Home > Kurikulum Esdehate > Lesson Study (2): Kultur Sekolah

Lesson Study (2): Kultur Sekolah

16-27 Maret 2009 di SDHT berlangsung lesson study (LS). 2 di antaranya pelajaran Bahasa Indonesia, keduanya terkait materi “paragraf”, yang satu di kelas 6 yang kedua di kelas 4. Kedua guru yang berbeda gaya mengajar ini, menciptakan suasana kelas yang berbeda. Berkaitan dengan suasana kelas yang terbentuk, faktor siswa sebagai yang dipengaruhi pembelajaran ternyata sudah punya habit, dengan demikian proses bentuk-membentuklah yang sebenarnya terjadi. Pengamatan awal membuktikan, seberapa kuatpun guru, anak selalu punya siasat ke luar kungkungan.

Ketika Berbahasa Jadi Rumit

Paragraf merupakan gabungan beberapa kalimat, kalimat-kalimat ini saling berhubungan. Kalimat-kalimat ini harus memiliki satu gagasan pokok, harus tersusun dengan padu dan masuk akal.

Bukan hanya membuat kalimat, membuat cerita pun sudah bisa dilakukan beberapa anak kelas 1, lebih banyak bisa dilakukan anak kelas 2, dan pada umumnya anak kelas 3 sudah bisa bikin cerita. Kutipan di atas adalah materi di kelas 4.

Bila paragraf dijelaskan sebagai definisi, maka kalimat harus dipahami sebagai definisi pula. Sebagaimana selanjutnya penjelasan menghadapkan anak-anak pada pengertian kalimat utama dan kalimat penjelas, memang hanya pengertian baku yang ditolerir. Padahal semua anak kelas 4 yang sudah bisa buat cerita, biasanya menulis cerita yang paling sedikit satu halaman itu hanya dalam satu ‘paragraf’. Kebanyakan anak-anak tidak memakai paragraf, melainkan mengulang-ulang kata kemudian, terus, selanjutnya, setelah itu.

Pada mulanya, “menulis” memang sengaja dicarikan kondisi psikologis agar anak mau menulis, pokoknya menulis, menulis apa saja, menulis kapan saja, yang penting menulis lagi-menulis lagi. Kalau kemudian yang digeluti 3 tahun ini, di kelas 4 berubah menjadi “menulis yang sesuai kaidah adalah“, maka tersebutlah anak-anak yang bete dan belagu. Memang buat apa ya kita belajar membuat sebuah paragraf, padahal membuat cerita saja sudah pintar? Jadi, yang semula aku berduka ketika beberapa anak melakukan kesalahan mendasar: memaksudkan kalimat utama pada paragraf, menyatakan potongan kalimat sebagai kalimat utama, kalimat utama dengan 2 kalimat, kalimat utama ditunjukkan pada kalimat yang di tengah (padahal hanya di kenalkan berada pada kalimat di awal dan akhir sebuah paragraf); berakhir dengan permakluman.

Demikian juga mari kita maklumi, bila kurikulum kita dibaca per level kelas, baik oleh penulis buku paket maupun oleh guru. Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas yang dipelajari dalam konteks Paragraf, tak dikenali fungsinya dalam materi “Membuat ringkasan” di kelas 6. Ringkasan yang paling sederhana kita buat dengan mengambil Kalimat Utama dari sebuah Paragraf pun tak bisa dilakukan anak-anak. Mungkin juga ini karena “membuat ringkasan” menyebalkan untuk anak-anak yang sedang belajar menulis sebanyak-banyaknya. Kurikulum memang tidak menimbang meringkas sebagai resensi yang mengandaikan keluasan membaca, atau penangkaran keutamaan sebuah buku itu berpijak pada sikap kritis dan wawasan.

Satu Sekolah 2 Paradigma

Ada 2 paradigma mengajar: berpusat pada guru dan berpusat pada anak. Saya mendapat informasi dari Kepala Sekolah SD Gagas Ceria, untuk angkatan pertama diberlakukan paradigma mengajar berpusat pada anak, kemudian evaluasi menjadikan angkatan kedua dengan paradigma mengajar berpusat pada guru, dan kini sedang berjihad menemukan ‘jalantengah’. Ternyata di SD Hikmah Teladan, sejak berdirinya sampai sekarang, terdapat guru-guru yang secara bersamaan berparadigma berbeda. Bukan hanya itu, lebih banyak guru hanya punya kecenderungan pada 2 paradigma tersebut.

1. Satu Sekolah

Sebagai sekolah inklusi, SD Hikmah Teladan mendapat tambahan kekuatan-alasan untuk menghargai keragaman siswanya. Keragaman pada anak-anak yang normal sering hanya sampai pembenaran normatif: keragaman yang dikungkung penyeragaman sistem dalam pengelolaan sekolah. Sedangkan dengan hadirnya anak-anak berkebutuhan khusus, sejak awal kita dilatih-paksa untuk membedakan cara pandang dan merekahkan empati. Menarik, bagaimana akhirnya di SD Hikmah Teladan, selain istilah anak berkebutuhan khusus, muncul istilah anak berperilaku khusus, sebuah kategori bagi anak-anak yang mengalami penyimpangan pola asuh. Perlahan-lahan tapi pasti, akhirnya, di SD Hikmah Teladan keragaman adalah keragaman.

2. Dua Pardigma

Paradigma mengajar tetap saja 2: mengajar berpusat pada guru dan mengajar berpusat pada anak. Kedua paradigma bagian dari keragaman pada tataran guru. Namun, bagaimana kedua paradigma ini dapat diemban pemangkunya (guru) dan bagaimana para guru berbenturan dengan keragaman pada tataran siswa, menempatkan sebagian besar guru SD Hikmah Teladan di wilayah abu-abu (grey area). Istilah ini sama lho digunakan untuk anak berperilaku khusus. Apakah memang sama konstruksi sejarahnya?

Pemilikan paradigma sangat tergantung pada otoritas kepribadian guru. Syarat terpenting menjadi guru profesional pun (dengan salah satu paradigma) adalah kepribadiannya. Guru-guru dengan kepribadian kuat sekaligus cocok dengan kedua paradigma yang dikenali secara umum, mereka guru yang sudah jadi. Sedangkan guru-guru grey area memang guru-guru yang belum jadi, tepatnya, guru-guru yang sedang belajar. Perjalanan belajar mereka terjadi dengan memperkuat otoritas terhadap pengetahuan, penjajagan berbagai metode, peningkatan terus mutu sumber belajar lah yang memperkuat penerimaan karakter yang bersesuaian dengan kelas. Guru grey area bisa menjadi guru yang diterima baik oleh kelas dengan kultur berbeda.

3. Kenyataan yang Bisa Tak Dihiraukan

Syarat (perjalanan) belajar guru grey area adalah penyesuaian terhadap kultur kelas dan memperkuat ikatan ketertarikan anak padanya. Pengenalan dan penyesuaian terhadap kultur kelas merupakan langkah pertama.

Selain tadi disebutkan bahwa “menulis yang sesuai kaidah adalah” membuat anak menampik rasa senang dalam belajar, guru grey area yang melupakan penyesuaian dengan kultur kelas menambah fatal akibatnya. Di sebuah kelas, anak-anak yang menghadapi situasi demikian dengan sangat santai berlomba menemukan siasat menolak pembelajaran namun dengan cerdas menciptakan situasi seakan-akan mereka belajar dan menghormati guru. Misalnya pengetahuan bahwa latihan akan dikerjakan bersama-sama, dibahas, dan salah pun tidak apa-apa, membuat anak-anak menganggap enteng menyimak materi. Cukup banyak anak, baik laki maupun perempuan yang sibuk menggambar (tentu tidak terkait materi); mengobrol; mencari-cari kesibukan. Ketika latihan, mereka mengerjakan asal saja. Beberapa anak menyontek ke teman sebelah, padahal teman sebelahnya hanya mengerjakan sebagai syarat saja. Ia mengerjakan satu soal dari 4 soal, selanjutnya melanjutkan menggambar. Soal nomor 2, 3, 4 dikerjakan dengan menyalin jawaban yang dibahas guru. Anak lain, beberapa soal yang salah dihapus sesuai jawaban yang dibenarkan guru, kemudian memberi tanda jawabannya benar.

Ternyata pada saat minat belajar anak rendah, sementara guru sangat menekankan kontrolnya terhadap kondisi kelas, anak-anak terdorong untuk mengerahkan pikiran menyiasati guru. Kenyataan di atas membuktikan kepintaran dan kesempatan yang lebih ternyata dimiliki anak-anak.

4. Disiplin dari Keriangan

Situasi berbeda terjadi di kelas lainnya. Struktur materi yang longgar, kontrol kelas yang minim, keakraban guru-anak yang kentara, malah memberikan catatan kaki baru terhadap model kedisplinan.

Begini deskripsinya: guru masuk kelas kemudian membereskan beberapa hal terkait persiapan belajar. Anak-anak yang lebih dahulu di kelas, ada yang ngobrol, banyak yang membaca komik, novel, dan beberapa buku non fiksi. Semua kegiatan anak-anak ini terhenti saat guru dengan suara nyaring mengatakan, “Pelajarannya kita mulai!”. Sekitar 5 menit menjelaskan, “Apakah kalian mengerti?” Beberapa anak masih tidak mengerti. Saat guru menjelaskan, anak-anak yang sudah mengerti langsung beralih ke kegiatan di awal (: membaca, ngobrol). Guru menyampaikan worksheet. Sang Guru menjadi bulan-bulanan ledekan anak-anak karena salah bahan worksheet itu artikelnya yang di muat Harian Umum Pikiran Rakyat. Worksheet halaman 1 dikerjakan. Semua berbarengan mulai mengerjakan. Yang lebih dahulu selesai, sementara belum ada instruksi mengerjakan worksheet berikutnya, kembali ke ritual membaca komik, novel, buku non fiksi, dan satu anak mendampingi temannya yang berkebutuhan khusus. “Perhatikan Bapak. Soal pertama kita bahas.” Anak-anak kini hanya dengan satu aktivitas, memperhatikan guru yang membahas soal. Begitu sampai kelas berakhir.

Saya yang semula mempertanyakan sikap guru yang sama sekali tidak terganggu dengan aktivitas anak yang tidak terkait pembelajaran, terkejut dengan penghormatan anak yang diberikan padanya. Bukan hanya penghormatan, bahkan mempertontonkan disiplin yang begitu ketat. Secara pribadi sih saya juga menyampaikan beberapa strategi agar sebuah worksheet, dalam hal ini worksheet yang sama yang ditujukan untuk materi dengan satndar umum, tetap memberi ruang untuk dieksplorasi anak-anak yang menonjol. Dan, tentu saja, saya sampaikan tanpa mempermasalahkan apa yang sudah berlangsung.

Harapan Lubuk Hati

Sebelum kutemukan bahwa “menulis yang sesuai kaidah adalah” berperan besar membentuk sikap belajar anak, aku sempat terdorong begitu serius mempertanyakan keadaan dan lupa mencari jalan agar semuanya tetap dapat ditempatkan dalam konteks belajar. Kupikir ini kata-kata yang menggeliat dari lubuk hati: jadikan semuanya dikunci dalam makna kata “belajar”.

Categories: Kurikulum Esdehate
  1. May 14, 2009 at 3:50 pm | #1

    Informasi Sekolah Inclusive Surabaya
    Sekolah Galuh Handayani (www.galuhhandayani.com)
    Jl. Manyar Sambongan 87-89
    email : ningrum_galuh@yahoo.com
    Untuk informasi lebih lanjut hub aja:
    031-5018129
    031-5054040

  2. santi
    September 28, 2009 at 4:08 am | #2

    berpusat pada guru dan atau berpusat pada anak, ibarat 2 sisi mata uang. Kalimat tersebut tidak boleh lepas dari kalimat anak sebagai subyek belajar.

    Ibarat menuliskan sebuah nilai uang, misalnya Rp. 10.000,00 Angkanya saja tidak cukup, harus dengan Rp -nya. Angkanya tidak berarti, tanpa satuannya.

    Setuju sekali, bahwa kematangan kita menjadi guru berperan sangat besar untuk dapat memaknakannya dan memerankannya secara utuh.

  3. Miftah Indy Nugroho
    March 26, 2010 at 12:47 am | #3

    Wah cukup bagus, bisa di Contoh di Sekolah saya nih. (MI Al Faris Dampyak Tegal)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: