Home > SekolahKu > 100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (6): Cerita Terkait Guru

100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (6): Cerita Terkait Guru

Apa yang luar biasa dari guru SD Hikmah Teladan? Ketulusannya untuk menghargai keragaman dan menerima anak apa adanya. Ada kasus beberapa anak yang ‘dibuang’ orangtuanya, juga keluarga penggantinya. Suatu kesempatan anak itu membuat masalah besar yang membuat malu keluarga, berupa rangkaian kejadian yang berpuncak pada tagihan ke sekolah hutang pembelian mainan sejumlah lebih dari tujuhratus ribu rupiah. Keluarga berlepas tangan dan mencelanya. Guru (MK) dan kepala sekolah menerimanya begitu saja, kemudian menyelusuri objektif kejadiannya. Seperti biasa anak itu masuk ke lingkungan sekolah dengan melenggang. Dan, anak ini sekarang seringkali terdengar mengisi waktu menjelang salat dzuhur berjamah dengan membaca Al-Quran juz 30 yang telah dihafalnya. Inilah beberapa pengakuan, kenyataan dan cerita guru SD Hikmah Teladan:

27. Tidak Pernah Berseragam Padahal Ada Baju Seragam Guru

Gosipnya sih karena baju seragamnya tidak keren. Saya rasa dampaknya besar. Anda bayangkan saja kalau pada saat upacara bendera pun guru-guru tidak memakai seragam! Saya berharap 2 hal:

1) Perguruan membuatkan seragam yang keren. Seragam yang keren tentu saja artinya bahan yang berkualitas dan motif yang menarik. Model? Silahkan guru menentukan sendiri sesuai seleranya. Setiap guru membawa kain dan uang ongkos jahit. Bila ini terjadi, maka sekolah dapat memberlakukan penggunaan seragam pada hari-hari tertentu (tidak lebih dari 2 hari dalam seminggu) sebagai peraturan sekolah. Berarti kita punya hal yang sangat kuat untuk mengajarkan melalui teladan tentang menghormati peraturan, mekanisme penegakan peraturan, kerelaan mendapatkan sangsi dan lain-lain.

2. Jika yang pertama tidak terjadi, dan nampaknya kemungkinan besar tidak terjadi, guru-guru yang tidak berseragam menjadi teladan bagi anak-anak untuk tidak berseragam. Meneladani gurunya, seharusnya anak-anak berpakaian bebas full selama 5 hari. Mungkin karena alasan ini guru-guru tidak ada yang berani menegur anak-anak yang tidak mengenakan seragam, atau yang juga kerap terjadi, memakai seragam salah hari.

28. Tidak ada Pembatas antara Kepala Sekolah dengan Guru Bahkan OB

Di SD Hikmah Teladan semua lelaki dewasa dipanggil bapak dan perempuan  dewasa dipanggil ibu. Entah kenapa absensi OB dilakukan di ruang wakasek (yang merangkap jadi ruang tamu) sehingga pagi hari kerap terlihat mereka mengobrol santai. Secara umum, mudah bagi siapa saja untuk melihat para OB bermain dengan anak-anak.

Selain penggunaan kata “bapak” untuk memanggil mereka, penetapan bahwa keadaan dan urusan sekolah selama proses belajar tanggung jawab guru dan anak-anak telah menghindarkan para OB dari penglihatan (mereka sedang bekerja) sebagai ‘pembantu’ oleh anak-anak. Ini semua mempersempit, betul-betul mempersempit, anak-anak dan guru untuk “menyuruh-suruh” mereka.

29. Tidak Ada Senioritas

Guru baru bisa langsung menjadi manajer kelas, memang selalu terjadi. Guru baru langsung menjadi ketua panitia, pembina upacara, utusan sekolah dalam kegiatan pelatihan atau seminar, atau bagi para bapak guru baru menjadi khatib dan imam salat Jumat, hanya sekadar urusan kebagian giliran saja.

Ada kejadian yang sempat diprotes direktur perguruan, yaitu saat guru baru menjadi MC di acara yang dihadiri pejabat pemerintah setempat dan pengurus yayasan, salah menyebut nama ketua yayasan yang tidak lain ayahanda direktur Perguruan Darul Hikmah. Beruntung, bahkan inilah hebatnya SD Hikmah Teladan, tidak mengubah kebiasaan memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk seperti anak-anak: Berani Gagal Berani Mencoba.

Yang memiliki potensi kuat untuk mendorong senioritas adalah kemampuan spesifik dari guru. Menjadi guru terkuat dalam suatu hal, adanya guru yang disepakati oleh sebagian besar guru untuk diandalkan dalam hal tertentu, menjadi penyebab senioritas terselubung. Tersebutlah adanya guru yang diandalkan untuk menjadi MC, menggaet sponsor; dianggap satu-satunya guru yang menguasai suatu hal (bisa mata pelajaran atau keterampilan), atau guru yang dinilai dan menilai diri sebagai guru yang paling kuat. Pada semua potensi ini, sekolah bisa saja dengan sangat mudah akan menyelenggarakan event yang biasa dipenuhi sponsor menjadi melarang kehadiran sponsor; menerima konsekuensi mutu yang lebih rendah dengan menugaskan guru dengan kemapuan rata-rata untuk memegang mata pelajaran yang dipegang oleh ‘satu-satunya’ guru ahli. Bagaimana ini bisa dilakukan?

Perlu selalu untuk ditegaskan bahwa yang membuat SDHT itu kuat adalah kekuatan kolektif yang menjadikan sekolah ini menjadi tempat terbaik untuk  anak merdeka. Bahwa anak-anak masuk tanpa syarat untuk menyeleksinya, kemudian guru-guru melindungi keunikan karakter setiap anak selama sekolah adalah kekuatan yang menentukan keberhasilan SD Hikmah Teladan. Kekurangan, bahkan kehilangan kemampuan spesifik seorang guru seperti disebut di atas, tidak pernah akan berpengaruh signifikan. Jadi, santai sajalah.

30. Pada peringatan Hari Guru, Guru-guru SDHT Ditraktir Nonton dan Makan oleh Pihak Sekolah

Nonton filem apa? Filem apa yang sebaiknya ditonton? Biarlah mereka yang menentukan. Ijinkanlah para guru menonton filem apapun. Bareng-barengnya kok yang penting. Bersenang-senang bersama-sama rekan, ini yang perlu diberikan kesempatan. Bila Anda melihat kegembiraan mereka saat-saat seperti itu, itulah yang setiap hari disaksikan guru-guru, tepatnya dihadiahkan oleh anak-anak kepada mereka, dan menjadikan mereka kuat, bersabar, tulus menghadapi anak-anak.

31. Jadwal Penyambutan Anak oleh Guru di Gerbang Sekolah Dilakukan Bergilir

Setiap hari guru yang menyambut anak bisa lebih dari 7 orang. Di beberapa sekolah lain juga dilakukan. Tapi bila ada jadwal piket penyambutan anak, mungkin cuma ada di SD Hikmah Teladan. Karena dijadwal dan absensinya menjadi salah satu bahan penilaian kinerja, maka ada guru yang sekalipun dari waktu penyambutan sekitar 30 menit hanya bersisa satudua menit, tetap melakukan penyambutan.

Anak-anak SD Hikmah Teladan terhitung sangat banyak yang menetapkan kegiatan ini sebagai hanya ada di SD Hikmah Teladan. Ritual penyambutan adalah salam seraya anak menyium tangan guru-guru. Saya sempat berseloroh dengan hal ini, khususnya untuk anak-anak kelas 5 dan 6 yang pada umumnya sudah masuk usia baligh. Bukankah bagi mereka “haram” bersentuhan dengan bukan muhrimnya? Bagaimana sementara beresentuhan tidak boleh, menyium tangan guru ditradisikan? Cuma seloroh kok.

32. Murid Memanggil Guru dengan Julukan

Saya mengetahui hal ini dengan jelas karena guru yang pertama merelakan dirinya dipanggil dengan nama yang hanya biasa dipergunakan oleh guru-guru lainnya adalah manajer kelas anak saya selama kelas 5 dan 6. Mister Gobin, itu nama panggilan Erik Hilalluddin. Sampai saat ini saya belum tahu bagaimana asalnya muncul panggilan itu dan apa artinya.

Nama yang kini jadi Koordinator Ruhiyah ini, dikenal egaliter. Saya juga mengetahui akan kecenderungannya dekat dengan pemikiran Islam Liberal. Di majalah sekolah pertama pembelaannya terhadap Islam Liberal dimuat. Kini, saat Ahmadiyah menjadi pembicaraan, bahwa pikirannya dekat dengan Islam Liberal cukup kentara. Guru yang juga pengagum Gus Dur merupakan salah satu guru yang sangat kuat kapasitasnya untuk mengajar dengan memberikan kebebasan pada anak-anak. Menurutku, mungkin ia bukan berfaham Islam Liberal, melainkan sangat menghargai kebebasan berpikir. 

33. Banyak Guru yang Berjualan di Ruang Guru Sehingga Meja Mereka Bisa Berfungsi sebagai Lapak

Selain cukup banyak yang terlibat, para bapak guru juga terlibat. Jadwal tawar-menawar dan jual beli pagi hari berakhir pukul 08.00. Sampai pukul 07.30 manajer kelas masih terlihat dalam keramaian. Setelah ini biasanya yang tersisa adalah para tutor, guru bidang studi dan teman-teman pengajar Ruhiyah. Yang dijual bisa apa saja, termasuk pakaian dalam ibu-ibu. Sumpah deh suatu kali saya menangkap basah transaksi bra warna hitam.

Kenapa tidak dilarang? Mungkin saya balik bertanya, kenapa dilarang? Kepala sekolah menyampaikan penjelasan yang mengejutkan, katanya, itu adalah mekanisme pertahanan diri teman-teman terkait dengan gaji yang masih jauh dari memadai. Bersyukurlah kami seharusnya karena mereka memutuskan membuka lapak di ruang guru dan bukan pindah mengajar di tempat lain. Atau, ini berbahaya, mengajar asal-asalan sesuai dengan besaran gaji.

Terdapat, akhirnya, kesepakatan terselubung bahwa teman-teman boleh menggunakan aset sekolah selepas kewajiban mengajar dilakukan. Misalnya, sekelompok bapak-bapak yang biasa pulang sekitar magrib untuk menggunakan internet, tidak pernah akan dipermasalahkan. Dalam hal ini saya juga bisa membantu teman-teman dengan cara menghindarkan adanya pekerjaan guru yang harus dikerjakan setelah jam belajar usai, apalagi sampai dibawa ke rumah.

34. Banyak Guru yang Mengisi KBM dengan Menugaskan Siswa  Mewawancarai Rekannya

Mungkin Anda menduga ini berkaitan dengan kompetensi melakukan wawancara. Bukan hanya itu. Suatu kali anak-anak bergiliran menanyakan arti sebuah istilah. Lain waktu menanyakan asal daerah terkait dengan pelajaran IPS. Teman-teman di administrasi ditanyai tugas mereka apa saja. Banyak pokoknya.

Saya masih ingat beberapa guru yang sudah terganggu dengan anak yang kerap mengetuk pintu dan minta ijin untuk mengajukan pertanyaan, “Apa contoh perilaku rendah hati?” Setelah mendapat jawaban ia pun permisi. Kan belajar harus dilanjutkan ya?

35. Guru-guru yang Menikmati pada Setiap Pergantian Pelajaran Dijemput Beramai-ramai oleh Siswa

Entah, memang entah punya pikat apa ruang guru itu. Sepertinya kalau sudah duduk berkumpul di ruang guru, jadi malas beranjak. Tentu saja beberapa guru yang disiplin, begitu waktunya mengajar maka ia bersegera ke ruang kelas. Titik.

Mungkin bukan gurunya melainkan anak-anak saja yang kerajinan. Mereka lah yang ingin bermanja-manja dengan gurunya. Saya kira kenyataan tidak adanya ruang yang tidak boleh dimasuki anak-anak dan penggunaannya sebagai tempat mengobrol sesama rekan, bisa jadi mempopulerkan keasyikan ruang guru. Pembicaraan santai yang paling menarik tentu saja menggosipkan anak.

36. Setiap Lokakarya Guru-guru (juga Karyawan) Mendapat Buku Gratis tentang Pendidikan

Pada lokakarya menjelang semester 2 tahun 2010/2011 buku karangan Utomo Danandjaya, “Media Pembelajaran Aktif” terpilih menjadi buku guru. Teman-teman yang kentara responnya terhadap buku ini adalah guru-guru Ruhiyah. Beberapa kali koordinatornya menekankan pentingnya buku ini, termmasuk ketika di Forum Paralel. Beliau kerap mengatakan, “Timur kaya dengan konten, Barat kaya dengan metode”. Pelajaran Agama, juga hulunya Departemen Agama Republik Indonnesia, memang ketinggalan dalam penggunaan dan pemanfaatan berbagai metode pembelajaran.

37. Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah Dipilih dari Guru, Menjadi Guru Kembali Setelah Masa Jabatan Berakhir

Masa jabatan kepala sekolah SD Hikmah Teladan 2 tahun. Maksimal menjabat adalah 2 periode. Kepala sekolah yang menjabat 2 periode berarti mendapat penilaian baik dari manajemen (dan guru-guru). Baik untuk yang menjabat 1 periode atau 2 periode, setelah masa jabatan mereka berakhir, mereka kembali menjadi guru. Pak Zainal, kepala sekolah sebelum pak Rahmat kepala sekolah saat ini, menjadi guru kelas 3. Saya tidak pernah bertanya secara langsung bagaimana perasaannya, tapi kelihatannya enjoy saja sih.

Karena pak Rahmat akan mengakhiri periode keduanya, siapa kepala sekolah berikutnya? Pada umumnya sulit di SD Hikmah Teladan mencari orang yang mau jadi kepala sekolah. Persisnya kenapa tidak tahu. Padahal bagi kami di manajemen juga sulit mencari kandidat. Saat fit and proper test yang paling sulit dihadapi teman-teman adalah keharusan tetap menghargai keragaman guru. Ini berat karena keragaman guru di SD Hikmah Teladan mendapat ruang yang utuh dengan konsep otonomi guru dalam mengelola kelas. Tidak boleh manajemen, guru lain, orangtua, pun kepala sekolah mengintervensi kelas. Dengan demikian secara umum, bagi guru yang memiliki karakter terlalu kuat mengarahkan yang dipimpin pada dirinya dan seperti dirinya, kecil kemungkinan dapat menjadi kepala sekolah SDHT.

38. Daftar Peserta Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil

Guru SDHT yang ikut seleksi pegawai negeri sipil diketahui secara terbuka, dan memang dipersilahkan sebagai hak pribadi. Bagaimana tidak diketahui terbuka kalau kepada mereka diedarkan form:

YTH Bapak/Ibu

Guru SD Hikmah Teladan

Sehubungan dengan sedang diadakannya seleksi PNS tahun 2010, maka diharapkan Bapk/Ibu dapat menuliskan informasinya dengan mengisi form yang sudah disediakan.

Terimakasih

Ada 23 yang menyatakan ikut. Tentu saja masalah kesejahteraan menjadi alasan utamanya.

Sikap manajemen campur aduk. Kadang kita dibuat sebal. Kadang khawatir karena dapat kehilangan guru-guru yang kuat. Kadang berdoa untuk guru yang sangat sulit berubah melalui lingkungan SDHT. Berdoa semoga berubah oleh lingkungan lain yang mencukupi kesejahteraannya.

39. Para Pegawai Negeri Sipil

Ada 3 guru yang sudah menjadi PNS yang masih mengajar di kegiatan pengayaan kelas 6 pada hari Sabtu. Bahkan bu Nia yang menjadi dosen ITB jurusan Matematika, bukan hanya mengajar di hari Sabtu, tapi sampai saat ini masih menjadi tempat curhat mantan anak-anak kelasnya. Bahkan ibu dosen ini masih memberi les ke anak SD Hikmah Teladan yang dekat dengannya. Teman-teman para PNS melakukan semua ini, tentu bukan karena mengejar honor yang memang tidak seberapa, melainkan karena kecintaan pada anak-anak dan keinginan mengambil peran untuk kesuksesan SDHT.

Ternyata kalau para PNS yang bapak-bapak bukan cuma mengajar di hari Sabtu, tapi seminggu sekali mereka footsal. Malah pak Yayan yang biasa dipanggil Yansen termasuk salah satu peserta aktif touring. Lain lagi pak Anwar yang menjadi dosen di UIN Sunan Gunung Djati yang biasa menjadi langganan untuk berceramah mengisi perayaan hari besar Islam.

Siti Nurelah lain lagi. Berselang beberapa bulan dari diterimanya sebagai PNS, beliau menyekolahkan anaknya yang pertama di SDHT. Akibatnya, inilah orangtua yang paling sering nongkrong di ruang guru.

40. Semua Anak Guru dan Yayasan Sekolah di SDHT

Semua guru, administrasi dan keluarga yayasan menyekolahkan anaknya yang sudah masuk usia sekolah di SD Hikmah Teladan, bahkan guru yang sudah diterima sebagai PNS pun. Bagi guru yang masih mengajar selain tidak dikenakan biaya uang pangkal, juga hanya membayar SPP sebesar 60%. Bagi kami ini tentu saja lumayan besar. Untuk tahun ajaran 2011/2012 ada 3 anak, termasuk anak saya yang ketiga, plus 2 anak pengurus yayasan. Ketua komite sekolah juga memasukkan anaknya yang ketiga ke SDHT, berarti sama seperti saya, ketiga anak kami satu almamater. Sementara anak baru yang kakaknya lebih dahulu ada di SD Hikmah Teladan jumlahnya sekitar 30-an siswa.

Ada perbedaan yang sejauh ini masih berlaku dalam hal kemampuan anak untuk membedakan antara rumah dan sekolah, antara kedudukan orangtua dan guru. Anak-anak dari para bapak guru ketika di sekolah dapat sepenuhnya menjadi siswa, menjadi anak gurunya, sedangkan anak para ibu guru tetap saja menempatkan ibunya (termasuk panggilan) untuk berperan sebagai ibu. Bila sakit, ibunya yang dicari bukan rame-rame diantar teman-teman ke UKS. Bila memiliki kebutuhan terkait kegiatan belajar juga kerap yang dicari ibunya.

41. Ada Guru yang Tidak Pernah Ikut Forum Guru pada Setiap Hari Senin dan Rabu

Tidak ada peraturan yang terlalu ketat diberlakukan untuk guru-guru. Peraturan disampaikan bisik-bisik.

Ada peraturan guru dilarang membawa anak ke sekolah, apalagi sambil dibawa mengajar. Tapi seorang guru yang sudah mengusahakan mencari pengasuh dan mencoba anaknya masuk play group pun gagal, selama berbulan-bulan mengajar dengan membawa anaknya. Dalam beberapa kesempatan saya menyaksikan gadis kecil berambut keriting itu malah mendapatkan pengasuh dari murid SDHT yang senang padanya. Namun demikian si Ibu juga harus menerima, karena dibakar api cemburu, anaknya jadi bulan-bulanan kemarahan ABK yang didampinginya.

Namun demikian kalau hampir dalam kurun tujuh tahun seorang guru tidak mengikuti forum yang diwajibkan mengikutinya, apakah sekolah masih tetap ada? Pertama, sepengetahuan saya, guru dimaksud tidak pernah tercatat melanggar visi misi sekolah. Bila misi sekolah berbunyi “Menumbuhkan anak yang penuh percaya diri dan berkembang menjadi dirinya sendiri melalui pemberian rasa aman, penghindaran dari celaan dan cemoohan, serta pemberian keleluasaan untuk berekspresi dan bereksplorasi”, ia tidak pernah diketahui mencela dan mencemooh anak. Pelajarannya juga diikuti dengan baik dan bahkan anak-anak biasa berebut menuju tempat di mana ia menunggu untuk mengajar. Jadi, biarkan saja ia melakukan yang diinginkannya karena sudah dipastikan tidak merugikan anak-anak. Marilah berdoa agar ia sampai pada kehadirannya di forum guru.

42. Guru yang Dipinjamkan sebagai Kepala Sekolah Selama 2 Tahun

SD Hikmah Teladan sudah harus mengambil peran mempengaruhi yang lain, atau setidaknya mendukung sepenuhnya mereka yang berkeinginan memiliki sekolah yang memberikan kebebasan berekspresi kepada anak. Karena menegaskan tidak membuat cabang dan menolak waralaba, maka magang yang mempersilahkan orang membongkar SDHT dan kegiatan pendampingan masyarakat di pelosok Jawa Barat yang dilakukan sekelompok guru yang dipelopori guru-guru SDHT menjadi alternatifnya. Satu lagi yang baru kami ingat adalah mengijinkan (tentu tanpa biaya) guru SDHT yang sudah ‘jadi’ menjadi kepala sekolah di sekolah baru atau sekolah lain yang bersedia menjajaki ‘hutan belantara’ pengelolaan kebebasan ekspresi anak. Perlu diketahui bahwa ketika guru ini kembali ke SD Hikmah Teladan, maka ia kembali seperti biasa menjadi guru tanpa pengurangan masa kerja. Mungkin yang bisa berkurang atau bertambah adalah besaran gaji. Kan biasanya berbeda gaji kepala sekolah dan guru.

43. Para Guru Menjadi Petugas Lengkap Upacara Perdana di Awal Tahun Ajaran Baru

Tiada tara bahagianya saya dengan hal ini. Saya senang membayangkan sebagai siswa: bertepuk tangan, meniru-tiru suara dan gerakan guru, saling berbagi komentar dengan teman-teman, dan bersorak saat guruku beraksi sebagai petugas upacara. Aku juga bisa menertawakan guruku yang melakukan kekeliruan.

Saya mengingat ketika di sebuah kelas diadakan lomba deklamasi, yang menjadi juri bukan guru melainkan anak-anak. Guru juga bukan jadi pengamat. Guru hari itu jadi peserta. Keputusan juri yang tidak bisa diganggu gugat menyatakan bahwa sang guru juara ketiga pun tidak.

44. Menikah di Sekolah

Sudah ada 3 orang guru menikah di sekolah. Yang pertama menikah di depan perpustakaan. Yang ketiga menikah di aula dan akadnya dilangsungkan di masjid SD Hikmah Teladan. Kalau saya belum menikah, sungguh saya akan menikah di SDHT. Bangunan SDHT dan juga belakangan aulanya dibangun dari uang pangkal. Semua guru tentu saja memiliki jasa yang besar terhadap keberadaannya. Gratis? Sudah pastilah.


About these ads
Categories: SekolahKu
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: