7 Design Sempurna dari Bumi

May 12, 2012 Leave a comment
Salah satu temuan mutakhir di dunia sains yang menjadi buah bibir di kalangan ilmuwan adalah apa yang disebut prinsip antropis.
Prinsip ini mengungkapkan bahwa setiap detail yang terdapat di alam semesta telah dirancang dengan ketepatan yang sempurna untuk memungkinkan manusia hidup. Contoh kecil dari prinsip antropis ini dapat kita temukan pada fakta-fakta yang berkaitan dengan keberadaan bumi.
Dalam hal ini, seorang astronom amerika Hugh Ross dalam bukunya yang berjudul ‘The Fingerprint of God, Recent Scientific Discoveries Reveal The Unmistakable Identitiy of The Creator’ telah membuat daftarnya sendiri sebagai berikut.

1. Jarak bumi dengan matahari

Jarak matahari ke bumi adalah 149.669.000 kilometer (atau 93.000.000 mil). Jarak ini dikenal sebagai satuan astronomi dan biasa dibulatkan (untuk penyederhanaan hitungan) menjadi 148 juta km.

Dibandingkan dengan bumi, diameter matahari kira-kira 112 kalinya. Gaya tarik matahari kira-kira 30 kali gaya tarik bumi. Sinar matahari menempuh masa 8 menit untuk sampai ke bumi.

Jika lebih jauh:
Planet bumi akan terlalu dingin bagi siklus air yang stabil.

Jika lebih dekat:
Planet bumi akan terlalu panas bagi siklus air yang stabil

2. Gravitasi di permukaan bumi

Gravitasi permukaan dari sebuah obyek astronomi (planet, bintang, dll) adalah percepatan gravitasi yang berlaku pada permukaan obyek tersebut. Gravitasi permukaan bergantung pada massa dan radius obyek tersebut. Seringkali gravitasi permukaan dinyatakan sebagai rasio dengan ketentuan yang berlaku di bumi.

Jika lebih kuat:
Atmosfer bumi akan menahan terlalu banyak gas beracun (amoniak dan methana)

Jika lebih lemah:
Atmosfer bumi akan terlalu tipis karena banyak kehilangan udara

3. Periode rotasi bumi

Rotasi bumi merujuk pada gerakan berputar planet bumi pada sumbunya dan gerakan di orbitnya mengelilingi matahari.

Jika lebih lama:
Perbedaan suhu pada siang dan malam hari terlalu besar

Jika lebih cepat:
Kecepatan angin pada atmosfer terlalu tinggi

4. Albedo

Albedo merupakan sebuah besaran yang menggambarkan perbandingan antara sinar matahari yang tiba di permukaan bumi dan yang dipantulkan kembali ke angkasa dengan terjadi perubahan panjang gelombang (outgoing longwave radiation).

Perbedaan panjang gelombang antara yang datang dan yang dipantulkan dapat dikaitkan dengan seberapa besar energi matahari yang diserap oleh permukaan bumi.

Jika lebih besar:
Zaman es tak terkendali akan terjadi

Jika lebih kecil:
Efek rumah kaca tak terkendali akan terjadi

5. Aktivitas gempa

Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut.

Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak, dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan.

Jika lebih besar:
Terlalu banyak makhluk hidup binasa

Jika lebih kecil:
Bahan makanan dasar laut tidak akan didaur ulang ke daratan melalui pengangkatan tektonik

6. Ketebalan kerak bumi

Kerak bumi adalah lapisan terluar bumi yang terbagi menjadi 2 kategori, yaitu kerak samudra dan kerak benua. Kerak samudra mempunyai ketebalan sekitar 5-10 km, sedangkan kerak benua mempunyai ketebalan sekitar 20-70 km.

Penyusun kerak samudra yang utama adalah batuan basalt, sedangkan batuan penyusun kerak benua yang utama adalah granit, yang tidak sepadat batuan basalt. Kerak bumi dan sebagian mantel bumi membentuk lapisan litosfer dengan ketebalan total kurang lebih 80 km.

Jika lebih tebal:
Terlalu banyak oksigen berpidah dari atmosfer ke kerak bumi

Jika lebih tipis:
Aktivitas tektonik dan vulkanik akan terlalu besar

7. Medan magnet bumi

Magnetosfer bumi adalah suatu daerah di angkasa yang bentuknya ditentukan oleh luasnya medan magnet internal bumi, plasma angin matahari, dan medan magnet antarplanet.

Di magnetosfer, campuran ion-ion dan elektron-elektron bebas baik dari angin matahari maupun ionosfir bumi dibatasi oleh gaya magnet dan listrik yang lebih kuat daripada gravitasi dan tumbukan.

Jika lebih kuat:
Badai elektromagnetik akan terlalu merusak

Jika lebih lemah:
Kurangnya perlindungan dari radiasi berbahaya yang berasal dari luar angkasa

Categories: darimanasaja

Kutipan dari Edward de Bono (1)

December 12, 2011 Leave a comment

Di Australia, ada seorang anak laki-laki berumur 5 tahun bernama Johny. Oleh temannya, ia disuruh memilih antara uang logam satu dolar dan uang logam dua dolar. Uang logam satu dolar lebih besar dari yang dua dolar. Johny memilih yang lebih besar. Temannya tertawa tergelak-gelak melihat kebodohan Johny. Kapan pun mereka ingin membodohinya, mereka akan menawarkan hal yang sama. Ia tidak pernah belajar. Ia selalu memilih uang logam yang lebih besar.
Suatu hari, seorang dewasa melihat hal ini dan merasa kasihan terhadap Johny. Ia memanggil Johny dan berkata bahwa uang logam yang kecil, meskipun lebih kecil, namun bernilai dua kali lipat uang logam yang lebih besar.
Johny tersenyum dan berterima kasih dengan sopan dan kemudian berkata: “Saya tahu hal itu. Tetapi berapa kali lagi mereka akan memberiku tawaran uang logam jika sejak awal aku memilih yang dua dolar?” Hal ini adalah mengenai persepsi. Jika Anda melihatnya sebagai kejadian tunggal, Anda akan memilih yang dua dolar. Jika Anda mengenal teman-teman Anda, seperti yang dilakukan Johny, Anda akan tahu bahwa mereka akan terus menawari Anda uang logam dan Anda akan mendapat banyak uang dolar. Persepsi adalah kuncinya.
Categories: MH. Aripin Ali

Kali Ini Guru-guru Menjadi Petugas Upacara

November 24, 2011 Leave a comment

Saya mengingat betul wajah-wajah riang itu.

Di sebuah kelas sedang berlangsung deklamasi. Di depan kelas hanya ada anak yang berdeklamasi. Meja guru ditinggal pemiliknya. Ternyata ia duduk di salah satu bangku bersama siswanya. Anak-anak bergiliran mulai dari bagian belakang sebelah kanan. Anak yang sedang di depan kelas duduk di kursi yang terhalang satu anak dari posisi guru. Tepuk tangan riuh menyertai setiap akhir penampilan. “Wah, sebentar lagi giliran Ibu.”

Selepas sang guru membaca puisi, tepuk tangan anak-anak sama saja: riuh. Tidak, tidak lebih riuh. Mungkin itu karena ada beberapa anak yang membacakan puisi lebih baik darinya. Mungkin anak-anak memandang itu hal yang sewajarnya terjadi. Bisa saja di mata anak-anak adalah tidak adil, tak berlaku kesetaraan, kalau guru hanya untuk diikuti, selalu minta dibedakan dengan segala keutamaannya.

Kejadian yang sama suasananya terjadi pada saat Upacara Bendera yang baru lalu. Itulah upacara yang semua petugasnya guru. Para guru tidak menjadikan upacara yang biasa riuh jadi syahdu. Sekalipun saya merinding saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan, anak-anak tetap menyambut berakhirnya lagu dengan tepuk tangan. Hampir semuanya berlangsung seperti saat anak-anak yang jadi petugas upacara. Mungkin sebabnya karena pakaian guru yang tidak seragam. Yang ini lebih mungkin: saat guru-guru menyanyikan beberapa lagu yang terkait tema kepahlawanan, menyanyinya sambil melihat secarik kertas. Beberapa guru tidak menghafal liriknya.

Tentu saja guru-guru serius. Jangan menganggap mereka tidak serius sekadar karena tidak memakai seragam. Bahwa mereka juga tidak latihan terlebih dahulu, tak dapat digunakan untuk menyudutkan mereka tampil seadanya. Mereka sangat serius untuk menjadi teladan. Mereka sangat serius mempertontonkan keberanian. Guru-guru SD Hikmah Teladan sungguh berendah hati untuk mempertontonkan kesalahan, kekurangan, pun berbagai spontanitas dalam memperbaiki kekurangan dan kesalahan. Guru-guru baik hati karena memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengetahui bahwa keterbatasan bisa menerpa siapa pun.

Saya sangat menyukai foto ini. Anak yang maju ke depan itu Uji. Dia anak berkebutuhan khusus. Dia gemuk. Berat badanya pasti melebihi pak Mukhlis yang menjadi pemimpin upacara. Pak Muklis memang bapak guru dengan berat badan dan tinggi yang paling rendah. Namun demikian, mari kita sama-sama membayangkan apa yang dipikirkan anak-anak dengan peran pak Muklis sebagai pemimpin upacara? Beliau gagah. Suaranya lantang. Melihat penampilannya, ia sepenuhnya layak disebut pemimpin. Ia gagah, juga berwibawa. Apa yang akan membekas disanubari anak-anak yang menyaksikan pak Muklis tampil gagah dan berwibawa? Hari ini, hari upacara dengan petugas guru-guru akan terus menawarkan kepercayaan diri dan motivasi pada perjalanan anak-anak dalam merengkuh masa depan.

Categories: SekolahKu

Menapaki Kembali Jejak Ustad Muthahhari

November 23, 2011 Leave a comment
Kesenangan saya pada berpikir dengan disertai kepastian bahwa saya masih bodoh dan membutuhkan teladan adalah Murtadha Muthahhari. Demikian, sebebas apapun saya menikmati berpikir, kenikmatan terbesar saya adalah saat berpikir bebas untuk sampai atau membuktikan Kebenaran, pelajarannya diberikan beliau. Kebenaran yang saya maksud pun dalam tafsir Murtadha Muthahhari.
Sebagai penghormatan dan kebanggaan saya memuat tulisan tentang Murthada Muthahhari, terutama karena ada hal yang baru saya ketahui, yaitu hari syahidnya ditetapkan sebagai hari Guru.

Dalam situasi seperti sekarang, ketika dunia Islam tengah bangkit kembali, umat semakin memerlukan dukungan gagasan dan pemikiran besar para ulama dan cendikiawan semacam Ayatollah Syahid Muthahhari. Bisa dikata, pergerakan rakyat di negara-negara muslim yang kini tengah berjuang menuntut keadilan dan kebebasan sejatinya banyak berutang pada pemikiran revolusioner para ulama besar seperti Ayatollah Muthahhari.

Muthahhari bukan sekedar ulama ataupun teolog, tetapi ia juga seorang filosof dan guru bangsa. Karena itu, rakyat Iran selalu memanggilnnya dengan sebutan Ustad Muthahhari. Namun belum genap bangsa Iran menikmati panduan dan ajaran Sang Ustad, arsitek pemikiran Revolusi Islam itu pada tanggal 2 Mei 1979 gugur syahid hanya selang beberapa bulan setelah Revolusi Islam meraih kemenangannya pada 11 Februari 1979. Beliau gugur syahid dalam sebuah peristiwa teror yang dilakukan oleh sebuah kelompok teroris. Sejak saat itu, rakyat Iran menjadikan hari syahidnya sang pahlawan Revolusi Islam itu sebagai Hari Guru.

Dewasa ini, dunia Islam disibukkan dengan maraknya gelombang reformasi pemikiran dan sosial. Islam sendiri senantiasa menyerukan reformasi dan perbaikan sosial. Terkadang sebuah masyarakat menjalani rutinitas mereka selama puluhan dekade bahkan ratusan tahun tanpa ada perkembangan apapun. Perlahan-lahan masyarakat itu pun mengalami proses degradasi dan kejumudan. Saat itulah, harus muncul seorang figur yang mampu menyadarkan dan mendorong masyarkat tersebut untuk bergerak maju.

Seorang peneliti dan dosen universitas Iran, Doktor Hasan Azghadi mengatakan, “Berjihad dan pengorbanan tidak dilakukan hanya di sektor politik dan sosial saja. Ada saatnya saat melakukan penelitian ilmiah yang menggunakan pilar-pilar pemikiran, seseorang harus bersikap berani. Di satu sisi, ia harus berdiri tegak menghadapi berbagai pemikiran menyimpang di kalangan internal ummat Islam. Di sisi lain, ia juga harus melawan serbuan pemikiran dari luar yang menyatakan bahwa agama bukanlah hal yang penting dalam kehidupan manusia”.

Azghadi menambahkan, “Dalam sejarah, kita akan mendapati bahwa orang yang mampu melakukan perjuangan melawan dua kekuatan pemikiran itu bisa dikatakan sangat sedikit. Di antara pemikir yang sedikit itu adalah Syahid Muthahhari. Beberapa dekade lamanya, Muthahhari muncul sebagai pemikir Islam yang mampu membela agama Islam dari serbuan pemikiran luar ataupun penyimpangan internal. Ia mengemukakan pemikiran Islam yang hakiki dengan bahasa yang bernas, cerdas, dan menarik. Muthahhari adalah penjaga benteng pemikiran Islam yang kokoh di akhir abad 20. Pejuang pemikiran Islam itupun pada akhirnya mempersembahkan nyawanya di jalan agama dan gugur sebagai syahid.”

Jika kita telaah kembali pemikiran-pemikiran Syahid Muthahhari, kita akan mendapati fakta bahwa sebagian besar aktivitas ilmiahnya dicurahkan untuk mengungkap penyimpangan pemikiran Islam yang ada di tengah-tengah masyarakat, sekaligus memberikan bantahannya. Muthahhari juga memberikan penjelasan atas berbagai hal yang masih sering dianggap bias dalam ajaran Islam. Sebagai contoh, Muthahhari menulis tiga jilid buku berjudul “Perjuangan Huseini”. Di buku itu, Muthahhari secara detail menuliskan faktor-faktor yang membuat pejuangan Imam Husein di Padang Karbala menjadi begitu abadi. Ia juga menjelaskan hal-hal yang sering dipertanyakan oleh sejumlah kalangan terkait peristiwa tersebut. Syahid Muthahhari di buku itu juga menjelaskan pentingnya tugas muslimin dalam mengantisipasi upaya distorsi dan perusakan agama dan sosial.

Syahid Muthahhari menilai Islam sebagai agama yang dapat menjawab seluruh tuntutan pada zamannya. Di antara karya komprehensif beliau adalah buku berjudul “Islam dan Tuntutan Zaman”. Beliau berpendapat bahwa umat manusia memiliki ketergantungan terhadap unsur-unsur materi dan maknawi. Cara untuk memenuhi tuntutan tersebut pun sangat beragam dan berbeda-beda pada setiap zaman. Sebab itu, manusia harus menyesuaikan diri dengan tuntutan zamannya.

Menurut Muthahhari, tuntutan tersebut tidak dapat dielakkan atau dicegah. Namun pada saat yang sama, tidak seluruh tuntutan dan keinginan tersebut adalah pilihan terbaik bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu, setiap individu dituntut untuk dapat menyesuaikan tuntutannya serta mengontrol dan membenahinya. Artinya, umat manusia harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi zamannya seperti memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Namun pada saat yang sama mereka juga harus tetap menjaga diri dari dampak negatif yang muncul dari arus kemajuan teknologi.

Menurut Muthahhari, ajaran Islam adalah yang paling komprehensif, sempurna, dan terus hidup sepanjang zaman. Ajaran Islam juga dapat disesuaikan dengan tuntutan pada zamannya. Masalah inilah yang ditekankan beliau dalam bukunya berjudul ‘Matahari Agama, Tidak Akan Pernah Terbenam’. Ditegaskannya bahwa, fenomena sosial dapat dikokohkan jika disesuaikan dengan tuntutan masyarakatnya. Artinya, fenomena tersebut harus muncul dari dalam hati dan fitrah setiap manusia dan harus sesuai dengan tuntutannya.

Menyikapi perluasan pemikiran Barat yang menyerang dan menistakan kedudukan perempuan dalam Islam, Syahid Muthahhari menulis buku tentang hak-hak perempuan dan masalah Hijab. Dalam buku itu, Muthahhari mengemukakan berbagai argumentasi yang kuat dan bahkan balik mengkritik pendapat Barat mengenai hak perempuan dalam Islam. Beliau menepis pendapat Barat bahwa Islam telah menistakan hak perempuan. Dikatakannya, bahwa Islam menjunjung tinggi kedudukan perempuan. Dalam al-Quran disebutkan berbagai ayat yang menyebutkan bahwa takdir dan nasib perempuan dan laki-laki tidak dibedakan. Misalnya dalam masalah pahala dan azab, tidak ada perbedaan bagi kaum perempuan dan laki-laki. al-Quran bahkan menyebutkan keutamaan para wanita suci seperti istri nabi Adam dan Ibrahim, serta ibu nabi Musa dan Isa.

Salah satu pemikiran menarik Syahid Muthahhari adalah masalah pembedaan antara adat dan etika. Menurutnya, nilai-nilai etika akan kekal sepanjang masa. Karena etika seperti keadilan, kejujuran, menepati janji, cinta, dan lain-lainnya, sangat erat kaitannya dengan tuntutan dan kecenderungan manusia. Adapun adat sosial selalu mengalami perubahan. Sebab itu, Muthahhari menentang pihak yang berpendapat bahwa sejumlah adat harus tetap dijaga dan dilestarikan, karena menurut beliau, adat tersebut bisa jadi tidak sesuai dengan kondisi dan tuntutan zaman. Hal ini menurutnya akan menyebabkan kejumudan dan kemunduran.

Selain sebagai seorang pemikir dan filosof, Syahid Muthahhari juga dikenal sebagai seorang aktifis Revolusi Islam. Ia bangkit berjuang untuk membela Islam dengan pemikiran besarnya demi menghapus penyelewengan dan upaya mencomot ajaran agama sesuai selera. Beliau menjelaskan ajaran-ajaran Islam baik lewat metode rasional maupun tekstual sehingga membuatnya menjadi seorang pembaharu besar dan simbol sempurna pemikir Islam di masa ini. Syahid Muthahhari dapat disebut arsitek terbesar bangunan pemikiran dan sistem Islam. Berbagai tema dan kajian yang dibahasnya sangat relevan dengan persoalan yang dihadapi umat Islam saat ini dan bisa dijadikan sebagai solusi.

Sayid Hasan Nasrullah, Sekjen Hizbullah Lebanon mengatakan, “Mungkin saya dapat mengatakan bahwa pribadi paling berpengaruh bagi diriku dan dunia Syiah adalah dua orang peneliti Syiah; Syahid Muhammad Baqir Sadr dan Syahid Murtadha Muthahhari. Dua tokoh ini mampu menggariskan infrastruktur akidah dan ideologi seorang muslim pejuang dan peneliti yang kini banyak dimanfaatkan oleh orang-orang beriman dan penuntut kebebasan. Kami sebagai umat Islam di Lebanon mengenal Syahid Muthahhari lewat karya-karyanya. Saya pribadi dapat mencium semangat besar dan wewangian khusus dari karya-karyanya.”

Allamah Thaba’thaba’i, Filsuf besar dan mufassir al-Quran adalah guru Syahid Muthahhari. Saat ditanya komentarnya mengenai kepribadian muridnya itu, ia berkata, “Syahid Muthahhari adalah seorang cendikiawan besar, pemikir dan peneliti. Ia sangat cerdas, punya pemikiran yang terbuka dan realistis. Berbagai karya gemilang dan riset yang dilakukannya ditulis dengan argumentasi kokoh sangat menakjubkan”. (IRIB Indonesia)

Categories: darimanasaja

Memang Berbeda

September 30, 2011 Leave a comment

Tulisan ini permintaan teman di Bali untuk dimuat di newsletternya. Beliau meminta saya menjelaskan apa yang beda dari SD Hikmah Teladan dan kenapa saya memiliki aktivitas untuk mendampingi pendidikan di pelosok.

SD Hikmah Teladan berdiri tahun 2000. Sejak semula namanya SD Hikmah Teladan, bukan SDI yang berarti Sekolah Dasar Islam atau SDIT yang berarti SD Islam Terpadu. Penegasan ini perlu karena embel-embel Islam seperti menjadi wajib pada tahun-tahun tersebut. Citranya jelas, peluang pasarnya besar. Aman.

Kenapa kami memilih SD umum? Keseragaman sekalipun kuat menampakkan kebesaran, ia membawa serta bahaya laten dari ekslusivisme. Citra yang terlalu jelas juga membuat penyelenggara sekolah terjebak pada ‘produk jadi’ yang harus dipenuhi. Inovasi menjadi illegal. Dengan demikian, menjadi sekolah umum telah membuat kami suka-suka sendiri. Menanggung semua ulah sendiri.

Pembedaan dari mainstream jika disertai dengan harga diri ternyata leluasa menjadi energi perlawanan. Akibatnya, dalam perjalanannya, antara inovasi, kreativitas dengan hanya sekadar beda menjadi tumpang-tindih. Harga diri juga yang memiliki kekuatan untuk merubah yang semula sekadar beda menjadi bernilai inovatif. Contoh upacara bendera.

100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan

Dari target 100, sudah tertcatat 70an hal yang cuma ada di SD Hikmah Teladan, 53 di antaranya sudah dipublikasikan di www.kusekolah.wordpress.com. Kali ini saya menambahkan SD Hikmah Teladan sebagai sekolah dengan visi, misi yang paling mengokohkan kemerdekaan anak. Saya tulis lengkap visi misinya supaya siapapun mudah untuk menggugat klaim kami.

VISI SD HIKMAH TELADAN

“ Menjadi sekolah terdepan dalam menerapkan konsep pendidikan anak merdeka”

MISI SD HIKMAH TELADAN

  1. Menumbuhkan sikap tauhid anak sejak dini dan kemampuan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Memelihara kemerdekaan anak dan memperluas jangkauan kemerdekaannya seiring tumbuh kembang yang dilalui anak.
  3. Mengokohkan pemahaman bahwa sesungguhnya belajar merupakan pemenuhan rasa ingin tahu.
  4. Menempatkan peran penting guru untuk menumbuhkan keingintahuan anak dan mengarahkannya dengan cara yang paling mereka harapkan, paling mereka minati.
  5. Mendidik anak agar belajar berani mencoba sebagai pandangan kami tentang pendidikan sekaligus metode pembelajaran yang dikembangkan.
  6. Menumbuhkan anak yang penuh percaya diri dan berkembang menjadi dirinya sendiri melalui pemberian rasa aman, penghindaran dari celaan dan cemoohan, serta pemberian keleluasaan untuk berekspresi dan bereksplorasi.

Pernyataan misi “Memelihara kemerdekaan anak dan memperluas jangkauan kemerdekaannya seiring tumbuh kembang yang dilalui anak” membawa implikasi bahwa proses belajar menjadi proses pemerdekaan. Jumat, 23 September 2011, saya berkirim SMS kepada teman-teman yang menjelaskan lingkungan SD Hikmah Teladan memberikan keleluasaan bagi berlangsungnya proses pemerdekaan tersebut:

Kemarin dalam perjalanan pulang Ali meminta supaya hari ini tidak terlambat. Ketika saya Tanya kenapa, tidak ada jawaban. Dari kemarin sore pula di rumah tipe 45 kami berdesak-desakan 3 nenek dan 1 kakek yang baru datang dari Medan. Dengan anak-anaknya total jadi 10 orang. Jadi kami lumayan sibuk, sampai Ali yang mungkin melihat gelagat saya akan terlambat mengingatkan bahwa hari ini ia bertugas jadi pengibar bendera!

Anak-anak baru 2 bulanan sekolah sudah jadi petugas upacara? Nekad. Apalagi saya pun dapat memastikan latihan yang hanya dilakukan sekali sehari sebelumnya, tidak akan lebi dari 1 jam. Jadi, Anda butuh memulai pagi dengan hiburan segar? Datanglah ke lapang SD Hikmah Teladan. Di sana ada sekitar 400-an anak berseragam putih merah, 90-an anak dengan seragam olahraga, dan guru-guru yang tidak berseragam.

Hmm, saya takjub karena Ali tidak khawatir apapun. Anakku yang sampai hari ini belum bisa membaca dan menulis, tak grogi mengerek tali bendera. Demikian juga anak-anak yang lain yang sama-sama, ternyata, meminta hari ini tidak terlambat.

Syahdan, kami sampai di sekolah beberapa menit sebelum pukul 07.30. Di depan dekat kelas 1 berjejer 4 mobil siap berangkat. Ah, ternyata ini jadwal kelas 5 berenang. Berarti mereka tidak akan melihat adik kelasnya beraksi.

Hasrat untuk Berbagi

SMS di atas saya kirim kepada banyak teman. Hal tersebut dilakukan karena kami meyakini kebaikan dari sekolah ini. Pada hari ini, 27 September 2011, sudah sekitar 30 orang mendaftar untuk kelas 1 tahun depan. Biasanya 3 bulan sebelum tahun ajaran baru pendaftaran siswa baru sudah ditutup. Ditutup artinya pendaftar yang memastikan diri sudah 96 anak. Berbeda dengan sekolah pada umumnya, SD Hikmah Teladan tidak melakukan seleksi kepada anak-anak, melainkan kepada orangtua. Bagaimana caranya? Kami selalu membawa orangtua calon siswa tour keliling sekolah dan terakhir masuk ke 3 kelas, kelas 1. Mereka harus memegroki suasana kelas yang lazim berlangsung. Kedua, mereka di awal sudah diberitahu semua hal yang kontroversial dari sekolah ini. Bersama visi misi sekolah, bagian ini disampaikan dengan sangat jelas oleh komite sekolah. Ah maksud saya, sekolah ini sudah menjadi sekolah favorit. Seperti upacara bendera yang dilaksanakan setiap Jumat, berbeda (dan perbedaan) itu perlu dirayakan dan menguntungkan.

Bernilai kebaikan, keren, laku, masak kami tidak bernafsu berbagi? Sejarah kami identik dengan perlawanan pada setiap upaya penyeragaman dan pemuliaan keunikan (yang secara politis dapat berarti minoritas). Lalu kepada siapa kami paling tepat berbagi? Mereka yang tertindas, minoritas, terbuang, mereka yang tidak terjangkau layanan pendidikan pemerintah, mereka yang didera konflik, tergusur, terpinggirkan. Kami yang bergelut dengan proses pemerdekaan sangat dekat dengan perasaan dan keahlian yang dibutuhkan oleh mereka yang berjuang melepas belenggu tersebut.

Categories: SekolahKu

Hak Orang Lain untuk Berbeda Pendapat

June 22, 2011 Leave a comment

Bila Tuhan tetap memberi rezeki pada manusia yang selama hidup tidak mempercayai-Nya, mengapa manusia beragama merasa harus bersikap berbeda?

Di antara hal yang saya ingat dari almarhumah ibu saya adalah sebuah cerita tentang Nabi Ibrahim. Ceritanya begini: Ibrahim tidak pernah mau makan tanpa bersama-sama dengan orang lain, sampai-sampai ia sering mengunjungi tempat-tempat umum dengan harapan bisa menemukan orang yang bisa menjadi teman makan.

Suatu hari, ketika berusaha mencari seseorang yang bisa ia ajak makan, ia bertemu dengan orangtua yang sudah berumur 80-an tahun. Setelah ia menyampaikan salam dan ajakan, mereka pun duduk dan Ibrahim berkata: “Saudaraku, ucapkanlah syukur kepada Tuhan, dan ayo makan.”

Sang tamu memandangnya dan menjawab: “Saya tak tahu ada Tuhan yang hadir, jadi saya tidak bisa sampaikan syukur kepadanya.” Ibrahim pun kesal dan bersusah payah meyakinkan orangtua itu kalau ucapannya salah. Merasa putus asa, ia membereskan makanan dan mengusir orang itu keluar dari tendanya.

Saat Ibrahim sendirian, Tuhan menegurnya lantaran apa yang ia perbuat kepada orangtua itu. Tapi Ibrahim coba berdalih kalau orang itu ateis dan kafir. Tuhan pun berkata kepadanya: “Saya telah mengenalnya selama 80 tahun, tapi Aku tetap memberinya rezeki. Tapi, kamu sudah tak sabar meski hanya untuk memberinya satu hidangan.”

Ibrahim lantas bergegas mengejar orangtua itu untuk meminta maaf. Terkejut, orangtua itu pun mendengarkan Ibrahim menerangkan apa yang terjadi, dan mengatakan: “Tuhan yang menegur orang yang menghamba kepada-Nya untuk membela seseorang yang memungkiri keberadaan-Nya, adalah Tuhan yang Pemurah.”

Saya mengisahkan cerita ini tidak untuk memperdebatkan apakah peristiwa itu benar terjadi, tapi untuk mengambil pelajaran yang dengan meyakinkan diberikan kisah tersebut.

Ada banyak teks agama yang meminta agar manusia dihormati terlepas dari agama mereka, dan hak untuk memilih agama tanpa paksaan diakui. Teks-teks ini mengarahkan kita untuk menghargai hak orang lain untuk berbeda dalam keyakinan maupun perilaku. Toh, Tuhan telah berfirman: “ Sungguh telah Kami muliakan anak cucu Adam” (Al-Quran, 17:70).

Mereka yang menolak hak orang lain untuk berbeda pendapat telah salah menafsirkan teks-teks itu dan membuat pemahaman mereka sebagai landasan keyakinan mereka sendiri, dan membatasi keluasan agama dan mendistorsi kasih sayang agama. Dengan begitu mereka sebenarnya cenderung mempersempit penghormatan kepada agama mereka – atau setidaknya sebagian darinya.

Walhasil, tanggung jawab yang dipikul oleh pemimpin masyarakat menjadi lebih besar dan lebih penting, dan mereka harus lebih keras berusaha membuktikan kepada khalayak bahwa hak “orang lain” untuk ada dan tak setuju adalah sejajar dengan hak “diri sendiri”, dan membela hak “orang lain” adalah cerminan pembelaan hak “diri sendiri”. Bila saling melengkapi, masyarakat akan kuat dan sejahtera. Konflik dan perselisihan mereka adalah kelemahan dan kekalahan.

Untuk membuktikan ini, tidaklah cukup untuk mengutip teks agama ataupun teks budaya, tapi perlu mematuhi pedoman-pedoman ini dalam kehidupan keseharian sehingga manusia bisa menyadari bahwa nasibnya terhubung dengan nasib “orang lain”, dalam keadaan baik ataupun buruk. Ini juga soal pendidikan dan bimbingan di samping soal doktrin dan filosofi.

Upaya-upaya bersama di antara para pemuka agama, pendidik, orangtua dan guru untuk memberi perhatian pada ruang-ruang bersama adalah contoh perilaku ini. Upaya bersama mereka jauh lebih besar dari sekadar perselisihan pendapat, dan menjadi faktor-faktor penting untuk merebut hati masyarakat.

Kita harus juga mengakui bahwa kekerasan dan konflik yang melanda berbagai masyarakat tidaklah pas dengan konsep menerima orang lain. Manusia tidak bisa berinteraksi secara rasional dan bertanggung jawab ketika mereka merasa keberadaan dan identitas mereka sedang terancam. Perasaan semacam itu menimbulkan reaksi yang punya dampak buruk memperbesar kerenggangan dan memperparah keretakan.

Mengetahui orang lain dari dekat akan mengungkap kesamaan mereka dengan “diri sendiri”. Ini akan turut memerdekakan seseorang dan membuatnya lebih bisa berkomunikasi dan bekerja sama. Semakin awal ini bisa terjadi, semakin besar manfaatnya.

*****

* Syekh Ibrahim Ramadan dulu menempuh studi di Lebanon Azhar Institute, Beirut, dan mendapatkan ijazah dalam bidang syariah dan dalam fikih perbandingan dari Beirut Islamic University.

Categories: darimanasaja

Inilah Pidato Habibie yang Membuat Hadirin Terpukau

June 1, 2011 Leave a comment

TEMPO InteraktifJakarta - Pidato mantan Presiden B.J. Habibie dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni, mendapat apresiasi luar biasa. Saat berpidato di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua MPR Taufiq Kiemas, sejumlah mantan Wakil Presiden, serta pejabat lainnya di Gedung MPR, Rabu, 1 Juni 2011, Habibie membacakan pidatonya dengan berapi-api. Hadiri pun tampak terpukau.

Inilah isi pidato lengkap Habibie itu.

Reaktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Yth. Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono 
Yth. Presiden ke-5, Ibu Megawati Soekarnoputri
Yth. Para mantan Wakil Presiden
Yth. Pimpinan MPR dan Lembaga Tinggi Negara lainnya
Bapak-bapak dan Ibu-ibu para anggota MPR yang saya hormati
Serta seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai,

Assalamu ‘alaikum wr wb, salam sejahtera untuk kita semua.

Hari ini tanggal 1 Juni 2011, enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka.

Selama enam puluh enam tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap jaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.

Sejak 1998, kita memasuki era reformasi. Di satu sisi, kita menyambut gembira munculnya fajar reformasi yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang. Namun bersamaan dengan kemajuan kehidupan demokrasi tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: Di manakah Pancasila kini berada?

Pertanyaan ini penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.

Mengapa hal itu terjadi? Mengapa seolah kita melupakan Pancasila?

Para hadirin yang berbahagia,

Ada sejumlah penjelasan, mengapa Pancasila seolah “lenyap” dari kehidupan kita. Pertama, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 — 66 tahun yang lalu — telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami antara lain: (1) terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya; (2) perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasi manusia (KAM); (3) lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap “manipulasi” informasi dengan segala dampaknya.

Ketiga perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Kebelum-berhasilan kita melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.

Kedua, terjadinya euphoria reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Semangat generasi reformasi untuk menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai bagian dari masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional’ tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai grundnorm (norma dasar) yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik. Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak dijadikan pilar dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini.

Sebagai ilustrasi misalnya, penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus diakui, di masa lalu memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif yang tidak jarang kemudian menjadi senjata ideologis untuk mengelompokkan mereka yang tak sepaham dengan pemerintah sebagai “tidak Pancasilais” atau “anti Pancasila” . Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, muncullah demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol, sebagai ikon dan instrumen politik rezim sebelumnya. Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolitik sehingga membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.

Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim pemerintahan tententu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintahan pada masa tertentu. Pancasila juga bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu. Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya. Rezim pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi dasar negara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan!

Para hadirin yang berbahagia,

Pada refleksi Pancasila 1 Juni 2011 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi, restorasi atau revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik.

Oleh karena Pancasila tak terkait dengan sebuah era pemerintahan, termasuk Orde Lama, Orde Baru dan orde manapun, maka Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang akan mengilhami setiap perilaku kebangsaan dan kenegaraan, dari waktu ke waktu. Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.

Reformasi dan demokratisasi di segala bidang akan menemukan arah yang tepat manakala kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa yang majemuk ini. Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama, menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini. Fenomena fanatisme kelompok, penolakan terhadap kemajemukan dan tindakan teror kekerasan tersebut menunjukkan bahwa obsesi membangun budaya demokrasi yang beradab, etis dan eksotis serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih jauh dari kenyataan.

Krisis ini terjadi karena luruhnya kesadaran akan keragaman dan hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara serta pelecehan terhadap supremasi hukum.

Dalam perspektif itulah, reaktualisasi Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan kita yang majemuk dan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyegarkan kembali pemahaman kita terhadap Pancasila dan dalam waktu yang bersamaan, kita melepaskan Pancasila dari stigma lama yang penuh mistis bahwa Pancasila itu sakti, keramat dan sakral, yang justru membuatnya teraleinasi dari keseharian hidup warga dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai sebuah tata nilai luhur (noble values), Pancasila perlu diaktualisasikan dalam tataran praksis yang lebih ‘membumi’ sehingga mudah diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Para hadirin yang berbahagia,

Sebagai ilustrasi misalnya, kalau sila kelima Pancasila mengamanatkan terpenuhinya “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, bagaimana implementasinya pada kehidupan ekonomi yang sudah menggobal sekarang ini?

Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk, tergantung pada pandangan dan sikap suatu Negara dalam merespon fenomena tersebut. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus “membeli jam kerja” bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu “VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru”.

Implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neo-colnialism atau “VOC-baju baru” itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan “jam kerja” bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan usaha meningkatkan “Neraca Jam Kerja” tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan “nilai tambah” berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari “biaya tambah”; dengan ungkapan lain, “value added” harus lebih besar dari “added cost”. Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam forum yang terhormat ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian lain untuk secara serius merumuskan implementasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam lima silanya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan. Yang juga tidak kalah penting adalah peran para penyelenggara Negara dan pemerintahan untuk secara cerdas dan konsekuen serta konsisten menjabarkan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam berbagai kebijakan yang dirumuskan dan program yang dilaksanakan. Hanya dengan cara demikian sajalah, Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai pandangan hidup akan dapat ‘diaktualisasikan’ lagi dalam kehidupan kita.

Memang, reaktualisasi Pancasila juga mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang sehingga memposisikan Pancasila menjadi solusi atas berbagai macam persoalan bangsa. Melalui reaktualisasi Pancasila, dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.

Para hadirin yang saya hormati,

Oleh karena itu saya menyambut gembira upaya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akhir-akhir ini gencar menyosialisasikan kembali empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding fathers kita di masa lalu. Akan tetapi, karena jaman terus berubah yang kadang berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka menyegarkan kembali empat pilar tersebut, sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.

Marilah kita jadikan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai weltanschauung, yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, saya yakin bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara.

Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Saya yakin, meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang.

Melalui gerakan nasional reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, bukan saja akan menghidupkan kembali memori publik tentang dasar negaranya tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai di daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan rakyat melalui proses pemilihan langsung yang demokratis. Saya percaya, demokratisasi yang saat ini sedang bergulir dan proses reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamu ‘alaikum wr wb.

Jakarta 1 Juni 2011

Bacharuddin Jusuf Habibie

Categories: darimanasaja
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.