Posted by: kusekolah | November 12, 2009

unjuk kerja kelas 2

Posted by: kusekolah | October 5, 2009

Kelas Kecil Pluralisme (1)

Saya sangat berhasrat mengelola sekolah dengan siswa yang beragam agamanya. Tanpa terasa Semesta Hati, nama sekolah itu, telah lebih satu tahun menjadi tempat berkumpul sekitar 25 anak, di antaranya siswa dengan orangtua beragama Katolik dan Kristen. Seperti pertanyaan Dika kelas VIII, “Kapan aku dapat memutuskan agama yang menjadi pilihanku?” ketika ia menemukan klaim kebenaran pada setiap agama, saya lebih senang mengkaitkan agama seorang anak yang belum dewasa sebagai agama orangtuanya.

Hari Minggu kemarin, dari sore sampai selepas Isha, yang  beragama Katolik, Dika sekeluarga, komplit menjadi tamu terhormat di rumahku. Mereka mengucapkan selamat Idul Fitri dan membawa sekian oleh-oleh. Eh, si ibunya malah dengan jelas mengucapkan, “Minal aidin wal faidzin. mohon maaf lahir dan batin”. Ini oleh-oleh yang membuatku terhenyak.

Terus-terang kusampaikan bahwa saya belum bisa seperti mereka. Jangankan berinisiatif berkunjung, sepertinya, misalnya saja  diundang ikut dalam suka cita Natal sekalipun, saya belum pernah mampu menghadirinya. Pada pernyataan “undangan suka cita Natal” saya belum bisa memisahkan antara memenuhi undangan yang dapat saya penuhi dengan mengunjungi rumahnya, bercerita tentang anak-anak, tentang sekolah, tentang pekerjaan masing-masing, atau seperti kemarin itu, tentang pergaulan anak-anak, persahabatan anaknya dengan anakku; selalu terikat pada hatiku bahwa yang lebih utama pada pernyataan itu bukan perihal undangannya melainkan perihal Natal-nya. Terasa betul bagaimana aku dibesarkan dengan serta-merta menyodorkan seribu telunjuk yang mengingatkanku bahwa memenuhi undangan perayaan tersebut sama dengan membenarkan Yang Dirayakan. Musyrik deh.

Kegalauan itu persis terkait bagaimana kudibesarkan. Saya kan sudah menunjukkan seharusnya bisa memisahkan antara memenuhi undangan sebagai kewajiban sosial dengan tak memenuhinya karena undangannya berkaitan dengan Tuhan yang berbeda, dengan ritual yang lain. Namun lain pikiran, lain hati yang bergelora dengan penolakan berdasar pandangan teologis. Ada kekhawatiran. Ah, muncul arogansi. Terkuak kelemahan diri (dalam  kompetisi sosial dan kultural) sehingga membabi-buta mencari pengutamaan diri dengan dalih teologis. Eh, kok jadi ke mana-mana.

Ada waktu sekitar 2 bulan untuk berpikir dan merenung tentang diri; diri yang tak lama lagi akan menerima undangan untuk berkumpul menikmati hidangan dan perbincangan di suatu hari, saat teman-teman Katolik dan Kristen, menyebutnya Hari Natal. Semoga kumau yang kutahu jadi bagian pengalaman hidupku.

Posted by: kusekolah | September 10, 2009

50 Kerudung untuk Korban Gempa Tasikmalaya

Jumat, 4 September 2009, pukul 21.45, saya mendapat telepon dari koordinator SPP Tasikmalaya bahwa kami tidak dapat masuk Cieceng. Mendadak memang. Kami sudah siap 100% dan waktu keberangkatan, di luar jam tidur dan jam kerja, hanya tinggal beberapa jam saja. Alasan yang disampaikanlah yang membuat kami tidak bisa kecewa, namun demikian persiapan yang sudah dilakukan pun mengharuskan kami tetap meneruskan perjalanan.

Cieceng Kembali Bergolak

Status tanah Cieceng sebagai tanah sengketa kembali diusik. Perhutani menggaet 100-an tentara untuk membuat ketakutan warga Cieceng dan bergerak melakukan pembusukan SPP. Mereka sudah sampai di desa yang hanya beberapa kilometer jaraknya dari Cieceng. Konflik sudah mendekat perbatasan.

Tentu saja semua teman siaga I, katanya sih hari-hari mereka lalui dengan kesibukan menyiapkan ‘peperangan’. Tanah ternyata memang darah. Mempertahankannya sama dengan menyelamatkan hidup. Sampai kudengar cerita memikat: Ini kan Ramadhan. Sehabis salat Isha kami biasa tarawih. Di Cieceng beberapa hari tersebut salat tarawih sempat dihentikan dengan alasan bahwa memperjuangkan hak terhadap tanah adalah wajib, sedangkan salat tarawih tak lebih sebagai sunat.

Selain untuk kepentingan pengambilan gambar bagi kegiatan Live In dan Tour of Charity, kami (para lelaki Walagri Aksara) senang sempat menangkap situasi Cieceng yang sedang sarat secara emosional. Betul, semua asa ini kami miliki sebelum gempa 7,3 skala Richter. Gempa yang berpusat di Tasikmalaya ini menghancurkan juga banyak basis (:di mana SPS melakukan advokasi kasus pertanahan) SPP, baik itu di Tasikmalaya, Ciamis, juga Garut. Mau tak mau, seluruh pengurus SPP terjun ke lapangan tanpa menyisakan seorang pun yang mungkin mendampingi kami  di Cieceng yang padahal demikian genting keadaannya.

Kesepakatan

Sahabat saya di Jakarta bertanya tentang apa yang bisa teman-temann Walagri Aksara bantu dengan kejadian 100-an tentara itu. Berhadapan, dalam pengertian berkonflik, dengan tentara sudah sewajarnya kita takut. Cuma orang-orang yang punya alasan mempertahankan hidup berhak untuk nekad. Dan, aku dengan teman-teman Walagri Aksara tidak dalam posisi itu.

Alasan kami terlibat dalam pusaran sengketa terutama pertimbangan strategis, yaitu bila betul konflik pecah menjadi ‘perang’ dan teman-teman, warga yang dewasa dan guru-guru terhalang menjejak kaki di Cieceng, muncul pertanyaan “Siapakah yang akan mengurusi anak-anak?” Berposisi tanpa dapat dibaca bahwa kami terkait dengan SPP akan membuat kami leluasa masuk ke Cieceng. Sesungguhnya perlu kami tegaskan, sejak awal keterlibatanku sampai kini aku melebur di Walagri Aksara, kami semata hanya mengurusi pendidikan. Walgari Aksara identik dengan pendidikan di pelosok, bukan terkait dengan advokasi sengketa tanah. Alasan paling kuat untuk hal ini, wah  aku tidak mumpuni secara pikir, ketangguhan jasmani, keteguhan hati untuk beraktivitas layaknya teman-teman SPP. Jadi, ya mau apalagi, bersepakatlah kami untuk sama-sama menjaga jarak dan kegiatan kami di Cieceng murni sebagai wujud kepedulian terhadap sesama yang kini sedang tertindas. 

Sumbangan Islamisasi

Kami akhirnya tidak jadi ke Cieceng  melainkan ke Taraju di mana ada basis yang cukup parah menanggung akibat gempa. Yang menarik, banyak bawaan kami tidak berubah termasuk dalam hal ini al-Qur’an, kerudung sebanyak 50 buah dan sarung 20 buah. Bawaan yang aneh kan. Bawaan lainnya, selain kopi, ditambahkan sengaja untuk kebutuhan daerah bencana.

Yang rada aneh mengenai kerudung yang merupakan sumbangan salah satu butik besar busana muslim.  Aku menyebutnya kerudung islamisasi. Mirip-mirip niatan dengan dimunculkannya perda syariah yang terjadi di beberapa tempat.  Aku sendiri menyamakan penyebutan islamisasi semakna kristenisasi. Permintaan dari pemberi agar kerudung, terutama, diberikan kepada mereka yang belum mengenakannya memang membuatku agak banyak meracau. Padahal bila disampaikan begitu saja pun rasa terimakasih mereka pasti mempermalukan kita.

Namun demikian, hai, kami dibuat terpana melihat kegembiraan mereka menerima kerudung. Aku jadi berpikir lebih jauh, betapa senangnya kalau mereka-mereka yang memiliki kapasitas meneguhkan hati, memaknakan kesabaran, dan membangun kebersamaan, yaitu para ulama, menjadi relawan yang menemani korban bencana. Puasa bersama mereka. Berbuka sambil membincangkan kedatangan para malaikat pada mereka yang berpuasa. Memimpin salat tarawih dan membacakan ayat-ayat tentang keutamaan salat bersabar, tadarus, atau entahlah.

Posted by: kusekolah | September 8, 2009

Model Pengelolaan Materi Akhlak (5): Nol Kurma = Surga

TAP (Tugas Akhir Pekan), kelas 1, 4 – 6 September 2009

dikerjakan bersama orangtua

Nol Kurma = Surga

I

Aisyah ra, istri Nabi Mkelas1-3uhammad saw, sedang di rumah. Seorang ibu dengan 2 putrinya yang tampak kumuh dan lesu mendatanginya. Kepada mereka diberikannya 3 butir kurma.

Hai, pembagian kurmanya kamu saja yang melakukannya!

Sang Ibu   : …………………………………. butir kurma

Putri ke-1 : ………………………………….. butir kurma

Putri ke-2 : ………………………………….. butir kurma

Menatap lekat kurma di tangan ibunya, 2 putri berebut mengambil bagian. kelas1-4Bergegas pula melahapnya. Kegembiraan jadi milik sang Ibu yang mengamati semua itu.

Hanya saja ketika sang Ibu hendak memakan kurma bagiannya, kedua putrinya merengek. Beliau berjongkok, di depan kedua mata putrinya, ia membagi 2 kurmanya.

Hai, pembagian kurmanya berubah kan?

Sang Ibu   : …………………………………. butir kurma

Putri ke-1 : ………………………………….. butit kurma

Putri ke-2 : ………………………………….. butit kurma

Mari kita lanjutkan kisahnya.

Aisyah ra menyimak semua kejadian dengan takjub. Dengan keinginan membanggakan Ibu itu, beliau menemui Rasulullah saw. Selepas penuturan istrinya, Rasulullah saw bersabda, “Niscaya Allah akan memasukannya ke surga atau membebaskannya dari neraka karena satu buah kurma tadi.” (HR. Muslim)

II

Gunakan halaman kedua ini untuk menceritakan tentang apa saja yang membanggakan dari orangtuamu. Ceritanya boleh kamu tulis, dibuat dalam bentuk komik, atau cerita bergambar.

Tidak mau bercerita? Gambar apa saja di halaman kosong untuk dihadiahkan kepada orangtuamu.

Selamat berakhir pekan. Selamat berjumpa dengan TAP pertamamu.

Litbang SD Hikmah Teladan

 

Harapan Sederhana

Tentu saja indah bila kebanggaan anak pada orangtua mengantarkannya bangga pada Rasulullah saw. Dari arah dorongan yang diberikan sekolah, tentu saja indah, sekadar membayangkannya pun, orangtua membacakan kisah, hikmah, atau hadis dan berdiskusi untuk menjadi saksi pada kebenaran, makna dan hikmahnya. Adakah TAP kali membuat sebuah rumah memperbincangkan hadis? Telah terjadikan kolaborasi anak-orangtua dalam menyelesaikan tugas dari TAP kali ini? Adakah orangtua yang khidmat mendengarkan anaknya membacakan kebanggaannya pada orangtua?

Hadis ini dieksplorasi berbeda antara kelas 1 dengan kelas 2-3 dan kelas 4-6. Ini bukan pengelompokan yang baku. Kelas 1 menempatkan anak dalam posisi Aisyah ra, yaitu sebagai sesama orang yang memiliki kebanggaan terhadap tindakan mulia. Tentu saja sangat penting bagi kita untuk sebanyak-banyaknya mengenali tindakan mulia. Dengan cara ini kita akan cerdas-akhlak. Apalagi yang digali terus adalah tindakan mulia yang dilakukan orangtua yang pada dirinya selalu melekat cinta, kasih dan sayang.

TAP kelas 2-3 mengajak anak-anak meneliti tindakan sang Ibu kepada kedua putrinya, yaitu mengutamakan dan mendahulukan kepentingan anak. Anak-anak bertugas mengumpulkan tiket ke Surga dari orangtuanya. Di kelas 2 dan 3 ini, anak-anak ditekankan untuk  membacakan jawabannya di depan orangtua masing-masing. “Tiket ke Surga ibu dan ayahku. Satu, pada waktu….” . Wow.

I

Mengapa melibatkan orangtua ke dalam komunitas sekolah perlu bahkan mutlak keharusannya? Saya memperhatikan siapa saja orangtua SD Hikmah Teladan yang ketika ada acara besar sekolah menyebabkan area parkir penuh sehingga meminjam pinggir jalan raya dan halaman parkir Bank Lippo: sekian doktor (beberapa dari luar negeri), banyak S2, pada umunya S1, beberapa penulis profesional, lumayan banyak wirausahawan, pegawai negeri, pekerja BUMN, ada anak yang masuk menggatasnamakan kakeknya yang profesor, aktivis LSM yang di antaranya sudah berkeliling dunia karena aktivismenya, para guru, pun politikus. Tuh kan kami hanya guru.

Hanya Guru Versus Belenggu Kurikulum

Sekolah-sekolah kita masih terbelenggu kurikulum. Intervensi negara (birokrasi pendidikan) sampai pada keseharian proses belajar, artinya, seperti saat pergantian Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan KTSP, ada begitu banyak kebijakan di luar kendali kita, kita hanya baut-baut dari mesin birokrasi. Kini pun, dengan penuh curiga, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada dunia-pendidikan Indonesia sebagai sebab kepentingan politik saat kabinet baru “SBY-Boediono” diumumkan Oktober mendatang.

Belenggu birokrasi pendidikan, orientasi politik dari pendidikan, membuat kita, guru-guru, berfungsi sebagai makmum. Akibatnya, cara kita bertahan menjadi defensif: sesuai kurikulum. Dalam hal ini posisi orangtua menjadi pelik. Orangtua persis berhadapan dengan sekolah yang tidak berpusat pada anak (-anak mereka) melainkan berpusat pada kurikulum. Sementara dengan berpusat kepada kurikulum, sekolah-sekolah adalah makmum. Sekolah hanya perpanjangan tangan birokrasi pendidikan. Sayangnya orientasi politik pada pendidikan kita, tangan-tangan yang kita perpanjang itu tangan-tangan yang terselubung, mungkin tangan-tangan gaib. Sebagai sekolah-sekolah penunggu ‘instruksi’ dan pemberi instruksi memikul beban kepentingan politik, sangat wajar kita berdiri kukuh dalam berhadapan dengan orangtua dengan dalih “sesuai kurikulum” saat mengharuskan orangtua bermakmum pada sekolah.

Belenggu kurikulum, dengan segala kuasanya, telah menggeser posisi guru berhadapan dengan orangtua yang semula “hanya guru” berbalik. Yang hanya sekadar itu menjadi orangtua. Orangtua telah diposisikan hanya sebagai penitip anak dengan segala kewajibannya.

Franklin: Model Interaksi Orangtua, Sekolah, Kurikulum

SD Hikmah Teladan itu sekolah umum yang kemudian dicitrakan orangtua sebagai sekolah Islam. Orangtua anak-anak kami itu multi partai, beragam mazhab, ada yang fundamentalis, ada yang liberal, ada yang berpaham pendidikan konservatif, juga alternatif. Guru-gurunya multi partai (sangat mungkin ada yang golput), keislamannya berlatar beragam golongan mulai dari yang fundamentalis sampai Islam Liberal, sarjana dari non kependidikan lebih banyak. Gabungan sederhananya, kami adalah sekolah Islam alternatif. Sejak awal sampai saat ini, label Islam sangat kuat.

Franklin adalah serial cerita anak dengan tokoh Franklin yang diterbitkan penerbit Kanisius yang notabene milik Katolik. Pada seri ini ada buku dengan judul “Hadiah Natal Franklin”, “Franklin’S dan Pesta Helowen”, “Franklin di Hari Valentin” yang pasti diketahui orangtua karena tertera di cover belakang semua  buku Franklin.

Berkaitan sebagai (sekolah yang dicitrakan) Sekolah Islam pada guru-guru juga orangtua muncul rumor “kristenisasi”, peraguan masal sebagai Sekolah Islam. Namun demikian saya hanya peduli dengan pertanyaan yang mempertegas penjagaan dan perlindungan orangtua kepada anak: mau dibawa ke mana anak  saya? Pemakaian buku Franklin yang didasarkan pada kepentingan anak untuk mendapatkan sumber belajar terbaik, melanjutkan pertanyaan orangtua “Apakah tidak ada buku Islam yang sebaik Franklin?” Saat itu, dengan memberikan banyak contoh, jawabannya saklek: Tidak ada! Ada dua, tiga orangtua yang mengeluarkan anak dengan membawa isu dan cap sekuler untuk kami. Banyak yang khawatir dengan pengaruh ke depan. Seperti biasa, lebih banyak yang tidak peduli. Saya senang dengan orangtua yang pragmatis, “Ayo, kita lihat saja buktinya.” Dari semua tanggapan terhadap buku Franklin (sebelumnya pemakaian lembar anak Kompas hari Minggu sebagai sumber belajar Bahasa Indonesia) terlihat bagaimana Franklin menarik semua orangtua yang beragam itu untuk terlibat, memperhatikan dan mempedulikan sekolah. Sekarang bagaimana kalau mereka mewacanakan masalah ini dalam sebuah forum orangtua dan sekolah? Ruang demokratis yang ditandai adu-argumen, penghujatan, dan kesepakatan untuk tidak bersepakat, menjadikan kami mengenal dengan cukup dekat. Secara alamiah orangtua membentuk kelompok kedekatan yang tak kentara karena tetap bersama-sama sebagai orangtua murid. 

Pemakaian Franklin sebagai rujukan (awalnya Bahasa Indonesia, kemudian Karakter) bagi sekolah menjadi penegasan asyiknya mengobrak-abrik kurikulum, senangnya mencuri-curi melawan hegemoni kurikulum. Dengan kapasitasnya sebagai buku yang tepat, baik dan menyenangkan untuk anak, Franklin memang mempengaruhi kami dengan mendalam. Keberhasilan kami mengelola pembelajaran, membuat worksheet pendamping buku Franklin, manjadi penanda historis bahwa kami lebih baik (sebagai pribadi maupun sebagai guru) dengan membaca kurikulum dan kegiatan belajar dari sudut pandang kepentingan anak.

Berhadapan dengan orangtua, bagi saya, guru tetaplah hanya guru. “hanya” yang berarti tak seberapa dapat mendorong kita menutup diri dengan bersandar pada dalih mengikuti kurikulum yang kini berarti mentaati undang-undang dan bersyukur dengan budaya “menitipkan anak” pada sekolah dari masyarakat; atau kita terbuka yaitu dengan rendah hati mengakomodir dan mengelola kekuatan yang beragam (dan nyatanya selalu lebih baik dari kita)  dari orangtua.

Apakah Orangtua (Masyarakat) Selalu Lebih Kuat?

Orangtua secara alamiah membentuk kejiwaan anak. Kapasitas sekolah dan masyarakat hanyalah menguatkan atau melemahkan, hanya menambah warna-warni. Bahkan sekalipun dibandingkan masyarakat, peran sekolah dalam menguatkan atau melemahkan kejiwaan anak yang dibentuk orangtua masih lebih lemah pengaruhnya.

Ini sebuah kisah. Saya (bersama teman-teman Walagri Aksara) melakukan pendampingan di pelosok Tasikmalaya selatan, Jawa Barat, tepatnya di desa Cieceng yang dimulai 4 tahun lalu: merintis pendirian SMP Darul Hikmah dang menguatkan SD Darul Hikmah yang sudah lebig dulu berdiri. Warga desa Cieceng yang kami dampingi hidup di atas tanah sengketa. Sengketa yang melegenda adalah teror selama 3 bulan yang berujung sengketa antara 15 orang warga yang sebagian besar ibu-ibu dengan 7 truk preman sewaan.

Dengan dampingan dari Serikat  Petani Pasundan (SPP) yang giat melakukan advokasi sengketa tanah di Jawa Barat, mereka tumbuh menjadi masyarakat dengan nilai-nilai khusus: jiwa merdeka (kehendak untuk tidak dibawah subordinasi lian), besarnya tuntutan berorganisasi, mungkin secara umum boleh disebut semua nilai-nilai yang bergerak dari jiwa perlawanan, kebebasan dan berakhir dengan kemandirian.

Pada saat kami melakukan observasi terakhir beberapa bulan ke belakang ditemukan betapa semua standar penyelenggaraan sekolah mereka adalah minimal. Serba dibawah standar: bangunan memang seperti kandang kambing; tidak ada guru lulusan S1; semua guru yang petani itu ada lulusan SD, SMP, dan SMA; mata pelajaran agama hanya ada 2 buku yang dipegang guru dan keadaan buku lain yang tak jauh berbeda; waktu guru mengajar adalah waktu di antara aktivitas bertani. Adakah setitik harapan bagi anak-anak untuk menggantungkan masa depan melalui sekolah?

Satu anak lulusan SMP Darul Hikmah melanjutkan sekolah ke aliyah di kota Tasikmalaya, yang tentu segala standar penyelenggaraan sekolah sudah terpenuhi. Si Gadis kampung ini juga bertemu dengan teman-teman, siswa lain, yang semuanya juga hampir lebih dari dirinya dalam banyak hal. Sekarang mari kita bayangkan apa yang akan  terjadi pada seorang anak yang tumbuh dan menjadi saksi nilai-nilai “kejuangan” masyarakatnya berada di lingkungan seperti itu? Apakah keberadaan teman-teman baru itu membuatnya rendah diri karena alasan asalnya (termasuk mutu rendah SMP Darul Hikmah); atau nilai-nilai masyarakatnya membara sehingga ia menggebu berkompetisi? Kabar terakhir saya mendengar si gadis menjadi salah satu dari anak berprestasi, dan saat kabar terkahir itu pula saya tahu ia sedang diskor karena membawa teman-teman sekolahnya turut berdemonstrasi terkait kasus pertanahan.

Dengan demikian, bila sekolah hendak tidak melulu berbicara di ranah ilmiah dan mau merambah ranah kejiwaan anak dan budaya, sekolah harus terbuka pada peran serta orangtua dan menjadikan sekolah sebagai bagian dari masyarakat. Menjadikan sekolah dunia yang hanya terkait kurikulum padahal kapasitas kurikulum kita sangat rendah dalam mengakomodir dan berkontribusi terhadap lingkungan sosial adalah masa depan yang rentan dalam kerangka pembentukan kejiwaan anak. Belajar dari si Gadis Kampung, dari Neng Geulis, pilihan antara sekolah yang kuat dengan ikatan nilai-nilai sosial yang rapuh dengan sekolah yang seadanya dengan nilai-nilai sosial-budaya yang kokoh adalah  pilihan yang mengajak kita untuk menggabungkan perolehan hak anak terbaik dari sekolah, masyrakat dan rumah.

II

Sekalipun pelibatan orangtua di SD Hikmah Teladan karena hal-hal kontroversial yang terus menyertai perjalanan kami, menurut saya itu bisa menjadi salah satu strategi yang digunakan terutama ketika keterlibatan oranngtua perlu didorong dengan sedikit pemaksaan. Setidaknya, demikianlah yang akhirnya yang saya lakukan di SMP Semesta Hati yang baru berusi setahun dengan pernyataan di brosur dan spnaduk bahwa sekolah ini menerima siswa dari home school.

Visi, Misi

Silahkan bayangkan apa yang ada dipikiran orangtua yang hendak menyekolahkan anaknya ke sekolah baru dengan Visi “Menjadi sekolah terdepan dalam menerapkan konsep pendidikan anak merdeka”? Pada umumnya ‘ketakutan’ dengan visi demikian. Hanya 1, 2 orangtua (yang sudah dipastikan adalah orangtua yang merupakan pasangan muda) yang memilih SD Hikmah Teladan karena visinya, sedangkan siswa kami lainnya, sampai tahun ke-4 pada umumnya siswa ‘buangan’. Sampai-sampai kami dikenal sebagai sekolah anak buangan lho. Namun, Tuhan Maha Adil, semakin dikenalnya kami sebagai Sekolah Anak Buangan –yang kemudian menjadi promosi kami paling jitu yaitu melalui kekuatan rumor, gosip, isu dari mulut ke mulut– disertai dengan bertambahnya orangtua muda yang memilih kami karena visi yang keren itu.

Orangtua muda angkatan awal yang memilih SD Hikmah Teladan karena visi-misinnya luar biasa jasanya mengingat posisi mereka yang rawan: selain berhadapan dengan tantangan untuk bersama-sama menemukan ragam model kegiatan dan pembelajaran yang mengejawantahkan visi-misi yang masih prematur; di sisi lain, mereka juga berperan jadi agen sekolah untuk mempertahankan visi-misi dari serangan orangtua yang kovensional dan menyebarkan pemahaman pada orangtua yang tidak peduli alias hanya menjadikan sekolah sebagai tempat penitipan.

Sekitar pada tahun keempat awal para orangtua yang memilih SD Hikmah Teladan karena visi-misinya berhasil memformulasikan warna keislaman pada Misi  SD Hikmah Teladan, yaitu “Menumbuhkan sikap tauhid anak sejak dini dan kemampuan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari”. Misi SD Hikmah teladan selengkapnya adalah,

2. Memelihara kemerdekaan anak dan memperluas jangkauan kemerdekaannya seiring tumbuh kembang yang dilalui anak;

3. Mengokohkan pemahaman bahwa sesungguhnya belajar merupakan pemenuhan dari rasa ingin tahu;

4. Menempatkan peran penting guru untuk menumbuhkan keingintahuan anak dan mengarahkannya dengan cara yang paling mereka harapkan, paling mereka minati;

5. Mendidik anak agar berani gagal berani mencoba sebagai pandangan kami mengenai pendidikan sekaligus metode pembelajaran yang dikembangkan;

6. Menumbuhkan anak yang percaya diri dan berkembang menjadi dirinya sendiri melalui pemberian rasa aman, penghindaran rasa aman, penghindaran dari celaandan cemoohan, serta pemberian keleluasaan untuk berekspresi dan bereksplorasi.

Sekolah Penyelenggara Program Inklusi

Namanya juga sangat membutuhkan siswa, di tahun-tahun awal (usia kami sekarang masuk tahun ke 10) masuk SD Hikmah Teladan tanpa seleksi. Akibatnya, yaitu tadi, kami jadi Sekolah Anak Buangan: limpahan dari sekolah Islam alternatif yang terdekat dan sudah mapan; anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah lain karena masalah perilaku; anak yang oleh sekolah asal dinyatakan akan tidak naik kelas kecuali pindah; atau anak-anak yang lain yang sudah ditolak di sana sini dan hanya mendengar kata “Silahkan” saat menyampaikan maksud bersekolah di SD Hikmah Teladan. Karena sudah begitu sejak dari awal, maka pada saat pemerintah menyelenggarakan program inkusi kami menjadi sekolah inklusi dengan sendirinya. Sebagai sekolah inklusi, anak-anak di SD Hikmah Teladan tidak mengenal tidak naik kelas. Seorang anak tetap naik kelas sekalipun di kelas 5 ia masih melancarkan membaca dan seorang anak yang mengalami trauma dengan perlakuan guru di sekolah sebelumnya (pindah ke SD Hikmah Teladan di kelas 5) bersamaan dengan semua persiapan ujian akhir yang diikutinya, terus mendapat pendampingan untuk dapat “memahami arti” sebuah kalimat yang dibacanya dengan lancar.

Hubungan antara Sekolah Inklusi dengan pelibatan orangtua dalam komunitas sekolah terjadi sebagai akibat daya tarik dari anak-anak dengan permasalahan akut. Misalnya, salah satu anak kami tumbuh di lingkungan pasar, bergaul dengan anak-anak muda yang sebagian di antaranya preman pasar yang menjadikannya secara alamiah berbahasa yang kasar, jorok, wah pokoknya. Ah, ia juga pandai bergaul. Hal lain yang mencolok padanya adalah kesehariannya berkomunikasi dengan bahasa Sunda. Semua ini membuatnya dominan di kelas, membuatnya kuat mempengaruhi yang lain. Semua anak dipengaruhinya! Akibatnya, semua orangtua menjadi tahu bahwa anaknya yang katanya bersekolah di sekolah Islam, memperoleh kemampuan yang tidak pernah dikuasai sebelumnya selama anak sebelum masuk SD Hikmah Teladan: berkata-kata kasar dan jorok. 

Hai! Setelah satu-dua orangtua menemui kami untuk menyampaikan protes dan kami bersikukuh mempertahankan setiap anak seperti apapun dia setelah dinyatakan sebagai siswa, orangtua kesal dan memutuskan melaksanakan pertemuan POM (Persatuan Orangtua Murid) dengan agenda permohonan agar anak tersebut dipindah kelas atau dipindah sekolah. Banyak yang hadir, seingat saya kecuali orangtua si anak yang dimasalahkan; terjadi persinggungan prinsip dan kepentingan; konfrontasi argumentasi; yang semua ini menjadi isu besar di orangtua pada umumnya dan antitesis dalam wacana prinsip-prinsip sekolah. Perlu diketahui pula karena sampai saat ini kami tetap sebagai Sekolah Inklusi, setiap angkatan  selalu memberikan kami anak-anak istimewa demikian. Kenyataan yang membuat seorang guru baru angkatan ke-6 pindahan dari sekolah terkenal dan mapan berhadapan dengan situasi itu (yang disertai program sekolah yang kerap berubah-ubah) berseloroh, “Welcome to the jungle”.

III

Posted by: kusekolah | August 29, 2009

Ramadhan ke-2 di Cieceng

22 Mei 2009 tercatat sebagai salat Jumat tercepat yang pernah kuikuti. Aku mengalaminya di Cieceng. Setelah membuka khutbah dan membaca salah satu ayat al-Quran, khubah pertama berakhir. Khutbah kedua hanya doa yang tak mungkin lamanya melebihi 2 menit. Memang tercepat. Kami tidak langsung kembali ke posko, tapi memenuhi undangan selamatan 7 bulan usia kandungan salah seorang warga. “Pak, ini siswi SMP Darul Hikmah angkatan pertama,” kata Yayan koordinator Serikat Petani Pasundan wilayah Tasikmalaya. Oh.

Ramadhan 4 tahun yang lalu kami (: beberapa guru-guru SD Hikmah Teladan) untuk pertama kali menginjak-injak bumi Cieceng. Bersama warga, SPP, kami diikutsertakan menjadi pendamping perintisan SMP Darul Hikmah.

Sebelum ada SMP, banyak gadis Cieceng menikah selepas SD. Selepas SMP didirikan berkuranglah mereka yang menikah sangat muda. Ada sih sempat aku diberitahu yang bersekolah dalam keadaan hamil (setelah menikah dengan resmi). Namun demikian, setelah ada SMP  layak bersyukur karena menikah  setelah lulus SD berubah menjadi menikah setelah lulus SMP, dan kini setelah ada SMA kelas jauh akan banyak gadis-gadis Cieceng menikah setelah memasuki usia remaja. Menikah di usia 24 tahun seperti istriku? Wah sepertinya ini akan sangat jarang terjadi. Melantur. Pokoknya sesuai judul, tanggal 4, 5, 6 September 2009 kami yang kini jadi Walagri Aksara kembali mengisi Ramadhan di Cieceng. 

Mencari Modal untuk Kegiatan

Kegiatan magang kemarin kami berhutang sekitar 3 juta belum ditambah dengan pembiayaan yang ditanggung secara pribadi oleh teman-teman panitia dan rekan. Enggak enak meminta-minta dan berhutang, cape setengah hati mencari donatur, kami berpikir keras melakukan pendanaan mandiri.

Dari kegiatan yang telah berlangsung tersebut terbuka setidaknya 3 peluang sumber pendanaan:

1. Live In. Ketika ide ini tercetus di hadapan kepala sekolah Cendekia Muda, beliau menyampaikan sedang mencari daerah yang layak jadi tujuan live in bagi anak didiknya. Gayung bersambut. Kenapa juga tidak untuk kami tawarkan ke sekolah yang dikelola teman-teman, juga sekolah SMU Plus Muthahhari yang SD-nya menjadi tempat magang guru-guru Cieceng.

2. Charity of Tuor. Ini tawaran dari pak Ali Abdullah. Kata beliau, temannya yang bekerja di perusahaan asing biasa setahun sekali berlibur ke luar negeri. Jatah berlibur tahunan. Menyatakan berminat, daripada bosan ke luar negeri melulu kali, menjajagi berlibur ke pelosok. Tidak boleh lepas kaitan dengan dunia pendidikan, kegiatan ini selalui disertai proyek (apapun itu) untuk pemberdayaan pendidikan atau masyarakat pada umumnya. Proyek untuk kegiatan yang dirancang 3 hari ini, beberapa sudah tergambar, misalnya pendirian perpustakaan, (yang dieperlukan  saat ini) pendirian koperasi, pertanian organik, kincir atau alat lain untuk pengadaan listrik tenaga air, pembuatan filem perjuangan yang terkait sejarah berdirinya Cieceng, mengelola produk lokal agar layak hadir di kota besar, dll. Alhamdulillah untuk kegiatan, aku sangat hati-hati melakukannya, sudah mendapat ijin dari warga Cieceng jugan SPP.

3. Secara tidak sengaja magang kemarin melibatkan 3 guru orang kota: 2 dari Purwokerto dan 1 dari Cimahi. Ketiganya membayar per orang 200 ribu. Ketiganya juga dapat difungsikan mendampingi teman-teman dari Cieceng. Karena sekolah-sekolah yang dijadikan tempat magang sekolah bermutu, kalau mendapat izin dari masing-masing sekolah, kami berencana memperbesar jumlah peserta dari yang berbayar.

Kami berharap sungguh ketiga kegiatan tersebut dapat memberi kami pemasukan uang  yang kelak tak perlu lagi kami harus pontang-panting untuk terlalu banyak hal. Kegiatan ke 1 dan 2 rencana dilaksanakan sebelum kegiatan magang dan bersamaan dengan kegiatan pelatihan di tempat yang seperti biasa menjadi rutin pendampingan Walagri Aksara kepada teman-teman Cieceng. Sengaja, kami memang menumpang keduanya biar menghemat, tetap sederhana, efektif dan efesien.

Masih berkaitan dengan kegiatan ke 1 dan 2, kami belum memiliki dokumen untuk bahan mempromosikannya. Jadi, kunjungan tanggal 4, 5, 6 September 2009 memang khusus untuk itu. Bener lho tidak ada anggota Walagri Aksara yang profesional dalam hal ini. Kami berangkat hanya dengan kamera digital dan handycam seadanya (setidaknya masing-masing harus ada 5 buah yang sementara ini handycam masih kekurangan). Ada yang merasa sedikit lebih profesional mau menemani kami?

Teknis Kegiatan

Setibanya di Cieceng, semoga bisa sebelum maghrib, masing-masing dari kami langsung di antar ke rumah warga yang rencana dari teman-teman SPP mencakup 3 desa. Ada yang ke rumah siswa untuk menguntitnya sejak kami datang sampai ia pergi sekolah, di sekolah, dan kembali dari sekolah, kemudian aktivitas keseharian lain sebagai warga desa. Sengaja dicarikan siswa yang menempuh perjalanan sampai 7 kilometer. Semoga siapapun yang jadi pendamping tidak sampai membatalkan puasa.

Ada yang di rumah warga di desa yang dikenal penghasil gula kelapa. Di sini, sejak subuh, mereka sudah harus mengambil gambar warga yang berloncatan dan teriak-teriak di pohon kelapa. Yang lain akan menginap di rumah guru SMP Darul Hikmah yang juga berprofesi sebagai petani, punya sapi, juga mengelola heuleur (aku lupa menuliskan yang benar tempat pengolahan padi ini). Begitulah, ada kemungkinan kami berpencar hari Jumat dan ketemu lagi hari Minggu pagi saat bersiap dengan perjalanan pulang.

Posted by: kusekolah | August 29, 2009

Guru yang Baik (3)

Ivan Gunawan! Kemiripan wajah, postur, dan itu lho feminimnya, memang ada siswa SD Hikmah Teladan yang layak disebut Ivan Gunawan Jr. Teman-temannya juga banyak yang menyebut begitu. Sejauh ini tak masalah karena yang bersangkutan membanggakan diri dengannya. Ah, saya malah yang mempermasalahkan. Pada saat melihat ia memamerkan tas “Barby” barunya saya berprasangka adanya dukungan dan pengarahan dari orangtua. Sewaktu duduk disampingku yang sedang membaca koran teramati kaos kaki yang dikenakannya berwarna ungu bermotif bunga, saya menduga mungkinkah orangtuanya menghendaki kesuksesan dengan jalan ini? Tapi ketika siang itu ia salat dzuhur 2 rakaat dengan hanya membaca bacaan perubahan antar gerakan (jadi salat dengan kecepatan maksimal), saya hanya mengingatkan kalau salat dzuhur itu 4 rakaat. Ia menolak seraya bergegas kembali ke kelas.

Besok paginya kembali kejadiannya di sekolah, (kebiasaan) berkeliling kelas di awal belajar kali ini terhenti di kelas 3, tepatnya kelas Ivan Gunawan Jr. Apa sebab? Kudengar jelas ia mengajukan diri menjadi imam salat dhuha. Berantakan deh salat kalau ia yang  mengimami. Saya pun betul-betul tak hendak beranjak. Penasaran. “Siapa yang kebagian imam hari ini?” tanya sang guru. Ternyata anak lain. Ivan Gunawan Jr. ngotot. Sang guru mempersilahkan si anak meminta ijin ke temannya dan menegaskan bahwa ia harus mendapat ijin itu. Hai ia dipersilahkan! Tak lama kemudian, “Siap salat!” nyaring terdengar. Semua berdiri, ia takbir. Sepertinya ia tidak tahu bacaannya, makmum berinisiatif sampai al Fatihah. Nampaknya juga ia bingung surat apa yang sebaiknya dibaca, makmum mendahului kemudian diikuti Ivan Gunawan Jr.. Suratnya lumayan panjang dan ia tak hafal jadi tak tahu kapan takbir untuk berpindah ke rukuk, makmum pun berjamaah memberikan komando pada imam. Begitu seterusnya, imam bertukar tugas dengan makmum sampai salat berakhir dengan lancar sehingga belajar dimulai dengan menyenangkan. Cuma saya yang dipatahkan prediksinya, cuma saya yang terpelanting jauh ke pojok perenungan.

Kusebut Namanya: Helena, sebagai Penghargaan

Kalau ada yang bertanya pada saya siapa guru yang baik, dengan penuh kebanggaan saya menyebut wali kelas Ivan Gunawan Jr. salah satunya. Salah satu dan baru masuk daftarku (yang di dalam daftar ini tidak termasuk diriku). Baru masuk daftar karena beliau belum genap satu tahun pun mengajar, juga bergabung dengan SD Hikmah Teladan.

Saya selalu menilai seorang guru sebagai guru yang baik jika ia bisa menyimpan teramat jauh semua kekurangan yang sungguh diketahuinya pada setiap anak ketika ia berbicara tentang kemungkinan masa depan, tentang peluang setiap orang berbuat baik.

Seorang guru yang baik memandang kelas sebagai keseluruhan sehingga tak apa Ivan Gunawan Jr. menjadi imam karena hampir semua makmum sudah mengetahui tertib salat dan bacaan salat. Sekalipun dengan bertukar peran, salat berlangsung dengan baik. Betapa mudahnya menutupi seorang Ivan Gunawan Jr. yang pada kenyataannya pun memang 30 : 1 anak. Mana mungkin kuat 1 anak melawan 30 anak!

Posted by: kusekolah | August 28, 2009

Guru yang Baik (2)

Namanya Diki. Kurus, pendek, berkulit sawo matang. Nyali dan kenakalannya berlawanan dengan keadaan tubuhnya, karena alasan inilah saya diminta hadir dalam pertemuan persatuan orangtua murid (POM) kelas 2, 2 tahun yang lalu. Tentu saja saya sudah tahu cukup banyak informasi tentang Diki, sebab setiap pertemuan kelas yang mengundang saya berarti orangtua menilai guru tidak dapat menyelesaikannya, jadi guru-guru pun sudah menyampaikan permasalahannya atau dapat dipastikan sudah kami diskusikan di Forum Paralel.

Berkaitan dengan guru, saya biasanya mendalam mengelola informasi pendahuluan karena guru harus dibela, tetap dapat diterima kehadirannya, dan wajib bagi saya untuk memberikan alasan bagi respek orangtua pada mereka. Dan ini waktu itu berhasil. Cuma sebaliknya dengan Diki, kenggenan orangtua (saat kami mendiskusikan anaknya sang ibu sempat menerima telepon dengan leluasa) membuat saya mewajarkan Diki sebagai biang masalah. Memang gitu lho kenyataannya.

Sebagai biang masalah, inilah pencitraan yang melekat dalam pikiran saya tentang Diki dan membentuk persepsi saya kepadanya. Sampai 2 hari lalu, saat kami salat dzuhur berjamaah, cara pandang saya tidak berrubah: iqamat sudah selesai, Diki dengan teman ngobrolnya masih duduk. Diki yang paling juga berjarak 4 langkah, kudatangi dengan wajah marah. kuangkat untuk memksa dia dalam posisi beridiri. Dia berdiri saya kembali ke tempat semul dan pada langkah ke 4 saya berbalik ke arah kiblat, dan bersamaan dengan imam yang menginstruksikan rukuk, Diki dengan santai massih ngobrol dengan temannya. Diki memang begitu. Diki ternyata belum berubah.

Kemarin, 27 Agustus 2009, sehari setelah kejadian salat dzuhur berjamaah, saat 3 wali kelas kelas 4 mengoleksi anak-anak bermasalah, spontan saya menyebutkan nama Diki. Apa respon teman-teman terhadap spontanitas saya? Diki sudah berubah perilakunya. Diki tidak seperti dulu lagi. Diki jauh berubah dari seperti yang saya citrakan. Memang diakui kalau motivasi belajarnya masih rendah. Aih, 2 wali kelas memang membenarkan perihal motivasi ini dan satu wali kelas meragukannya. “Sewaktu lomba ‘Detektif’ kelompok Diki menang. Dan jangan salah lho, Diki faktor menentunya,” begitu berita dari wali kelas ketiga yang mendorong kami meragukan akan rendahnya motivasi belajar Diki, “Sepertinya kita gak tahu kesenangannya. Ah, kayaknya kalau menemukan gaya belajarnya asyik tuh,” tegasnya.

Kebebasan Mengekspresikan Keunikan Berhadap-hadapan dengan Keragaman Guru

Perhatikan bagaimana perubahan cara pandang saya terhadap Diki. Berbekal pencitraan saat di kelas 2 yang begitu kuat saya selalu mempersepsikanya negatif. Saya tak acuh terhadap perilaku biasa-biasa dan positif dari Diki, sebaliknya akan serta merta mengukuhkan pembenaran terhadap perilaku negatif. Berkah dari kehadiran teman-teman yang mendidik tanpa prasangka, mencintai tanpa syarat, menemani perjalanan belajar anak dengan segala harapan lah yang menyelamatkan saya dengan segera.

Jadi guru yang baik adalah (1) guru yang tumbuh di sekolah yang menjunjung dan menghargai keunikan anak (2) guru yang tumbuh di sekolah yang memberikan kebebasan pada guru mengekspresikan diri (3) guru yanng tumbuh di sekolah yang menjadi tempat ‘beradu’ dan ‘berbenturan’ antara keunikan dna keragaman guru dengan murid. Saya tegaskan, guru yang baik adalah guru yang nyaman berada di tempat di mana ketiga hal tersebut membentuk budaya sekolah.

Posted by: kusekolah | August 26, 2009

Guru yang Baik (1)

Sekolah adalah tempat keramaian berpikir dalam keragaman modelnya berlangsung. Semua komponen sekolah harus memiliki wakil yang secara serius terlibat keramaian berpikir ini. Wakil di sini adalah mereka yang dalam posisinya tersebut dapat menjadi individu yang dinilai lebih baik dari yang lain yang diwakilinya.

Keramaian berpikir perlu hadir dengan keragaman modelnya karena jika tidak sekolah menjadi tempat pemihakan terhadap individu (dengan kapasitas dan kekuatan tertentu). Sebagai contoh, kurikulum nasional dengan jelas hanya menghadirkan model berpikir yang terbatas, maka setiap sekolah yang tidak kritis berarti membawa diri pada manajemen dan administrasi yang membelenggunya. Kita sering menolak anak yang hanya dinilai kecerdasan IQ-nya saja, tapi sungguh, lebih sering kita tidak dapat menolak (atas nama profesionalisme) kungkungan manajemen dan administrasi sekolah yang mengoperasionalkan kurikulum dimaksud.

Penghargaan terhadap keramaian berpikir menjadikan belajar selalu bergerak pada keumumannya; ke mana saja ke arah setiap pribadi yang memancarkan keunikan. Kita kerap menyebut ini dengan gaya belajar, tapi saya sendiri ingin menyebut ini semua sebagai hasrat  yang memberi jalan rasa ingin tahu.

(Jadi bagaimana aku bisa menjawab siapa guru yang baik itu sebagaimana ditanyakan seorang teman di Solo. Wah aku jadi terkenang kopi istimewa beliau, juga diskusi berkepanjangan dengan suami beliau. Walau bingung, kadung janji, saya akan jawab sedikit-sedikit dan acak saja.)

Bagian dari Keragaman

Pada keunikan ada identitas, inilah yang dihadiahkan setiap anak yang hadir di sekolah. Identitas. Guru yang baik pun mengetahui keunikan dirinya, melakoni identiasnya. Atas nama apapun (:kurikulum, status sosial, dll) ia tidak akan melemahkan, mengaburkan, apalagi melacurkan identitasnya. Kehadiran yang lain melalui berbagai bentuk pergesekan selalu menjadi informasi baru tentang diri kita dan yang lain. Sebut saja Guru yang baik itu menggabungkan (nilai) percaya diri dan rendah hati.

Tentu saja siapapun saya, saya perlu rendah hati untuk menjadi bagian dari keragaman. Demikian juga, siapapun saya, saya tidak terseret arus masa kalau percaya diri. Setidaknya, maka Guru yang baik tidak rendah diri dihadapan kurikulum, pejabat diknas, kepala sekolah, tuntutan masyarakat; juga tidak over percaya diri dihadapan dan dalam memperlakukan anak-anak, pembantu sekolah, pembantu yang  menemani anak-anak di rumah dan ke sekolah, terutama jangan over percaya diri dengan profesionalisme.

Posted by: kusekolah | August 20, 2009

18 Guru Pelosok Magang di Bandung (5): Rangkaian Kegiatan

Kegiatan magang per harinya mencakup: magang, sharing, ceramah penndidikan, ceramah motivasi.

Magang

Magang merupakan inti kegiatan. Setiap pagi peserta menyebar ke 7 sekolah: 3 TK, 3 SD, 1 SMP. Peserta yang ke TK Permata Ayah Bunda, TK Salsabiil, SD Cerdas Muthahhari, SMP Cendekia Muda berjalan kaki. Peserta yang ke SD Cendekia Muda di antar satu per satu dengan motor. Ke Gagas Ceria (karena di luar komplek Arcamanik Indah) memakai mobil pinjaman (dengan bensin dan sopir) kakak lelaki Eva.

Dalam pembicaraan pendahuluan dengan para kepala sekolah saya meminta agar peserta selama  di setiap sekolah tidak hanya mengamati pembelajaran, melainkan diberikan kesempatan untuk banyak diskusi bahkan saya sampaikan kalau lebih menyukai kegiatan-kegiatan semacam pelatihan. Teman-teman merespon baik.

Bu Santi (hai, bener lho saya belum tahu nama lengkap Ibu) memutuskan magang hanya sampai pukul 11.00. Beliau juga menanyakan pada saya sebaiknya magang di kelas berapa saja. Saya jawab di kelas berapa saja yang penting berbeda mata pelajaran. Dari pukul 11.00 sampai sekitar pukul 14.00 dilakukan sharing, diskusi, atau penyampaian materi.

Di TK Salsabiil, bu Eva sebagai kepala sekolah memutuskan ada seoranng guru yang off dari mengajar dan secara khusus memberikan pelatihan pada peserta magang. Pemberian materi terkait pengembangan sekolah langsung disampaikan ibu kepala sekolah. Bu Eva seccara tertulis menyampaikan laporan seluruh kegiatan guru-guru Cieceng selama di TK Salsabiil termasuk kegiatan sharing di basecamp yang diikutinya.

Keleluasaan untuk magang dengan kesempatan yang leluasa untuk mengamati dan berdialog dengan guru dan kepala sekolah dilaporkan oleh peserta yang magang di SD dan SMP Cendekia Muda. Bila kenyataannya seperti mandeg, ini berkaitan dengan kemampuan bertanya peserta seperti terjadi di TK Permata Ayah Bunda yang di bawah satu naungan yayasan dengan SD-SMP Cendekia Muda, atau juga karena yang terperhatikan serba baru sehingga itu pun pengetahuan yang sangat banyak.

Karena kehilangan kesempatan bertemu dengan kepala sekolah, magang di SD Cerdas Muthahhari dirasa cukup setelah 2 hari. Di hari ketiga peserta bergerak ke SD-SMP Cendekia Muda. Pak Miftah selama 3 hari yang bersamaan dengan waktu magang sangat disibukkan dengan jadwal akreditasi SMA Plus Muthahhari.  Apa boleh buat.

Sharing dan Ceramah Pendidikan

Dari pukul 16.00-18.00 peserta dari ke 7 sekolah berkumpul di basecamp untuk presentasi hasil magang. Selain dari Walagri Aksara, kami mengundang teman-teman yang memang memiliki perhatian pada pendidikan untuk menjadi fasilitator sharing, tepatnya memberikan cermah pendidikan atau menemani diskusi. Ada bu Neni yang berbagi banyak mengenai pengelolaan PAUD. Lagu-lagu dan permainan yang diajarkannya menimbulkan suara berisik dan jerit-jerit, juga tawa dari kamar yang biasanya sepi karena mereka manfaatkan untuk istirahat.

Ada pak Endar yang menjelaskan tentang kecerdasan majemuk, mungkin lebih luas, karena beliau berbicara luas tentang berbagai cara mendorong guru agar mengetahui, menghargai, dan mengajar dengan mempedulikan kekuatan anak. Sangat penting juga penegasan beliau tentang sekolah yang berpijak pada kekuatan lokal atau memunculkan keunggulan sebagai akibat langsung dari jawaban kreatif terhadap problem sosial.

Ibu Luna juga bersemangat membawakan creative learning. Sehari sebelumnya, sewaktu pak Endar, bu Luna juga datang, katanya sekadar mencari tahu kepentingan dan kapasitas berbahasa ‘ilmiah’ peserta. Saya tahu untuk beberapa kesempatan bagaimana isi materi creative learning, sehingga dapat saya pastikan materi waktu itu dikelola dengan cara berbeda.

Sharing-nya bagaimana? Rian, juga saya yang bertugas jadi moderator dan pemandu sharing mengalami kelelahan luar biasa, sehingga terjadilah selesai membuka acara kami pamit dan terlelap sampai waktu yang tepat untuk menutup acara yang tentu saja tanpa penyimpulan. Akibat yang lain sharing paling lama hanya berlangsung sekitar 30 menit. Mengingat pentingnya bahkan inti dari kegiatan magang, saya menyangkannya. Sebab itu, di hari ketiga sharing dimulai pukul 15.00. Secara alamiah saya diingatkan untuk tidak kehilangan kesempatan dan meraih kemanfaatan sharing ini.

Ceramah Motivasi

Bagian ini acara istimewa. Kami memberikan kuasa pengelolaan waktu pukul 19.00-22.00 kepada pak Ali karena yang akan mengisinya tokoh masyarakat di Komplek Arcamanik Indah. Bu Ida Sitompul menyampaikan tentang perpustakaan yang sangat diperkaya dengan penjelasan mengenai sejarah dan manfaat keberadaan Pondok Baca yang diketuainya yang menjadi basecamp itu.

Pak Hernowo yang dikenal luas dengan bukunya “Mengikat Makna” sungguh ‘memaksakan’ diri datang di beberapa hari pulih kembali kesehatannya. Dengan mengkaitkan secara khusus sejarah penulis dan makna bukunya dengan analisis terhadap kata iqra yang menjadi bagian surat al-Quran pertama yang diturunkan, beliau merasukkan motivasi yang cukup kuat bagi kami menjelang bulan puasa ini. Alhamdulillah.

Di hari terakhir ada pak Herdis. Teman semasa kuliah pak Ali ini sekarang menjabat bagian kemahasiswaan Universitas Pajajaran. Seperti pak Ali, kalaupun beliau mengakui selevel dibawah pak Ali, memiliki semangat menggebu. Menggebu, sampai-sampai seperti terburu waktu untuk menjelaskan semuanya relasi yang dimilikinya. Saya betul-betul menjadi orang yang tertinggal melulu, jadi tampak kurang semangat dan gairah. Apalagi saat diajak banyak menembus birokrasi, tak bisa deh saya menyembunyikan identitas dan segera dikomentari lemas, letih, lesu. Oh ya beliau memastikan pada kesempatan kuliah kerja nyata (KKN) tahun berikutnya akan ada mahasiswa yang di tempatkan di Cieceng.

Older Posts »

Categories