Kutipan dari Edward de Bono (1)

December 12, 2011 Leave a comment

Di Australia, ada seorang anak laki-laki berumur 5 tahun bernama Johny. Oleh temannya, ia disuruh memilih antara uang logam satu dolar dan uang logam dua dolar. Uang logam satu dolar lebih besar dari yang dua dolar. Johny memilih yang lebih besar. Temannya tertawa tergelak-gelak melihat kebodohan Johny. Kapan pun mereka ingin membodohinya, mereka akan menawarkan hal yang sama. Ia tidak pernah belajar. Ia selalu memilih uang logam yang lebih besar.
Suatu hari, seorang dewasa melihat hal ini dan merasa kasihan terhadap Johny. Ia memanggil Johny dan berkata bahwa uang logam yang kecil, meskipun lebih kecil, namun bernilai dua kali lipat uang logam yang lebih besar.
Johny tersenyum dan berterima kasih dengan sopan dan kemudian berkata: “Saya tahu hal itu. Tetapi berapa kali lagi mereka akan memberiku tawaran uang logam jika sejak awal aku memilih yang dua dolar?” Hal ini adalah mengenai persepsi. Jika Anda melihatnya sebagai kejadian tunggal, Anda akan memilih yang dua dolar. Jika Anda mengenal teman-teman Anda, seperti yang dilakukan Johny, Anda akan tahu bahwa mereka akan terus menawari Anda uang logam dan Anda akan mendapat banyak uang dolar. Persepsi adalah kuncinya.
Categories: MH. Aripin Ali

Kali Ini Guru-guru Menjadi Petugas Upacara

November 24, 2011 Leave a comment

Saya mengingat betul wajah-wajah riang itu.

Di sebuah kelas sedang berlangsung deklamasi. Di depan kelas hanya ada anak yang berdeklamasi. Meja guru ditinggal pemiliknya. Ternyata ia duduk di salah satu bangku bersama siswanya. Anak-anak bergiliran mulai dari bagian belakang sebelah kanan. Anak yang sedang di depan kelas duduk di kursi yang terhalang satu anak dari posisi guru. Tepuk tangan riuh menyertai setiap akhir penampilan. “Wah, sebentar lagi giliran Ibu.”

Selepas sang guru membaca puisi, tepuk tangan anak-anak sama saja: riuh. Tidak, tidak lebih riuh. Mungkin itu karena ada beberapa anak yang membacakan puisi lebih baik darinya. Mungkin anak-anak memandang itu hal yang sewajarnya terjadi. Bisa saja di mata anak-anak adalah tidak adil, tak berlaku kesetaraan, kalau guru hanya untuk diikuti, selalu minta dibedakan dengan segala keutamaannya.

Kejadian yang sama suasananya terjadi pada saat Upacara Bendera yang baru lalu. Itulah upacara yang semua petugasnya guru. Para guru tidak menjadikan upacara yang biasa riuh jadi syahdu. Sekalipun saya merinding saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan, anak-anak tetap menyambut berakhirnya lagu dengan tepuk tangan. Hampir semuanya berlangsung seperti saat anak-anak yang jadi petugas upacara. Mungkin sebabnya karena pakaian guru yang tidak seragam. Yang ini lebih mungkin: saat guru-guru menyanyikan beberapa lagu yang terkait tema kepahlawanan, menyanyinya sambil melihat secarik kertas. Beberapa guru tidak menghafal liriknya.

Tentu saja guru-guru serius. Jangan menganggap mereka tidak serius sekadar karena tidak memakai seragam. Bahwa mereka juga tidak latihan terlebih dahulu, tak dapat digunakan untuk menyudutkan mereka tampil seadanya. Mereka sangat serius untuk menjadi teladan. Mereka sangat serius mempertontonkan keberanian. Guru-guru SD Hikmah Teladan sungguh berendah hati untuk mempertontonkan kesalahan, kekurangan, pun berbagai spontanitas dalam memperbaiki kekurangan dan kesalahan. Guru-guru baik hati karena memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengetahui bahwa keterbatasan bisa menerpa siapa pun.

Saya sangat menyukai foto ini. Anak yang maju ke depan itu Uji. Dia anak berkebutuhan khusus. Dia gemuk. Berat badanya pasti melebihi pak Mukhlis yang menjadi pemimpin upacara. Pak Muklis memang bapak guru dengan berat badan dan tinggi yang paling rendah. Namun demikian, mari kita sama-sama membayangkan apa yang dipikirkan anak-anak dengan peran pak Muklis sebagai pemimpin upacara? Beliau gagah. Suaranya lantang. Melihat penampilannya, ia sepenuhnya layak disebut pemimpin. Ia gagah, juga berwibawa. Apa yang akan membekas disanubari anak-anak yang menyaksikan pak Muklis tampil gagah dan berwibawa? Hari ini, hari upacara dengan petugas guru-guru akan terus menawarkan kepercayaan diri dan motivasi pada perjalanan anak-anak dalam merengkuh masa depan.

Categories: SekolahKu

Menapaki Kembali Jejak Ustad Muthahhari

November 23, 2011 Leave a comment
Kesenangan saya pada berpikir dengan disertai kepastian bahwa saya masih bodoh dan membutuhkan teladan adalah Murtadha Muthahhari. Demikian, sebebas apapun saya menikmati berpikir, kenikmatan terbesar saya adalah saat berpikir bebas untuk sampai atau membuktikan Kebenaran, pelajarannya diberikan beliau. Kebenaran yang saya maksud pun dalam tafsir Murtadha Muthahhari.
Sebagai penghormatan dan kebanggaan saya memuat tulisan tentang Murthada Muthahhari, terutama karena ada hal yang baru saya ketahui, yaitu hari syahidnya ditetapkan sebagai hari Guru.

Dalam situasi seperti sekarang, ketika dunia Islam tengah bangkit kembali, umat semakin memerlukan dukungan gagasan dan pemikiran besar para ulama dan cendikiawan semacam Ayatollah Syahid Muthahhari. Bisa dikata, pergerakan rakyat di negara-negara muslim yang kini tengah berjuang menuntut keadilan dan kebebasan sejatinya banyak berutang pada pemikiran revolusioner para ulama besar seperti Ayatollah Muthahhari.

Muthahhari bukan sekedar ulama ataupun teolog, tetapi ia juga seorang filosof dan guru bangsa. Karena itu, rakyat Iran selalu memanggilnnya dengan sebutan Ustad Muthahhari. Namun belum genap bangsa Iran menikmati panduan dan ajaran Sang Ustad, arsitek pemikiran Revolusi Islam itu pada tanggal 2 Mei 1979 gugur syahid hanya selang beberapa bulan setelah Revolusi Islam meraih kemenangannya pada 11 Februari 1979. Beliau gugur syahid dalam sebuah peristiwa teror yang dilakukan oleh sebuah kelompok teroris. Sejak saat itu, rakyat Iran menjadikan hari syahidnya sang pahlawan Revolusi Islam itu sebagai Hari Guru.

Dewasa ini, dunia Islam disibukkan dengan maraknya gelombang reformasi pemikiran dan sosial. Islam sendiri senantiasa menyerukan reformasi dan perbaikan sosial. Terkadang sebuah masyarakat menjalani rutinitas mereka selama puluhan dekade bahkan ratusan tahun tanpa ada perkembangan apapun. Perlahan-lahan masyarakat itu pun mengalami proses degradasi dan kejumudan. Saat itulah, harus muncul seorang figur yang mampu menyadarkan dan mendorong masyarkat tersebut untuk bergerak maju.

Seorang peneliti dan dosen universitas Iran, Doktor Hasan Azghadi mengatakan, “Berjihad dan pengorbanan tidak dilakukan hanya di sektor politik dan sosial saja. Ada saatnya saat melakukan penelitian ilmiah yang menggunakan pilar-pilar pemikiran, seseorang harus bersikap berani. Di satu sisi, ia harus berdiri tegak menghadapi berbagai pemikiran menyimpang di kalangan internal ummat Islam. Di sisi lain, ia juga harus melawan serbuan pemikiran dari luar yang menyatakan bahwa agama bukanlah hal yang penting dalam kehidupan manusia”.

Azghadi menambahkan, “Dalam sejarah, kita akan mendapati bahwa orang yang mampu melakukan perjuangan melawan dua kekuatan pemikiran itu bisa dikatakan sangat sedikit. Di antara pemikir yang sedikit itu adalah Syahid Muthahhari. Beberapa dekade lamanya, Muthahhari muncul sebagai pemikir Islam yang mampu membela agama Islam dari serbuan pemikiran luar ataupun penyimpangan internal. Ia mengemukakan pemikiran Islam yang hakiki dengan bahasa yang bernas, cerdas, dan menarik. Muthahhari adalah penjaga benteng pemikiran Islam yang kokoh di akhir abad 20. Pejuang pemikiran Islam itupun pada akhirnya mempersembahkan nyawanya di jalan agama dan gugur sebagai syahid.”

Jika kita telaah kembali pemikiran-pemikiran Syahid Muthahhari, kita akan mendapati fakta bahwa sebagian besar aktivitas ilmiahnya dicurahkan untuk mengungkap penyimpangan pemikiran Islam yang ada di tengah-tengah masyarakat, sekaligus memberikan bantahannya. Muthahhari juga memberikan penjelasan atas berbagai hal yang masih sering dianggap bias dalam ajaran Islam. Sebagai contoh, Muthahhari menulis tiga jilid buku berjudul “Perjuangan Huseini”. Di buku itu, Muthahhari secara detail menuliskan faktor-faktor yang membuat pejuangan Imam Husein di Padang Karbala menjadi begitu abadi. Ia juga menjelaskan hal-hal yang sering dipertanyakan oleh sejumlah kalangan terkait peristiwa tersebut. Syahid Muthahhari di buku itu juga menjelaskan pentingnya tugas muslimin dalam mengantisipasi upaya distorsi dan perusakan agama dan sosial.

Syahid Muthahhari menilai Islam sebagai agama yang dapat menjawab seluruh tuntutan pada zamannya. Di antara karya komprehensif beliau adalah buku berjudul “Islam dan Tuntutan Zaman”. Beliau berpendapat bahwa umat manusia memiliki ketergantungan terhadap unsur-unsur materi dan maknawi. Cara untuk memenuhi tuntutan tersebut pun sangat beragam dan berbeda-beda pada setiap zaman. Sebab itu, manusia harus menyesuaikan diri dengan tuntutan zamannya.

Menurut Muthahhari, tuntutan tersebut tidak dapat dielakkan atau dicegah. Namun pada saat yang sama, tidak seluruh tuntutan dan keinginan tersebut adalah pilihan terbaik bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu, setiap individu dituntut untuk dapat menyesuaikan tuntutannya serta mengontrol dan membenahinya. Artinya, umat manusia harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi zamannya seperti memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Namun pada saat yang sama mereka juga harus tetap menjaga diri dari dampak negatif yang muncul dari arus kemajuan teknologi.

Menurut Muthahhari, ajaran Islam adalah yang paling komprehensif, sempurna, dan terus hidup sepanjang zaman. Ajaran Islam juga dapat disesuaikan dengan tuntutan pada zamannya. Masalah inilah yang ditekankan beliau dalam bukunya berjudul ‘Matahari Agama, Tidak Akan Pernah Terbenam’. Ditegaskannya bahwa, fenomena sosial dapat dikokohkan jika disesuaikan dengan tuntutan masyarakatnya. Artinya, fenomena tersebut harus muncul dari dalam hati dan fitrah setiap manusia dan harus sesuai dengan tuntutannya.

Menyikapi perluasan pemikiran Barat yang menyerang dan menistakan kedudukan perempuan dalam Islam, Syahid Muthahhari menulis buku tentang hak-hak perempuan dan masalah Hijab. Dalam buku itu, Muthahhari mengemukakan berbagai argumentasi yang kuat dan bahkan balik mengkritik pendapat Barat mengenai hak perempuan dalam Islam. Beliau menepis pendapat Barat bahwa Islam telah menistakan hak perempuan. Dikatakannya, bahwa Islam menjunjung tinggi kedudukan perempuan. Dalam al-Quran disebutkan berbagai ayat yang menyebutkan bahwa takdir dan nasib perempuan dan laki-laki tidak dibedakan. Misalnya dalam masalah pahala dan azab, tidak ada perbedaan bagi kaum perempuan dan laki-laki. al-Quran bahkan menyebutkan keutamaan para wanita suci seperti istri nabi Adam dan Ibrahim, serta ibu nabi Musa dan Isa.

Salah satu pemikiran menarik Syahid Muthahhari adalah masalah pembedaan antara adat dan etika. Menurutnya, nilai-nilai etika akan kekal sepanjang masa. Karena etika seperti keadilan, kejujuran, menepati janji, cinta, dan lain-lainnya, sangat erat kaitannya dengan tuntutan dan kecenderungan manusia. Adapun adat sosial selalu mengalami perubahan. Sebab itu, Muthahhari menentang pihak yang berpendapat bahwa sejumlah adat harus tetap dijaga dan dilestarikan, karena menurut beliau, adat tersebut bisa jadi tidak sesuai dengan kondisi dan tuntutan zaman. Hal ini menurutnya akan menyebabkan kejumudan dan kemunduran.

Selain sebagai seorang pemikir dan filosof, Syahid Muthahhari juga dikenal sebagai seorang aktifis Revolusi Islam. Ia bangkit berjuang untuk membela Islam dengan pemikiran besarnya demi menghapus penyelewengan dan upaya mencomot ajaran agama sesuai selera. Beliau menjelaskan ajaran-ajaran Islam baik lewat metode rasional maupun tekstual sehingga membuatnya menjadi seorang pembaharu besar dan simbol sempurna pemikir Islam di masa ini. Syahid Muthahhari dapat disebut arsitek terbesar bangunan pemikiran dan sistem Islam. Berbagai tema dan kajian yang dibahasnya sangat relevan dengan persoalan yang dihadapi umat Islam saat ini dan bisa dijadikan sebagai solusi.

Sayid Hasan Nasrullah, Sekjen Hizbullah Lebanon mengatakan, “Mungkin saya dapat mengatakan bahwa pribadi paling berpengaruh bagi diriku dan dunia Syiah adalah dua orang peneliti Syiah; Syahid Muhammad Baqir Sadr dan Syahid Murtadha Muthahhari. Dua tokoh ini mampu menggariskan infrastruktur akidah dan ideologi seorang muslim pejuang dan peneliti yang kini banyak dimanfaatkan oleh orang-orang beriman dan penuntut kebebasan. Kami sebagai umat Islam di Lebanon mengenal Syahid Muthahhari lewat karya-karyanya. Saya pribadi dapat mencium semangat besar dan wewangian khusus dari karya-karyanya.”

Allamah Thaba’thaba’i, Filsuf besar dan mufassir al-Quran adalah guru Syahid Muthahhari. Saat ditanya komentarnya mengenai kepribadian muridnya itu, ia berkata, “Syahid Muthahhari adalah seorang cendikiawan besar, pemikir dan peneliti. Ia sangat cerdas, punya pemikiran yang terbuka dan realistis. Berbagai karya gemilang dan riset yang dilakukannya ditulis dengan argumentasi kokoh sangat menakjubkan”. (IRIB Indonesia)

Categories: darimanasaja

Memang Berbeda

September 30, 2011 Leave a comment

Tulisan ini permintaan teman di Bali untuk dimuat di newsletternya. Beliau meminta saya menjelaskan apa yang beda dari SD Hikmah Teladan dan kenapa saya memiliki aktivitas untuk mendampingi pendidikan di pelosok.

SD Hikmah Teladan berdiri tahun 2000. Sejak semula namanya SD Hikmah Teladan, bukan SDI yang berarti Sekolah Dasar Islam atau SDIT yang berarti SD Islam Terpadu. Penegasan ini perlu karena embel-embel Islam seperti menjadi wajib pada tahun-tahun tersebut. Citranya jelas, peluang pasarnya besar. Aman.

Kenapa kami memilih SD umum? Keseragaman sekalipun kuat menampakkan kebesaran, ia membawa serta bahaya laten dari ekslusivisme. Citra yang terlalu jelas juga membuat penyelenggara sekolah terjebak pada ‘produk jadi’ yang harus dipenuhi. Inovasi menjadi illegal. Dengan demikian, menjadi sekolah umum telah membuat kami suka-suka sendiri. Menanggung semua ulah sendiri.

Pembedaan dari mainstream jika disertai dengan harga diri ternyata leluasa menjadi energi perlawanan. Akibatnya, dalam perjalanannya, antara inovasi, kreativitas dengan hanya sekadar beda menjadi tumpang-tindih. Harga diri juga yang memiliki kekuatan untuk merubah yang semula sekadar beda menjadi bernilai inovatif. Contoh upacara bendera.

100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan

Dari target 100, sudah tertcatat 70an hal yang cuma ada di SD Hikmah Teladan, 53 di antaranya sudah dipublikasikan di www.kusekolah.wordpress.com. Kali ini saya menambahkan SD Hikmah Teladan sebagai sekolah dengan visi, misi yang paling mengokohkan kemerdekaan anak. Saya tulis lengkap visi misinya supaya siapapun mudah untuk menggugat klaim kami.

VISI SD HIKMAH TELADAN

“ Menjadi sekolah terdepan dalam menerapkan konsep pendidikan anak merdeka”

MISI SD HIKMAH TELADAN

  1. Menumbuhkan sikap tauhid anak sejak dini dan kemampuan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Memelihara kemerdekaan anak dan memperluas jangkauan kemerdekaannya seiring tumbuh kembang yang dilalui anak.
  3. Mengokohkan pemahaman bahwa sesungguhnya belajar merupakan pemenuhan rasa ingin tahu.
  4. Menempatkan peran penting guru untuk menumbuhkan keingintahuan anak dan mengarahkannya dengan cara yang paling mereka harapkan, paling mereka minati.
  5. Mendidik anak agar belajar berani mencoba sebagai pandangan kami tentang pendidikan sekaligus metode pembelajaran yang dikembangkan.
  6. Menumbuhkan anak yang penuh percaya diri dan berkembang menjadi dirinya sendiri melalui pemberian rasa aman, penghindaran dari celaan dan cemoohan, serta pemberian keleluasaan untuk berekspresi dan bereksplorasi.

Pernyataan misi “Memelihara kemerdekaan anak dan memperluas jangkauan kemerdekaannya seiring tumbuh kembang yang dilalui anak” membawa implikasi bahwa proses belajar menjadi proses pemerdekaan. Jumat, 23 September 2011, saya berkirim SMS kepada teman-teman yang menjelaskan lingkungan SD Hikmah Teladan memberikan keleluasaan bagi berlangsungnya proses pemerdekaan tersebut:

Kemarin dalam perjalanan pulang Ali meminta supaya hari ini tidak terlambat. Ketika saya Tanya kenapa, tidak ada jawaban. Dari kemarin sore pula di rumah tipe 45 kami berdesak-desakan 3 nenek dan 1 kakek yang baru datang dari Medan. Dengan anak-anaknya total jadi 10 orang. Jadi kami lumayan sibuk, sampai Ali yang mungkin melihat gelagat saya akan terlambat mengingatkan bahwa hari ini ia bertugas jadi pengibar bendera!

Anak-anak baru 2 bulanan sekolah sudah jadi petugas upacara? Nekad. Apalagi saya pun dapat memastikan latihan yang hanya dilakukan sekali sehari sebelumnya, tidak akan lebi dari 1 jam. Jadi, Anda butuh memulai pagi dengan hiburan segar? Datanglah ke lapang SD Hikmah Teladan. Di sana ada sekitar 400-an anak berseragam putih merah, 90-an anak dengan seragam olahraga, dan guru-guru yang tidak berseragam.

Hmm, saya takjub karena Ali tidak khawatir apapun. Anakku yang sampai hari ini belum bisa membaca dan menulis, tak grogi mengerek tali bendera. Demikian juga anak-anak yang lain yang sama-sama, ternyata, meminta hari ini tidak terlambat.

Syahdan, kami sampai di sekolah beberapa menit sebelum pukul 07.30. Di depan dekat kelas 1 berjejer 4 mobil siap berangkat. Ah, ternyata ini jadwal kelas 5 berenang. Berarti mereka tidak akan melihat adik kelasnya beraksi.

Hasrat untuk Berbagi

SMS di atas saya kirim kepada banyak teman. Hal tersebut dilakukan karena kami meyakini kebaikan dari sekolah ini. Pada hari ini, 27 September 2011, sudah sekitar 30 orang mendaftar untuk kelas 1 tahun depan. Biasanya 3 bulan sebelum tahun ajaran baru pendaftaran siswa baru sudah ditutup. Ditutup artinya pendaftar yang memastikan diri sudah 96 anak. Berbeda dengan sekolah pada umumnya, SD Hikmah Teladan tidak melakukan seleksi kepada anak-anak, melainkan kepada orangtua. Bagaimana caranya? Kami selalu membawa orangtua calon siswa tour keliling sekolah dan terakhir masuk ke 3 kelas, kelas 1. Mereka harus memegroki suasana kelas yang lazim berlangsung. Kedua, mereka di awal sudah diberitahu semua hal yang kontroversial dari sekolah ini. Bersama visi misi sekolah, bagian ini disampaikan dengan sangat jelas oleh komite sekolah. Ah maksud saya, sekolah ini sudah menjadi sekolah favorit. Seperti upacara bendera yang dilaksanakan setiap Jumat, berbeda (dan perbedaan) itu perlu dirayakan dan menguntungkan.

Bernilai kebaikan, keren, laku, masak kami tidak bernafsu berbagi? Sejarah kami identik dengan perlawanan pada setiap upaya penyeragaman dan pemuliaan keunikan (yang secara politis dapat berarti minoritas). Lalu kepada siapa kami paling tepat berbagi? Mereka yang tertindas, minoritas, terbuang, mereka yang tidak terjangkau layanan pendidikan pemerintah, mereka yang didera konflik, tergusur, terpinggirkan. Kami yang bergelut dengan proses pemerdekaan sangat dekat dengan perasaan dan keahlian yang dibutuhkan oleh mereka yang berjuang melepas belenggu tersebut.

Categories: SekolahKu

Hak Orang Lain untuk Berbeda Pendapat

June 22, 2011 Leave a comment

Bila Tuhan tetap memberi rezeki pada manusia yang selama hidup tidak mempercayai-Nya, mengapa manusia beragama merasa harus bersikap berbeda?

Di antara hal yang saya ingat dari almarhumah ibu saya adalah sebuah cerita tentang Nabi Ibrahim. Ceritanya begini: Ibrahim tidak pernah mau makan tanpa bersama-sama dengan orang lain, sampai-sampai ia sering mengunjungi tempat-tempat umum dengan harapan bisa menemukan orang yang bisa menjadi teman makan.

Suatu hari, ketika berusaha mencari seseorang yang bisa ia ajak makan, ia bertemu dengan orangtua yang sudah berumur 80-an tahun. Setelah ia menyampaikan salam dan ajakan, mereka pun duduk dan Ibrahim berkata: “Saudaraku, ucapkanlah syukur kepada Tuhan, dan ayo makan.”

Sang tamu memandangnya dan menjawab: “Saya tak tahu ada Tuhan yang hadir, jadi saya tidak bisa sampaikan syukur kepadanya.” Ibrahim pun kesal dan bersusah payah meyakinkan orangtua itu kalau ucapannya salah. Merasa putus asa, ia membereskan makanan dan mengusir orang itu keluar dari tendanya.

Saat Ibrahim sendirian, Tuhan menegurnya lantaran apa yang ia perbuat kepada orangtua itu. Tapi Ibrahim coba berdalih kalau orang itu ateis dan kafir. Tuhan pun berkata kepadanya: “Saya telah mengenalnya selama 80 tahun, tapi Aku tetap memberinya rezeki. Tapi, kamu sudah tak sabar meski hanya untuk memberinya satu hidangan.”

Ibrahim lantas bergegas mengejar orangtua itu untuk meminta maaf. Terkejut, orangtua itu pun mendengarkan Ibrahim menerangkan apa yang terjadi, dan mengatakan: “Tuhan yang menegur orang yang menghamba kepada-Nya untuk membela seseorang yang memungkiri keberadaan-Nya, adalah Tuhan yang Pemurah.”

Saya mengisahkan cerita ini tidak untuk memperdebatkan apakah peristiwa itu benar terjadi, tapi untuk mengambil pelajaran yang dengan meyakinkan diberikan kisah tersebut.

Ada banyak teks agama yang meminta agar manusia dihormati terlepas dari agama mereka, dan hak untuk memilih agama tanpa paksaan diakui. Teks-teks ini mengarahkan kita untuk menghargai hak orang lain untuk berbeda dalam keyakinan maupun perilaku. Toh, Tuhan telah berfirman: “ Sungguh telah Kami muliakan anak cucu Adam” (Al-Quran, 17:70).

Mereka yang menolak hak orang lain untuk berbeda pendapat telah salah menafsirkan teks-teks itu dan membuat pemahaman mereka sebagai landasan keyakinan mereka sendiri, dan membatasi keluasan agama dan mendistorsi kasih sayang agama. Dengan begitu mereka sebenarnya cenderung mempersempit penghormatan kepada agama mereka – atau setidaknya sebagian darinya.

Walhasil, tanggung jawab yang dipikul oleh pemimpin masyarakat menjadi lebih besar dan lebih penting, dan mereka harus lebih keras berusaha membuktikan kepada khalayak bahwa hak “orang lain” untuk ada dan tak setuju adalah sejajar dengan hak “diri sendiri”, dan membela hak “orang lain” adalah cerminan pembelaan hak “diri sendiri”. Bila saling melengkapi, masyarakat akan kuat dan sejahtera. Konflik dan perselisihan mereka adalah kelemahan dan kekalahan.

Untuk membuktikan ini, tidaklah cukup untuk mengutip teks agama ataupun teks budaya, tapi perlu mematuhi pedoman-pedoman ini dalam kehidupan keseharian sehingga manusia bisa menyadari bahwa nasibnya terhubung dengan nasib “orang lain”, dalam keadaan baik ataupun buruk. Ini juga soal pendidikan dan bimbingan di samping soal doktrin dan filosofi.

Upaya-upaya bersama di antara para pemuka agama, pendidik, orangtua dan guru untuk memberi perhatian pada ruang-ruang bersama adalah contoh perilaku ini. Upaya bersama mereka jauh lebih besar dari sekadar perselisihan pendapat, dan menjadi faktor-faktor penting untuk merebut hati masyarakat.

Kita harus juga mengakui bahwa kekerasan dan konflik yang melanda berbagai masyarakat tidaklah pas dengan konsep menerima orang lain. Manusia tidak bisa berinteraksi secara rasional dan bertanggung jawab ketika mereka merasa keberadaan dan identitas mereka sedang terancam. Perasaan semacam itu menimbulkan reaksi yang punya dampak buruk memperbesar kerenggangan dan memperparah keretakan.

Mengetahui orang lain dari dekat akan mengungkap kesamaan mereka dengan “diri sendiri”. Ini akan turut memerdekakan seseorang dan membuatnya lebih bisa berkomunikasi dan bekerja sama. Semakin awal ini bisa terjadi, semakin besar manfaatnya.

*****

* Syekh Ibrahim Ramadan dulu menempuh studi di Lebanon Azhar Institute, Beirut, dan mendapatkan ijazah dalam bidang syariah dan dalam fikih perbandingan dari Beirut Islamic University.

Categories: darimanasaja

Inilah Pidato Habibie yang Membuat Hadirin Terpukau

June 1, 2011 Leave a comment

TEMPO InteraktifJakarta - Pidato mantan Presiden B.J. Habibie dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni, mendapat apresiasi luar biasa. Saat berpidato di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua MPR Taufiq Kiemas, sejumlah mantan Wakil Presiden, serta pejabat lainnya di Gedung MPR, Rabu, 1 Juni 2011, Habibie membacakan pidatonya dengan berapi-api. Hadiri pun tampak terpukau.

Inilah isi pidato lengkap Habibie itu.

Reaktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Yth. Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono 
Yth. Presiden ke-5, Ibu Megawati Soekarnoputri
Yth. Para mantan Wakil Presiden
Yth. Pimpinan MPR dan Lembaga Tinggi Negara lainnya
Bapak-bapak dan Ibu-ibu para anggota MPR yang saya hormati
Serta seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai,

Assalamu ‘alaikum wr wb, salam sejahtera untuk kita semua.

Hari ini tanggal 1 Juni 2011, enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka.

Selama enam puluh enam tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap jaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.

Sejak 1998, kita memasuki era reformasi. Di satu sisi, kita menyambut gembira munculnya fajar reformasi yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang. Namun bersamaan dengan kemajuan kehidupan demokrasi tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: Di manakah Pancasila kini berada?

Pertanyaan ini penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.

Mengapa hal itu terjadi? Mengapa seolah kita melupakan Pancasila?

Para hadirin yang berbahagia,

Ada sejumlah penjelasan, mengapa Pancasila seolah “lenyap” dari kehidupan kita. Pertama, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 — 66 tahun yang lalu — telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami antara lain: (1) terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya; (2) perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasi manusia (KAM); (3) lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap “manipulasi” informasi dengan segala dampaknya.

Ketiga perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Kebelum-berhasilan kita melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.

Kedua, terjadinya euphoria reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Semangat generasi reformasi untuk menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai bagian dari masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional’ tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai grundnorm (norma dasar) yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik. Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak dijadikan pilar dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini.

Sebagai ilustrasi misalnya, penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus diakui, di masa lalu memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif yang tidak jarang kemudian menjadi senjata ideologis untuk mengelompokkan mereka yang tak sepaham dengan pemerintah sebagai “tidak Pancasilais” atau “anti Pancasila” . Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, muncullah demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol, sebagai ikon dan instrumen politik rezim sebelumnya. Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolitik sehingga membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.

Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim pemerintahan tententu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintahan pada masa tertentu. Pancasila juga bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu. Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya. Rezim pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi dasar negara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan!

Para hadirin yang berbahagia,

Pada refleksi Pancasila 1 Juni 2011 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi, restorasi atau revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik.

Oleh karena Pancasila tak terkait dengan sebuah era pemerintahan, termasuk Orde Lama, Orde Baru dan orde manapun, maka Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang akan mengilhami setiap perilaku kebangsaan dan kenegaraan, dari waktu ke waktu. Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.

Reformasi dan demokratisasi di segala bidang akan menemukan arah yang tepat manakala kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa yang majemuk ini. Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama, menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini. Fenomena fanatisme kelompok, penolakan terhadap kemajemukan dan tindakan teror kekerasan tersebut menunjukkan bahwa obsesi membangun budaya demokrasi yang beradab, etis dan eksotis serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih jauh dari kenyataan.

Krisis ini terjadi karena luruhnya kesadaran akan keragaman dan hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara serta pelecehan terhadap supremasi hukum.

Dalam perspektif itulah, reaktualisasi Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan kita yang majemuk dan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyegarkan kembali pemahaman kita terhadap Pancasila dan dalam waktu yang bersamaan, kita melepaskan Pancasila dari stigma lama yang penuh mistis bahwa Pancasila itu sakti, keramat dan sakral, yang justru membuatnya teraleinasi dari keseharian hidup warga dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai sebuah tata nilai luhur (noble values), Pancasila perlu diaktualisasikan dalam tataran praksis yang lebih ‘membumi’ sehingga mudah diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Para hadirin yang berbahagia,

Sebagai ilustrasi misalnya, kalau sila kelima Pancasila mengamanatkan terpenuhinya “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, bagaimana implementasinya pada kehidupan ekonomi yang sudah menggobal sekarang ini?

Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk, tergantung pada pandangan dan sikap suatu Negara dalam merespon fenomena tersebut. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus “membeli jam kerja” bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu “VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru”.

Implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neo-colnialism atau “VOC-baju baru” itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan “jam kerja” bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan usaha meningkatkan “Neraca Jam Kerja” tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan “nilai tambah” berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari “biaya tambah”; dengan ungkapan lain, “value added” harus lebih besar dari “added cost”. Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam forum yang terhormat ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian lain untuk secara serius merumuskan implementasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam lima silanya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan. Yang juga tidak kalah penting adalah peran para penyelenggara Negara dan pemerintahan untuk secara cerdas dan konsekuen serta konsisten menjabarkan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam berbagai kebijakan yang dirumuskan dan program yang dilaksanakan. Hanya dengan cara demikian sajalah, Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai pandangan hidup akan dapat ‘diaktualisasikan’ lagi dalam kehidupan kita.

Memang, reaktualisasi Pancasila juga mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang sehingga memposisikan Pancasila menjadi solusi atas berbagai macam persoalan bangsa. Melalui reaktualisasi Pancasila, dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.

Para hadirin yang saya hormati,

Oleh karena itu saya menyambut gembira upaya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akhir-akhir ini gencar menyosialisasikan kembali empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding fathers kita di masa lalu. Akan tetapi, karena jaman terus berubah yang kadang berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka menyegarkan kembali empat pilar tersebut, sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.

Marilah kita jadikan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai weltanschauung, yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, saya yakin bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara.

Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Saya yakin, meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang.

Melalui gerakan nasional reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, bukan saja akan menghidupkan kembali memori publik tentang dasar negaranya tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai di daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan rakyat melalui proses pemilihan langsung yang demokratis. Saya percaya, demokratisasi yang saat ini sedang bergulir dan proses reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamu ‘alaikum wr wb.

Jakarta 1 Juni 2011

Bacharuddin Jusuf Habibie

Categories: darimanasaja

100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (7): Mereka yang Membuat SDHT Luar Biasa

April 11, 2011 Leave a comment

Bila saya diminta mengurutkan kelompok yang paling berjasa terhadap SD Hikmah Teladan, maka yang menempati urutan pertama adalah para guru. Yang kedua adalah mereka yang membuat guru-guru kuat dan selalu menimpali perjuangan berat yang dilalui dengan hadiah kebahagiaan, keceriaan, kejutan dan ketakjuban: anak-anak. Menduduki peringkat ketiga adalah para orangtua yang mampu menempatkan keseimbangan antara kekhawatiran akan eksperimen dan kenakalan yang dilakukan sekolah dengan harapan akan masa depan sebagaimana setidaknya terlirik dalam kecerian anak-anak sepanjang sekolah. Paling boncot adalah manajemen.

Walaupun diwakili satudua orang manajemen memiliki peran sentral, tapi dalam konteks kelompok, manajemen harus diurutan paling akhir. Apalagi kalau Anda tahu keadaan manajemen secara mendalam, maka Anda akan takjub bagaimana pada lingkungan yang kurang kondusif, guru-guru yang luar biasa masih mudah ditemukan. Wakil Ketua Komite Sekolah SDHT menegaskan dengan sangat yakin: Inilah sekolah yang mengusung agenda pembebasan namun dikelola dengan cara feodal. Sekolah pembebasan dengan kehendak kapitalis.

Seratus hal kali ini berkaitan dengan orang-orang yang berperan besar membuat SDHT luar biasa. Sangat subjektif. Betul-betul menurut penilaian pribadi. Karena itu saya tidak memerlukan persetujuan Anda, tapi kalau kritik boleh.

46. Sandi Sahrinurahman

Namanya melekat dengan SD Hikmah Teladan sejak diwacanakan pendiriannya sampai saat ini. Lebih dari hal lain, ia bukan hanya melekat bahkan identik dengan jargon “Berani Gagal Berani Mencoba”. Berbeda dengan sekarang, pada awalnya jargon ini berlaku setara baik untuk guru maupun anak. Pada masa awal SDHT, diberlakukan aturan yang melarang anak-anak menggunakan pensil dan membawa penghapus, juga membawa baju ganti karena bermain kotor itu asyik banget. Kalau ini yang terjadi, jargon yang lebih pas adalah “Coba lagi. Gagal lagi. Gagal lebih baik.” (Samuel Backett)

Saya sendiri menjadi saksi keteguhan keyakinan Sandi Sahrinurahman. Beliau orang yang sederhana, menyukai detail, teliti dan lembut. Saya sebaliknya dikenal provokator, grasak-grusuk. Maka bayangkan apa yang terjadi ketika saya dengan sifat-sifatnya bergabung di tahun kedua, padahal pada saat bersamaan saya juga terpana dengan pandangan-pandangan hebat yang teman-teman kemukakan?

Sekalipun belakangan bagian terbesar yang melekat pada saya kekaguman terhadap visi misi sekolah dan kegiatan unggulannya, tak pelak selama proses itu saya membawa ricuh. Yang menyelamatkan ricuh ini tidak meledak adalah ketabahan beliau. Sandi Sahrinurahman memilih mengalah. Temanku ini mencari alasan untuk menerima sebagian dari yang mungkin jadi kekuatan saya.

Hal lain yang perlu diketahui adalah daya tahannya untuk menjaga keutuhan sistem yang dinamik. Dengan memanfaatkan berbagai celah, ia mempangaruhi banyak orang. Melalui pembicaraan yang alot tentang peraturan ketenagakerjaan, perlahan tapi pasti digiringnnya guru-guru untuk berserikat. Perlahan tapi pasti juga, ia bermain politis untuk menjaga pemenuhan minimal standar kesejahteraan guru.

Yang mengejutkan bagi saya adalah keterpengaruhan guru-guru angkatan pertama oleh beliau. Tak jarang guru angkatan pertama menolak ide-ide yang saya usung dengan penolakan: padahal dulu… . Dulu yang dimaksud adalah masa setahun ketika pak Sandi menjadi kepala sekolah.

Sandi Sahrinurahman memiliki pandangan yang jelas tentang pendidikan ideal. SD Hikmah Teladan hanya salah satu karyanya. Kiprahnya sebagai praktisi bergerak di beberapa tempat. Termasuk di SDN tempat anaknya yang pertama sekolah. Ia begitu menikmati dinamika dan problem yang dihadapinya. Sandi memiliki pandangan tentang pendidikan ideal, tapi sungguh ia mau berangkat dari kondisi bagaimanapun dan dengan penuh ketekunan memulai perjalanan.

47. Lia Nur Amalia

Sebagai sekolah inklusi, SD Hikmah Teladan berbeda dengan sekolah inklusi lainnya. Hal ini karena dihilangkannya semua persyaratan untuk menjadi siswa SD Hikmah Teladan. Mudah lho menemukan landasan filosofis untuk aturan ini. Yang sulit adalah menemukan guru yang mau (tepatnya nekad) untuk menghadapi siswa yang tidak terbayangkan permasalahannya.

Di 4 tahun awal, tidak pernah ada tes apapun. Anak-anak diterima begitu saja. Persis begitu saja. Ada cerita: Mengerti kelaziman, seorang ibu ngotot kalau anaknya autis. Namun kami juga ngotot agar anak itu masuk kelas begitu saja. Tanpa penanda, tanpa pendamping. Sang ibu yang merasa yakin  anaknya autis pun memutuskan menjadi pendamping sang anak. Guru yang melarangnya masuk kelas membuat sang ibu hanya bisa menunggu di luar dan setiap hari menghabiskan setidaknya setengah jumlah halaman novel yang dibacanya.

Ada lagi cerita anak yang kini kelas 8. Di kelas 1, berbagai kebiasaannya membuat ia mudah dikenali berperilaku seperti orang gila. Di tengah keheningan belajar, tiba-tiba tertawa. Yang lebih sering spontan menyanyi. Karena alasan lagu-lagu yang dinyanyikan anak itu lagu-lagu baru remaja yang belum dikenal anak lain, bu Lili meyakini cerdasnya murid istimewa ini. Setelah berulang kali menyaksikan kebingungan pada wajah murid sekelas, juga orangtua, apalagi murid kelas lain, kecintaan seorang guru kepada muridnya memberi bu Lili ide: ketika belajar tiba-tiba anak istimewa ini bernyanyi, kegiatan belajar dihentikan berganti memperhatikan si anak istimewa bernyanyi. Bernyanyi selesai, tepuk tangan meriah dihadiahkan.

Ide yang luar biasa membawa pengaruh luar biasa. Si anak yang masih meracau di luar kelas dan menimbulkan reaksi wajah-wajah yang keheranan, dinetralisir oleh anak-anak sekelas. Berlombalah teman si anak istemewa menjelaskan betapa pintarnya ia di kelas. Dijelaskan oleh anak-anak bahwa temannya memiliki kemampuan menghafal lagu paling baik. Luarbiasa. Pengalaman-pengalaman seperti ini yang membuat saya tidak suka dengan segala hal yang ilmiah berupa test psikologi dan mendasarkan perlakuan pada anak berdasarkan tes tersebut. Saya memang fanatik dan berbangga pada guru-guru yang kecintaannya kepada anak didik sedemikian rupa sehingga membuatnya nekad. Saya juga fanatik dengan keluarbiasaan yang bisa dipersembahkan anak-anak sebagai makhluk sosial saat mereka bersama-sama di sebuah ruang yang disebut kelas.

Lili, nama panggilan Lia Nur Amalia, juga perlu dicatat karena menjadi guru yang berdisiplin, tegas dan memiliki kharisma. Di lingkungan yang memuliakan kebebasan, sosoknya menjadi penyeimbang yang sedikit banyak dapat menahan di antara kami yang menikmati kebebasan jadi kebablasan.

48. Dadang Salimin

Selepas acara Family Day, para guru berfoto. Dari sekitar 40 orang yang tertangkap kamera, satu di antaranya bukan guru. Dadang Salimin dengan nama panggilan Dadang atau Imin. Saya sendiri lebih suka dengan nama panggilan yang kedua. Beberapa kesempatan ia terlihat dikejar anak-anak; mondar-mandir di koridor dengan anak-anak digendongannya; duduk santai sambil ngobrol dengan kepala sekolah; diketahui beberapa kali menolak perintah dari direktur perguruan; di sekolah selalu dengan kaos oblong; tidak pernah diketahui memakai sepatu.

Saya pernah menegur pak Imin untuk menurunkan sebelah kakinya dari kursi, “Kamu itu lagi duduk di ruang tamu sekolah dan ngobrol dengan kepala sekolah”. Pak Imin itu salah seorang OB dari empat OB di SDHT. Karena cuma beliau yang begitu, maka saya menggelarinya OB Berkebutuhan Khusus.

Kehadiran pak Imin sangat istimewa. Beliau dengan segala tingkahnya telah membuat kami sungkan untuk menyuruh-suruhnya. Bahkan keanehannya mendorong kreativitas para bapak guru yang suka jail, kerap menggodanya. Apa yang terlihat oleh anak-anak untuk kedua kenyataan tersebut? Sikap kami yang tidak membeda-bedakan orang berdasarkan derajat atau latar belakang atau status sosial. Bukti bahwa hal ini berpengaruh pada anak-anak, ya itu tadi, kalaupun keringatnya bau apek, anak-anak berebut bergelayutan di tangannya yang tak kokoh.

Namun bisa dipastikan pak Imin bukan guru. Belum lama ini ia dipanggil menghadap wakil kepala sekolah terkait pengaduan bahwa ia mencubit beberapa kali anak ABK yang lebih dari beberapa kali mencubitinya. Ia membalas adalah bukti kalau pak Imin bukan guru SDHT. Dalihnya “Saya kan bukan malaikat” memang betul dan juga betul ia bukan guru.

49. Bambang Wisudo

Saat kami masih gamang dengan segala hal yang berbeda dari SDHT, Bambang Wisudo hadir memotret kami secara utuh, benar dan adil, kemudian memunculkan SD Hikmah Teladan di Koran Kompas 3 hari berturut-turut. Teman saya yang wartawan berkomentar: Gila! Sekali lagi saja dimuat, kamu ngalahin pemberitaan Presiden.

Bambang Wisudo mengaku sangat selektif mengangkat berita. Beliau mencari yang istimewa. SD Hikmah Teladan istimewa di mata beliau. Dicintainya hingga  saat ini. Hal ini menarik. Bambang Wisudo belakangan fokus perhatiannya pada pedagogi kritis: mendampingi dan membiayai penyelenggaraan pendidikan kritis untuk daerah pelosok; menjadi direktur Sekolah Tanpa Batas; dan, menulis bersama teman-temannya buku Pedagogi Kritis. Yang membanggakan, semoga demikian, kedekatannya sampai saat ini dengan SD Hikmah Teladan menunjukkan penilaiannya bahwa kami menyelenggarakan pedagogi kritis.

Kembali ke pemberitaan kami yang beruturt-turut di Kompas. Inilah yang membuat kami perlahan-lahan dikenal lebih luas. Dari pemberitaan ini, tamu-tamu yang jauh mengunjungi kami. Tentu saja menyenangkan menyakinkan banyak orang bahwa menyelenggarakan sekolah dengan memberikan ruang yang luas bagi ekspresi bebas adalah mungkin.

Saya masih mengingat foto Faika (kini sudah SMA) di jendela perpustakaan dengan keterangan anak yang memilih belajar di perpustakaan daripada di kelas, sempat dikhawatirkan berdampak negatif oleh pihak yayasan. Tanpa disangka, foto bidikan Bambang Wisudo ini memberikan penegasan bahwa hal seperti itu mudah terjadi di SD Hikmah Teladan; di sisi lain, waktu berjalan setelah pemuatan foto itu, ternyata tidak terbukti kok kekhawatiran akan munculnya pandangan tentang anak-anak yang kurang beretika.

50. Ary Nilandari and the Gang

Siapa yang lebih mencintai anak-anak SDHT, guru atau orangtuanya? Siapa yang lebih berkepentingan dengan masa depan anak-anak SDHT, guru atau orangtuanya? Siapa yang lebih mempengaruhi tumbuhkembang anak-anak SDHT, guru atau orangtua? Siapa yang berinvestasi lebih besar untuk kemajuan seorang anak, guru atau sekolah? Jawaban saya pasti orangtua. Ini jawaban yang kukuh sebagai pendirian. Karena itu SDHT memiliki keyakinan, semakin lebar pintu sebuah sekolah terbuka untuk keterlibatan orangtua semakin baiklah sekolah tersebut.

Resikonya besar. Sama persis kok dengan kebebasan yang diberikan kepada anak-anak. Sekali terjadi yang dominan di kelas jagoan bikin onar, peluang kebebasan menjadi kebablasan cukup besar. Begitu juga orangtua. Jika yang dominan itu orangtua yang memiliki pandangan sendiri yang kuat tentang bagaimana penyelenggaraan pendidikan, maka mereka mudah memancing kisruh. Karena itu sekolah harus berpolitik. Sekalipun kebebasan dimiliki mereka, suaranya dibuat bergema saja. ‘Dinding’ yang memantulkan mereka itu adalah orangtua yang kuat berwacana dengan pihak sekolah. Mereka kritis, juga berterimakasih terhadap upaya-upaya yang dilakukan pihak sekolah untuk anak-anak. Mereka mengajarkan kepada kami bagaimana seharusnya anak-anaknya dicintai dengan kehadiran anak-anaknya yang membuat suasana sekolah ceria. Kami berpolitik, karena kami mencari mereka. Bersahabat. Kami membuat mereka memimpin para orangtua yang lain. Dan, mungkin agak curang: kadang pintu yang terbuka untuk orangtua kami biarkan setengah tertutup (: Anda tahu ini bagi orangtua kelompok mana); sebaliknya, untuk Ary Nilandari and the Gang seringkali pintu itu terbuka tanpa penjaga.

Lalu siapakah Ary Nilandari and the Gang sehingga mereka cuma ada di SDHT? Dengan alasan yang sangat kuat, mereka pernah menolak, mungkin tepatnya menunda pendirian SMP Hikmah Teladan yang tawarannya disodorkan pihak perguruan. Mereka pernah ‘mengeluarkan’ guru dengan alasan yang sangat objektif yang tidak dapat ditemukan oleh pihak sekolah. Mereka terlibat dalam seleksi guru baru, mulai dari mikroteaching sampai wawancara untuk mengambil keputusan. Mereka menjadi pembicara inti pada sosialisasi sekolah untuk orangtua calon siswa baru. Dan lain-lain yang menegaskan bahwa mereka sungguh kenal betul dengan sekolah dan menjaganya. Mereka juga yang meyakini bahwa di SDHT, orangtua pun harus belajar. Mereka sangat senang belajar dari pengalaman anak-anaknya bersekolah di SDHT. Karena kami menempatkan anak-anak sebagai sumber belajar terbaik. Mereka bertemu dengan kami di sini.

Kenapa Ary Nilandari cuma ada di SDHT? Beliau pekerja buku. Saat lokakarya di mana guru-guru mendapat buku “Buku Kerja Kecerdasan Majemuk” yang diterjemahkannya, beliau seharian membahasnya. Jauh sebelumnya dalam program Teaching Parent, beliau mengajar di kelas 1-6 tentang bagaimana menulis. Masih banyak tentu saja, tapi 2 hal ini saja sudah cukup menjadi bukti bahwa Ary Nilandari cuma ada di SDHT.

51. Candra, Indri, Dimas dan Imam

Saat ini anak-anak SDHT naik kelas otomatis. Artinya jelas, tidak ada kondisi apapun pada anak-anak yang dapat membuat mereka tinggal kelas. Namun ada 4 anak yang pernah diputuskan tidak naik kelas: Dimas dan Imam, Candra, Indri. Mereka istimewa bagi SDHT karena mereka yang membuka jalan diberlakukannya keputusan lulus otomatis. Mereka sempat menyibak jalan ragu namun juga memaksa kami berwacana.

Dimas dan Imam tidak naik dari kelas 1 dan 2. Gurunya memberikan alasan demikian: Sengaja tidak naik karena metal age masih memungkinkan untuk mengulang. Anaknya pun tidak paham. Jadi aman. Mereka tetap dipegang guru yang sama.

Saya baru tahu alasan itu dan senang mengetahuinya. Yang saya ingat adalah pembicaraan dengan orangtuanya Dimas. Bagi kami naik dan tidak bukan urusan nilai melainkan tetap urusan baik buruk untuk perkembangan anak. Lebih membela keuntungan psikologis anak. Maksudnya, kalau tidak naik membuat orangtua pasrah (alias memaklumkan anaknya bodoh) atau bahkan menjadi senjata yang lebih kuat untuk memojokan anak (mudah terjadi dalam konteks keluarga), kami akan menaikan anak itu. Begitu juga kalau tidak naik membuat anak asing dengan kelas barunya dan terasing dari teman-temannya yang naik kelas, anak itu harus naik kelas. Nah, Dimas dan Imam di kelas satu masih sangat tidak bersosialisasi. Dimas, misalnya, sangat mudah melakukan kekerasan fisik kepada teman dan gurunya. Hal ini sampai sedemikian sehingga selama di kelas 1, Dimas lebih banyak belajar di luar kelas. Ah saya ingat betul kesenangan Dimas bermain air sepanjang selokan yang menghubungkan 2 kolam sekolah.

52. Imam dan Indri

Pengalaman membuat anak tidak naik kelas, pengalaman yang melukai hati. Pernyataannya bukan “anak tidak naik kelas” melainkan “membuat anak tidak naik kelas”. Bila ada 10 alasan anak tidak naik kelas, pasti ada 100 alasan untuk membuat anak naik kelas. Bila ada 100 cara menilai anak dan membuatnya tidak naik kelas, mudah dicari tambahan cara pandang pada 100 alasan untuk membuat anak naik kelas.

Imam dan Indri mengajarkan alasan untuk masa depan seseorang adalah ketidaktahuan. Berbeda dengan sekolah yang berfokus akademis, variabel pembentuk masa depan dapat disederhanakan pikiran (sekalipun salah juga); di sekolah dengan kebebasan berekspresi, jumlah ragam dan kerumitan hubungan variabel pembentuk masa depan sungguh tak terkira. Kata “tak terkira” adalah ketidaktahuan terhadap masa depan namun sikap yang luarbiasa optimis terhadap kemungkinan-kemungkinan masa kini.

Inilah cara kami bertaruh: Seharusnya tidak naik ke kelas 2, kami menaikannya. Di kelas 2 kan gurunya berbeda, semoga ada kecocokan atau setidaknya hal baru ditemukan. Setahun berjalan si anak hanya mempertegas bahwa ia pantas tidak naik kelas. Ia naik kelas karena di kelas 3 anak-anak diubah besar komposisi siswanya. Ayo cari anak-anak yang kemungkinan dapat memberikan “sentuhan malaikat” pada si anak. Di kelas 3 sungguh hebat, si anak itu merubah teman-temannya. Satu anak menjadikan anak sekelas juara empati. Kami begitu saja menaikannya ke kelas 4. Selain guru, kini dia sudah punya teman yang menemaninya belajar membaca dan berhitung. Hai, ia naik kelas 5 karena sudah senang belajar membaca dan berhitung! Kehadirannya di kelas 5, membubuhkan aturan larangan menerima siswa pindahan di kelas 5 dan 6. Lha, ia berhasil melahirkan guru-guru yang perkasa, pantang menyerah. Inilah yang membuatnya naik kelas 6.

53. Haifa

Hal serius paling akhir yang menjadi diskusi saya dengan ibunya Haifa adalah pernikahannya di usia ke 17. Haifa memang menikah muda. Kini dihitungan bulan pernikahannya, ia berencana mengambil kuliah jurusan musik. Haifa menyukai pertemuan terakhir dengan saya karena dipandang mendukung keinginannya untuk berpisah rumah dengan orangtuanya.

Hal serius pertama yang diketahui saya dari gadis cantik ini adalah banyaknya keluar masuk sekolah. Sebelum ke SD Hikmah Teladan, sekolah terakhirnya merupakan sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang dikelola seorang dosen UPI. Ternyata di sekolah tersebut tingkat permasalahan anak-anaknya lebih berat. Haifa jadi terlihat beda sendiri. Juga, kata orangtuanya, lingkungan sekolah tidak memotivasinya untuk berubah. Saya yang waktu itu menerima mereka sekeluarga mepersilahkan Haifa menjadi murid SDHT. Waktu itu memang saat di mana kami seratuspersen tidak mensyaratkan anak untuk menjadi murid SDHT. Kami juga tidak mengenal pendampingan.

Sebetulnya berdasarkan pengalaman, catatan dan rekomendasi psikolog dan pedagog, terkumpul banyak alasan sehingga Haifa disarankan sekolah di tempat anak berkebutuhan khusus, cuma saya tidak mau tahu. Kalau ada yang bertanya tentang apa permasalahan Haifa, saya mengenalkan Haifa sebagai anak yang hipersensitif secara sosial dan kekurangan pengalaman dalam hidup sosial. Inilah anak yang menafsirkan suara dengan intonasi tinggi sebagai kemarahan; menghindar dan kadang takut membuka komunikasi dengan orang yang belum dikenalnya; tidak tahu bagaimana caranya melompati parit; dan lain-lain, dan secara akademis hanya sedikit menonjol pada pelajaran Bahasa Indonesia. Eh, setelah tidak masuk sekolah lagi, beberapa kali ia menemani ibunya ke sekolah. Pada beberapa kali kesempatan tersebut, ia tidak berani ke luar mobil dan di dalam mobilpun seraya nyungsep di sela-sela jok. Nungging.

Apa yang cuma ada di SDHT terkait dengan Haifa? Karena kondisi psikologisnya, sekolah dengan orangtuanya bersepakat bahwa Haifa belajar di rumah. Waktu itu kelas 5 dan Haifa baru satu tahun lebih belajar di SDHT, jadi hampir satu tahun Haifa belajar di rumah. Siapa yang mengajar? Yang mengajar adalah guru-guru SDHT yang punya jam kosong. Maksudnya, kalau di hari Senin jam pertama bu Dwi tidak ada jam mengajar maka ia akan diantar jemput dari sekolah ke rumah Haifa. Berikutnya di jam ketiga bu Dwi ngajar, maka bu Aty yang kosong menggantikannya. Begitu terus kami layani Haifa selama tidak mengambil keputusan keluar dari SDHT. Oh ya setengah perjalanan selanjutnya hanya bu Aty yang mendampingi Haifa. Haifa kembali bergabung dengan teman-temannya pada saat mengikuti EBTANAS.

Lulus dari tingkat dasar, Haifa diterima di Tsyanawiyah Asih Putera. Di sini Haifa hanya bertahan 3 bulan. Eh, kejadian ini membuat saya dan teman-teman kembali mendampingi Haifa. Kali ini dengan konsep Sekolah Rumah. Baru di tahun ketiga perjalanan Sekolah Rumah Kyoku Mama lahir SMP Semesta Hati. Inilah sekolah yang menjadi payung bagi beberapa komunitas homescholler. Di sinilah tempat berkumpul dan nyaman anak-anak seperti Haifa.

Categories: SekolahKu

100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (6): Cerita Terkait Guru

March 20, 2011 Leave a comment

Apa yang luar biasa dari guru SD Hikmah Teladan? Ketulusannya untuk menghargai keragaman dan menerima anak apa adanya. Ada kasus beberapa anak yang ‘dibuang’ orangtuanya, juga keluarga penggantinya. Suatu kesempatan anak itu membuat masalah besar yang membuat malu keluarga, berupa rangkaian kejadian yang berpuncak pada tagihan ke sekolah hutang pembelian mainan sejumlah lebih dari tujuhratus ribu rupiah. Keluarga berlepas tangan dan mencelanya. Guru (MK) dan kepala sekolah menerimanya begitu saja, kemudian menyelusuri objektif kejadiannya. Seperti biasa anak itu masuk ke lingkungan sekolah dengan melenggang. Dan, anak ini sekarang seringkali terdengar mengisi waktu menjelang salat dzuhur berjamah dengan membaca Al-Quran juz 30 yang telah dihafalnya. Inilah beberapa pengakuan, kenyataan dan cerita guru SD Hikmah Teladan:

27. Tidak Pernah Berseragam Padahal Ada Baju Seragam Guru

Gosipnya sih karena baju seragamnya tidak keren. Saya rasa dampaknya besar. Anda bayangkan saja kalau pada saat upacara bendera pun guru-guru tidak memakai seragam! Saya berharap 2 hal:

1) Perguruan membuatkan seragam yang keren. Seragam yang keren tentu saja artinya bahan yang berkualitas dan motif yang menarik. Model? Silahkan guru menentukan sendiri sesuai seleranya. Setiap guru membawa kain dan uang ongkos jahit. Bila ini terjadi, maka sekolah dapat memberlakukan penggunaan seragam pada hari-hari tertentu (tidak lebih dari 2 hari dalam seminggu) sebagai peraturan sekolah. Berarti kita punya hal yang sangat kuat untuk mengajarkan melalui teladan tentang menghormati peraturan, mekanisme penegakan peraturan, kerelaan mendapatkan sangsi dan lain-lain.

2. Jika yang pertama tidak terjadi, dan nampaknya kemungkinan besar tidak terjadi, guru-guru yang tidak berseragam menjadi teladan bagi anak-anak untuk tidak berseragam. Meneladani gurunya, seharusnya anak-anak berpakaian bebas full selama 5 hari. Mungkin karena alasan ini guru-guru tidak ada yang berani menegur anak-anak yang tidak mengenakan seragam, atau yang juga kerap terjadi, memakai seragam salah hari.

28. Tidak ada Pembatas antara Kepala Sekolah dengan Guru Bahkan OB

Di SD Hikmah Teladan semua lelaki dewasa dipanggil bapak dan perempuan  dewasa dipanggil ibu. Entah kenapa absensi OB dilakukan di ruang wakasek (yang merangkap jadi ruang tamu) sehingga pagi hari kerap terlihat mereka mengobrol santai. Secara umum, mudah bagi siapa saja untuk melihat para OB bermain dengan anak-anak.

Selain penggunaan kata “bapak” untuk memanggil mereka, penetapan bahwa keadaan dan urusan sekolah selama proses belajar tanggung jawab guru dan anak-anak telah menghindarkan para OB dari penglihatan (mereka sedang bekerja) sebagai ‘pembantu’ oleh anak-anak. Ini semua mempersempit, betul-betul mempersempit, anak-anak dan guru untuk “menyuruh-suruh” mereka.

29. Tidak Ada Senioritas

Guru baru bisa langsung menjadi manajer kelas, memang selalu terjadi. Guru baru langsung menjadi ketua panitia, pembina upacara, utusan sekolah dalam kegiatan pelatihan atau seminar, atau bagi para bapak guru baru menjadi khatib dan imam salat Jumat, hanya sekadar urusan kebagian giliran saja.

Ada kejadian yang sempat diprotes direktur perguruan, yaitu saat guru baru menjadi MC di acara yang dihadiri pejabat pemerintah setempat dan pengurus yayasan, salah menyebut nama ketua yayasan yang tidak lain ayahanda direktur Perguruan Darul Hikmah. Beruntung, bahkan inilah hebatnya SD Hikmah Teladan, tidak mengubah kebiasaan memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk seperti anak-anak: Berani Gagal Berani Mencoba.

Yang memiliki potensi kuat untuk mendorong senioritas adalah kemampuan spesifik dari guru. Menjadi guru terkuat dalam suatu hal, adanya guru yang disepakati oleh sebagian besar guru untuk diandalkan dalam hal tertentu, menjadi penyebab senioritas terselubung. Tersebutlah adanya guru yang diandalkan untuk menjadi MC, menggaet sponsor; dianggap satu-satunya guru yang menguasai suatu hal (bisa mata pelajaran atau keterampilan), atau guru yang dinilai dan menilai diri sebagai guru yang paling kuat. Pada semua potensi ini, sekolah bisa saja dengan sangat mudah akan menyelenggarakan event yang biasa dipenuhi sponsor menjadi melarang kehadiran sponsor; menerima konsekuensi mutu yang lebih rendah dengan menugaskan guru dengan kemapuan rata-rata untuk memegang mata pelajaran yang dipegang oleh ‘satu-satunya’ guru ahli. Bagaimana ini bisa dilakukan?

Perlu selalu untuk ditegaskan bahwa yang membuat SDHT itu kuat adalah kekuatan kolektif yang menjadikan sekolah ini menjadi tempat terbaik untuk  anak merdeka. Bahwa anak-anak masuk tanpa syarat untuk menyeleksinya, kemudian guru-guru melindungi keunikan karakter setiap anak selama sekolah adalah kekuatan yang menentukan keberhasilan SD Hikmah Teladan. Kekurangan, bahkan kehilangan kemampuan spesifik seorang guru seperti disebut di atas, tidak pernah akan berpengaruh signifikan. Jadi, santai sajalah.

30. Pada peringatan Hari Guru, Guru-guru SDHT Ditraktir Nonton dan Makan oleh Pihak Sekolah

Nonton filem apa? Filem apa yang sebaiknya ditonton? Biarlah mereka yang menentukan. Ijinkanlah para guru menonton filem apapun. Bareng-barengnya kok yang penting. Bersenang-senang bersama-sama rekan, ini yang perlu diberikan kesempatan. Bila Anda melihat kegembiraan mereka saat-saat seperti itu, itulah yang setiap hari disaksikan guru-guru, tepatnya dihadiahkan oleh anak-anak kepada mereka, dan menjadikan mereka kuat, bersabar, tulus menghadapi anak-anak.

31. Jadwal Penyambutan Anak oleh Guru di Gerbang Sekolah Dilakukan Bergilir

Setiap hari guru yang menyambut anak bisa lebih dari 7 orang. Di beberapa sekolah lain juga dilakukan. Tapi bila ada jadwal piket penyambutan anak, mungkin cuma ada di SD Hikmah Teladan. Karena dijadwal dan absensinya menjadi salah satu bahan penilaian kinerja, maka ada guru yang sekalipun dari waktu penyambutan sekitar 30 menit hanya bersisa satudua menit, tetap melakukan penyambutan.

Anak-anak SD Hikmah Teladan terhitung sangat banyak yang menetapkan kegiatan ini sebagai hanya ada di SD Hikmah Teladan. Ritual penyambutan adalah salam seraya anak menyium tangan guru-guru. Saya sempat berseloroh dengan hal ini, khususnya untuk anak-anak kelas 5 dan 6 yang pada umumnya sudah masuk usia baligh. Bukankah bagi mereka “haram” bersentuhan dengan bukan muhrimnya? Bagaimana sementara beresentuhan tidak boleh, menyium tangan guru ditradisikan? Cuma seloroh kok.

32. Murid Memanggil Guru dengan Julukan

Saya mengetahui hal ini dengan jelas karena guru yang pertama merelakan dirinya dipanggil dengan nama yang hanya biasa dipergunakan oleh guru-guru lainnya adalah manajer kelas anak saya selama kelas 5 dan 6. Mister Gobin, itu nama panggilan Erik Hilalluddin. Sampai saat ini saya belum tahu bagaimana asalnya muncul panggilan itu dan apa artinya.

Nama yang kini jadi Koordinator Ruhiyah ini, dikenal egaliter. Saya juga mengetahui akan kecenderungannya dekat dengan pemikiran Islam Liberal. Di majalah sekolah pertama pembelaannya terhadap Islam Liberal dimuat. Kini, saat Ahmadiyah menjadi pembicaraan, bahwa pikirannya dekat dengan Islam Liberal cukup kentara. Guru yang juga pengagum Gus Dur merupakan salah satu guru yang sangat kuat kapasitasnya untuk mengajar dengan memberikan kebebasan pada anak-anak. Menurutku, mungkin ia bukan berfaham Islam Liberal, melainkan sangat menghargai kebebasan berpikir. 

33. Banyak Guru yang Berjualan di Ruang Guru Sehingga Meja Mereka Bisa Berfungsi sebagai Lapak

Selain cukup banyak yang terlibat, para bapak guru juga terlibat. Jadwal tawar-menawar dan jual beli pagi hari berakhir pukul 08.00. Sampai pukul 07.30 manajer kelas masih terlihat dalam keramaian. Setelah ini biasanya yang tersisa adalah para tutor, guru bidang studi dan teman-teman pengajar Ruhiyah. Yang dijual bisa apa saja, termasuk pakaian dalam ibu-ibu. Sumpah deh suatu kali saya menangkap basah transaksi bra warna hitam.

Kenapa tidak dilarang? Mungkin saya balik bertanya, kenapa dilarang? Kepala sekolah menyampaikan penjelasan yang mengejutkan, katanya, itu adalah mekanisme pertahanan diri teman-teman terkait dengan gaji yang masih jauh dari memadai. Bersyukurlah kami seharusnya karena mereka memutuskan membuka lapak di ruang guru dan bukan pindah mengajar di tempat lain. Atau, ini berbahaya, mengajar asal-asalan sesuai dengan besaran gaji.

Terdapat, akhirnya, kesepakatan terselubung bahwa teman-teman boleh menggunakan aset sekolah selepas kewajiban mengajar dilakukan. Misalnya, sekelompok bapak-bapak yang biasa pulang sekitar magrib untuk menggunakan internet, tidak pernah akan dipermasalahkan. Dalam hal ini saya juga bisa membantu teman-teman dengan cara menghindarkan adanya pekerjaan guru yang harus dikerjakan setelah jam belajar usai, apalagi sampai dibawa ke rumah.

34. Banyak Guru yang Mengisi KBM dengan Menugaskan Siswa  Mewawancarai Rekannya

Mungkin Anda menduga ini berkaitan dengan kompetensi melakukan wawancara. Bukan hanya itu. Suatu kali anak-anak bergiliran menanyakan arti sebuah istilah. Lain waktu menanyakan asal daerah terkait dengan pelajaran IPS. Teman-teman di administrasi ditanyai tugas mereka apa saja. Banyak pokoknya.

Saya masih ingat beberapa guru yang sudah terganggu dengan anak yang kerap mengetuk pintu dan minta ijin untuk mengajukan pertanyaan, “Apa contoh perilaku rendah hati?” Setelah mendapat jawaban ia pun permisi. Kan belajar harus dilanjutkan ya?

35. Guru-guru yang Menikmati pada Setiap Pergantian Pelajaran Dijemput Beramai-ramai oleh Siswa

Entah, memang entah punya pikat apa ruang guru itu. Sepertinya kalau sudah duduk berkumpul di ruang guru, jadi malas beranjak. Tentu saja beberapa guru yang disiplin, begitu waktunya mengajar maka ia bersegera ke ruang kelas. Titik.

Mungkin bukan gurunya melainkan anak-anak saja yang kerajinan. Mereka lah yang ingin bermanja-manja dengan gurunya. Saya kira kenyataan tidak adanya ruang yang tidak boleh dimasuki anak-anak dan penggunaannya sebagai tempat mengobrol sesama rekan, bisa jadi mempopulerkan keasyikan ruang guru. Pembicaraan santai yang paling menarik tentu saja menggosipkan anak.

36. Setiap Lokakarya Guru-guru (juga Karyawan) Mendapat Buku Gratis tentang Pendidikan

Pada lokakarya menjelang semester 2 tahun 2010/2011 buku karangan Utomo Danandjaya, “Media Pembelajaran Aktif” terpilih menjadi buku guru. Teman-teman yang kentara responnya terhadap buku ini adalah guru-guru Ruhiyah. Beberapa kali koordinatornya menekankan pentingnya buku ini, termmasuk ketika di Forum Paralel. Beliau kerap mengatakan, “Timur kaya dengan konten, Barat kaya dengan metode”. Pelajaran Agama, juga hulunya Departemen Agama Republik Indonnesia, memang ketinggalan dalam penggunaan dan pemanfaatan berbagai metode pembelajaran.

37. Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah Dipilih dari Guru, Menjadi Guru Kembali Setelah Masa Jabatan Berakhir

Masa jabatan kepala sekolah SD Hikmah Teladan 2 tahun. Maksimal menjabat adalah 2 periode. Kepala sekolah yang menjabat 2 periode berarti mendapat penilaian baik dari manajemen (dan guru-guru). Baik untuk yang menjabat 1 periode atau 2 periode, setelah masa jabatan mereka berakhir, mereka kembali menjadi guru. Pak Zainal, kepala sekolah sebelum pak Rahmat kepala sekolah saat ini, menjadi guru kelas 3. Saya tidak pernah bertanya secara langsung bagaimana perasaannya, tapi kelihatannya enjoy saja sih.

Karena pak Rahmat akan mengakhiri periode keduanya, siapa kepala sekolah berikutnya? Pada umumnya sulit di SD Hikmah Teladan mencari orang yang mau jadi kepala sekolah. Persisnya kenapa tidak tahu. Padahal bagi kami di manajemen juga sulit mencari kandidat. Saat fit and proper test yang paling sulit dihadapi teman-teman adalah keharusan tetap menghargai keragaman guru. Ini berat karena keragaman guru di SD Hikmah Teladan mendapat ruang yang utuh dengan konsep otonomi guru dalam mengelola kelas. Tidak boleh manajemen, guru lain, orangtua, pun kepala sekolah mengintervensi kelas. Dengan demikian secara umum, bagi guru yang memiliki karakter terlalu kuat mengarahkan yang dipimpin pada dirinya dan seperti dirinya, kecil kemungkinan dapat menjadi kepala sekolah SDHT.

38. Daftar Peserta Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil

Guru SDHT yang ikut seleksi pegawai negeri sipil diketahui secara terbuka, dan memang dipersilahkan sebagai hak pribadi. Bagaimana tidak diketahui terbuka kalau kepada mereka diedarkan form:

YTH Bapak/Ibu

Guru SD Hikmah Teladan

Sehubungan dengan sedang diadakannya seleksi PNS tahun 2010, maka diharapkan Bapk/Ibu dapat menuliskan informasinya dengan mengisi form yang sudah disediakan.

Terimakasih

Ada 23 yang menyatakan ikut. Tentu saja masalah kesejahteraan menjadi alasan utamanya.

Sikap manajemen campur aduk. Kadang kita dibuat sebal. Kadang khawatir karena dapat kehilangan guru-guru yang kuat. Kadang berdoa untuk guru yang sangat sulit berubah melalui lingkungan SDHT. Berdoa semoga berubah oleh lingkungan lain yang mencukupi kesejahteraannya.

39. Para Pegawai Negeri Sipil

Ada 3 guru yang sudah menjadi PNS yang masih mengajar di kegiatan pengayaan kelas 6 pada hari Sabtu. Bahkan bu Nia yang menjadi dosen ITB jurusan Matematika, bukan hanya mengajar di hari Sabtu, tapi sampai saat ini masih menjadi tempat curhat mantan anak-anak kelasnya. Bahkan ibu dosen ini masih memberi les ke anak SD Hikmah Teladan yang dekat dengannya. Teman-teman para PNS melakukan semua ini, tentu bukan karena mengejar honor yang memang tidak seberapa, melainkan karena kecintaan pada anak-anak dan keinginan mengambil peran untuk kesuksesan SDHT.

Ternyata kalau para PNS yang bapak-bapak bukan cuma mengajar di hari Sabtu, tapi seminggu sekali mereka footsal. Malah pak Yayan yang biasa dipanggil Yansen termasuk salah satu peserta aktif touring. Lain lagi pak Anwar yang menjadi dosen di UIN Sunan Gunung Djati yang biasa menjadi langganan untuk berceramah mengisi perayaan hari besar Islam.

Siti Nurelah lain lagi. Berselang beberapa bulan dari diterimanya sebagai PNS, beliau menyekolahkan anaknya yang pertama di SDHT. Akibatnya, inilah orangtua yang paling sering nongkrong di ruang guru.

40. Semua Anak Guru dan Yayasan Sekolah di SDHT

Semua guru, administrasi dan keluarga yayasan menyekolahkan anaknya yang sudah masuk usia sekolah di SD Hikmah Teladan, bahkan guru yang sudah diterima sebagai PNS pun. Bagi guru yang masih mengajar selain tidak dikenakan biaya uang pangkal, juga hanya membayar SPP sebesar 60%. Bagi kami ini tentu saja lumayan besar. Untuk tahun ajaran 2011/2012 ada 3 anak, termasuk anak saya yang ketiga, plus 2 anak pengurus yayasan. Ketua komite sekolah juga memasukkan anaknya yang ketiga ke SDHT, berarti sama seperti saya, ketiga anak kami satu almamater. Sementara anak baru yang kakaknya lebih dahulu ada di SD Hikmah Teladan jumlahnya sekitar 30-an siswa.

Ada perbedaan yang sejauh ini masih berlaku dalam hal kemampuan anak untuk membedakan antara rumah dan sekolah, antara kedudukan orangtua dan guru. Anak-anak dari para bapak guru ketika di sekolah dapat sepenuhnya menjadi siswa, menjadi anak gurunya, sedangkan anak para ibu guru tetap saja menempatkan ibunya (termasuk panggilan) untuk berperan sebagai ibu. Bila sakit, ibunya yang dicari bukan rame-rame diantar teman-teman ke UKS. Bila memiliki kebutuhan terkait kegiatan belajar juga kerap yang dicari ibunya.

41. Ada Guru yang Tidak Pernah Ikut Forum Guru pada Setiap Hari Senin dan Rabu

Tidak ada peraturan yang terlalu ketat diberlakukan untuk guru-guru. Peraturan disampaikan bisik-bisik.

Ada peraturan guru dilarang membawa anak ke sekolah, apalagi sambil dibawa mengajar. Tapi seorang guru yang sudah mengusahakan mencari pengasuh dan mencoba anaknya masuk play group pun gagal, selama berbulan-bulan mengajar dengan membawa anaknya. Dalam beberapa kesempatan saya menyaksikan gadis kecil berambut keriting itu malah mendapatkan pengasuh dari murid SDHT yang senang padanya. Namun demikian si Ibu juga harus menerima, karena dibakar api cemburu, anaknya jadi bulan-bulanan kemarahan ABK yang didampinginya.

Namun demikian kalau hampir dalam kurun tujuh tahun seorang guru tidak mengikuti forum yang diwajibkan mengikutinya, apakah sekolah masih tetap ada? Pertama, sepengetahuan saya, guru dimaksud tidak pernah tercatat melanggar visi misi sekolah. Bila misi sekolah berbunyi “Menumbuhkan anak yang penuh percaya diri dan berkembang menjadi dirinya sendiri melalui pemberian rasa aman, penghindaran dari celaan dan cemoohan, serta pemberian keleluasaan untuk berekspresi dan bereksplorasi”, ia tidak pernah diketahui mencela dan mencemooh anak. Pelajarannya juga diikuti dengan baik dan bahkan anak-anak biasa berebut menuju tempat di mana ia menunggu untuk mengajar. Jadi, biarkan saja ia melakukan yang diinginkannya karena sudah dipastikan tidak merugikan anak-anak. Marilah berdoa agar ia sampai pada kehadirannya di forum guru.

42. Guru yang Dipinjamkan sebagai Kepala Sekolah Selama 2 Tahun

SD Hikmah Teladan sudah harus mengambil peran mempengaruhi yang lain, atau setidaknya mendukung sepenuhnya mereka yang berkeinginan memiliki sekolah yang memberikan kebebasan berekspresi kepada anak. Karena menegaskan tidak membuat cabang dan menolak waralaba, maka magang yang mempersilahkan orang membongkar SDHT dan kegiatan pendampingan masyarakat di pelosok Jawa Barat yang dilakukan sekelompok guru yang dipelopori guru-guru SDHT menjadi alternatifnya. Satu lagi yang baru kami ingat adalah mengijinkan (tentu tanpa biaya) guru SDHT yang sudah ‘jadi’ menjadi kepala sekolah di sekolah baru atau sekolah lain yang bersedia menjajaki ‘hutan belantara’ pengelolaan kebebasan ekspresi anak. Perlu diketahui bahwa ketika guru ini kembali ke SD Hikmah Teladan, maka ia kembali seperti biasa menjadi guru tanpa pengurangan masa kerja. Mungkin yang bisa berkurang atau bertambah adalah besaran gaji. Kan biasanya berbeda gaji kepala sekolah dan guru.

43. Para Guru Menjadi Petugas Lengkap Upacara Perdana di Awal Tahun Ajaran Baru

Tiada tara bahagianya saya dengan hal ini. Saya senang membayangkan sebagai siswa: bertepuk tangan, meniru-tiru suara dan gerakan guru, saling berbagi komentar dengan teman-teman, dan bersorak saat guruku beraksi sebagai petugas upacara. Aku juga bisa menertawakan guruku yang melakukan kekeliruan.

Saya mengingat ketika di sebuah kelas diadakan lomba deklamasi, yang menjadi juri bukan guru melainkan anak-anak. Guru juga bukan jadi pengamat. Guru hari itu jadi peserta. Keputusan juri yang tidak bisa diganggu gugat menyatakan bahwa sang guru juara ketiga pun tidak.

44. Menikah di Sekolah

Sudah ada 3 orang guru menikah di sekolah. Yang pertama menikah di depan perpustakaan. Yang ketiga menikah di aula dan akadnya dilangsungkan di masjid SD Hikmah Teladan. Kalau saya belum menikah, sungguh saya akan menikah di SDHT. Bangunan SDHT dan juga belakangan aulanya dibangun dari uang pangkal. Semua guru tentu saja memiliki jasa yang besar terhadap keberadaannya. Gratis? Sudah pastilah.


Categories: SekolahKu

100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (5)

March 7, 2011 2 comments

22. Warna Sampul Buku Tulis

Ada 7 warna untuk sejumlah mata pelajaran. Buku tulis IPA berwarna merah. Putih sesuai dengan kecenderungan keinginan kita untuk mewakilkannya: putih. Bahasa Indonesia entah kenapa sampul buku tulisnya berwarna coklat. Sampul kado untuk mata pelajaran Matematika. Bahasa Sunda dengan sampul kuning. Hijau untuk bahasa Inggris. Ini mungkin, kalau yang lain terjadi di sekolah lain, yang dapat dipastikan hanya terjadi di SD Hikmah Teladan: IPS, PK, PKn semuanya menggunakan sampul koran. Hmm, pas banget ya kalau musik dan KTK memakai sampul kalender.

IPS, PK, PKn disamakan sampulnya kemungkinan idenya dari kelas bawah. Ketiga mata pelajaran ini memang disatukan. SD Hikmah Teladan, ah maksud saya guru kelas 3 mendapat tugas dari saya untuk menyatukan ketiganya. Penyatuan yang tidak jelas karena selain boleh menghilangkan kompetensi dasar yang tidak kuat, boleh menambahkan kompetensi yang dianggap lebih bermanfaat, dan tidak selalu dijadikan rujukan. Seperti anak-anak mempertontonkan kepada kami, berani mencoba itu tidak takut gagal.

23. ‘Buku Paket’ dari 15 Penerbit

Buku paket yang dipakai sebuah sekolah berasal dari 5 penerbit saja, bagi sekolah pada umumnya sudah banyak, apalagi sampai 15. Kanisius, Gramedia, Erlangga, Mizan, Tiga Serangkai, Interaksara, Grasindo, Yudistira, Tinta Mas, BSE, Lafaz Books Indonesia, Fitrah Insani, Intan Pariwara, Love You Before and After saya lupa penerbitnya, dan buku Matematika penerbit dari Singapura adalah 15 penerbit yang bukunya digunakan SD Hikmah Teladan tahun ini. Frase “tahun ini” perlu dinyatakan karena masih ada beberapa penerbit lain yang bukunya pernah kami gunakan pada tahun-tahun sebelumnya.

Setiap tahun buku-buku yang digunakan di SD Hikmah Teladan bisa berubah. Hal ini berkaitan dengan rotasi guru yang relatif luas. Ada rotasi atau pergantian level. Tahun ini pertukaran posisi berlangsung menyeluruh. Misalnya, Ema yang sejak tahun awal mengajar sebagai Guru Ruhiyah sesuai latr belakangnya, tahun ini menjadi manajer kelas; Dwi yang tak pernah berubah status sebagai tutor (biasa juga disebut helper, pendamping ABK) tahun ini menjadi manajer kelas; Zazuli yang seumur-umur jadi guru Musik mmenjajgi sebagai mmanajer kelas 5; Erik Hilalludin dari manajer kelas menjadi koordinator Ruhiyah, dan lainnya. Nah, guru yang berbeda memiliki keinginan dan pilihan yang berbeda. Jadi wajar saja kalau terjadi perubahan buku yang digunakan setiap tahunnya.

24. Setiap Guru Menentukan Sendiri Buku ‘Paket’ yang Digunakannya

Sejak dari awal pembelian buku paket dilakukan oleh koperasi sekolah. Keuntungan dari pembelian juga diterima koperasi, bukan langsung pada guru-guru. Berkaitan dengan buku rujukan masih ada keterlibatan Litbang SD Hikmah Teladan. Mekanisme ini membuat pengambilan keputusan yang dilakukan guru cenderung objektif.

Apa yang Anda pikir kalau pelajaran Matematika kelas 1 memakai buku dari Singapura, kelas 2 menggunakan buku terbitan Tiga Serangkai, Kelas 3 tahun ini memakai buku dari penerbit Erlangga, kelas 4 dan 5 dengan penerbit Yudhistira, kemudian kelas 6 memakai buku dari Grasindo? Kalau sudah berkaitan dengan KBM guru-guru menikmati jadi tuan. Masalahnya penentuan siapa menjadi guru apa atau mengajar di kelas berapa baru ditentukan saat lokakarya yang berlangsung di waktu libur panjang selepas pembagian raport, artinya, kebanyakan buku pegangan anak ditentukan saat kegiatan belajar sudah berlangsung. Saya pernah mengantisipasi hal ini dengan cara menentukan buku yang akan dipakai tahun ajaran baru dengan meminta pertimbangan atau mendiskusikan dengan guru yang masih mengajar mata pelajaran terkait. Apa yang terjadi? Saya diprotes. Saya kemukakan alasannya. Tersebutlah betapa keutuhan sebagai orang yang diberikan amanah itu sangat menyenangkan.

25. Saung Lisung

Ada 3 buah berderet. Berupa panggung tanpa dinding. Tanpa dinding menjadi pembeda utama dengan bangunan permanen yang disebut kelas. Posisinya di pusat SD Hikmah Teladan. Sebelah timurnya ruang kepala sekolah dan kantor. Sebelah utara kelas yang berjajar. Kalau saya menghadap ke utara atau tepat menghadap ke perpustakaan, maka sebelah kiri ada kantin dan lapang bola, sebelah kanan ada lapang kecil dan kebun pemilik sekolah.

Kini Saung Lisung menjadi tempat umum yang bisa dipakai oleh siapa saja dan untuk kegiatan apa saja yang memungkinkan. Sekitar 4 tahun awal dari keberadaannya, Saung Lisung menjadi tempat favorit belajar mengaji. Karena mengaji berlangsung setiap hari, maka saung digunakan sebagai aktivitas dan suasana ‘jeda’. Anak-anak belajar dengan keluar dari kelas, juga berganti guru. Di Saung Lisung anak-anak menikmati tempat terbuka dan asupan oksigen yang lebih segar. Memang banyak alasan yang membuat anak-anak menjadikannya tempat alternatif favorit untuk belajar. Ini masih dugaan, keberadaan Saung Lisung membuat anak-anak SD Hikmah Teladan mudah keluar masuk kelas.

Sejak kantin dipindahkan bersebelahan dengan Saung Lisung, fungsinya berubah 180 derajat. Saung Lisung menjadi tempat ibu-ibu yang menunggui anak, anak-anak menikmati jajanannya, ibu-ibu arisan, suatu kali dapat menjadi lapak. Masih sih Saung Lisung digunakan untuk kepentingan anak-anak, yaitu saat orangtua menggunakannya sebagai tempat untuk pertemuan POM (persatuan orangtua murid) atau komite sekolah. Namun demikian sudah teramat jarang ada guru yang mau menggunakannya sebagai tempat belajar mengajar.

26. Ruang Komputer di Jam Istirahat

Sudah lumrah saat ini sekolah dasar dengan kelengkapan komputer, ruang komputer atau laboratorium komputer. Begitu juga SD Hikmah Teladan. Yang berbeda adalah pemakaiannya. Anak-anak SD Hikmah Teladan memakai sudah masuk ke ruang komputer sejak kelas 1. SD lain juga ada yang begitu! Lalu apa ya yang hanya terjadi di ruang komputer SDHT?

Ruang komputer yang pertama menempati ruang kelas 1 Badar saat ini. Rasanya kecuali server, semuanya komputer bekas. Kepada komputer bekas kekhawatiran kami terhadap keamanannya lebih rendah. Bila tergores oleh pensil anak tidak terlihat karena kotor sebelumnya lebih dari goresan. Bila monitor menjadi buram atau mati segera dimaklumi karena keujurannya, bukan kemungkinan oleh tingkah anak yang overacting. Jadi, berbeda dengan penggunaan Lab. Bahasa yang baru boleh setelah anak kelas 3, Lab. Komputer sejak awal sudah dapat digunakan kelas 1. Begitu juga dengan anak-anak berkebutuhan khusus dipersilahkan tanpa diskriminasi apapun. Bahkan karena di antara mereka ada yang lebih banyak di luar kelas, mereka kerap mencuri-curi kesempatan masuk ke ruang komputer.

Yang mencuri-curi kesempatan tidak hanya ABK dengan waktu luangnya, melainkan juga anak-anak dengan minat khusus pada komputer yang kerap menggunakan waktu istirahatnya untuk menggauli komputer. Tingkah anak dengan minat khusus ini beragam, salah satunya adalah anak yang kerap membongkar password komputer server lalu menginstall program-program yang dia inginkan di server. Selain jam istirahat, ruang komputer mmenjadi tempat umum pada jam pulang sekolah. Malah kali ini guru-guru dan anak-anak berbaur.

Sekarang komputer kami sudah keren. Tapi kenyataan bahwa ‘budaya’ kami dengan komputer bekas masih berlaku sampai saat ini, inilah yang keren habis. Inilah yang cuma ada di SD Hikmah Teladan. Saya sungguh mensyukurinya. Tentang Lab. Bahasa sendiri karena dibuat sebagai tempat yang menyeramkan, propertinya cepat rusak dan pemakaiannya jarang. Sikap demikian di SD Hikmah Teladan bisa berdampak, seperti peribahasa mengatakan, sudah jatuh tertimpa tangga.

100 Hal yang Hanya Ada di (Kelas 1) SD Hikmah Teladan (4)

February 28, 2011 7 comments

16. Menjadikan Kelas sebagai Tempat Paling Nyaman untuk Berekspresi Bebas

Target nomor 1 alias target utama yang harus dicapai guru kelas 1 adalah menjadikan kelas sebagai tempat paling nyaman untuk berekspresi bebas. Sebagian besar pendidikan anak sekarang dipenuhi target. Selanjutnya stigma berkaitan dengan target-target tersebut. Sebagai sekolah (dengan visi) “Menjadi sekolah terdepan dalam menerapkan konsep pendidikan anak merdeka” maka yang utama bagi kami bagaimana anak-anak menikmati dirinya apa adanya. Tidak boleh ada halangan apapun untuk berekspresi, termasuk target-target, terutama stigma.

Apakah anak yang diterima di sini harus sudah bisa membaca? Ditanya seperti ini saya kerap menjawab, kalaupun memang dibikinkan syarat untuk masuk SD Hikmah Teladan, syarat itu adalah anak belum bisa membaca, belum bisa menulis, pendiam, superaktif, pembuat onar, atau yang lainnya yang tidak termasuk perilaku atau kemampuan normal. Yang normal, yang penurut, sudah pintar, sangat baik, biarlah di sekolah Islam Terpadu atau di sekolah negeri.

Target ini harus dicapai karena di kelas 2 sampai 6 anak-anak SD Hikmah Teladan harus mengevolusi diri menjadi anak yang menikmati kebebasan (kemerdekaan) berekspresi dan memperluas jangkauan ekspresi kebebasannya. Perhatikan amanah dari Misi SD Hikmah Teladan yang ke-2: Memelihara kemerdekaan anak dan memperluas jangkauan kemerdekaanya seiring tumbuh kembang yang dilalui anak. Jelas kan kenapa target utama di kelas 1 demikian?

SD Hikmah Teladan memastikan setiap anak naik kelas, jadi tidak dimasalahkan kalau ada guru yang menyisakan beberapa anak yang naik kelas 2 belum bisa baca, tulis, berhitung. Lah anak di kelas 5 saja ada yang belum lancer membaca tidak dimasalahkan, kenapa di kelas 1 dimasalahkan? Tapi sungguh dipermasalahkan kalau ada anak yang pemalu, pendiam, murung, atau selama di kelas 1 seratuspersen baik. Beda sekali anak yang pemalu dan anak yang malu-maluin. Yang berekspresi bebas itu anak yang malu-maluin, dan yang pemalu lah yang terkekang ekspresinya. Jadi, bila ada guru yang menyisakan anak pemalu, penakut, selalu mengalah, tahun ajaran berikutnya tidak akan direkomendasikan kembali menjadi guru kelas 1.

17. Belajar Membaca dengan Membaca Nyaring Bersama-Sama

Namanya juga sekolah alternatif dengan pembiayaan yang sesuai untuk kelas ekonomi menegah, hampir 100% murid SD Hikmah Teladan terlebih dahulu masuk Taman Kanak-kanak, dan dengan demikian hampir 90% sudah bisa membaca sebelum menjadi murid kami. Namun karena di sini semua anak harus eksis, maka kami menjalankan metode membaca yang tidak memilah anak menjadi yang sudah bisa membaca dengan yang belum. Menjadi minoritas dengan pencitraan negatif pula (belum bisa membaca), sungguh keterlaluan kalau harus ditanggung anak seusia itu. Metode itu adalah membaca nyaring bersama-sama.

Bagaimana dengan anak-anak yang sudah bisa membaca? Tidak ada masalah apapun. Ambil kata-kata atau kalimat yang akan dibaca dari buku-buku yang menarik, kutipan dari buku-buku milik anak, dari buku koleksi perpustakaan kelas, akan menafikan kejenuhan. Apalagi membaca bersama-sama dengan menirukan atau menggunakan intonasi dan logat yang beragam. Wow, luarbiasa menyenangkan!

Menjadi alasan kuat untuk memustahilkan kejenuhan adalah juga program Wisata Buku. Program belanja buku bersama-sama semua teman kelas satu ini menjadi hal yang mengukuhkan alasan kita bisa membaca: mencintai buku! Semua mafhum betapa alasan ini tidak digubris. Artinya, anak-anak itu sungguh haus (atau kalau tidak, mereka perlu dibuat haus) untuk memiliki, bercengkrama, dan entah kapan akhirnya menjadi pembaca buku yang tekun.

Sampai kapan belajar membaca menggunakan metode membaca nyaring bersama-sama ini berlangsung? Jawabannya sampai semua anak bisa membaca. Mungkin selama di kelas satu, mungkin hanya beberapa bulan, mungkin dilanjutkan dilanjutkan di kelas 2.

18. Isi Tas Tanpa Buku

Hal yang belakangan saya ketahui tentang SD Hikmah Teladan adalah berbagai keseharian yang menjadi bukti keberadaan prinsip-prinsipnya. Salah satu di antaranya tentang isi tas anak-anak kelas 1: tempat minum/makan, tempat pensil dan/atau pensil (kadang ditinggal di sekolah), buku ABaTsa, mainan, buku tabungan. Isi tas yang aneh bukan? Tak diragukan ini cuma bisa terjadi di SD Hikmah Teladan.

Prinsip yang melatari isi tas demikian adalah keyakinan kami bahwa orangtualah yang membentuk karakter anak. Sekolah menjadi ruang demokratis bagi pertemuan keragaman karakter.  Tugas kedua sekolah adalah menguatkan kemampuan berpikir. Memajukan dan membela rasionalitas. Tidak ada yang bisa menjembatani perbedaan karakter dalam rentang waktu yang panjang dan dengan intensitas pertemuan seperti anak-anak di sekolah kecuali kemampuan berpikir. Di sekolah, pikiran yang terbuka lahir dari berpikir anilitik dan kritis. Kok jadi ngawur. Begini maksud saya, sudahlah jangan mengintervensi hal yang sudah jelas merupakan kewenangan orangtua. Begitu juga karena sukses itu lebih ditentukan karakter daripada pengetahuan akademik (IQ), marilah jadi sekolah yang tidak arogan dan kemaruk. Arogan karena kita mengatakan IQ lebih penting dari karakter sehingga masih membebankan urusan akademik ke rumah (orangtua). Arogan karena ketika agama, psikologi, budaya mengatakan yang membentuk karakter itu orangtua, sekolah masih berkepentingan melakukan peran yang sama. Berikutnya, kemaruk karena sudah semakin hari semakin banyak sekolah menggunakan waktu anak, kita masih mencuri waktu anak di rumah, waktu untuk bercengkrama, kesempatan orangtua membacakan buku untuk anaknya, menemani anak menonton televisi, mengaji di ‘surau’, diskusi keluarga.

SD Hikmah Teladan menegaskan pembeda urusan di rumah dan di sekolah. Kami berusaha terus belajar dan memperbaiki kualitas agar orangtua mempercayai kami untuk mengurus segala hal akademis dan cukup diurus di sekolah saja. Kami pun sangat mendorong komunikasi ‘bermakna’ terjadi antara anak dan orangtua (saat di rumah), dan anak juga memiliki kesempatan bergaul dengan lingkungan sosialnya. Pembeda kedua urusan ini sangat jelas bagi kami sedemikian sehingga segala atribut terkait sekolah dilarang dibawa ke rumah: buku pelajaran, buku catatan, bahkan banyak anak menyimpan alas tulis di sekolah.

19. Naik Kelas dengan Membawa Buku Cerita Karya Sendiri

Pelajaran Bahasa Indonesia (atau entah pelajaran Karakter, IPS atau PKn) kelas 1 memakai buku “Why I Love My Mummy”, ilustrasi oleh Daniel Howarth, penerbit Gramedia. Buku ini diberikan kepada anak-anak sekitar beberapa bulan akhir tahun ajaran. Namun sejak awal anak-anak melakukan banyak kegiatan yang berkaitan dengan hubungan mereka dengan orangtuanya, mengerjakanworksheet sehubungan tema, dan berkegiatan yang membuat anak senang dan bisa membuat buku: menulis bebas, mengomentari gambar, menggambar, menghias buku.

Di bulan-bulan terakhir buku “Why I Love My Mummy” sudah diberikan kepada anak-anak. Selama sebulanan buku ini dibaca, dibicarakan dan menjadi ‘isu’ kelas. Baru sebulan terkahir, biasanya, anak-anak mengerjakan proyek bukunya. Disebut bukunya karena “I” di sana berubah menjadi aku setiap anak dan “My Mummy” menjadi ibu masing-masing. Hai, mereka bikin buku dan itu autentik sungguhlah luar biasa.

Beberapa tahun sebelumnya hal yang sama pernah kami coba namun anak-anak hanya mengomentari gambar-gambar lengkap sebuah buku (yang dicopy setelah dihapus teksnya) dan mewarnainya. Cara ini masih memungkinkan ada anak yang meniru temannya. Sekalipun demikian, kami melalui ini dengan penuh kebanggaan karena kami punya tanggung jawab sejarah untuk mmembuktikan bahwa melepas diri dari kurikulum (standar isi) dan buku paket itu telah membuat kami lebih keren.

20. Salat Dzuhur Sebelum Adzan Dzuhur Berkumandang

Saya juga terkejut pertama mendengarnya. Belum lho belum seminggu lalu. Saya juga heran karena 6 orang MK (manajer kelas) kelas 1 dapat bersepakat melakukannya. Alasannya (hanya) kalau mereka salat sesudah adzan terdengar apalagi menunggu adzan sampai selesai, mereka tidak sempat makan siang. Hmm…

Alasan teman-teman sangat logis. Anak-anak yang masih belajar, sedang sulit-sulitnya diatur memang dapat menyebabkkan waktu molor. Bila mereka memaksakan diri (dan ini kemungkinan hanya karena menghindar dipermasalahkan orangtua), mereka dapat betul-betul terlambat makan. Terus, habis istirahat harus mengajar lagi. Repot. Itulah sebabnya, mumpung salat bagi anak kelas 1 jela-jelas belum wajib, bagiamanapun juga tetap jauh lebih baik salat (sebelum adzan) daripada terlewat jam makan siang. Cuma ya itu kok enteng banget mereka mengambil keputusan.

21. Menjadi Petugas (Lengkap) Upacara Bendera

Motto “Berani Gagal Berani Mencoba” mendapat tempat peragaan mulai dari di kelas dengan Panggung Balok, antar kelas atau paralel kelas di Panggung Berani Mencoba di depan perpustakaan, kemudian anak-anak ditantang nyalinya untuk tampil di depan warga sekolah pada sewaktu upacara. Masih ada satu lagi, menjadi utusan sekolah dalam lomba-lomba yang diadakan di luar. Setiap anak selama di SD Hikmah Teladan harus, paling sedikit 1 kali, mengalami mewakili sekolah. Sebab itu, utusan lomba di SD Hikmah Teladan tidak boleh dengan maksud untuk kepentingan mendapat juara, melainkan pemberian kesempatan.

Pemberian kesempatan pada setiap anak untuk tampil di semua level panggung menyebabkan pergerakan evolutif yang lembut dari nyali anak-anak untuk tampil di depan umum. Terutama, penilaian umum bahwa banyak hal diberlakukan umum di SD Hikmah Teladan, membuat anak-anak kecil itu (anak-anak kelas 1) enteng saja mengambil peran seperti kakak-kakaknya. Berikutnya, satu hal lagi, sekolah ini bukan sekolah ‘prestasi’ melainkan sekolah kebebasan berekspresi.

Pokoknya berani dulu tampil.  Berani saja dulu, ini yang pokok.

Kenapa takut, tidak dinilai kok. Ayo berani, semua keberanian akan dirayakan.

Kenapa takut, semua teman menikmati penampilanmu. Ayo mencoba, biar kamu segera mengalami semua teman yang bangga padamu.

Kenapa takut dengan kegagalan saat itu disambut dengan senyum manis dan bukan tawa mengejek dan mempermalukan. Ayo tanpa persiapan baik pun maju saja, dan Kau segera “mengukir di batu” yang kelak diingat dalam perannya membuatmu kokoh.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.