak ada yang tidak boleh diketahui. Berbagai worksheet dapat digandakan, program-program dicopy, berbagai pertanyaan detail mendapat jawaban. Seloroh kami, yang enggak boleh itu dipindahkan sekolahnya.

13. Panggung Balok

Pelaksanaan terbaik dari motto “Berani gagal berani mencoba” adalah panggung balok. Sepertinya ukuran balok ini sisi-sisinya tidak lebih dari 1 meter. Semua kelas punya satu. Di panggung ini anak-anak membaca nyaring, deklamasi, bergaya suka-suka. Di panggung ini mereka sudah seperti berdiri di lantai saja padahal itu tempat yang lebih tinggi dari yang lain, tempat yang membuat yang berdiri di atasnya menyolok.

Untuk kepentingan acara antar kelas, penggabungan Panggung Balok menjadi Panggung Berani Gagal. Di sinilah lomba-lomba peringatan hari besar diadakan. Panggung Berani Gagal juga yang mendorong gagasan ulangan semester dalam bentuk lomba. Misalnya anak kelas 1 pernah ulangan berhitung dengan bergilir menjawab penjumlahan dalam waktu sekian menit. Jumlah pertanyaan yang dijawab menjadi dasar pemenangnya. Tentu saja, seperti biasa, kategori pemenang lain akan dikeluarkan sebanyak-banyaknya sebagai kejutan di penguman akhir: Kami panggil fulan sebagai juara dengan kategori anak yang paling banyak mengulang sebagai peserta. Karena lomba memang diadakan dalam beberapa hari dan anak yang belum puas dengan penampilan pertamanya dapat mendaftar lagi.

Sekarang Panggung Berani Gagal berubah menjadi Panggung Berani Mencoba dan sudah permanen. Ada yang hilang. Banyak yang tak bisa dilakukan lagi.

14. Jatah Lomba Spontanitas

Pada satu periode ada saat kami memiliki stock hadiah. Kami persilahkan guru-guru untuk mengadakan lomba, permainan, pertanyaan teka-teki dengan spontan di waktu istirahat untuk menghabiskan stock hadiah. Lomba dilakukan di tempat strategis. Dengan menggunakan megaphone guru-guru akan teriak-teriak mengumumkan lomba. Selalu ramai. Luarbiasa menyenangkan. Heboh. Ketika guru-guru baru melihat tayangan filem lama tentang itu, sungguh mereka amat terkesan.

Saya terkesan dengan lomba ini karena perannya untuk membentuk trend. Sempat guru-guru kekurangan ide sehingga lomba paling banyak teka-teki yang lucu-lucu. Dan inilah yang terjadi di kelas-kelas dalam waktu beberapa lama setelah lomba dilakukan.

15. Panggung Penampilan Spontan

Seingat saya spontanitas yang ini tidak ada namanya. Pokoknya di area dekat kantin tempat lalu-lalang anak-anak dalam setiap harinya ada saja kelas yang menampilkan anak-anak. Mereka bisa apa saja. Tidak ada ketentuan, juga tidak ada permintaan untuk menonton. Namun setidaknya kalau yang melirik atau menengok sih ada. Tujuan utamanya memang uji nyali, menantang keberanian. Sejak awal SDHT memang bernafsu membuat anak-anaknya berani.

100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (2)

February 26, 2011 Leave a comment

Bahwa di sebuah sekolah ada anak berkebutuhan khusus jelas bukan cuma ada di SD Hikmah Teladan. Tapi cerita anak kelas dalam TAP yang dibuatnya tentang (6.) Anak Berkebutuhan Khusus Menjadi Imam, dapat dipastikan cuma ada di SD Hikmah Teladan: Aku ada cerita mengenai anak ABK. Inilah uniknya SDHT yang tidak membeda-bedakan dengan anak normal. Suatu hari salah seorang ABK diminta untuk menjadi imam. Saat imam mengucapkan “waladolin” dan makmum menjawab “amin”. Pada saat itu pula sang imam kabur karena kaget mendengar teriakan dari jamaah.

7. Sekolah Umum dengan Seragam Murid Perempuan Berkerudung.

SD Hikmah Teladan sekolah umum. Bukan Sekolah Islam atau Sekolah Islam Terpadu (yang jumlahnya sudah lebih dari seribu) sebagaimana kerap dinyatakan oleh berbagai penerbit buku, undangan-undangan yang masuk dan para calon orangtua murid baru. Kita sebut beberapa perbedaannya: 1) SD Hikmah Teladan masuk pukul 07.30 – 14.00 berbeda dengan SDIT yang fullday di mana anak-anak baru pulang sekolah pukul 16.00. 2) SD Hikmah Teladan berbeda dengan SDI dan SDIT terkait dengan jumlah mata pelajaran agama. Kita hanya punya 2 mata pelajaran agama: Pendidikan Agama Islam dan Baca Tulis Al Quran. Namun kenapa ‘orang luar’ mengenali SD Hikmah Teladan sebagai SDI atau SDIT? Karena semua anak perempuannya memakai kerudung.

Menjadi sekolah umum adalah keputusan sadar. Para pendiri SD Hikmah Teladan sejak dari awal meniatkan bereksperimen menemukan model pendidikan ‘baru’ yang sepenuhnya dapat menfasilitasi tumbuh kembang potensi anak. Ini pekerjaan berat. Maka kami hindarkan untuk sama dengan sekolah lain yang sudah memiliki citra yang jelas di masyarakat. Bila kami menjadi SDIT, misalnya, maka sudah jelas dan lengkap gambaran (:baca tuntutan) masyarakat akan kami: harus seperti apa kami dan harus bagaimana kami bergerak ke depan. Jika tidak, kami dipertanyakan, dikritik, digugat. Tentu ini hal yang sungguh merepotkan dan membuat kami tidak memiliki peluang bereksperimen. Malah SD Hikmah Teladan sepertinya berkembang dengan menjadi antitesis atau pembeda SDIT.

Lalu kenapa sebagai SD umum murid perempuannya berseragam disertai kerudung? Saya tidak tahu pasti. Bukankah tidak ada yang salah dengan hal tersebut? Memang sepertinya ada dorongan cukup kuat agar SD Hikmah Teladan menjadi sekolah islami. Dan, semoga ‘islami’ yang dimaksud adalah Islam yang sangat diwarnai keragaman, termasuk keragaman fiqih. Bukankah di SDHT keragaman bukan hanya fakta, melainkan SDHT sudah menjadi rumah bagi keragaman.

8. Seleksi Calon Orangtua Murid

Untuk tahun ajaran baru Juli nanti, sejak awal Pebruari, calon murid sudah melebihi jumlah 96. Karena selain ketentuan usia 6 tahun saat bulan Juli, tidak ada persyaratan atau seleksi untuk menjadi murid SDHT. Murid diterima hanya berdasarkan urutan pendaftaran. Namun karena pendaftaran juga tanpa melibatkan penarikan biaya apapun, artinya orang dapat mendaftar begitu saja. Lalu siapa yang sungguh-sungguh? Di sinilah Program Sosialisasi mengambil peran.

Program Sosialisasi yang berlangsung dari pukul 09.00-12.00 mengungkap lebih dan kurang dari SDHT, juga terutama mengenai hal-hal apa saja yang menjadi perbedaan SDHT dari sekolah lain. Semakin jelas pengungkapan akan memperkuat rujukan bagi calon orangtua dalam mengambil keputusan. Isi Program Sosialisasi dengan maksud demikian, mengakibatkan minimnya pembicaraan tentang hal-hal ideal, cita-cita atau segala hal normatif lainnya. Yang ada adalah ruang dan waktu yang leluasa bagi Ketua dan Wakil Ketua Komite Sekolah beraksi. Saya yang mewakili sekolah hanya menyampaikan garis besar perjalanan murid SDHT dari awal masuk sampai akhir. Sekali lagi, semakin jelas dan objektif penjelasan akan semakin mudah bagi orangtua calon murid mengambil keputusan.

Sebetulnya seleksi orangtua sudah dimulai lebih awal dengan kebiasaan mengajak orangtua dan anak yang mendaftar tour di SDHT, termasuk menyatroni kelas 1 yang sedang belajar. Bukankah bila orangtua melihat guru yang enjoy dengan anak yang memilih belajar dengan duduk di kursi ibu guru, beberapa anak belajar sambil tiduran di karpet, sebagian besar di bangku masing-masing, dan ada juga anak yang tidak mau belajar; orangtua yang konservatif tentu saja buru-buru mencari sekolah lain. Menurut saya Tour SDHT pun dapat memainkan peran menyeleksi orangtua.

9. Daftar Surat yang Dibaca pada Saat Salat Berjamaah Dhuha dan Dzuhur

Apa surat yang dibaca pada salat berjamaah pekan ini? Guru SD Hikmah Teladan akan menyebutkan sebuah surat, dan sebuah surat lain akan disebutkan kalau anda bertanya sekitar beberapa minggu kemudian. Setelah ada perjalanan panjang untuk menegaskan bahwa salat bagi anak-anak memang belum wajib sehingga anak-anak bisa salat dengan santai, tanpa beban, dan menjadi kesempatan ‘bersenang-senang’; kami memutuskan salat sebagai media di mana anak-anak melakukan pengulangan hafalan surat-surat pendek.

Setelah menegaskan bahwa bagi anak-anak salat belum wajib, sehingga tidak apa kalau mereka tidak salat, salat dzuhur 2 rakaat, menggoda teman, mengingatkan teman yang tidak mau diam dan lain-lain, maka salat menjadi kondisi yang menyenangkan, rileks, dan secara fisik anak bergerak aktif. Nah, bukankah itu semua kondisi belajar terbaik? Pada kondisi inilah materi hafalan menumpang dan pengelolaan yang teratur. Seorang anak yang menyebutkan salah satu hal yang cuma ada di SDHT adalah membaca surat pendek dengan berteriak-teriak sewaktu salat, membuktikan efektivitasnya. Itu sebabnya, sekalipun tidak ada pelajaran khusus hafalan al-Quran, kami tetap dapat mencapai target anak-anak SDHT lulus sekolah dengan catatan telah menghafal surat-surat al-Quran Juz 30.

10. Humaniora sebagai Nama Ekstrakulikuler

Memberi nama kegiatan ekstrakulikuler dengan Humaniora tentu tidak sembarangan. Di Negeri ini biasanya setiap hal yang berkaitan dengan sekolah itu serius. Coba saja Anda ingat bagaimana dulu kita berekstrakulikuler? Bukankah sekadar “ekstra’ pun tetap saja serius? Padahal yang manusiawi untuk anak adalah (juga) bermain, bergembira, bersenang-senang.

Di SD Hikmah Teladan jam Humaniora adalah jam bersenang-senang mencoba apa yang saat melakukan pilihan kita minati. Bila diperuntukkan untuk bersenang-senang, maka pilihan kegiatan harus banyak. Semester 2 tahun ajaran 2011 ada 24 pilihan kegiatan Humaniora. Jumlah ini setelah dikurang beberapa kegiatan (termasuk  Club Sains) yang tidak ada peminat. 24 kegiatan yang dapat dipilih anak-anak tersebut adalah: 1) bola basket 2) catur 3) bulutangkis 4) doktercilik 4)komputer 5) english club 6) elektonik 7) fotografer 8) gambar kreatif 9) karate 10) karya kreatif 11) memasak 12) membatik 13) menyulam 14) origami 15) tenis meja 16) teater 17) sulap 18) seni tari 19) teater 20) penulis cilik 21) pencinta alam 22) musik 23) seni keramik 24) sepakbola.

Kami masih menganggap sebagai pilihan jumlah 24 masih kurang. Sebab itu, dalam 3 pekan (3 kali pertemuan) digunakan anak untuk penjajagan dan guru pembimbing untuk promosi. Dalam 3 kali pertemuan anak-anak dapat keluar-masuk. Absensi satu semester dimulai di minggu ke-4. Oh ya bisa saja pada minggu ke-4 itu ada kegiatan Humaniora yang tidak laku dan dihapus dari daftar.

11. Pada Hari Kamis Kelas 3 Berpakaian Bebas

Dijamin ini 100% cuma ada di SD Hikmah Teladan. Kejadiannya demikian: Secara umum hari Rabu anak-anak SDHT berpakaian bebas. Karena setiap hari Rabu kelas 3 ada pelajaran Olahraga yang menyebabkan mereka berpakaian Olahraga, maka mereka tidak menikmati berpakaian bebas. Guru kelas 3 diprotes anak-anak. Jawaban spontan “kalian berpakaian bebas saja di hari Kamis” berlaku sampai sekarang. Saya mengingat betul mekanisme ini tidak melalui rapat, juga persetujuan dari kepala sekolah.

 

Flash Card UASBN: Bahasa Indonesia (1)

February 20, 2011 Leave a comment

Beberapa bulan menjelang hari “H” UASBN sangat tepat untuk memperbanyak pengulangan. Sebagaimana dikatakan Eric Jensen, “Pengulangan memberitahu bahwa sebuah informasi lebih penting,” maka inilah yang sebaiknya dilakukan. Namun karena kondisi rileks yang merupakan saat terbaik bagi otak dalam menyerap informasi, maka kita perlu menemukan metode atau alat yang tepat. Tulisan ini akan menjajaki penggunaan Mind Maps dan flash card. Yang kedua digunakan karena ukurannya yang dapat dimasukkan ke saku, misalnya, memudahkan untuk diakses. Kemudian, flash card juga memuat informasi yang sudah sederhana.

Bila flash card sudah tersedia tentu Anda sebagai guru perlu memastikan pengulangannya. Mengutip Tony Buzan dan Eric Jensen pengulangan yang minimal adalah 2 atau 3 kali mengulang sebelum 1 jam dari saat informasi diterima, pengulangan kedua sehari kemudian, pengulangan ketiga seminggu kemudian, pengulangan keempat sebulan kemudian. Kalau Anda bekerja sama dengan anak dan orangtua,, kemungkinan pengulangan lebih banyak dapat dilakukan. Lebih banyak pengulangan, sekali lagi, itu lebih baik. Anda perlu hati-hati dengan 2 pengulangan di awal: 2 atau 3 kali pengulangan sebelum 1 jam dari sejak informasi diterima dan pengulangan hari berikutnya. Bila anak punya kebiasaan belajar atau Anda bias bekerjasama dengan orangtua, pengulangan kedua dapat dilakukan di rumah sepulang sekolah sebelum anak tidur.

(Saya mohon maaf tidak dapat menata dengan baik flash card-nya. Anda dapat membuatnya bersama anak-anak. Pokoknya kotak pertama bagian depan dan kotak kedua bagian belakang dari sebuah flash card). Kita akan mulai dengan pelajaran Bahasa Indonesia untuk bagian kemampuan yang diukur “menentukan isi bacaan”.

Flash Card 1

8 kata tanya Siapa 

Apa

Kapan

Bagaimana

Mengapa

Dari mana

Ke mana

Di mana

Catatan: Kata tanya yang bold adalah kata tanya yang menurut kisi-kisi UASBN 2010/2011 akan muncul sebagai soal.

Flash Card 2

Apa digunakan untuk menanyakan?
  • Menanyakan orang
  • Menanyakan benda
  • Menanyakan waktu
  • Menanyakan keadaan
  • Menanyakan sebab
  • Menanyakan tempat asal
  • Menanyakan tempat tujuan
  • Menanyakan tempat berada

Catatan: Jawaban adalah yang sesuai pertanyaan. Penggunaan kata tanya lainnya ditulis dengan maksud untuk mengingat sekilas. Catatan ini berlaku sampai flash card 5.

Flash Card 3

Bagaimana digunakan untuk menanyakan?
  • Menanyakan orang
  • Menanyakan benda
  • Menanyakan waktu
  • Menanyakan keadaan
  • Menanyakan sebab
  • Menanyakan tempat asal
  • Menanyakan tempat tujuan

 

Flash Card 4

Di mana digunakan untuk menanyakan?
  • Menanyakan orang
  • Menanyakan benda
  • Menanyakan waktu
  • Menanyakan keadaan
  • Menanyakan sebab
  • Menanyakan tempat asal
  • Menanyakan tempat tujuan

 

Flash Card 5

Mengapa digunakan untuk menanyakan?
  • Menanyakan orang
  • Menanyakan benda
  • Menanyakan waktu
  • Menanyakan keadaan
  • Menanyakan sebab
  • Menanyakan tempat asal
  • Menanyakan tempat tujuan

 

Flash Card 6

Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya apa!
  1. (diisi oleh anak)
  2. (diisi jawaban dari teman)
  3. Apa usaha yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah penyakit pascahujan?
  4. Apa manfaat mempelajari seni bela diri?
  5. Apa akibat dari padamnya listrik Bandara Soekarno-Hatta?
  6. Apa manfaat biji jarak pada masa lalu?
  7. Apa kebiasaan unik warga Kota Wasior?

 

Catatan nonor 6-9: Jawaban nomor 1 dan 2 diisi dengan pensil. Keduanya diambil dalam proses belajar. Jawaban nomor 4-7 diambil dari soal UASBN tahun sebelumnya (bahan dari “Seri Pendalaman Materi Plus Sukses Menghadapi UN SD, Essis-Erlangga)

Flash Card 7

Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya bagaimana!
  1. (diisi oleh anak)
  2. (diisi jawaban dari teman)
  3. Bagaimana nyamuk Aedes aegypti berkembang biak?
  4. Bagaimana asal usul seni beladiri?
  5. Bagaimana tanggapan penumpang terhadap padamnya aliran listrik?
  6. Bagaimana peran Kementerian Koperasi dan UKM dalam meningkatkan produksi minyak dari biji jarak ini?
  7. Bagaimana pendapat warga Kota Wasior terhadap alam di sekitar mereka?

 

Flash Card 8

Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya di mana!
  1. (diisi oleh anak)
  2. (diisi jawaban dari teman)
  3. Di daerah mana nyamuk Aedes aegyfti berkembang biak dengan baik?
  4. Di mana seni beladiri pencak silat berkembang?
  5. Di manakah suasana menjadi gelap akibat padamnya listrik?
  6. Di mana pertanian biji jarak mulai dikembangkan?
  7. Di mana letak Kota Wasior?

 

Flash Card 9

Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya mengapa!
  1. (diisi oleh anak)
  2. (diisi jawaban dari teman)
  3. Mengapa orang bisa terjangkit penyakit diare?
  4. Mengapa seni beladiri sangat diperlukan pada zaman dulu?
  5. Mengapa listrik Bandara Soekarno-Hatta padam?
  6. Mengapa minyak biji jarak disebut sebagai sumber bahan bakar yang terbarukan?
  7. Mengapa Kepala BMKG menyatakan bahwa banjir di Kota Wasior terjadi akibat anomaly cuaca?

 

Flash Card 10

Buat contoh jawaban dari pertanyaan yang menggunakan kata tanya apa!
  1. (diisi oleh anak)
  2. (diisi jawaban dari teman)
  3. Menjaga kesehatan dengan mengonsumsi vitamin dan membersihkan lingkungan.
  4. Untuk melatih kedisiplinan, pengendalian diri, juga menjaga kebugaran tubuh.
  5. Papan pengumuman serta layar komputer tak terhubung dengan jaringan yang lain.
  6. Sebagai bahan bakar penerangan pengganti listrik.
  7. Menari dan bernyanyi bersama di jalanan saat merayakan kabar bahagia.

 

Catatan: Flash card 10-13 sebaiknya digunakan bersamaan dengan flash card 6-9.

Flash Card 11

Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya bagaimana!
  1. (diisi oleh anak)
  2. (diisi jawaban dari teman)
  3. Nyamuk bersarang dan berkembang biak di tempat-tempat dan benda yang dapat menampung air setelah hujan.
  4. Banyak seni bela diri yang asal usulnya bercampur mitos dan dongeng sehingga sulit dipercayai, sehingga menjadi perdebatan.
  5. Banyak penumpang mengaku tidak nyaman dengan padamnya listrik di bandara.
  6. Kementerian Koperasi dan UKM membeli 300 unit mesin pengolah biji jarak.
  7. Lembah pegunungan, teluk, dan pesisir pantai adalah sahabat yang menafkahi mereka.

 

Flash Card 12

Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya di mana!
  1. (diisi oleh anak)
  2. (diisi jawaban dari teman)
  3. Daerah beriklim tropis.
  4. Di negara-negara yang memiliki akar budaya Melayu seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei.
  5. Di terminal satu keberangkatan dalam negeri.
  6. Berbagai daerah di wilayah Kalimantan.
  7. Di kawasan cagar alam.

 

Flash Card 13

Buatlah pertanyaan dengan menggunakan kata tanya mengapa!
  1. (diisi oleh anak)
  2. (diisi jawaban dari teman)
  3. Karena memakan makanan yang telah dihinggapi virus dan bakteri.
  4. Karena zaman dahulu peperangan dan pertarungan biasanya dilakukan dari jarak dekat dan banyak melibatkan kontak badan.
  5. Karena adanya masalah pada mensin bandara.
  6. Karena masih mungkin diciptakan dengan berbagai kemungkinan.
  7. Karena curah hujan yang tinggi di kawasan Wasior.

 

Bagi anak pada umumnya bagian kemampuan yang diukur “menentukan isi bacaan” tidak memerlukan flash card, termasuk soal nomor 5 yang menanyakan kesimpulan teks. Namun tidak demikian dengan anak-anak yang kemampuannya kurang. Flash card di atas dapat sangat membantu. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membiasakan anak-anak untuk membaca wacana/teks dengan nyaring dan intonasi yang sesuai makna bacaan. Kemudian, bagi anak yang masih kesulitan memahami bacaan (walaupun hanya sebuah paragraf), anak bisa mengerjakan soal dengan mulai dari membaca soal ke bacaan.

Perlu diketahui, berbeda dengan teks sastra, teks non sastra hanya mempunyai jawaban benar pada teks. Bila ada pernyataan atau maksud di luar teks, maka jawaban salah.

Unjuk Kerja Kelas-2 Semester I (1)

January 14, 2010 Leave a comment

Unjuk kerja tetap merupakan strategi mengelola program semester yang memberikan kami hadiah kepemilikan terhadap semester yang berlangsung. Perjalanan se-semester menjadi aktualisasi diri.

Bagi saya mudah saja untuk membuktikan bahwa program yang kami jalankan cuma ada di SD Hikmah Teladan. Memang bazar lumrah jadi program ‘akhir’ sebuah sekolah, tapi sebagai rangkaian kegiatan berbeda. Makanan yang dijual di bazar adalah resep favorit keluarga yang terpilih dari semua resep keluarga yang ditulis anak di buku diary masing-masing termasuk cerita mereka mencoba resep tersebut di rumah dengan keluarga. Dari beberapa resep yang dicoba, resep terpilih dibuat dengan modal dari uang yang ditabung anak-anak yang besarnya rata-rata sekitar Rp20.000,00. Tak banyak, tapi sebagian besar hasil penjualan menguntungkan dan makanan yang dijual ludes.

Kami bahkan berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya dalam mengelola Unjuk Kerja ini. Sebelumnya semua kegiatan di bagian pertama sulur Mind Map berdiri sendiri dan lebih terkait dengan penentuan kapasitasnya bersesuaian dengan kurikulum; namun perubahan sangat mendasar dilakukan semester ini, yaitu penegasan kepada anak-anak bahwa semua kegiatan ditujukan untuk beramal.

Kami pun berbeda dengan rencana awal. Pada pertemuan Forum Paralel menjelang pelaksanaan bazaar, Unjuk Kerja yang dikritisi mengalami beberapa perubahan dan pendalaman. Malah sebetulnya kami menemukan kembali nilai-nilai SD Hikmah Teladan: semua anak berkarya, semua karya adalah prestasi; belajar sebagai ekspresi rasa ingin tahu; keragaman adalah kehadiran pribadi, sehingga tak terpisahkan sejak dari proses hingga sebuah ‘karya’; dan, setiap anak bukan merupakan bagian dari SD Hikmah Teladan, melainkan menjadi diri sendiri di SD Hikmah Teladan.

Bukti lain, sebagaimana sering saya ungkap, bahwa Unjuk Kerja mengokohkan kepemilikan adalah tertetapkannya Unjuk Kerja sebagai indikator keberhasilan dan bukan kurikulum. Secara umum sudah tidak ada yang perlu membuat khawatir kalau Unjuk Kerja tercapai. Kalau ada target Kurikulum tidak tercapai, enteng saja untuk memindahkan pada semester berikutnya.

Categories: Kurikulum Esdehate
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.